Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr

yang sampai sekarang sudah dikunjungi  lebih dari  631  500  kali



 = = = =   = = =   = = =

“Syukur Alhamdullillah ! Demikan itulah memang Bangsa Indonesia ! Bewust!
Bewust! Sadar!  Ia tidak boleh masa-bodoh. Ia tidak seperti rumput. Ia
selalu “gito-gito lir gabah den interi”. Kalbunya senantiasa bergelora.
Fikirannya selalu bergerak. Jiwanya senantiasa “kranjingan”.

Kranjingan seperti ditiup Malaikat! Kranjingan dengan cita-cita. Kranjingan
dengan idee. Kranjingan dengan tujuan perjoangan. Kranjingan dengan
kemerdekaan. Kranjingan dengan idee masyarakat adil dan makmur. Kranjingan
dengan hapusnya “exploitation de l’homme par l’homme”. Kranjingan dengan
lenyapnya “exploitation de nation par nation”. Kranjingan dengan benci
mati-matian kepada imperialisme dan kolonialisme. Kranjingan dengan hidup
berjoang.  Kranjingan, ya kranjingan, maka karena itulah ia selalu sibuk
dalam aksi”. (Kutipan pidato Bung Karno dari Dibawah Bendera Revolusi - DBR,
halaman 592. Kranjingan berarti tergila-gila)





Revolusi Rakyat akan bikin bersih Indonesia kita


Jiwa revolusioner perjuangan 17 Agustus perlu dikobarkan
dan digelorakan lagi terus-menerus




Judul tullisan ini sepintas lalu kelihatan terlalu “galak”, atau
berlebih-lebihan, atau terlalu bombastis, dan bisa menimbulkan macam-macam
kesan dan pendapat atau juga pertanyaan. Sebab, kata revolusi masih bisa
mengundang  macam-macam pengertian, termasuk yang serba negatif dan
menakutkan. Ada yang selalu menghubungkan kata revolusi dengan situasi  yang
penuh dengan keonaran, anarchi, pengrusakan, pembunuhan,atau gontok-gontokan
yang berdarah-darah.



Juga, kata-kata “bikin bersih” dalam judul di atas  bisa saja diartikan
secara salah sebagai  pembabatan golongan reaksioner di Indonesia dengan
pemenggalan kepala musuh-musuh rakyat dalam  pembantaian secara
sewenang-wenang. “Bikin bersih” di atas juga bisa dijabarkan dengan
tindakan-tindakan yang serba “main hantam kromo” saja.



Padahal, revolusi atau revolusi rakyat, yang dimaksudkan dalam judul dan isi
tulisan ini adalah sama sekali bukan hal-hal biadab dan tidak manusiawi
seperti yang disebutkan di atas. Jauh dari itu, bahkan, bertentangan sama
sekali dengan hal-hal negatif itu semua !!! Revolusi Rakyat yang
disebut-sebut di sini adalah Revolusi Rakyat menurut ajaran-ajaran
revolusioner Bung Karno, yang justru telah diangkat oleh MPRS menjadi
Pemimpin Besar Revolusi (PBR).



Seperti yang  sudah ditunjukkan dengan gamblang sekali oleh sejarah bangsa
kita, Revolusi yang dianjurkan Bung Karno adalah untuk memperkuat Negara
Republik Indonesia, dan bukannya untuk memperlemah dengan adanya permusuhan
antar suku, antar agama, antar warganegara, antar keyakinan politik, untuk
melawan segala macam bahaya yang mengancam Pancasila dan Bhinneka Tunggal
Ika.



Pengalaman selama pemerintahan di bawah Bung Karno juga membuktikan bahwa
Revolusi yang digerakkan dengan ajaran-ajaran revolusionernya  telah melawan
segala macam anarchi, segala kekerasan yang bersifat kriminal, segala
pertumpahan darah yang tidak perlu, dan pelanggaran-pelanggaran HAM yang
sewenang-wenang.



