jangan susah-susah menuntut orang lain taat pada agamanya atau menuntutnya agar jadi orang baik. lebih baik sibukkan diri kalian agar menjadi apa yang kalian inginkan pada orang lain.............
--- Pada Sen, 26/4/10, muskitawati <[email protected]> menulis: Dari: muskitawati <[email protected]> Judul: [zamanku] Buka Jilbab Boncengan Motor Dempet2an Bukan Muhrimnya !!! Kepada: [email protected] Tanggal: Senin, 26 April, 2010, 10:00 PM Buka Jilbab Boncengan Motor Dempet2an Bukan Muhrimnya !!! Padahal dalam Islam dilarang, malah menjadi makin garang, persis pastor2 Katolik yang dilarang nikah sehingga jadi garang terjang sana terjang sini. > "sunny" <am...@...> wrote: > Rayakan lulus sekolah rame2 > siswi yang biasanya diharuskan > menggunakan jilbab, saat konvoi > tidak lagi menggunakan jilbab. > Bahkan jilbab para siswi ini > dijadikan bendera sambil > berboncengan dengan teman > laki-laki mereka. > Mereka khan semuanya muslimin, tapi kenapa tingkah lakunya lebih parah dari orang kafir. Jelas yang salah orangnya bukan agamanya, cuma yang jadi pertanyaan kenapa harus yang Islam begitu padahal khan udah dididik keimanan. Terjadinya malah dilingkungan yang paling Islamiah, apakah enggak jadi tanda tanya hal seperti ini??? Inilah contohnya, bukan contoh kesalahan tingkah lakunya tapi kesalahan yang menyalahkan tingkah laku seperti itu. Untung aja kita bukan negara Syariah, kalo kita negara Syariah bisa dibayangkan banyaknya korban2 anak2 yang jatuh akibat hukuman dari Allah. Dempet2an pegang2an barangkali juga kobok2an sambil bermotor itu memang asyik tetapi berbahaya bisa ditabrak mobil bisa nabrak mobil tapi yang kasihan kalo nabrak orang lain. Ini jelas akibat ajaran Islam meskipun se-olah2 tidak ada diajarkan seperti ini malah sebaliknya. Jadi sebabnya adalah larangan itu sendiri yang ber-lebih2an tidak pada porsinya. Yang dilarang pasti dilawan, dan ini sering dialami didunia Islam. Katolik juga dengan pastor2nya, gejalanya sama, dilarang kawin malah menjadi binal terjang sana terjang sini seperti harimau dikandang ayam. Gejala diatas sebenarnya akibat kebebasan yang dibelenggu, sekali ada kesempatan untuk melampiaskannya maka seperti sapi gila mereka ber-lomba2 menunjukkan keberaniannya mempertontonkan apa saja kepada siapa saja tak perlu punya muhrim dulu. Justru dinegara yang bebas hal seperti ini enggak pernah ada, karena kalo mau cium2an enggak perlu tunggu waktu peluang yang baik, setiap hari kalo sama2 mau bisa direncanakan di taman, dimotel, ataupun dihotel. Meskipun bebas, para guru tetap mengajarkan bahwa hal itu tidak baik selain merugikan diri sendiri juga merugikan orang tuanya. Jadi dididik bukan dengan paksaan dengan hukuman rajam, potong kepala, dibotakin dll. tapi dididiknya dengan contoh2 tanpa ancaman hukuman sama sekali. Ny. Muslim binti Muskitawati
