Yth. Peserta ZOA-BIOTEK,

Berikut kami sampaikan bagian ke-2 posting makalah Dr. Antonius Suwanto.

Moderator

Dedy H.B> Wicaksono

===================================================


Jagung Bt dan Kupu-kupu Raja 

Dalam menilai produk transgenik juga perlu diperhatikan bahwa hasil 
penelitian sains itu sendiri tidak dapat memberikan garansi 100 persen 
terhadap keamanan suatu produk. Betapa kecil sekalipun ketidak pastian 
itu tetap ada. Hal ini seringkali dijadikan acuan untuk menegatifkan 
dampak suatu produk transgenik tanpa menelitinya dengan lebih rinci.
Oleh karena itu dalam menilai sebaiknya juga dilakukan perbandingan 
dengan pendekatan alternatif untuk memecahkan persoalan yang sama.
Untuk mencoba memahami hal ini marilah kita simak kasus jagung transgenik 
yang telah banyak dijadikan ajang debat dan contoh mengenai bahaya 
tanaman transgenik terhadap lingkungan.

Ciba-Geigy (sekarang Novartis) telah berhasil mengkonstruksi jagung 
transgenik (jagung Bt) yang kebal terhadap hama penggerek jagung.
Tanaman transgenik ini telah ditanam oleh petani di Amerika Serikat 
sejak tahun 1996. Jagung Bt mengandung gen cry dari Bacillus thuringiensis 
sehingga dapat menghasilkan protein yang dapat membunuh serangga 
dari kelompok Lepidoptera. Tanaman transgenik ini diharapkan dapat 
mengurangi jumlah dan dampak pemakaian pestisida kimia sehingga secara 
teknis-ekonomis lebih menguntungkan petani, dan lebih ramah terhadap 
lingkungan. Meskipun target utama jagung Bt adalah proteksi terhadap 
larva serangga hama yang memakan daun, namun konstruksi gen cry pada 
jagung Bt juga menyebabkan ekspresi protein Cry pada serbuk sari 
tanaman transgenik tersebut. Pada majalah Nature bulan Mei 1999, 
John Losey dan kawan-kawan dari Cornell University melaporkan bahwa 
daun tanaman milkweed (Asclepias curassavica) yang ditebari dengan 
serbuk sari jagung Bt dapat mematikan ulat kupu-kupu Raja (monarch 
butterfly) (Danaus plexippus) yang memakan daun tersebut (Losey et 
al., 1999). Media yang tidak kritis langsung saja menarik kesimpulan 
umum dari percobaan skala laboratorium itu bahwa jagung Bt membahayakan 
kehidupan kupu-kupu Raja dan mengancam keaneakaan hayati. Berita 
ini sangat besar pengaruhnya dan memberikan kesan mendalam mengenai 
bahaya tanaman transgenik pada kebanyakan orang awam dan pengambil 
kebijakan yang tidak memahami permasalahannya secara utuh. Segera 
setelah publikasi tersebut terjadi hal-hal yang dramatis antara lain:
saham Monsanto merosot sampai hampir 10%, terjadi kemungkinan restriksi 
impor produk pertanian dari Amerika Serikat oleh Jepang, pembekuan 
proses perijinan jagung bt oleh Uni Eropa, dan kampanye anti penanaman 
jagung bt oleh sejumlah organisasi di Amerika Serikat.