Revolusi Rakyat yang berkobar-kobar pada waktu itu  justru melindungi
kepentingan rakyat, dan bertujuan jelas-jelas untuk kesejahteraan rakyat dan
membela keadilan bagi semua. Artinya, selama pemerintahan di bawah Bung
Karno, Revolusi Rakyat, telah dengan nyata-nyata sekali  menghormati dan
menjaga dan melindungi serta menjunjung tinggi-tinggi Pancasila, Bhinneka
Tunggal  Ika, dan UUD 45.



Apolitisasi  menyebabkan  lunturnya patriotisme kerakyatan


Itu semua sangat penting untuk kita renungkan bersama-sama sekarang ini,
ketika kita akan memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus dalam tahun 2010
ini. Banyak hal yang bisa sama-sama kita persoalkan, dan banyak pertanyaan
yang bisa kita ajukan, dan banyak pula pendapat yang bisa kita utarakan.



Umpamanya, di antaranya adalah :  Apakah jiwa proklamasi 17 Agutus 45
sekarang ini masih dihayati oleh sebagian besar rakyat kita ? Apakah
cita-cita dan tujuan proklamasi 17 Agustus 45 sudah benar-benar
diperjuangkan oleh bangsa Indonesia? Apakah situasi negara seperti yang
sekarang ini yang diinginkan oleh para pejuang kemerdekaan kita? Negara dan
bangsa kita sekarang ini apa berjalan di atas relnya revolusi 45? Apa saja
penyelewengan-penyelewengan yang terjadi atas tujuan revolusi 17 Agustus 45?



Kalau kita betul-betul mau jujur terhadap diri kita masing-masing, maka kita
sudah selayaknya mengatakan sayang sekali bahwa sebagian  (yang cukup besar)
bangsa kita sudah tidak peduli lagi sama sekali terhadap proklamasi 17
Agutus 45. Sebagian lainnya ikut merayakan dengan berbagai macam cara, hanya
karena ikut-ikutan saja.



Banyak di antara bangsa kita yang apatis saja terhadap politik atau situasi
negara dan bangsa, dan karenanya terjadi apolitisasi secara besar-besaran
dalam masyarakat atau sebagian terbesar bangsa. Apolitisasi ini menyebabkan
merosotnya patrtotisme kerakyatan, dan lunturnya atau lumpuhnya jiwa
revolusioner yang pernah menjadi ciri utama dalam nation and character
building di Indonesia.



Seperti kita ketahui dari pengalaman kita masing-masing, lunturnya
patriotisme kerakyatan, dan lumpuhnya jiwa revolusioner bangsa Indonesia
akibat berbagai politik reaksioner dan mengandung ciri-ciri fasisme yang
dijalankan pemerintahan Suharto bersama jenderal-jenderalnya (dan GOLKAR)
dalam jangka puluhan tahun, maka situasi negara dan bangsa menjadi serba
menyedihkan bagi sebagian terbesar rakyat kita seperti sekarang ini.



Tujuan dan jiwa proklamasi telah diselewengkan dan dikhianati



Ketika kita memperingati 17 Agustus  45 dalam tahun 2010, maka kita bisa
mengatakan dengan tegas, bahwa situasi bangsa dan negara yang  kita saksikan
bersama sekarang ini sama sekali bukanlah yang diinginkan oleh para perintis
dan pejuang kemerdekaan, yang sudah berjuang dengan pengorbanan besar.
Mereka akan kecewa sekali dan mengutuk kepada mereka yang menyebabkan
timbulnya situasi pembusukan besar-besaran dan sangat parah seperti sekarang
ini.



Melihat keadaan negara dan bangsa dalam tahun 2010 ini bisalah kiranya kita
katakan bahwa cita-cita 17 Agustus 45 telah diselewengkan, bahkan telah
dikhianati, sejak pemerintahan Suharto dan diteruskan oleh berbagai
pemerintahan yang menggantikannya. Tujuan yang luhur dan mulia yang
dikandung proklamasi 17 Agutus telah dirusak dan  sebagian yang besar yang
penting-penting telah dibuang oleh Orde Baru serta penerus-penerusnya.



