http://nana-podungge.blogspot.com/2010/03/mayoritas-versus-minoritas.html

After all, the practical reason why, when the power is once in the hands of the 
people, a majority are permitted, and for a long period continue, to rule is 
not because they are most likely to be in the right, nor because this seems 
fairest to the minority, but because they are physically the strongest. But the 
government in which the majority rule in all cases cannot be based on justice, 
even as far as men understand it. Can there be a government in which the 
majorities do not virtually decide right or wrong, but conscience? (from Civil 
Disobedience by Thoreau)

Kutipan di atas dikirimkan kepadaku oleh seorang sobat terkasih setelah dia 
membaca salah satu note-ku (hasil copy paste dari seorang online buddy di FB 
yang berjudul “Jangan Gampang Bilang Sesat”). Dia yang sekarang sedang menimba 
ilmu di Ohio, yang mengenakan jilbab, yang bencinya kepada Sarkozi telah 
membuatku menghasilkan sebuah artikel yang kuberi judul “Sekuler Fundamentalis”.
Beberapa tahun lalu dia pernah mengirim email kepadaku, memprotes salah satu 
instansi di kota tempat dia tinggal karena telah melakukan satu perbuatan 
arogan kepada salah satu karyawannya. Si karyawan dipecat karena dia tidak 
pernah (bisa) menghadiri acara pengajian yang diselenggarakan oleh tempat dia 
bekerja, sehingga dia ditengarai bukan anggota salah satu ormas Islam terbesar 
di Indonesia, padahal instansi tempat kerjanya (mungkin) berbasis ormas Islam 
tersebut menilik dari namanya.
“What’s the point to be a supporter or a member of that organization? We are 
all Muslim, we do the religious teachings rigidly.” Tanyanya retoris.
Arogansi mayoritas telah membuat seorang karyawan kehilangan pekerjaan dan 
membuat istri dan anak-anaknya menderita. Dan hal ini terjadi bukan karena 
perbedaan keyakinan alias agama, namun “hanya” karena sang karyawan saking 
sibuknya mencari sesuap nasi demi anak dan istri tak bisa meluangkan waktu 
untuk menghadiri acara pengajian di kantor.

Beberapa minggu terakhir ini di FB aku mulai berinteraksi dengan para kaum 
‘spiritualis’ yang tidak mempercayai ‘Abrahamic Faiths’ (baca Yahudi, Nasrani, 
Islam). Praktis aku sang sekuler menjadi pengamat antara kaum agamis (terutama 
Islam, yang telah ‘kugauli’ selama puluhan tahun, semenjak aku lahir) dan kaum 
spiritualis. Para kaum spiritualis ini pun memiliki latar belakang yang 
bermacam-macam. Menilik dari status-status mereka, aku bisa ‘membaca’ apakah 
latar belakang mereka adalah agama – baik Islam, Nasrani, maupun Buddha – 
ataukah satu ‘keyakinan’ yang mungkin bisa kumasukkan ke dalam kategori 
‘kejawen’ (bagi orang Jawa) maupun agama ‘asli’ Nusantara yang lain.
Membaca bagiku akan senantiasa memperkaya pengetahuan, pengalaman, dan jiwa. 
Aku lebih mengenal berbagai jenis cara manusia mencapai ‘kesadaran diri’, untuk 
berdamai dengan diri sendiri yang tentunya diharapkan akan berdampak mampu 
berdamai dengan orang lain.
Akan tetapi, aku ternyata pun menengarai adanya satu kecenderungan beberapa 
kalangan – kalau boleh mengcopy salah satu status ‘Birru Sadhu’, utamanya kaum 
spiritualis – untuk memaksakan pendapatnya kepada pihak lain bahwa hidup ini 
akan lebih damai jika semua orang menganut keyakinan mereka. Seperti tertulis 
di salah satu status seorang spiritualis, “Jika semua orang telah tercerahkan, 
maka aku akan menjadi pengangguran”.
Arogansi “aku lah yang terbaik karena aku lah yang paling benar, aku lah yang 
akan masuk surga (bagi mereka yang percaya surga dan neraka ada) yang lain 
masuk neraka” ternyata dipercaya oleh banyak pihak – mungkin terlalu kebangeten 
jika aku bilang semua pihak. Saat ini karena Muslim adalah sang mayoritas di 
Indonesia, maka hujatan fundamentalis ditujukan kepada mereka. Bisa kita 
bayangkan jika posisi ini diambil alih oleh kaum spiritualis, maka akan ada 
istilah ‘spritualis fundamentalis’.
Jikalau dalam artikel-artikel yang kutulis aku lebih banyak mengkritik para 
fundamentalis dari kaum Islam, bisa dikatakan karena no matter what aku 
mengenal Islam jauh lebih dalam ketimbang agama lain, karena cintaku pada agama 
ini, agama yang seharusnya menjadi rahmatan lil’alamin. Namun karena telah 
dinodai oleh para kaum fundies, agama ini menjadi agama teroris. Jika aku 
diminta untuk mengkritisi agama lain, aku tak kan sanggup, karena aku tak tahu 
apa-apa.
Jika ada orang beragama lain mengkritik agamaku, aku hanya akan bergumam “You 
know NOTHING about my religion.” Islam akan tetap eksis sampai kapan pun, meski 
dihantam hujan asteroid sekalipun. Seperti aku pun percaya keyakinan-keyakinan 
lain akan tetap eksis pula (hilang satu tumbuh seribu), karena Allah yang 
membiarkan perbedaan-perbedaan ini ada.
Kembali ke apa yang ditulis oleh Thoreau, pemerintah memang harus memiliki 
‘conscience’ – KESADARAN – bahwa yang mayoritas tidaklah selalu yang benar. (as 
always, it is much easier to say, it is very difficult to do.)
Seperti yang selalu kutulis di artikel-artikel sebelum ini, akan kuakhiri 
tulisan ini dengan ide yang sama. “Lakum dinukum waliyadin.” Mari kita selalu 
menghormati satu sama lain.

Nana Podungge
PT56 18.18 070310

Minds are like parachutes, they only function when they are open.   (Sir James 
Dewar)
visit my blogs please, at the following sites
http://afeministblog.blogspot.com
http://afemaleguest.multiply.com
http://nana-podungge.blogspot.com

THANK YOU
Best regards,
Nana



      

Kirim email ke