Pada selang waktu yang sama, Profesor Shelton (yang juga bekerja 
di Cornell University, tapi di kampus Geneva, New York) menyatakan 
bahwa percobaan skala laboratorium itu tidak dapat begitu saja dipakai 
sebagai kesimpulan di lapangan (Shelton and Roush, 1999). Dalam komentarnya,
Shelton menyesalkan bahwa Losey dan kawan-kawan tidak melihat hasil 
penelitian yang telah dilaporkan sebelumnya yang lebih relevan dan 
realistis karena dilakukan dari contoh daun common milkweed (Asclepias 
syriaca) yang diambil langsung dari sekitar kebun jagung (Hansen,
1999). Serbuk sari jagung yang jatuh pada daun milkweed paling besar 
konsentrasinya pada tanaman yang terletak di tengah ladang jagung,
tapi justru di lokasi ini kupu-kupu raja malah tidak banyak dijumpai.
Dan kalaupun serbuk sari jagung itu jatuh ke daun milkweed di daerah 
yang banyak kupu-kupunya (di pinggiran ladang jagung) maka jumlahnya 
akan jauh lebih kecil dari jumlah serbuk sari yang dioleskan ke permukaan 
daun oleh Losey. Apakah jagung Bt itu dijamin tidak akan membunuh 
larva kupu-kupu Raja di lapangan? Bila jaminan ini diminta 100 persen,
maka tidak akan ada pakar sains yang akan menyanggupinya, karena 
hasil penelitian itu sendiri berhubungan dengan probabilitas sehingga 
selalu ada saja resikonya betapa pun kecilnya. Yang perlu disimak 
di sini adalah pentingnya paparan informasi yang seimbang (dalam 
hal ini laporan Losey maupun Shelton atau Hansen sama-sama dikemukakan),
lalu membandingkan mana yang lebih menguntungkan dari alternatif 
praktek penanggulangan hama jagung tersebut (pemakaian pestisida 
kimia vs jagung Bt). Pestisida kimia sintetis juga mengandung resiko 
yang tidak kecil baik bagi serangga non-target maupun untuk makhluk 
hidup lainnya. Kenyataannya mungkin lebih banyak kupu-kupu Raja yang 
mati akibat habitatnya dirusak karena penggundulan hutan yang sama 
sekali tak ada sangkut pautnya dengan jagung Bt.

Dalam hal pelestarian keragaman hayati malah sudah ada contoh nyata 
di mana organisme transgenik justru menjadi penyelamat terhadap kepunahan 
suatu spesies. Pohon chesnut (Castanea dentata) pada mulanya merupakan 
tanaman dominan yang tersebar luas di Amerika Utara. Serangan cendawan 
Cryphonectria parasitica telah menghancurkan kejayaan tanaman ini 
hingga berada di ambang kepunahan. Saat ini telah dilakukan rekayasa 
genetik sehingga kromosom C. parasitica mengandung gen dari mycovirus 
yang membuat keganasannya berkurang (hypovirulent). C. parasitica 
transgenik tersebut ternyata sangat membantu dalam menangkal serangan 
C. parasitica tipe liar di alam, yang pada gilirannya dapat menyelamatkan 
tanaman chesnut dari kepunahan (Chen and Nuss, 1999)

Selain itu, issue yang sifatnya preferensi pribadi sebaiknya tidak 
ditanggapi sebagai pendapat umum. Sebagai contoh: Seseorang dapat 
mengklaim bahwa tomat organik (tomat yang ditanam tanpa pestisida 
dan pupuk kimia sintetis) merupakan buah yang baik untuk kesehatan 
sehingga ia hanya mau mengkonsumsi makanan organik. Pendapat ini 
perlu dihormati, tetapi tidak dapat diberikan kesimpulan umum bahwa 
tomat non-organik tidak sehat. Penilaian tanaman transgenik secara 
sepihak juga bisa merupakan refleksi persaingan bisnis yang terselubung,
karena bagaimanapun ada perbedaan kepentingan sehingga masing-masing 
pihak mencoba menggiring pendapat masyarakat banyak. Perusahaan penghasil 
benih tanaman transgenik tahan serangan hama misalnya, dapat menjadi 
ancaman terhadap eksistensi perusahaan pestisida kimia. Paparan informasi 
yang tidak proporsional bahkan dapat menyulut emosi sekelompok masyarakat 
awam dan mengakibatkan dampak sosial dan ekonomi yang merugikan. 
Oleh karena itu sangat diperlukan paparan informasi seimbang dan 
kebijakan yang prudent dari pemerintah dan pihak terkait yang dapat 
menjadi acuan bagi konsumen atau orang awam dalam mengambil keputusan 
terhadap suatu produk transgenik.

