Dampak Hak Kekayaan Intelektual terhadap Perkembangan Bioteknologi di
Indonesia
Dr. Tantono Subagyo 
Program Associate, Intellectual Property Right Management International
Service for Acquisition of Agri-biotechnology Applications (ISAAA),
Itacha NY, USA.

Abstrak :
Di negara maju, bioteknologi berkembang sangat pesat dan merupakan salah
satu faktor yang memacu pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain negara
berkembang melihat bioteknologi sebagai salah satu jalan keluar untuk
memecahkan kesulitan pangan yang pasa saat ini telah dihadapi dan akan
semakin meningkat di hari mendatang. Dewasa ini negara berkembang sedang
berusaha mendapatkan akses dan menguasai aplikasi bioteknologi terutama
untuk mendapatkan teknologi terobosan untuk keamanan pangan, juga untuk
mendapatkan teknologi yang berhubungan dengan kesehatan serta untuk
mendayagunakan sumber daya genetik yang ada. Namun demikian, salah satu
faktor penghalang yang cukupnyata dalah hak kekayaan intelektual.
Kebanyakan aplikasi bioteknologi dikuasai oleh negara maju dan
perusahaan-perusahaan multinasional dan dilindungi oleh hak kekayaan
intelektual (HKI). World Trade Organization dengan Trade Related
Intellectual Property Right-nya yang telah diratifikasi oleh 139 negara
di dunia termasuk Indonesia memberikan perlindungan global terhadap
aplikasi bioteknologi melalui perlindungan HKI. Adanya perlindungan HKI
tersebut berdampak positif dan negatif . Di satu fihak aplikasi
bioteknologi yang dihasilkan Indonesia dapat terlindung dari pembajakan,
di pihak lain Indonesia harus menggunakan kiat-kiat tertentu untuk
mendapatkan aplikasi bioteknologi yang diperlukan. Dalam makalah ini
akan dibahas dampak HKI terhadap perkembangan bioteknologi di Indonesia
serta saran-saran untuk mengembangkan bioteknologi di Indonesia.

Pendahuluan.
Industri bioteknologi merupakan salah faktor yang memacu pertumbuhan
ekonomi negara maju. Pada tahun 1993 penghasilan kotor industri tersebut
di Amerika baru mencapai 8 milyar US$ dan meningkat menjadi 20 milyar
US$ di tahun 1999 ( Ernst and Young, 2000). Pada tahun 2000, industri
bioteknologi menyediakan lapangan kerja langsung untuk 150,800 orang,
jauh diatas industri mainan anak-anak dan alat olah raga, dan hanya
sedikit dibawah industri televisi kabel. Di tinjau dari penyediaan
lapangan kerja industri bioteknologi menduduki peringkat keempat,
setelah industri obat, industri perangkat lunak komputer dan televisi
kabel. (US Census Bureau, 2000). Industri bioteknologi menjanjikan
kemajuan di bidang obat antara lain untuk memerangi kanker, penyakit
Alzheimer ¡¦Parkinson, diabetes, penyakit jantung, AIDS, di samping itu
perkembangan di bidang terapi gen memberikan harapan penyembuhan bagi
penyakit yang disebabkan oleh gen yang cacat ataupun tidak
berfungsi.Dari segi lain, di bidang pertanian perkembangan bioteknologi
mengarah terutama kepada pengembangan bahan tanaman tahan penyakit
ataupun hama serta bahan tanaman yang berkualitas tinggi seperti padi
yang mampu memproduksi vitamin A    ataupun pisang yang menagdung vaksin
hepatitis. Bidang Bioteknologi Pertanian dalam tahun 1999 telah
menyumbang ekonomi Amerika dengan pendapatan kotor sebesar 2,3 milyar
US$, menyediakan lapangan kerja untuk 21.900 orang dan menyediakan
pendapatan kumulatif (gaji) sebesar 1,4 milyar US$. (Ernst and Young,
2000)

Kemajuan pesat yang dialami oleh industri bioteknologi ini antara lain
disebabkan oleh sistem perlindungan Hak Kekayaan Intelektual yang telah
mapan di negara maju. Perlindungan HKI baik berupa hukum paten maupun
Perlindungan Varietas Tanaman mampu memproteksi hak ekonomi penemu serta
melindungi investasi. Dengan demikian maka penemuan dalam bidang
bioteknologi akan dapat berkembang dengan baik dan akan merangsang
investor untuk menanamkan modalnya di bidang tersebut. Di samping itu
perkembangan yang pesat dari industri bioteknologi ini disebabkan oleh
dampak luas yang ditimbulkannya. Di bidang pertanian misalnya
perkembangan bioteknologi telah merangsang industri perbenihan yang
merupakan salah satu bagian utama industri pertanian tersebut. 

Perjanjian TRIP's dan negara berkembang.

Untuk melindungi investasinya maka negara maju menekan¡¦negara-negara
berkembang untuk masuk kedalam WTO (World Trade Organizations) dan
meratifikasi perjanjian TRIP's (Trade Related Intellectual Property
Right's ). Indonesia telah masuk kedalam WTO pada tahun 1995 dan harus
mentaati ketentuan yang antara lain berbunyi demikian Pasal 27 TRIPS :
Perlindungan paten harus tersedia untuk semua penemuan, baik produk
maupun proses, dalam semua bidang teknologi bila penemuan tersebut
bersifat baru, inventive dan dapat digunakan dalam aplikasi industri.
Disamping itu perlindungan paten harus tersedia tanpa diskriminasi tidak
memandang tempat penciptaan/penemuan, bidang teknologi, dan apakah
produk tersebut diimpor atau diproduksi secara lokal.

Penerapan HKI di Indonesia yang berkaitan dengan bioteknologi.

Indonesia telah memiliki UU Paten yaitu UU No 6 Tahun 1989 yang kemudian
dirubah dengan UU no 13 tahun 1997 dan pada saat ini akan disempurnakan
lagi dan sedang diajukan ke DPR. Dalam UU Paten tahun 1989 terdapat
pasal 7 yang mengatur tentang peneuan yang tidak dapat diberikan paten
dan dalam pasal 7c dijelaskan bahwa paten tidak dapat diberikan kepada
penemuan tentang jenis varitas baru tanaman atau hewan, atau tentang
proses apapun yang dapat digunakan bagi pembiakan tanaman atau hewan
beserta hasilnya. Pasal 7c ini ditiadakan dalam UU Paten tahun 1997,
yang berarti membuka kemungkinan akan proses mempatenkan mahluk hidup,
hal ini sangat ditentang oleh LSM dan Kementerian Negara Lingkungan
Hidup. Dalam perkembangan selanjutnya maka perumusan dalam RUU Paten
yang sedang diajukan ke DPR pada saat ini terbentur pada rumusan pasal 7
tentang apa yang tidak dapat dipatenkan. 

Pihak Direktorat Jendral HKI berpegang pada ketentuan TRIP's pasal 27
ayat 2 dan 3 bahwa Indonesia dapat mengecualikanpaten untuk hal yang
bertentangan dengan moralitas, untuk melindungi manusia, hewan ataupun
tumbuhan atau kesehatan atau untuk menghindari kerusakan serius terhadap
lingkungan. Selanjutnya pengecualian terhadap metoda diagnostik,
pengobatan dan pembedahan untuk manusia dan hewan, tumbuhan dan hewan
selain mikroorganisme dan proses biologis essensial untuk produksi
tumbuhan dan hewan selain yang bersifat non biologis atau mikrobiologis.
Disamping itu anggota WTO harus menyediakan perlindungan bagi varietas
tanaman baik melalui sistem paten ataupun melalui sistem sui generis
(sesuai dengan kebutuhan) . Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan LSM
berkeras mengecualikan dari paten semua jenis mahluk hidup termasuk
mikroorganisme. Untuk hal yang berhubungan dengan tanaman telah diajukan
dan disetujui oleh DPR Rencana Undang-Undang Perlindungan Varietas
Tanaman (RUU PVT), dan pada saat ini sedang disiapkan peraturan
pelaksanaannya. 

Dampak TRIP's, UU Paten dan UU PVT terhadap perkembangan bioteknologi di
Indonesia

Secara keseluruhan dari ketentuan diatas maka terlhat kecenderungan
bahwa Indonesia akan melarang paten terhadap mahlukhidup kecuali
terhadap mikroorganisme (yang masih diperdebatkan) dan untuk tanaman
akan diatur melalui RUU PVT. Hal ini akan berdampak positif maupun
negatif terhadap perkembangan bioteknologi di Indonesia, yang terutama
akan terpengaruh adalah perkembangan bioteknologi proses dan
bioteknologi tanaman . 

Terhadap bioteknologi proses terutama yang berkaitan dengan
mikroorganisme UU HKI dan PVT tidak banyak berpengaruh. Hal ini adalah
karena pada umumnya disamping perlindungan paten, biakan mikroorganisme
yang digunakan dalam proses dapat dirahasiakan atau dilindungi juga
dengan rahasia dagang.


Moderator

Reply via email to