Teknologi Selaras Lingkungan sebagai Basis Pertanian Indonesia Abad 
ke 21
Dr. Ir. Abdul Hadi, M.Agr.

Abstak
        Kesadaran masyarakat negara maju dan negara berkembang akan aspek 
lingkungan produk barang dan jasa sudah demikian tinggi dan mencakup 
lingkungan fisik, relegi, sosial, budaya dll.  Ambillah contoh kasus 
Ajinomoto.  Kesadaran lingkungan masyarakat membuat kasus sederhana 
ini menjadi sangat heboh.  Beberapa waktu lalu, IPB didemo berkaitan 
dengan kasus transgenic plant.  Negara-negara maju mulai pula mempermasalahkan 
emisi metan dari lahan sawah dan emisi nitro oksida dari penggunaan 
pupuk nitrogen pada lahan atasan.  Aspek lingkungan ini harus menjadi 
pertimbangan penting pertanian Abad ke 21, era perdagangan bebas 
(free trade), karena hanya produk-produk yang seleras lingkungan 
yang akan laku.  Dengan demikian, teknologi yang selaras lingkungan 
harus dijadikan basis untuk pertanian Indonesia agar barang dan jasa 
yang dihasilkan dapat berkompetisi.  Peruntukan lahan yang sesuai 
dengan tipologinya merupakan alternatif bagi keamanan lingkungan 
produksi pertanian pada tahap budidaya.  Beberapa alternatif teknologi 
selaras lingkungan pada tahap pra-budidaya, panen dan pasca-penen 
juga didiskusikan dalam makalah ini.

Pendahuluan
        Kesadaran masyarakat negara maju dan negara berkembang akan aspek 
lingkungan produk barang dan jasa sudah demikian tinggi dan mencakup 
lingkungan fisik, relegi, sosial, budaya dll.  Sudah banyak konvensi-
konvensi internasional mengenai pertanian yang selaras lingkungan 
(e.g., Kyoto protokol, prosedur ISO etc.).  Keselarasan ini tidak 
hanya pada tahap budidaya, tetapi mencakup tahap pra budidaya (tahap 
persiapan) dan panen dan pasca panen (i.e., pengolahan hasil dan 
pemasaran).
        Isu sentral pada tahap pra-budidaya dan budidaya adalah emisi gas-
gas rumah kaca dari tanah ke atmosfir.  Sedang pada tahap panen dan 
pasca-panen mencakup applicability teknologi yang digunakan untuk 
panen dan pengolahan hasil serta keamanan bahan buangan.  Makalah 
ini memaparkan beberapa contoh teknologi selaras lingkungan yang 
dipandang perlu untuk dikembangkan guna menjamin daya kompetisi produk-
produk pertanian Indonesia.


Teknologi Pra-Budidaya
        Tanah menyumbang masing-masing 60% dan 70% pada emisi metan (CH4) 
dan nitro oksida (N2O), dua gas rumah kaca yang sangat terkait erat 
dengan kegiatan pertanian (anthropogenic).  Sumber utama metan yang 
terkait dengan sektor pertanian adalah lahan sawah dan peternakan,
yang menyumbang lebih dari 50% anthropogenic source.  Sekitar separoh 
dari nitro oksida disumbang oleh tanah hutan alami dan sekitar 20% 
dari lahan budidaya.
        Abdul Hadi dkk. (2000) menemukan bahwa lahan pasang surut mengemisi 
metan dengan tingkat 10 kali lebih rendah dibanding tanah sawah non-
pasang surut.  Mereka juga menemukan bahwa fluktuasi permukaan air 
tanah akan meningkatkan emisi N2O sampai 20 kali lipat (Fig. 1). 
Indonesia memiliki lahan pasang surut yang luas dan tersebar di 
Sumatra, Kalimantan Sulawesi dan Irian Jaya.  Peruntukan lahan pasang 
sebagai lahan pertanian akan menurunkan emisi CH4 dari level yang 
diemisi oleh lahan non-pasang surut selama ini.  Kemudian, usaha 
perikanan dan peternakan yang mempertahankan permukaan air lahan 
basah (e.g., unggas, dan kerbau) akan mampu mencegah emisi besar-
besaran N2O.
 
Teknologi Budidaya
        Teknologi budidaya sangat luas dan ditentukan oleh komoditas dan 
daerah.  Namun, prinsif yang harus selalu sama dalam rangka perdagangan 
bebas adalah bahwa teknologi produksi harus selaras dengan lingkungan.
Kasus 'sapi gila' (SE=Spongiforme Enzephalophatie) adalah salah 
satu contoh dari pertanian yang tidak mengindahkan kaidah lingkungan.
Berikut saya berikan petikan penjelasan tentang prinsif kasus ini 
(Kristanti, 2000).
"...  Ketika kemudian sapi yang dulunya bebas dari penyakit SE diberi 
pakan tepung hewani yang sumbernya adalah sisa-sisa pemotongan hewan 
dan bangkai binatang, termasuk bagian tubuh domba yang kena Scrapie,
maka muncul-lah kasus penyakit SE pada sapi...".
        Teknologi yang diaplikasikan, disamping aman bagi lingkuangan, juga 
harus mampu meningkatkan produksi tanaman/hewan yang dibudidayakan.
Table 1 memberikan contoh teknologi selaras lingkuangan yang mampu 
meningkatkan produksi tanaman.
Table 1. Pengaruh pemberian arang sekam terhadap pertumbuhan tanaman 
jeruk (umur 3 tahun)

Parameter               Tanpa arang sekam (kontrol)        Dengan arang sekam,2 %
Berat basah total
tanaman (gram)          713 + 55                                      1123 + 11
Berat basah akar 
(gram)                   248 + 4                                      507 + 34
Berat basah batang
(gram)                   102 + 19                                     117 + 28
Panjang akar (cm)        12,3 + 2,0                           18,3 + 1,1

bersambung ke Bagian 2







Reply via email to