http://sukasejarah.org/index.php?topic=130.0

Hitler pernah praktek sebagai dokter asing di di Sumbawa Besar ?.

Jika saja ada yang rajin menyimpan klipingan artikel harian “Pikiran Rakyat”
sekitar tahun 1983, tentu akan menemukan tulisan dokter Sosrohusodo mengenai
pengalamannya bertemu dengan seorang dokter tua asal Jerman bernama Poch di
pulau Sumbawa Besar pada tahun 1960. Dokter tua itu kebetulan memimpin
sebuah rumah sakit besar di pulau tersebut.


Tapi bukan karena mengupas kerja dokter Poch, jika kemudian artikel itu
menarik perhatian banyak orang, bahkan komentar sinis dan cacian! Namun
kesimpulan akhir artikel itulah yang membuat banyak orang mengerutkan
kening. Sebab dengan beraninya Sosro mengatakan bahwa dokter tua asal Jerman
yang pernah berbincang-bincang dengannya, tidak lain adalah Adolf Hitler,
mantan diktator Jerman yang super terkenal karena telah membawa dunia pada
Perang Dunia II! Beberapa “bukti” diajukannya, antara lain dokter Jerman
tersebut cara berjalannya sudah tidak normal lagi, kaki kirinya diseret.
Tangan kirinya selalu gemetar. Kumisnya dipotong persis seperti gaya aktor
Charlie Chaplin, dengan kepala plontos.

Kondisi itu memang menjadi ciri khas Hitler pada masa tuanya, seperti dapat
dilihat sendiri pada buku-buku yang menceritakan tentang biografi Adolf
Hitler (terutama saat-saat terakhir kejayaannya), atau pengakuan
Sturmbannführer Heinz Linge, bekas salah seorang pembantu dekat sang Führer.
Dan masih banyak “bukti” lain yang dikemukakan oleh dokter Sosro untuk
mendukung dugaannya. Keyakinan Sosro yang dibangunnya dari sejak tahun
1990-an itu hingga kini tetap tidak berubah. Bahkan ia merasa semakin kuat
setelah mendapatkan bukti lain yang mendukung ‘penemuannya’. “Semakin saya
ditentang, akan semakin keras saya bekerja untuk menemukan bukti-bukti
lain,” kata lelaki yang lahir pada tahun 1929 di Gundih, Jawa Tengah ini
ketika ditemui di kediamannya di Bandung. Andai saja benar dr. Poch dan
istrinya adalah Hitler yang tengah melakukan pelarian bersama Eva Braun,
maka ketika Sosro berbincang dengannya, pemimpin Nazi itu sudah berusia 71
tahun, sebab sejarah mencatat bahwa Adolf Hitler dilahirkan tanggal 20 April
1889. “Dokter Poch itu amat misterius. Ia tidak memiliki ijazah kedokteran
secuilpun, dan sepertinya tidak menguasai masalah medis,” kata Sosro,
lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang sempat bertugas di
pulau Sumbawa Besar ketika masih menjadi petugas kapal rumah sakit Hope.

Sebenarnya, tumbuhnya keyakinan pada diri Sosro mengenai Hitler di pulau
Sumbawa Besar bersama istrinya Eva Braun, tidaklah suatu kesengajaan. Ketika
bertugas di pulau tersebut dan bertemu dengan seorang dokter tua asal
Jerman, yang ada pada benak Sosro baru tahap kecurigaan saja. Meskipun
begitu, ia menyimpan beberapa catatan mengenai sejumlah “kunci” yang
ternyata banyak membantu. Perhatiannya terhadap literatur tentang Hitler pun
menjadi kian besar, dan setiap melihat potret tokoh tersebut, semakin yakin
Sosro bahwa dialah orang tua itu, orang tua yang sama yang bertemu dengannya
di sebuah pulau kecil d Indonesia!

Ketidaksengajaan itu terjadi pada tahun 1960, berarti sudah dua puluh tahun
lebih ia meninggalkan pulau Sumbawa Besar. Suatu saat, seorang keponakannya
membawa majalah Zaman edisi no.15 tahun 1980. Di majalah itu terdapat
artikel yang ditulis oleh Heinz Linge, bekas pembantu dekat Hitler, yang
berjudul “Kisah Nyata Dari Hari-Hari Terakhir Seorang Diktator”, yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria. Pada halaman
59, Linge mula-mula menceritakan mengenai bunuh diri Hitler dan Eva Braun,
serta cara-cara membakar diri yang kurang masuk di akal. Kemudian Linge
membeberkan keadaan Hitler pada waktu itu. “Beberapa alinea dalam tulisan
itu membuat jantung saya berdetak keras, seperti menyadarkan saya kembali.
Sebab di situ ada ciri-ciri Hitler yang juga saya temukan pada diri si
dokter tua Jerman. Apalagi setelah saya membaca buku biografi ‘Hitler’.
Semuanya ada kesamaan,” ungkap ayah empat anak ini. Heinz Linge menulis,
“beberapa orang di Jerman mengetahui bahwa Führer sejak saat itu kalau
berjalan maka dia menyeret kakinya, yaitu kaki kiri.

