Jor2an Lomba Baca Quran MTQ (=Bidah atau Musyrik?)
                                            
Karena lomba baca AlQuran ini adalah perlombaan membaca tulisan Arab, maka 
wajar kalo orang2 juga ikut serta berpartisipasi harusnya pemenangnya semuanya 
orang Arab, karena jury2nya lebih dipercaya ulama2 Arab yang lebih tahun 
tentang Islam dari ulama2 dari luar Arab.  Apakah karena alasan ini kemudian 
orang2 Arab atau negara2 Arab tidak boleh diundang untuk berpartisipasi, atau 
karena memang orang2 Arab itu menolak berpartisipasi karena menganggap bidah 
memperlombakan kata2 suci Allah untuk mengejar sebuah medali dan sejumlah 
hadiah yang bisa disamakan dengan berjudi seperti dalam pertandingan bola atau 
pertandingan tinju. Jadi jawabannya silahkan pembaca mencarinya sendiri karena 
jawabannya bisa ber-beda2.

Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) adalah perlombaan atau kompetisi membaca 
AlQuran yang sangat populer di Indonesia karena semuanya dibiayai oleh negara.  
Kompetisi ini aseli ciptaan ulama2 Indonesia karena sebelumnya belum pernah ada 
di-negara2 Islam, maksudnya untuk merangsang orang2 Indonesia untuk mempelajari 
bahasa Arab dan fasih dalam pembacaannya dan Indonesia inilah yang pertama 
sebagai penyelenggaranya ditahun 1987.

Kemudian melalui OKI, pemerintah menegosiasi negara2 Islam lainnya agar ikut 
menyelenggarakannya dan juga menyemarakan MTQ nasional di Indonesia.  Dari 
hasil negosiasi ini, lahirlah MTQ tingkat Internasional yang pernah 
diselenggarakan di Iran, di Maroko, dan di Russia.

Satu hal yang patut disesalkan adalah negara2 Arab yang bahasa ibunya berbahasa 
Arab tidak pernah mau ikut serta, serta merta mereka menolak berpartisipasi, 
kebanyakan menganggap sebagai bidah, dan ada yang mengutuk perlombaan MTQ ini 
karena pembacaan kitab suci harusnya menganggap betul2 suci bukan diperkosa 
oleh dosa kemaruk kemenangan jor2an berebut materi atas nama persaingan membaca 
kitab suci.  Lebih parah lagi, dalam menetapkan pemenangnya tidak ada batasan 
yang jelas karena hanya bedasarkan penilaian jury-nya saja.  Masing2 Jury tentu 
memenangkan pihaknya, singkatnya memperlombakan kalimat2 Allah yang suci 
menjadi tidak suci bukan cuma dianggap bidah bahkan ada yang menganggapnya 
musyrik yang merusak akidah ahlak dari Islam itu sendiri dan dianggap lebih 
jahat dari kafir karena musyrik ini adalah musuh2 Islam.

Sebagaimana umumnya perlombaan biasanya terbuka untuk diikuti siapapun, namun 
uniknya perlombaan ini hanya boleh diikuti oleh kaum muslimin saja, sedangkan 
kafir, murtad, yahudi ataupun penyembah berhala dilarang keras untuk mengikuti 
perlombaan ini. Meski totalnya ada tujuh cabang yang diperlombakan yang tdd 
Tilawah, Tartil, Tahfiz, Tafsir, Khattil, Fahmil, Syarhill dan Qiraat Saba', 
namun dalam penyelenggaraannya ini tidak selalu harus 7 cabang, ada kalanya 
cuma 6 atau kurang, semua itu cuma tergantung masing2 ketua penyelenggaranya 
saja yang bergantung dari dana yang tersedia.

Perlombaan ini pengaturannya persis seperti dalam pertandingan tinju nasional 
ataupun internasional, misalnya dibagi dalam group2, ada kelas2 umur, dlsb.  
Pengaturan ini memang diadopsi dari cara2 menyelenggarakan pertandingan olah 
raga lainnya.  Padahal dalam ajaran Islam maupun AlQuran sendiri meskipun ada 
kewajiban membaca tidak ada anjuran bahwa pembacaan ini boleh diadu 
diperlombakan seperti halnya perlombaan2 yang selalu ada taruhan2nya.  Taruhan2 
disini tentunya berbentuk hadiah2 berbentuk barang belum terdengar ada yang 
berbentuk uang.  Memang mungkin saja secara diam2 ada yang diberi bayaran 
berupa uang.  Hadiah2 pemenangnya juga sama seperti dalam PON atau dalam 
Olympiade yaitu ada Medali emas bagi pemenang pertama, Perak bagi pemenang 
kedua dan Perunggu bagi pemenang ketiga.  Namun biasanya oleh pemda tingkat 
kabupaten sering diberi tambahan hadiah berupa sepeda motor, umrah gratis dll.

Mulanya, MTQ ini hanya dilakukan secara Nasional tentunya melalui babak 
penyisihan tingkat Kabupaten, tingkat Propinsi, dan topnya adalah perlombaan 
tingkat Nasional.  Meskipun juga ada diselenggarakan secara Internasional 
tetapi tidak pernah negara2 Arab mengirimkan atlit2nya dalam membaca AlQuran 
ini.

Meskipun ketua penyelenggara MTQ ini selalu menyatakan bahwa perlombaan ini 
bertujuan meningkatkan ahlak, ternyata akibat jor2an itu sering terjadi 
pertengkaran antara para jury yang masing2 mau memenangkan jagonya, maklum yang 
namanya suara itu bisa beda didengar oleh tiap jury, yang suaranya serak disatu 
jury terdengar merdu sedangkan ditelinga jury lain seperti gelas pecah.  Namun 
setiap keributan yang terjadi dalam setiap penyelenggaraan MTQ bisa diredam 
tidak boleh direlease dalam berita.  Jadi apakah memang pertandingan lomba baca 
Quran ini membawa persatuan atau perpecahan tentunya tergantung pandangan 
masing2, tapi yang jelas orang Arab yang berbahasa Arab pasti lebih fasih dan 
lebih menang dan mereka tentu akan marah kalo dinyatakan kalah dalam membaca 
Quran dalam bertanding dengan qori dari negara yang tidak berbahasa Arab.

Sukses menyelenggarakan lomba baca Quran, ambisi penciptanya pertama kali ini 
ingin agar perlombaan ini bisa masuk ketingkat Asian Games dan Olympic Games.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke