Berikut Ini tanggapan dar Dr. Tantono Subagyo, atas pertanyaan seputar 
Bisnis Bioteknologi dan HAKI oleh rekan Ahmad Rusdiansyah 

Silakan simak ........

Moderator

At Thursday, 1 February 2001, Tantono Subagyo <tantono@sinergy-forum.
net> wrote:

>>Pak Tantono yth,
>>Saya tertarik dengan pernyataan dan pertanyaan Bapak. Saya ada 
beberapa 
>
>>pertanyaan ttg itu.
>>

>>1. Sampai sekarang, di negara-negara maju sejauh mana perkembangan 
>>bisnis yang BIOTECH base. Adakah diantara diantaranya yang berskala 
>>Small Scale Industries seperti halnya IT Industries di sillicon valey 
>>? 

>Bila anda lihat dibagian makalah saya terlihat bahwa perkembangan 
>biotech terutama pharmacy dan agricultural biotech sangat menakjubkan,
>dan banyak juga pelakunya yang dari small business, bahkan dari 
>University.  Univ of California  adalah jagonya dalam hal itu yang 
>pendapatan kotornya dari lisensi mencapai 73 juta dollar di tahun 
>1998

>>2. Bagaimana dengan di Indonesia ? adakah peluang bisnis di bidang 
>>ini ? Sejauh mana kelayakan ekonomisnya ?

>Seharusnya ada, Indonesia adalah mega diversity dengan keanekaragaman 
>hayati yang luar biasa, nomr satu atau dua dibandingkan dengan Brasilia.

>Kalau kita bisa mengembangkan 10% dari obat yang kita butuhkan 
>saja sudah berapa penghematan devisa.
>>
>>3. Mengenai "Pencurian" Paten. Menurut pendapat Bapak, kira-kira 
>>bagaimana cara2 mereka melakukan "pencurian" ini. Saya jadi teringat 
>>suatu quote yang dilontarkan Dr Rachmaniar Rachmat Apt dari LIPI 
>>di harian Kompas seperti dibawah ini ...
>>Apakah ada kontribusi dari orang Indonesia sendiri tentang hal ini.
>>..? mohon diskusinya.

>Orang Indonesia belum sadar HKI, kalau punya hasil penelitian ditunjuk-
>tunjukkan orang lain, padahal saya masuk lab suatu perusahaan di 
>USA untuk Seminar saja disuruh tandatangan confidentiality agreement.
>Cara yang lain dikasih beasiswa S2 dan S3 dengan penelitian memakai 
>bahan tradisional, Cara lain lagi Shaman Pharmaceuticals meneliti 
>bahan obat yang telah dipaki oleh suku tradisional.  Jadi kontribusinya 

>adalah karena "ignorance." akan HKI
>>
>>--------------
>>"Tanpa kejelian, bisa-bisa peneliti Indonesia sebagai partner hanya 
>>dijadikan "tukang koleksi" bahan penelitian, sementara hasilnya yang 
>>bisa 
>>bernilai ekonomi jutaan dollar AS terbang ke negeri orang." http:
>>//www.kompas.com/kompas-cetak/0007/20/NAPER/rach12.htm
>>-------------------

>>
>Saya setuju, kesadaran HKI kita masih sangat rendah, paten 24 bahan 
>kosmetik oleh Shiseido di Jepang itu malah menyebutkan nama jawanya 
>: brotowali, temu ireng dls
>
>Salam, Tantono
>







Reply via email to