Yth. Peserta Diskusi ZOA-BIOTEK-2001,

Berikut kami sampaikan bagian ke-1 dari dua kali posting makalah 
Dr. Sugiono Moeljopawiro.

Moderator

Dedy H.B. Wicaksono

===================================================


Paradigma Baru Pemanfaatan Sumberdaya Genetika
untuk Pembangunan Pertanian

Sugiono Moeljopawiro
Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan
Jalan Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111

Abstak

Mempertahankan swasembada pangan dan memperbaiki gizi masyarakat 
melalui sistem pertanian moderen merupakan tantangan yang tidak ringan 
dan harus mendapatkan perhatian yang serius. Pembangunan pertanian 
yang berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan 
penyediaan pangan bermutu tinggi serta bahan baku industri pangan,
guna menghadapi berbagai masalah seperti pertambahan penduduk yang 
tinggi, ledakan hama dan penyakit serta bencana alam seperti banjir 
dan kekeringan. Peningkatan hasil dapat dilakukan melalui peningkatan 
daya hasil dengan perbaikan genetik varietas dan sistem budidaya 
yang sesuai. Sedangkan peningkatan stabilitas hasil dapat dilakukan 
melalui usaha peningkatan toleransi terhadap cekaman lingkungan, 
atau melalui peningkatan ketahanan terhadap hama dan penyakit. Salah 
satu faktor yang merupakan penghambat utama dari usaha peningkatan 
dan stabilitas hasil tanaman pangan adalah terbatasnya sumber gen 
dari sumberdaya genetik yang sudah terkoleksi. Keanekaragaman hayati 
sejak dulu sudah diakses untuk berbagai keperluan, baik oleh peneliti 
asing, perusahaan dan masyarakat daerah, dengan sedikit atau tanpa 
imbalan untuk kegiatan konservasi. Indonesia merupakan negara yang 
kaya akan keanekaragaman hayati, yang kalau tidak dikelola secara 
bijak, semuanya itu hanya akan menjadi kenangan sejarah. Dalam era 
globalisasi seperti sekarang ini, batas negara satu dengan lainnya 
di bidang ekonomi sudah tidak ada lagi. Disatu sisi merupakan suatu 
peluang untuk memasarkan produk tidak hanya di negara sendiri, tetapi 
juga dinegara lain. Di sisi lain kita dituntut untuk menghasilkan 
produk yang bermutu tinggi, murah dan dalam jumlah cukup apabila 
dibutuhkan. Dengan kata lain kita dituntut untuk bekerja secara efektif 
dan efisien. Untuk itu kita harus dapat melakukan pencarian secara 
sistematis dan pengembangan sumber baru senyawa kimia, gen, organisme 
mikro dan makro, serta produk-produk alam yang bernilai ekonomi tinggi 
(bioprospecting). Agar keanekaragaman hayati dapat dijadikan tulang 
punggung pembangunan ekonomi, maka bioprospecting harus bertujuan:
(1) memanfaatkan sumber daya biologi secara berkesinambungan termasuk 
konservasinya, dan (2) pembangunan sosial ekonomi.

1. PENDAHULUAN

Indonesia terletak di antara dua benua, Asia dan Australia, merupakan 
negara kepulauan yang terdiri dari tujuh belas ribu pulau. Pulau 
yang satu sama lain dipisahkan oleh lautan membuahkan empat puluh 
tujuh ekosistem yang sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Hal ini menjadikan Indonesia negara yang memiliki keanekaragaman 
hayati yang tinggi.

Dalam memasuki abad XXI yang tinggal beberapa tahun lagi, Indonesia 
telah meratifikasi beberapa kesepakatan internasional seperti GATT 
(General Agreement on Tariffs and Trade), TRIP (Trade Related Intellectual 
Property Rights), dan NAFTA (North American Free Trade Agreement).
Dengan demikian berarti Indonesia sudah membuka kesempatan seluas-
luasnya bagi pemasaran produk asing di dalam negeri. Sebaliknya juga 
merupakan peluang bagi pemasaran produk dalam negeri di pasar dunia.


