Bapak Budi Supriyanto yth.

At Sunday, 4 February 2001, you wrote:

>Moderator Yth,
>Kembali saya, Budi Supriyanto (pemerhati masalah 
>lingkungan dari PT Starwin Indonesia) akan mengajukan pertanyaan 
kepada Bapak 
>Dr. Abdul Hadi, sebagai berikut:
>1. Benarkah bahwa pemanfaatan lahan pasang surut 
>untuk diolah menjadi lahan pertanian mampu menekan (mereduksi) emisi 
metan yang 
>diemisikan oleh lahan pertanian non pasang surut ? Bagaimana penjelasan 
hal 
>tersebut ? Saya ingat kembali dengan kasus Amdal lahan pasang sejuta 
hektar yang 
>mana pada waktu itu saya ikut membahas dokumennya di komisi Amdal PU 
>dan Amdal pusat (Bapedal).  Disampaikan dalam dokumen tersebut bahwa 
>salah satu isu penting yang kemungkinan muncul adalah emisi gas metan 
>(CH4).  Klausul tersebut berlawanan dengan hasil penelitian bapak dan 
>kawan-kawan.  Bagaimana hal tersebut dapat dijelaskan ?

* Emisi metan dari lahan pasang surut lebih rendah dibandingkan dari 
lahan non pasang surut.  Hal ini karena kebanyakan tanah lahan pasang 
surut mengandung senyawa sulfat sehingga aktivitas sulpur reducing 
bacteria menjadi dominan.  Sulpur reducing bacteria berkompetisi 
dengan methane producing bacteria (Methanogens) dalam hal penggunaan 
H+ sebagai electron acceptor.  Sulpur reducing bacteria lebih efficient 
dalam penggunaan energi dibanding methanogens.  Sehingga pada tanah 
dengan kandungan sulfat tinggi (seperti lahan pasang surut), produksi 
methan selalu rendah.
* Pada saat proposal lahan sejuta hektar (=persawahan lahan gambut,
PLG) dibahas, belum ada studi mengenai emisi methan dari lahan pasang 
surut, dan kami baru memulai studi emisi methan dari lahan gambut 
Malaysia--refer to Inubushi et al., 1998.  Haydrological Proc., 12,
2073-2080.  Dalam 1998-200 kami mengadakan studi juga untuk lahan 
pasang surut Kalsel. Kedua studi tsb menunjukkan bahwa emisi methan 
dari lahan gambut sangat rendah.  Sayang PLG keburu di stop, sehingga 
kami tidak bisa memberi masukan.
 
>2. Andaikata suatu saat kemajuan teknologi 
>transgenik sanggup menemukan mikroorganisme yang mampu mensintesa 
enzym porcine 
>yang aslinya diproduksi dari hewan babi, maka bagaimana hal tersebut 
dapat 
>diklarifikasi dan disosialisasikan kembali ke masyarakat ? Apakah 
inovasi 
>teknologi tersebut dapat dikategorikan selaras lingkungan (baca 
religi dan 
>sosial) ?

*Sekarang kesadaran masyarakat konsumen sudah bagus.  Mereka tidak 
begitu saja termakan oleh info-infor yang menyesatkan, kalau tidak 
disesatkan oleh sekelompok orang.  Sepanjang ada label 'halal', masyarakat 
akan beli.
*Why not!  Lingkungan itu-kan equilibrium, kalau masyarakat menerima 
itu artinya 'selaras'.

>3. Apa pendapat dan komentar bapak kalau 
>pada suatu saat kebijakan perdagangan dan proposi bertentangan dengan 
hasil 
>inovasi teknologi selaras lingkungan ? Sebagai contoh suatu barang 
komoditi 
>mampu diproduksi dengan teknologi selaras lingkungan dengan biaya 
produksi yang 
>rendah, tetapi kebijakan perdagangan dan promosi menetapkan bahwa 
harga barang 
>tersebut jauh di atas harga produksinya ? Kalau itu ketetapannya,
bukankah 
>barang yang bersangkutan itu tidak mempunyai daya saing di pasar 
bebas ? atau 
>tidak laku dijual. mohon penjelasan.

Pada era perdagangan bebas (e.g., AFTA), pasarlah yang menentukan 
nasib suatu komoditi.  Sepanjang kita bisa menjaga kualitas produk 
dan kita bisa meyakinkan konsumen bahwa produks iru aman secara ekologi,
pasar akan bereaksi positif. 

>Atas perhatian dan tanggapannya dihaturkan terima 
>kasih.
>Salam
>Budi Supriyanto
> 
>
>



Dr. Abdul Hadi 
IASA - Indonesian Agricultural Sciences Association







Reply via email to