Bioteknologi dan persaingan global

Sampai saat ini beberapa produk pertanian unggul tertentu berasosiasi 
dengan kata Bangkok atau Thailand. Ada durian dan pepaya Bangkok,
ada beras, anggrek, dan rambutan Thailand yang semuanya berkonotasi 
manis, enak, pulen, dan bagus atau bermutu tinggi. Bahkan kita bisa 
temukan dengan mudah buku-buku petunjuk bercocok tanam durian atau 
mangga ala Thailand yang ditulis dan dijual di Indonesia. Padahal 
Indonesia adalah salah satu negara terkaya dalam hal keragaman hayati,
bahkan Indonesia diperkirakan sebagai negara asal (botanical home) 
untuk tanaman seperti padi, durian, pisang, rambutan, dan manggis.
Mengapa produk unggulan dan teknik perbaikan varietas tanaman tersebut 
tidak berkembang dengan baik di Indonesia? Berbagai alasan yang mendukung 
kelambanan kita dalam mengantisipasi teknologi pemuliaan tanaman 
dapat dikemukakan, tetapi salah satu alasan utamanya adalah arah 
kebijakan pertanian yang tidak kompetitif dan kondisi di lapangan 
yang tidak mendorong petani untuk menjadi kreatif. Kreativitas antara 
lain dapat dipacu dengan memberikan paparan yang up to date mengenai 
suatu pengetahuan atau teknologi diiringi dengan tantangan untuk 
meningkatkan nilai tambah suatu produk baik secara teknis maupun 
ekonomis. Thailand merupakan contoh negara yang berhasil dalam memacu 
kreativitas petaninya, bahkan perkembangan bioteknologi modern telah 
diantisipasi dengan mendirikan lembaga pemerintahan seperti National 
Center for Genetic Engineering and Biotechnology (BIOTEC-Thailand).
Dengan bioteknologi, negeri Gajah Putih itu berharap dapat lebih 
mengoptimalkan kreativitas petani untuk menghasilkan produk-produk 
unggulan berbasis keragaman hayati yang, ironisnya, mungkin bahan 
bakunya diperoleh dari Indonesia. Sehingga bukannya tidak mungkin 
kita sendiri justru mengimpor produk pertanian yang lebih canggih 
dari Thailand yang dirakit melalui bioteknologi modern.

Sementara itu negara tetangga kita Singapura dan Malaysia sedang 
gencar membahas mengenai teknologi untuk mendeteksi dan menentukan 
kriteria produk transgenik. Singapura khususnya telah membangun sejumlah 
pusat penelitian bioteknologi bertaraf internasional yang akan siap 
memberikan pelayanan untuk mengkonstruksi produk transgenik tertentu,
atau jasa untuk menentukan apakah suatu produk mengandung organisme 
transgenik (sertifikasi produk transgenik). Kenyataan tersebut seharusnya 
menyadarkan kita bahwa negara tetangga terdekat telah bersiap untuk 
menjual jasa manakala kita tidak siap dengan teknologi deteksi produk 
transgenik (Singapura), atau menjadikan kita pasar yang potensial 
untuk produk bioteknologi (Thailand). Sampai saat ini kita masih 
jalan di tempat dalam hal memanfaatkan keragaman hayati kita, antara 
lain karena masih belum ada sinkronisasi dalam kebijakan penelitian 
dan pengembangan bioteknologi modern. Terhambatnya penelitian bioteknologi 
modern akan berdampak pada kemampuan kita dalam memanfaatkan keragaman 
hayati secara optimal yang secara langsung atau tidak langsung menyebabkan 
tertinggalnya kita dalam persaingan internasional. Oleh karena itu 
sebaiknya pihak yang berwenang dapat memikirkan kebijakan yang mantap 
mengenai produk transgenik, yang selain memperhatikan aspek keamanan 
konsumen dan lingkungan, juga mempertimbangkan perkembangan rekayasa 
genetika dan bioinformatika untuk memacu petani dalam persaingan 
agribisnis internasional. 