Moral bangsa kita sekarang dan  moral di bawah Bung Karno


Moral bangsa kita sekarang sudah tidak seperti seperti moral bangsa di bawah
pimpinan Bung Karno,   yaitu moral revolusioner dan moral perjuangan, moral
pengabdian kepada rakyat, moral persatuan bangsa yang menjunjung tinggi
Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, Sebagian moral bangsa kita sudah rusak,
sebagian lagi  sudah busuk, dan sebagian lainnya lagi sudah lapuk. Untung,
masih ada juga sebagian lainnya lagi yang masih  baik dan bebas dari segala
dekadensi dan degenerasi.



Mereka ini kebanyakan (artinya, tidak semuanya, tentu saja) terdiri dari
macam-macam orang dari golongan yang menentang rejim militer Orde Baru,
golongan pendukung politik Bung Karno, golongan kiri pada umumnya, golongan
korban Orde Baru dan golongan yang menentang neo-liberalisme, golongan yang
mau meneruskan Revolusi Rakyat menurut ajaran-ajaran revolusioner Bung
Karno, golongan yang mau bersama-sama memperjuangkan masyarakat adil dan
makmur.



Setelah 65 tahun merdeka, ketika kita merayakan 17Agustus dalam tahun 2010
sekarang ini kita melihat bahwa negara dan bangsa kita makin rusak, moral
sebagian bangsa (terutama kalangan atas)  makin membusuk dari pada yang
sudah-sudah sejak pemerintahan Orde Baru. Kalau kita lihat televisi dan baca
media pers,  maka luar biasa banyaknya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan
yang makin menjadi-jadi, dan di segala bidang pula, baik yang di Jakarta
maupun (dan bahkan apalagi !!!) di daerah-daerah..



Hukum dilecehkan atau dilanggar sendiri oleh orang-orang  besar di bidang
eksekutif, legislatif, dan judikatif di semua tingkat. Keadilan bisa
diperjual-belikan dan sering dimenangkan oleh para tokoh-tokoh reaksioner
dan korup, baik yang di kalangan pemerintahan maupun di kalangan swasta
Kerusakan iman di kalangan pemuka-pemuka agama pun  sangat parah dan
menyedihkan (dan memalukan !!!).



Negara dan bangsa perlu ”dibersihkan” dengan Revolusi Rakyat


Kerusakan atau pembusukan ini  -- terutama kerusakan moral atau  pembusukan
akhlak  --  sudah begitu luasnya dan juga begitu parahnya sehingga tidak
bisa dibenahi oleh pemimpin Indonesia sekarang  yang manapun juga, atau oleh
pemerintahan yang bagaimanapun juga, atau oleh partai politik yang apapun
juga, dan dengan program atau sistem yang macam apapun juga. Negara kita
sudah terlalu kelewatan kotornya  oleh berbagai  sampah bangsa, dan sudah
terlalu parah dengan berbagai penyakit yang akut.



Negara kita yang sedang sakit oleh berbagai kotoran, penyakit dan sampah
sekarang ini harus “dibersihkan dan disaring” , demi kelangsungan negara dan
bangsa serta demi anak cucu kita di kemudian hari. Dan,  menurut pengalaman
kita selama ini,  pembersihan negara dan bangsa ini hanya bisa dilakukan
lewat dan oleh Revolusi Rakyat, suatu cara dan jalan yang sudah ditunjukkan
dengan gemilang oleh PBR (Pemimpin Besar Revolusi) Bung Karno.



Revolusi Rakyat yang demikian itu akan meningkatkan tinggi-tinggi  kesedaran
politik revolusioner bangsa kita, yang bisa merupakan  satu-satunya obat
ampuh guna menghapus segala macam dekadensi dan degenerasi politik maupun
moral, sumber dari segala penyakit bangsa kita dewasa ini. Sebab, obat ampuh
lainnya sudah sulit (bahkan, tidak mungkin )  ditemukan, baik dari
ajaran-ajaran agama yang manapun,  ataupun dari teori-teori lainnya yang
apapun, yang bisa ditrapkan dengan kondisi kongkrit di Indonesia sekarang.



