Beberapa kali ketika saya masih kanak-kanak bersama teman-teman mencuri buah rambutan, mangga, pisang dan umbi-umbian dari pohon-pohon yang tertanam di kebun atau pekarangan rumah tetangga. Entah karena kelihaian kami memanjat, dan gerak cepat melakukan pencurian, yang pasti kami selalu beruntung tidak seorangpun dari pemilik pohon-pohon tersebut mengetahui siapa pencuri sebenarnya. Lucunya kami bukan berasal dari keluarga yang berkekurangan, sampai sekarang di pekarangan rumah orang tuaku masih ada tiga pohon mangga besar yang tetap berbuah lebat sekali di setiap tahunnya. Setiap kali kami memperoleh hasil pencurian kami bermain sambil memakannya di sebuah lapangan kecil berumput yang jarang dilalui orang dan yang pasti buah-buah hasil curian tersebut lebih dari sekedar cukup bahkan terkadang lebih banyak terbuang dari pada jumlah yang dimakan.
Maksud menceritakan perbuatan nakal masa kanak-kanak tersebut adalah; "bahwa sejak masih dalam kandungan pun setiap orang sudah mewarisi keinginan lebih memilih untuk berdosa". Saya mencuri buah-buah tersebut bukan karena rasanya dan bukan karena tampilannya. Entahlah, yang pasti ketika melakukannya, ada perasaaan takut ketahuan pada sang pemilik dan hukuman dari orang tua namun rasa takut tersebut menjadi tidak berarti karena pada dasarnya kami menyenangi permainan-pencurian. Begitulah kasus korupsi di negara ini, kebanyakan justru dilakukan oleh orang-orang berpendidikan akademis tinggi, tidak masuk akal bila alasan sepenuhnya disebabkan oleh penghasilan yang rendah. Kita telah melupakan penjelasan kuno bahwa " kita berdosa bukan terutama pengaruh dari luar atau faktor-faktor di luar kendali kita tetapi sekedar karena kita lebih memilih untuk berdosa, kita adalah manusia berdosa". Hanya sedikit perbuatan dosa (kejahatan) yang mungkin disebabkan beberapa faktor, seperti seorang ibu mencuri di sebuah mini market oleh karena ketidak sanggupannya membeli sekaleng susu untuk keperluan anak bayinya, namun kenyataan kebanyakan terjadi oleh karena kita lebih memilih untuk menikmati perbuatan dosa tersebut. Namun pada akhirnya setiap orang akan bertanggung jawab atas segala apa yang dilakukannya. Dengan demikian perbuatan dosa atau kejahatan adalah hasil perbuatan individu. Adalah angan-angan mengharapkan pertobatan atau menekan angka pelaku kejahatan ke gaya hidup yang lebih bertanggung jawab dengan sekedar membicarakan dan merevisi undang-undang di parlement, mencantumkan sanksi hukum yang lebih berat, dan pengharapan agar pejabat-pejabat pemerintah dan president untuk berpenampilan alim sebagai tauladan bagi masyarakat. Ikatan moral antar individu harus diletakkan pada azas kebenaran hakiki bahwa impuls berdosa pada setiap orang harus dikendalikan dan itu melalui pengenalan dan pelatihan yang harus dilakukan di setiap rumah tangga kepada anak-anak di mulai sejak usia kanak-kanak. --- Pada Ming, 14/3/10, MANG UCUP <[email protected]> menulis: Dari: MANG UCUP <[email protected]> Judul: [zamanku] Dosa itu Ora Ono alias Tidak Ada - Bag. 2 Kepada: "maya" <[email protected]>, "Zaman" <[email protected]> Tanggal: Minggu, 14 Maret, 2010, 12:34 PM Apabila angka raport kita naik dari 7,69 menjadi 9,07 pasti ini menandakan satu prestasi yang ruaaa..ar biasa. Apalagi mengingat angka tertinggi adalah 10. Nilai tsb diatas inilah yang Indonesia dapatkan dari hasil survei pelaku bisnis yang dirilis Senin, 8 Maret 2010 oleh perusahaan konsultan "Political & Economic Risk Consultancy" (PERC) yang berbasis di Hong Kong dimana mereka menilai Indonesia sebagai Negara terkorup di kolong langit. Hanya anehnya walaupun kita ini dinilai sebagai Negara terkorup, kenyataannya di Indonesia ini hampir tidak ada koruptornya, karena tak ada seorangpun yang merasa berdosa. Uang yang ajubile gedenya sebesar Rp. 6,7 triliun saja; kenyataannya tidak bisa ditelusuri kemana raibnya alias Gone With the Wind. Walaupun bagi orang awam baunya sudah seperti bau bangkai kerbau yang meluap kemana-mana, tetapi kenyataannya tetap saja tak seorang pun yang merasa bersalah apalagi berdosa. Hal ini bahkan sudah dikonfirm oleh penguasa tertinggi. Jadi apakah Anda masih meragukannya? Oleh sebab itulah, buat apa segala macam dagelan