Kondisi di Indonesia

Keragaman hayati yang melimpah di Indonesia merupakan bahan mentah 
penting untuk perkembangan bioteknologi modern, yang antara lain 
dapat digunakan sebagai sumber gen-gen baru untuk mengkonstruksi 
tanaman transgenik (Suwanto, 1998). Sebagian besar keragaman hayati 
yang ada merupakan anugerah alam terpaut lokasi geografis yang memberikan 
harapan untuk mengejar ketertinggalan kita dalam persaingan agribisnis 
internasional yang semakin ketat. Oleh karena itu, sangat diperlukan 
iklim yang kondusif dalam penelitian-penelitian untuk memanfaatkan 
keanekaan hayati. Tidak hanya terbatas pada mendata atau mengaguminya 
saja, tetapi untuk memanfaatkannya secara optimal. Pada saat ini 
hal tersebut dapat dilakukan antara lain dengan mengintegrasikannya 
dengan aktivitas bioteknologi dan bioinformatika (Strohl, 2000) dalam 
ruang lingkup biokompleksitas (biocomplexity programs) yang sedang 
gencar dibicarakan sebagai suatu cutting-edge research strategy di 
negara-negara maju. Supaya tidak tertinggal lagi seperti pada teknologi 
yang lain, kita perlu mencermati hal ini dan segera memilih strategi 
terbaik untuk implementasinya.

Saat ini di Indonesia telah ada sejumlah pusat penelitian dengan 
sejumlah sumberdaya manusia (SDM) yang memadai untuk melakukan kegiatan 
penelitian di bidang bioteknologi modern. Meskipun demikian, jumlah 
SDM itu masih berada di bawah ambang batas minimal critical mass.
Selain itu, hanya beberapa institusi saja yang memiliki sarana agak 
memadaiEuntuk memfasilitasi kegiatan tersebut. Hampir semua institusi 
penelitian yang tergolong terkemuka di Indonesia masih jauh tertinggal 
dalam hal kondisi infrastruktur dan kemampuannya dalam mengimplementasikan 
cutting-edge research strategies. Sebagai contoh, Bioinformatika 
yang merupakan disiplin paduan antara Ilmu Komputer dan Biologi Molekuler,
telah menjadi salah satu strategi riset andalan negara maju dan 
sejumlah negara berkembang seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand 
sejak sekitar 5-8 tahun yang lalu. Singapura telah mengantisipasinya 
dengan mendirikan pusat bioinformatika dan telah melakukan analisis 
mengenai Microarray Technology (DNA Chips Technology) serta riset 
biologi in silico yang akan menjadi landasan ilmu-ilmu pertanian,
kedokteran, dan lingkungan masa depan. Malaysia telah membentuk 
National Biotechnology and Bioinformatics Network (NABBinet) yang 
berada langsung di bawah Ministry of Science, Technology and the 
Environment. Sementara itu di Indonesia, khususnya institusi pemerintahan 
terkait, belum menunjukkan sinyal antisipasi kemajuan dalam Bioinformatika 
dan teknologi turunannya. Padahal Singapura dan Malaysia telah mulai 
mendiskusikan kemungkinan untuk mendapatkan dana bagi Asia-Pacific 
Bioinformatics Network (AP-Bionet) dari komunitas negara-negara APEC.


Dalam hal pengaturan produk transgenik telah dibuat aturan tersendiri 
yang melibatkan sejumlah Departemen terkait. Peraturan ini nampaknya 
sudah memadai, meskipun dalam perkembangannya nanti masih perlu dilakukan 
sejumlah revisi. Yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana implementasinya.
Untuk mendeteksi Genetically Modified Organisms (GMOs) sendiri masih 
belum dibuat mekanisme dan prosedur untuk deteksinya, misalnya berapa 
ambang batas suatu produk disebut GMO-free, dan piranti deteksi apa 
yang akan digunakan. Ketersediaan informasi dan sarana ini sangat 
diperlukan untuk mempertimbangkan mengenai kebijakan pelabelan atau 
aspek legal dari masalah yang berhubungan dengan produk transgenik.