Revolusi Rakyat yang pernah digerakkan dan dikobarkan di bawah ajaran dan
pimpinan Bung Karno puluhan tahun, dan yang kemudian dimatikan atau
dilumpuhkan secara khianat oleh Suharto bersama jenderal-jenderalnya,
sekarang perlu dihidupkan dan dikobarkan lagi, untuk mengadakan pembersihan
negara dan bangsa secara besar-besaran.



Seluruh kekuatan demokratis harus  persatukan diri
dalam tugas “pembersihan”


Untuk menghidupkan lagi serta mengkobarkan atau menggelorakan Revolusi
Rakyat ini, maka sesuai dengan ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno,
perlulah kiranya semua kekuatan progresif dan revolusioner yang ada di
Indonesia, berusaha sekuat mungkin serta melalui berbagai cara dan bentuk
untuk mempersatukan diri dalam tugas besar ini, yaitu pembersihan negara dan
bangsa dari segala penyakit dan kotroran atau sampah.



Untuk mempersiapkan dapat digerakkannya dan dikobarkannya  Revolusi
akyat  -- sekali lagi menurut ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno !  --
maka seluruh kekuatan demokratis perlu melakukan berbagai macam aksi atau
kegiatan untuk membela kepentingan rakyat banyak dan menentang segala macam
kejahatan (antara lain korupsi) yang dilakukan oleh segenap kaum reaksioner
dalam negeri dan luar negeri.



Berbagai macam aksi (antara lain demo-demo) atau kegiatan sosial-politik,
yang dilakukan oleh bermacam-macam organisasi dan golongan masyarakat,
seperti yang dilakukan baru-baru ini di Jakarta (dan tempat-tempat lainnya)
adalah bagian penting dari pemupukan kesedaran politik dan kesedaran
perjuangan revolusioner, yang merupakan salah satu di antara syarat-syarat
penting untuk dilancarkannya Revolusi Rakyat.



Aksi-aksi yang berkaitan dengan soal-soal sosial-ekonomis  dan perjuangan di
bidang politik, yang dilancarkan oleh massa pemuda, mahasiswa, buruh, tani,
penganggur, rakyat miskin dan bagian-bagian masyarakat lainnya, adalah
penting untuk mengantar aspirasi rakyat menghadapi masalah-masalah kongkrit
dan mendesak dalam jangka dekat. Berbagai macam aksi untuk membongkar kasus
Bank Century dan persoalan korupsi yang pernah menggelora di seluruh  negeri
( yang sekarang kelihatan agak loyo) perlu dikobarkan lagi bersama-sama.
Ditambah sekarang ini dengan masalah kenaikan TDL (Tarif Dasar Listrik) dan
makin membubungnya  harga-harga  kebutuhan hidup sehari-hari, dan
persoalan–persoalan hangat lainnya.



Semua macam aksi tuntutan sosial-ekonomis dan perjuangan dalam bidang
politik yang digelorakan oleh macam-macam golongan masyarakat ini bisa
mendekatkan rakyat dengan Revolusi Rakyat yang harus dikobarkan lagi untuk
diteruskan.  Aksi dan kegiatan berbagai kalangan dalam masyarakat ini juga
maha penting sebagai investasi politik bagi Revolusi Rakyat sebagai
satu-satunya jalan untuk membersihkan negara, menyehatkan bangsa, dan
menyelamatkan generasi kita selanjutnya.



Sekali lagi, dan untuk kesekian kalinya, perlu diulangi lagi bahwa Revolusi
Rakyat menurut ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno adalah satu-satunya
jalan untuk membersihkan negara dan menyehatkan bangsa kita dari segala
macam penyakit dan kebusukan. Tidak ada jalan lain !!!



Paris, 8 Agustus   2010



 A. Umar Said





* * *






Kirim email ke