seperti pansus. Mereka hanya merebutkan pepesan kosong, maklum pepesannya sudah habis dimakan kucing. Tindakan korupsi itu bukanlah dosa, karena ini sudah merupakan kebutuhan dasar sosial bagi setiap pejabat. Memang dalam Alkitab; mencuri itu masih dinyatakan sebagai dosa, tetapi hal ini sudah direvisi ulang oleh hamba-Nya Pastur Tim Jones dalam khotbah dia di Gereja St Lawrence (England) pada tanggal 20.12.2009; dimana ia menyatakan 'It’s okay to shoplift' alias kalau nyolong itu kagak dosa githu. http://www.dailymai l.co.uk/news/ article-1237470/ Priest-advises- congregation- shoplift. html Jadi bagi siapa saja yang hanya sekedar mencuri kecil-kecilan entah itu ngemplang uang pajak dengan melakukan pembukuan ganda atau nilep uang ratusan juta, masih bisa dinyatakan tidak berdosa. Wong yang nilep uang triliunan saja tidak pernah merasa berdosa, bahkan kebalikannya ia merasa berjasa sebagai sang juru selamat, karena merasa telah bisa menyelamatkan bank yang sedang sekarat. Bagaimana dengan membunuh? Jadi pembunuh dijaman sekarang ini sudah tidak dianggap sebagai pendosa lagi, bahkan kebalikannya bisa dinilai sebagai pahlawan di dunia maupun di surga. Dan ini berlaku bukan hanya untuk agama tertentu saja. Lihat saja mantan Presiden Bush sendiri, dimana secara tidak langsung ia turut membunuh lebih dari 4.000 tentara Amerika; belum lagi sekitar 100.000 rakyat sipil yang turut menjadi korban di Irak. Apakah ia merasa berdosa karenanya, saya yakin haqul yakin tidak; bahkan dalam hal ini ia merasa berjasa sebagai pembela umat manusia. Jangankan hanya sekedar membunuh musuh yang tidak kita kenal, membunuh anak sendiri sekalipun dihalalkan; selama ini dilakukan atas nama agama. Seorang ibu rela membunuh anaknya sendiri yang baru saja berusia 19 bulan dengan cara tidak memberi makan maupun minum selama berminggu-minggu. Apakah kesalahan sang anak bayi ini, sehingga harus dihukum mati oleh ibu kandungnya sendiri? Kesalahan satu-satunya dari sang anak tersebut, karena ia LUPA mengucapkan kata AMIN setelah doa makan bersama. “Killed because He wouldn't Say Amen” http://www.infoniac .com/breaking/ cult-toddler- killed-because- he-wouldnt- say-amen. html Jadi dosa itu ora ono, walaupun demikian kalau hati kecil Anda masih tetap memiliki rasa berdosa dan ingin melakukan pengakuan dosa. Ini bisa anda lakukan melalui www.openconfession. com secara diam-diam atau dipublikasikan baca dikomersilkan melalui berbagai macam media ala Manohara. Dengan demikian Anda bisa jadi cepat beken, bahkan dapat tawaran main film. Hal ini berlaku bagi siapapun juga; misalnya gadis yang masih bau kencur (12 th) di desa kelutuk sekalipun seperti Lutviana Ulfa istrinya dari Syeh Puji sudah mendapatkan tawaran sebesar Rp 400 juta untuk jadi pemeran film. Lihat saja di Amerika, apabila dosa Anda itu sudah benar-benar jorok atau besar sekali; maka pengakuan dosa Anda bisa dijadikan duit, melalui reality TV Show “The Moment of Truth”. Mereka bersedia bayar hingga US$ 500.000 (sekitar lima milyar Rp.) Misalnya dimana seorang pria muda dengan bangga telah mengaku dosa, bahwa ia telah berselingkuh dengan lebih dari 100 orang dihadapan 10 juta pemisra termasuk orang tuanya, keluarga, para sahabat maupun pasangannya sendiri. Jadi dosa itu bisa dijadikan komoditi untuk dikomersilkan. Bukan saja sekedar untuk dijadikan tontonan yang menarik, tetapi bisa juga diperjual belikan. Semakin sadis, semakin seronoh, semakin tinggi pula nilai jual dosanya. Kita tidak perlu malu untuk ngaku dosa di Facebook ataupun melalui TV-One seperti yang dilakukan oleh para korban pelecehan seksuel. Kata malu jaman di jaman sekarang ini sudah tidak ada dikamus lagi. Lihat saja di Perancis walaupun Anda bertelanjang bulat sekalipun; tidak jadi masalah, tetapi kebalikannya apabila Anda pakai burka alias ditutup rapat-rapat, hal ini dianggap melanggar hukum yang berlaku disana! Jadi kesimpulannya; apabila Anda ingin jadi cepat beken dan kaya berbuatlah dosa seabreg-abreg, sebab untuk semua dosa entah itu perjinahan ataupun pembunuhan sudah dihalalkan. Mang Ucup Email: mang.ucup<at>gmail.com Homepage: www.mangucup. org Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang! http://id.mail.yahoo.com