Introduksi tanaman transgenik atau produk pangan yang dihasilkannya 
perlu dievaluasi dengan hati-hati sebagaimana yang dilakukan pada 
proses pelepasan sejumlah varitas tanaman atau pemasaran produk pangan 
baru. Peraturan yang dibuat untuk evaluasi seharusnya diambil berdasarkan 
data ilmiah yang memadai, atau berdasarkan pertimbangan rasional 
yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan, sehingga peraturan 
tersebut tidak hanya melindungi konsumen dari bahaya nyata, tetapi 
juga memungkinkan konsumen untuk memanfaatkan produk transgenik dan 
teknologi yang mendasarinya secara maksimal. Meskipun demikian, peraturan 
yang dibuat hendaknya tidak menimbulkan kerumitan baru yang tidak 
perlu. Peraturan dan kekawatiran yang berlebihan tidak hanya akan 
menyurutkan perkembangan bioteknologi, suatu disiplin ilmu yang seharusnya 
dikuasai dengan baik untuk dapat memanfaatkan megabiodiversitas nasional 
secara optimal, tetapi juga dapat mengalihkan perhatian masyarakat 
dari masalah-masalah yang lebih penting dan mendesak. Oleh karena 
itu, pendidikan masyarakat mengenai bioteknologi (biotechnology literacy),
khususnya rekayasa genetika, dan pembentukan komisi nasional atau 
badan sejenis yang khusus menangani Bioteknologi Modern, seharusnya 
menjadi agenda utama bagi penentu kebijakan yang berhubungan dengan 
masalah keamanan produk transgenik.

Pustaka

1. Bhattacharya, D. and L. Medlin. 1998. Algal phylogeny and the 
origin of land plants. Plant Physiol. 116:9-15. 

2. Chen, B. and D. L. Nuss. 1999. Infectious cDNA clone of hypovirulence 
CHV-Euro7: A comparative virology approach to investigate virus-mediated 
hypovirulence of the chesnut blight fungus Cryphonectria parasitica.
J. Virology 73:985-992 

3. Hansen, L. 1999. Non-target effects of Bt corn pollen on the Monarch 
butterfly (Lepidoptera: Danaidae). 
http://www.ent.iastate.edu/entsoc/ncb99/prog/abs/D81.
html 

4. Losey, J.E., L.S. Rayor, and M.E. Carter. 1999. Transgenic pollen 
harms monarch larvae. Nature 399:214 

5. Russo, E. and D. Cove. 1995. Genetic Engineering: Dreams and Nightmares.
W.H. Freeman, New York. 

6. Sandmann, G. 1994. Carotenoid biosynthesis in microorganisms and 
plants. Eur. J. Biochem. 223:7-24. 

7. Shelton, A.M. and R. Roush. 1999. False reports and the ears of 
men. Nature Biotechnol. 17:832. 

8. Strohl, W.R. 2000. The role of natural products in a modern drug 
discovery program. Drug Discovery Today 5:39-41. 

9. Suwanto, A. 1998. Bioteknologi Molekuler: Mengoptimalkan manfaat 
keanekaan hayati melalui teknologi DNA rekombinan. Hayati 5:25-28.


10. Woese, C.R., O. Kandler, and M.L. Wheelis. 1990. Towards a natural 
system of organisms: Proposal for the domains Archaea, Bacteria, 
and Eukarya. Proc. Natl. Acad. Sci. USA 87:4576-4579. 

11. Ye, X., S. Al-Babili, A. Kloti., J. Zhang, P. Lucca, P. Beyer,
and I. Potrykus. 2000. Engineering the provitamin A (-carotene) 
biosynthetic pathway into (carotenoid-free) rice endosperm. Science 
287:303-305.  
 








Reply via email to