Penglihatannya pun sudah mulai kurang terang serta rambutnya hampir sama
sekali tidak tumbuh... kemudian, ketika perang semakin menghebat dan Jerman
mulai terdesak, Hitler menderita kejang urat.” Linge melanjutkan, “di
samping itu, tangan kirinya pun mulai gemetar pada waktu kira-kira
pertempuran di Stalingrad (1942-1943) yang tidak membawa keberuntungan bagi
bangsa Jerman, dan ia mendapat kesukaran untuk mengatasi tangannya yang
gemetar itu.” Pada akhir artikel, Linge menulis, “tetapi aku bersyukur bahwa
mayat dan kuburan Hitler tidak pernah ditemukan.” Lalu Sosro mengenang
kembali beberapa dialog dia dengan “Hitler”, saat Sosro berkunjung ke rumah
dr. Poch. Saat ditanya tentang pemerintahan Hitler, kata Sosro, dokter tua
itu memujinya.

Demikian pula dia menganggap bahwa tidak ada apa-apa di kamp Auschwitz,
tempat ‘pembantaian’ orang-orang Yahudi yang terkenal karena banyak film
propaganda Amerika yang menyebutkannya. “Ketika saya tanya tentang kematian
Hitler, dia menjawab bahwa dia tidak tahu sebab pada waktu itu seluruh kota
Berlin dalam keadaan kacau balau, dan setiap orang berusaha untuk lari
menyelamatkan diri masing-masing,” tutur Sosrohusodo. Di sela-sela obrolan,
dr. Poch mengeluh tentang tangannya yang gemetar.

Kemudian Sosro memeriksa saraf ulnarisnya. Ternyata tidak ada kelainan,
demikian pula tenggorokannya. Ketika itu, ia berkesimpulan bahwa kemungkinan
“Hitler” hanya menderita parkisonisme saja, melihat usianya yang sudah
lanjut. Yang membuat Sosro terkejut, dugaannya bahwa sang dokter mungkin
terkena trauma psikis ternyata diiyakan oleh dr. Poch! Ketika disusul dengan
pertanyaan sejak kapan penyakit itu bersarang, Poch malah bertanya kepada
istrinya dalam bahasa Jerman. “Itu kan terjadi sewaktu tentara Jerman kalah
perang di Moskow. Ketika itu Goebbels memberi tahu kamu, dan kamu
memukul-mukul meja,” ucap istrinya seperti ditirukan oleh Sosro. Apakah yang
dimaksud dengan Goebbels adalah Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Jerman
yang terkenal setia dan dekat dengan Hitler? Istrinya juga beberapa kali
memanggil dr. Poch dengan sebutan “Dolf”, yang mungkin merupakan kependekan
dari Adolf! Setelah memperoleh cemoohan sana-sini sehubungan dengan
artikelnya, tekad Sosrohusodo untuk menuntaskan masalah ini semakin
menggebu. Ia mengaku bahwa kemudian memperoleh informasi dari pulau Sumbawa
Besar bahwa Poch sudah meninggal di Surabaya. Beberapa waktu sebelum
meninggal, istrinya pulang ke Jerman. Poch sendiri konon menikah lagi dengan
nyonya S, wanita Sunda asal Bandung, karyawan di kantor pemerintahan di
pulau Sumbawa Besar! Untuk menemukan alamat nyonya S yang sudah kembali lagi
ke Bandung, Sosro mengakui bukanlah hal yang mudah. Namun akhirnya ada juga
orang yang memberitahu. Ternyata, ia tinggal di kawasan Babakan Ciamis!
Semula nyonya S tidak begitu terbuka tentang persoalan ini.