Pasar global selain menghendaki produksi yang berkesinambungan juga 
menghendaki kualitas produk yang tinggi. Ini merupakan tantangan 
yang tidak ringan bagi kita untuk meningkatkan produksi sekaligus 
meningkatkan kualitas. Kita tahu bahwa berbagai produk pertanian 
kita banyak yang ditolak di pasar dunia karena di bawah standar mutu 
pasar dunia yang sudah ditetapkan. Sedangkan produk dari negara-negara 
industri sudah dirancang dari awal sedemikian rupa sehingga hasilnya 
tidak menyimpang dari standar yang sudah ditetapkan. Yang menjadi 
pertanyaan sekarang adalah "Apakah kita hanya akan menjadi negara 
konsumen produk dari negara industri untuk selamanya?".

Untuk dapat bersaing di pasar dunia, selain kualitas produk juga 
ada faktor yang sangat menentukan, yaitu sumber daya genetik dari 
produk yang diminati pasar dunia dan memiliki akses terhadap pangkalan 
data standar mutu berbagai komoditas yang menjadi permintaan pasar.
Sudah siapkah kita untuk bersaing di pasar dunia?

Dalam makalah ini akan dibahas peluang, tantangan dan potensi yang 
kita miliki dalam rangka pemanfaatan sumber daya genetik secara berkelanjutan,
mulai dari proses pencarian dan pengembangan sumber-sumber baru 
dari senyawa kimia, gen dan organisme yang dapat menghasilkan produk 
berkualitas tinggi (bioprospecting).

2. KEBUTUHAN DAN PELUANG

Bioprospecting dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang 
meliputi koleksi, penelitian dan pemanfaatan sumber daya genetik 
dan biologi secara sistematis guna mendapatkan sumber-sumber baru 
senyawa kimia, gen, organisme, dan produk alamiah lainnya untuk tujuan 
ilmiah dan/atau komersial. Bioprospecting merupakan serangkaian proses 
kegiatan yang harus memperhitungkan hal-hal berikut ini:

Keuntungan dalam bentuk pengembangan kemampuan dan transfer teknologi, 
Keuntungan finansial yang langsung dapat digunakan untuk konservasi,
di samping royalti, 
Keterlibatan lembaga dan perorangan di tingkat nasional dan daerah, 
Pembentukan insentif industri, dan 
Merangsang daya tarik kegiatan industri. 
Selain itu diperlukan pula adanya dukungan kebijakan makro, penelitian 
biologi yang terpadu, pilihan transfer teknologi dan pengembangan 
bisnis guna merancang program bioprospecting yang akan memberikan 
keuntungan jangka panjang untuk konservasi dan pembangunan nasional 
(Sittenfeld dan Lovejoy, 1996). Jadi bioprospecting memiliki dua 
tujuan dasar: (1) pemanfaatan sumber daya genetik secara berkelanjutan 
dan konservasinya, dan (2) pembangunan sosio-ekonomi bagi negara 
yang kaya akan keanekaragaman hayati. Konsep moderen dari bioprospecting 
ini memberikan kepada negara berkembang cara memperbaiki kemampuan 
nasional untuk memberikan nilai tambah terhadap sumber daya alam,
membangun keterampilan, infrastruktur dan teknologi guna mengembangkan 
produk baru bagi pasar global, dan sekaligus menjamin perlindungan 
dan pemakaian sumber daya alam yang berkelanjutan.

Konservasi keanekaragaman hayati sangat penting untuk bioprospecting 
dan merupakan tujuan utama dari bioprospecting disamping pemanfaatannya 
yang berkelanjutan. Apabila peningkatan kemampuan serta berbagai 
keuntungan yang diperoleh digunakan untuk konservasi dan pembangunan 
yang berkesinambungan, berarti membuka sumber pendapatan baru untuk 
meningkatkan nilai keanekaragaman hayati yang akan memberikan keuntungan 
bagi seluruh rakyat.

2.1. Alternatif Kebijaksanaan Nasional dan Peraturan tentang Akses 
Terhadap Sumber Daya Genetik.

Konvensi keanekaragaman hayati tentang akses terhadap sumber daya 
genetik telah meratakan jalan untuk peraturan nasional yang mengatur 
akses terhadap sumber daya genetik. Walaupun masing-masing negara 
memiliki peraturan yang berbeda, tetapi peraturan tentang akses terhadap 
sumber daya genetik di masa depan harus juga mempertimbangkan masuknya 
peraturan baru dan kebijakan yang memperjelas lembaga-lembaga mana 
dari suatu negara yang berwenang dan bertanggung jawab untuk memberikan 
akses terhadap sumber daya genetik yang dimilikinya dan atas dasar 
apa. Hal ini dapat dijadikan sebagai suatu ketentuan bagi kegiatan 
bioprospecting serta perangkat untuk pemantauannya.

