http://regional.kompas.com/read/2010/08/09/06570481/Jihad.Kiai.Haris.di.Kompleks.Pelacuran-7

Dakwah

Jihad Kiai Haris di Kompleks Pelacuran
Senin, 9 Agustus 2010 | 06:57 WIB


SITUBONDO, KOMPAS.com — Suara musik dangdut yang mengentak tiba-tiba mati
setelah terdengar lafdun jalalah atau suara azan berkumandang mengiringi
tenggelamnya fajar.

Itu pertanda waktunya para santri berkumpul dan belajar mengaji di mushala.
Para perempuan  berpenampilan menor, yang biasanya duduk santai di depan
wisma menunggu pria hidung belang, bergegas menutup pintu dan masuk ke
kamarnya masing-masing.

“Mereka semua sangat toleran. Ketika memasuki waktu maghrib, semua penghuni
lokalisasi tidak ada yang membunyikan musik sampai waktu isya selesai,” kata
Kiai Muhammad Baidawi Haris.

Kiai berusia 52 tahun itu ditemui seusai mengajar para santrinya di
lokalisasi Gung Sampan (GS) di Desa Kotakan, Kecamatan/Kabupaten Situbondo,
Jawa Timur.

Sekitar 17 santri di sana belajar mengaji di Mushala Makrajul Iktidal di
tengah kompleks tersebut. Mushala ini diasuh Kiai Haris bersama Siti Zainab,
istrinya. Keduanya berasal dari luar kompleks pelacuran itu, kemudian
berjihad dengan ikhlas dan tekun untuk mendidik para santri yang umumnya
juga anak-anak penghuni kompleks pelacuran itu.

“Saya hanya merasa terpanggil untuk mengajar mengaji di tempat pelacuran
ini,” katanya.

Sejak diberlakukannya Peraturan Daerah Nomor 27 Tahun 2004 tentang larangan
praktik pelacuran di Situbondo, para ulama berkumpul membahas rintisan
keagamaan di kompleks lokalisasi itu.

Ternyata, rintisan para ulama ini mendapat dukungan dari semua penghuni
kompleks untuk mendirikan mushala.

“Kegiatan pengajian ini berlangsung tiga tahun, santrinya sudah banyak yang
bisa mengaji Al Quran dengan baik,” jelas pengasuh Mushala Makrajul Iktidal
yang juga wakil sekretaris Nahdlatul Ulama Situbondo ini.

Para santi ditempatkan di sebuah bekas rumah pelacuran. “Rumah ini sudah
dihibahkan untuk dijadikan mushala,” tukasnya.

Selain dijadikan tempat belajar mengaji anak anak kompleks, mushala juga
dijadikan tempat kegiatan pengajian rutin malam Jumat yang dikuti seluruh
muslimat di kompleks tersebut.

“Khusus untuk malam Jumat biasanya suara musik baru diputar setelah jam
21.00,” jelas Sawar, Ketua RT Desa Kotakan.

Sawar mengaku, meski buta agama dan bergelimang dosa karena menjadi
mucikari, tetapi dia tidak ingin anak anaknya akan bernasib sama. “Saya
tidak ingin anak-anak mengikuti jejak saya. Makanya, semua saya suruh
mengaji agar tahu agama dan dosa,” kata Sawar.

Sejak adanya mushala dan kegiatan keagamaan di kompleks ini, semua warga
antusias merawat dan memakmurkan tempat ibadah tersebut. Bahkan, setiap ada
kegiatan keagamaan, seluruh warga kompleks tidak pernah absen dan selalu
mengadakannya.

“Setiap bulan  puasa, semua warga selalu melaksanakan salat tarawih
bersama,” ujarnya. Seorang pemilik wisma di lokalisasi itu, Ritnawati (45),
mengaku tidak merasa terganggu dengan kegiatan pengajian.

Ia, katanya lagi, justru bersyukur karena dengan adanya bacaan Al Quran dan
suara azan dapat menggugah semua warga untuk segera bertaubat.

Dalam kondisi kompleks yang seperti ini, dirinya sering merenung dan
berpikir untuk segera insaf dari pekerjaan yang digeluti bersama suaminya
itu. “Sekarang ini, saya lebih senang merawat cucu,” kata Ritnawati. (Izi
Hartono)

Kirim email ke