Namun karena terus dibujuk, sedikit demi sedikit mau juga nyonya S berterus
terang. Begitu juga dengan dokumen-dokumen tertulis peninggalan suaminya
kemudian diserahkan kepada Sosrohusodo, termasuk foto saat pernikahan
mereka, plus rebewes (SIM) milik dr. Poch yang ada cap jempolnya. Dari
nyonya S diketahui bahwa dr. Poch meninggal tanggal 15 Januari 1970 pukul
19.30 pada usia 81 tahun di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya akibat
serangan jantung. Keesokan harinya dia dimakamkan di desa Ngagel. Dalam
salah satu dokumen tertulis, diakuinya bahwa ada yang amat menarik dan
mendukung keyakinannya selama ini. Pada buku catatan ukuran saku yang sudah
lusuh itu, terdapat alamat ratusan orang-orang asing yang tinggal di
berbagai negara di dunia, juga coretan-coretan yang sulit dibaca. Di bagian
lainnya, terdapat tulisan steno. Semuanya berbahasa Jerman. Meskipun tidak
ada nama yang menunjukkan kepemilikan, tapi diyakini kalau buku itu milik
suami nyonya S. Di sampul dalam terdapat kode J.R. KepaD no.35637 dan 35638,
dengan masing-masing nomor itu ditandai dengan lambang biologis laki-laki
dan wanita. “Jadi kemungkinan besar, buku itu milik kedua orang tersebut,
yang saya yakini sebagai Hitler dan Eva Braun,” tegasnya dengan suara yang
agak parau. Negara yang tertulis pada alamat ratusan orang itu antara lain
Pakistan, Tibet, Argentina, Afrika Selatan, dan Italia. Salah satu
halamannya ada tulisan yang kalau diterjemahkan berarti : Organisasi
Pelarian. Tuan Oppenheim pengganti nyonya Krüger. Roma, Jl. Sardegna 79a/1.

Ongkos-ongkos untuk perjalanan ke Amerika Selatan (Argentina). Lalu, ada
pula satu nama dalam buku saku tersebut yang sering disebut-sebut dalam
sejarah pelarian orang-orang Nazi, yaitu Prof. Dr. Draganowitch, atau
ditulis pula Draganovic. Di bawah nama Draganovic tertulis Delegation
Argentina da imigration Europa – Genua val albaro 38. secara terpisah di
bawahnya lagi tertera tulisan Vatikan. Di halaman lain disebutkan,
Draganovic Kroasia, Roma via Tomacelli 132. Majalah Intisari terbitan bulan
Oktober 1983, ketika membahas Klaus Barbie alias Klaus Altmann bekas polisi
rahasia Jerman zaman Nazi, menyebutkan alamat tentang Val Albaro.

Disebutkan pula bahwa Draganovic memang memiliki hubungan dekat dengan
Vatikan Roma. Profesor inilah yang membantu pelarian Klaus Barbie dari
Jerman ke Argentina. Pada tahun 1983 Klaus diekstradisi dari Bolivia ke
Prancis, negara yang menjatuhkan hukuman mati terhadapnya pada tahun 1947.
“Masih banyak alamat dalam buku ini, yang belum seluruhnya saya ketahui
relevansinya dengan gerakan Nazi. Saya juga sangat berhati-hati tentang hal
ini, sebab menyangkut negara-negara lain. Saya masih harus bekerja keras
menemukan semuanya. Saya yakin kalau nama-nama yang tertera dalam buku kecil
ini adalah para pelarian Nazi!” tandasnya. Mengenai tulisan steno, diakuinya
kalau ia menghadapi kesulitan dalam menterjemahkannya ke dalam bahasa atau
tulisan biasa. Ketika meminta bantuan ke penerbit buku steno di Jerman,
diperoleh jawaban bahwa steno yang dilampirkan dalam surat itu adalah steno
Jerman “kuno” sistem Gabelsberger dan sudah lebih dari 60 tahun tidak
digunakan lagi sehingga sulit untuk diterjemahkan.

Tetapi penerbit berjanji akan mencarikan orang yang ahli pada steno
Gabelsberger. Beberapa waktu lamanya, datang jawaban dari Jerman dengan
terjemahan steno ke dalam bahasa Jerman. Sosrohusodo menterjemahkannya
kembali ke dalam bahasa Indonesia. Judul catatan dalam bentuk steno itu,
kurang lebih berarti “keterangan singkat tentang pengejaran perorangan oleh
Sekutu dan penguasa setempat pada tahun 1946 di Salzburg”. Kota ini terdapat
di Austria. Di dalamnya berkisah tentang “kami berdua, istri saya dan saya
pada tahun 1945 di Salzburg”.

