KOTBAH ALTERNATIF
Sering aku merasa heran dengan para pendeta atau pastur,
mengapa mereka tidak bosan-bosannya berkotbah dengan bahan yang itu-itu
saja bertahun-tahun lamanya. Lain dengan ceramah para motivator
misalnya, yang bahannya sangat luas tidak terikat oleh kitab-suci
ataupun kode-etik iman. Kebosanan di sini yang kumaksud adalah
omong-kosong yang harus mereka lontarkan tiap hari. Kebanyakan dari
mereka tahu dan sadar bahwa kotbah mereka adalah omong-kosong, tapi
mereka sudah terlalu lama hidup menghayatinya dan itulah hidup bagi
mereka.
Omong-kosong seperti apakah? Mereka omong-kosong mengenai
Tuhan, seolah-olah Tuhan sudah positif keberadaannya hanya dari
kitab-suci. Mereka omong-kosong mengenai Tuhan yang bersabda,
seolah-olah Tuhan beneran berbicara. Mereka omong-kosong tentang
keselamatan, seolah-olah surga dan neraka sama nyatanya dengan rumput
yang bergoyang. Omong-kosong mereka begitu banyak, dari konsep dosa,
kitab yang dianggap suci, konsep tritunggal Tuhan, perjamuan kudus,
penebusan dosa, Tuhan yang mengabulkan doa, keberadaan iblis/setan dan
masih banyak lagi. Ketika aku masuk gereja, aku seperti masuk ke negeri
dongeng dengan kepercayaan abad pertengahan.
Dulu, waktu aku masih SMA, aku sempat percaya hal-hal
begituan. Yang aku ingat sekarang, waktu itu aku merasa takjub atas
konflik dan kebesaran Makhluk-Makhluk Supranatural. Perang abadi antara
Iblis dengan Malaikat. Kegentingan situasi manusia sehingga Tuhan sampai
perlu mengutus AnakNya. Cobaan terhadap kesetiaan manusia akan
janji-janji Allah. Lagu-lagu gerejawi yang mencoba menggambarkan keadaan
surga di bumi. Perang antara Yesus dengan Iblis di salib. Makan dan
minum dari Tubuh dan Darah Yesus. Gambaran siksaan di Neraka. Gambaran
Akhir Jaman dan Tuhan Yesus sebagai Hakim Terakhir. Pengorbanan para
Martir. Wahyu dan sabda-sabda Allah pada jaman Perjanjian Lama. Cerita
Penciptaan Manusia oleh Tuhan, dan masih banyak lagi dongeng-dongeng
yang aku benar-benar hayati waktu itu. Kalau diingat-ingat, hidup waktu
itu bagai masuk ke dalam 'dunia lain'. Dunia di mana kita harus berusaha
bergantung pada kebesaran Allah untuk keselamatan kita dari Konflik
Abadi tersebut.
Setiap aku masuk gereja dan mulai mendengarkan kotbah, aku
berusaha melihat di kedalaman mata si pengotbah. Apakah sang pengotbah
'memang mabok dengan dongeng abad pertengahan' sama dengan diriku waktu
SMA dulu ataukah dirinya sebenarnya sudah tidak menghayati lagi dongeng
keimanannya, pekerjaannyalah yang membuat dirinya masih mendongeng?
Aku perhatikan juga profil-profil para umat pengunjung
gereja. Banyak dari mereka terlihat berkelas dan berpendidikan. Dan
sudah pasti pekerjaan mereka menuntut untuk selalu berpikir rasionalis
dan realistis. Sebagaian umat datang ke gereja karena merasa ada
kewajiban, entah itu udah jadi kebiasaan yang otomatis, paksaan dari
istri/ibunya atau benar-benar menghayati imannya. Umat wanitalah yang
kukira paling merasa membutuhkan untuk datang ke gereja. Banyak dari
umat wanita yang benar-benar menghayati imannya, mendapatkan sosok ayah
yang kuat dan melindungi, yang terjewantahkan dengan baik dalam profil
Tuhan sebagai Bapa di Sorga di dalam gereja. Begitu pula dengan para
umat yang membawa-serta segala permasalahan dan luka batinnya untuk
'dipersembahkan' ke hadapan Bapa di Sorga.
Menurutku, memang baik bagi mereka memiliki pelindung
'imaginer' untuk meredam tekanan kehidupan. Dengan begitu, kotbah untuk
memenuhi kebutuhan 'perlindungan' seperti ini adalah kotbah yang cuma
sekedar menina-bobokan. Dan lembaga gereja adalah sebuah bisnis yang
sangat menggiurkan dalam pemenuhan kebutuhan untuk menina-bobokan ini.
Sama derejatnya dengan hiburan menonton televisi, bioskop atau main
game, yang fungsinya untuk melarikan atau meredam sementara dari stress
yang kita derita.
Masalahnya adalah, bagi umat yang sudah merasa dongeng itu
tidak efektif lagi untuk menina-bobokan dirinya dari luka batin dan
stress. Umat yang sungguh-sungguh ingin menyelesaikan 'dosa-dosa dan
penderitaannya', banyak yang mendapatkan diri frustasi terhadap
kebijakan/kehendak Tuhan. Ketika mereka mencari jawaban dari kotbah sang
pendeta/pastur, yang mereka dapatkan adalah konten yang sama sejak 2000
tahun yang lampau...
Masalah umat ini berkaitan dengan masalah pendeta/pastur.
Beranikah mereka menantang etika pekerjaannya sendiri? Dengan berkotbah
lebih realis dan bahkan melawan moralitas dongeng yang sudah kadaluarsa?
Semisal, yang paling sederhana saja, mempertanyakan dan mengupas konsep
dosa asal.
Konsep dosa asal memiliki kandungan moralitas bahwa manusia
dari orok sudah bersalah walaupun belum berbuat apapun! Kesalahan bisa
disesali dan diperbaiki, tapi dosa, kita tidak tahu persis apakah dosa
kita telah diampuni oleh Tuhan, karena Tuhan adalah misteri dan karena
itu selalu was-was terhadap hukuman Neraka walaupun kita telah menyesal
setengah mati dan berusaha mati-matian memperbaikinya. Oleh karena itu
moralitas orang yang percaya konsep dosa adalah selalu merasa harus
bergantung terhadap sosok imaginernya, kurang bisa mengampuni
dirinya-sendiri dan mudah menghakimi orang lain, karena tentunya, tolak
ukur/timbangan terhadap dirinya juga dipakaikan olehnya kepada orang
lain.
Konsep dosa asal yang dijelaskan di paragraf atas adalah
salah satu contohnya. Masih banyak contoh lain di seputar dongeng kitab
suci yang dapat dikupas oleh pengotbah. Namun sesungguhnya titik
beratnya terletak pada tujuan-tujuan apa yang hendak dicapai oleh
pengotbah?
Untuk memenuhi kebutuhan penghiburan, seremoni peribadatan
beserta kepercayaan dan kebudayaan dongengnya merupakan sarana yang
bagus. Bisa ditambah kotbah berupa dongeng, asal dengan syarat sang
Pengkotbah memang sedang mabok dongeng (penghayatan iman), atau sadar
sepenuhnya dirinya adalah termasuk sarana sebagai penghiburan hati umat
yang menderita stress dan luka batin.
Untuk pencarian jawaban sesungguhnya atas luka batin dan
stress kehidupan, setelah seremoni peribadatan, sarana kotbah bisa
dipakai dengan melancarkan Kotbah Alternatif. Di sini dibutuhkan
keberanian sekaligus kearifan sang Pengotbah dalam menghadapi umat dan
lembaga/pekerjaannya sendiri. Penjelasan di muka mengenai Kotbah
Alternatif sangat diperlukan supaya umat tidak salah paham, bahwa ini
tetaplah kotbah gerejawi, cuma lebih manusiawi tak hanya dongeng semata.
Sehingga umat diharapkan memahami mana yang bagian
'transedental/peribadatan/penghiburan' dan mana bagian 'umat sebagai
pejalan spritual' dan semua masih dalam lingkup ibadat gerejawi.
Mudah-mudahan ide ini bermanfaat. Salam.