Tidak disebutkan siapakah ‘kami berdua’ di situ. Dua insan tersebut, kata
catatan itu, dikejar-kejar antara lain oleh CIC (dinas rahasia Amerika
Serikat). Pada pokoknya, menggambarkan penderitaan sepasang manusia yang
dikejar-kejar oleh pihak keamanan. Di dalamnya juga terdapat
singkatan-singkatan yang ditulis oleh huruf besar, yang kalau diurut akan
menunjukkan rute pelarian keduanya, yaitu B, S, G, J, B, S, R. “Cara
menyingkat seperti ini merupakan kebiasaan Hitler dalam membuat catatan,
seperti yang pernah saya baca dalam literatur yang lainnya,” Sosrohusodo
memberikan alasan. Dari singkatan-singkatan itu, lalu Sosro mencoba untuk
mengartikannya, yang kemudian dikaitkan dengan rute pelarian.

Pelarian dimulai dari B yang berarti Berlin, lalu S (Salzburg), G (Graz), J
(Jugoslavia), B (Beograd), S (Sarajevo) dan R (Roma). Tentang Roma, Sosro
menjelaskan bahwa itu adalah kota terakhir di Eropa yang menjadi tempat
pelariannya. Setelah itu mereka keluar dari benua tersebut menuju ke suatu
tempat, yang tidak lain tidak bukan adalah pulau Sumbawa Besar di Nusantara
tercinta! Ia mengutip salah satu tulisan dalam steno tadi : “Pada hari
pertama di bulan Desember, kami harus pergi ke R untuk menerima suatu surat
paspor, dan kemudian kami berhasil meninggalkan Eropa”. Ini, kata Sosro,
sesuai dengan data pada paspor dr. Poch yang menyebutkan bahwa paspor
bernomor 2624/51 diberikan di Rom (tanpa huruf akhir A)”. Di buku catatan
berisi ratusan alamat itu, nama Dragonic dikaitkan dengan Roma, begitulah
Sosro memberikan alasan lainnya.

Lalu mengenai Berlin dan Salzburg, diterangkannya dengan mengutip majalah
Zaman edisi 14 Mei 1984. Dikatakan bahwa sejarah telah mencatat peristiwa
jatuhnya pesawat yang membawa surat-surat rahasia Hitler yang jatuh di
sekitar Jerman Timur pada tahun 1945. “Ini juga menunjukkan rute pelarian
mereka,” katanya lagi. Lalu bagaimana komentar nyonya S yang disebut-sebut
Sosro sebagai istri kedua dr. Poch? Konon ia pernah berterus terang kepada
Sosro. Suatu hari suaminya mencukur kumis mirip kumis Hitler, kemudian
nyonya S mempertanyakannya, yang kemudian diiyakan bahwa dirinya adalah
Hitler. “Tapi jangan bilang sama siapa-siapa,” begitu Sosro mengutip ucapan
nyonya S. Membaca dan menyimak ulasan dr. Sosrohusodo, sekilas seperti ada
saling kait mengkait antara satu dengan yang lainnya. Namun masih banyak
pertanyaan yang harus diajukan kepada Sosro, dengan tidak bermaksud
meremehkan pendapat pribadinya berkaitan dengan Hitler, sebab mengemukakan
pendapat adalah hak setiap warga negara. Bahkan Sosrohusodo sudah membuat
semacam diktat yang memaparkan pendapatnya tentang Hitler, dilengkapi dengan
sejumlah foto yang didapatnya dari nyonya S. Selain itu, isinya juga
mengisahkan tentang pengalaman sejak dia lulus dari Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia hingga bertugas di Bima, Kupang, dan Sumbawa Besar. Ia
juga telah mengajukan hasil karyanya ke berbagai pihak, namun belum ada
tanggapan. “Padahal tidak ada maksud apa-apa di balik kerja saya ini, hanya
ingin menunjukkan bahwa Hitler mati di Indonesia,” katanya mantap. Bukan
hanya Sosro yang mempunyai teori tentang pelarian Hitler dari Jerman ke
tempat lain, tapi beberapa orang di dunia ini pernah mengungkapkannya dalam
media massa.

Peluang untuk berteori seperti itu memang ada, sebab ketika pemimpin Nazi
tersebut diduga mati bersama Eva Braun tahun 1945, tidak ditemukan bukti
utama berupa jenazah! Adalah tugas para pakar dalam bidang ini untuk mencoba
mengungkap segala sesuatunya, termasuk keabsahan dokumen yang dimiliki oleh
Sosrohusodo, nyonya S, atau makam di Ngagel yang disebut sebagai tempat
bersemayamnya dr. Poch. Mungkin para ahli forensik dapat menjelaskannya
lewat penelitian terhadap tulang-tulang jenazahnya. Semua itu tentu
berpulang pada kemauan baik semua pihak...

Kirim email ke