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan antara lain: perkiraan tentang 
besarnya permintaan akses di masa depan, pengalaman yang telah dimiliki 
sebagai sumber dari sumber daya genetik, nilai sumber daya genetik 
yang diketahui, hak milik dan kepemilikan lahan, lembaga pengatur,
pemisahan lahan konservasi, kemampuan untuk memberi nilai tambah 
terhadap sumber daya genetik, serta kemampuan teknik, administrasi 
dan finansial untuk menciptakan dan mengantisipasi program pengaturan 
(Glowka, 1996).

Sebagai tambahan alternatif kebijakan dan peraturan baru yang mencakup 
sumber daya genetik, harus dipertimbangkan mana yang dapat dicakup 
oleh suatu peraturan. Hal ini berkaitan dengan asal dari sumber daya 
genetik yang dapat diperoleh dari sumber in situ dan ex situ, baik 
yang dimiliki oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat, termasuk 
juga yang berasal dari kawasan lindung maupun bukan. Pemanfaatan 
dan pertukaran sumber daya genetik untuk keperluan ekonomi, keagamaan 
dan kebudayaan dari masyarakat daerah dan penduduk asli juga harus 
dipertimbangkan. Pertimbangan lain termasuk dukungan dana untuk menjamin 
dan memastikan pelaksanaan peraturan, serta pengelolaan keuntungan 
yang diperoleh dari bioprospecting.

2.1.1. Menetapkan pusat kontak

Dalam menetapkan lembaga yang akan memproses aplikasi untuk akses 
terhadap sumber daya genetik, diperlukan pertimbangan pada tingkat 
pemerintah. Pendekatan yang paling sederhana bagi suatu negara ialah 
dengan menciptakan suatu organisasi pemerintah yang bersifat antar 
departemen yang anggotanya merupakan wakil-wakil dari departemen 
sektoral lembaga yang terkait dengan keanekaragaman hayati dan pembagian 
keuntungan, yang dilengkapi dengan peraturan tentang komisi penasehat 
yang beranggotakan kelompok pakar dan perseorangan. Akan lebih baik 
kalau badan pemberi ijin dan badan pelaksana kegiatan bioprospecting 
adalah independen.

Proses penentuan akses melalui ijin koleksi mensyaratkan pengguna 
untuk mendapatkan ijin sebelum melakukan akses. Hal ini merupakan 
,manifestasi hak dari suatu negara terhadap sumber daya genetik yang 
ada di wilayahnya (Glowka, 1996). Ijin dapat berisi persyaratan akses,
khususnya mengenai konservasi dan pemanfaatan yang terlanjutkan,
dan perjanjian pertukaran bahan, dengan menyebutkan hak dan kewajiban 
dari semua pihak, dan pembagian keuntungan berdasarkan perjanjian 
yang disepakati bersama.

2.1.2. Sistem perijinan akses

Banyak negara berkembang yang sekarang ini menghadapi berbagai masalah 
seperti: siapakah sebenarnya yang menjadi pendukung suatu proyek 
penelitian, atau siapakah kolektor atau pengamat yang akan mempergunakan 
temuan-temuannya untuk tujuan komersial. Apabila ada jaminan penyediaan 
bahan, bagaimana mengatur jumlahnya agar tidak merusak ekosistem.


Menurut Ten Kate (1995) ada beberapa kriteria yang dapat digunakan 
dalam perijinan akses, termasuk pentingnya sumber daya terhadap program 
nasional yang strategis, pembatasan koleksi dan ekspor khususnya 
yang berkaitan dengan status konservasi dan spesies langka, partisipasi 
penelitian dan publikasi, duplikat dari contoh yang disimpan di musium 
dan herbarium nasional, transfer teknologi, royalti dan biaya akses,
kepemilikan sampel dan keturunannya dan hak atas kepemilikan intelektual,
pembatasan transfer ketiga, persyaratan pelaporan dan pelacakan,
dan perjanjian.

Apakah semua peraturan tersebut cukup untuk menghadapi tantangan? 
Dalam banyak hal hampir tidak mungkin kita mengatasi pertukaran bahan 
genetik secara ilegal. Mikroba dapat diperoleh dari tanah yang banyaknya 
jauh lebih sedikit dari segenggam. Gen dapat di klon dari DNA atau 
RNA dalam jumlah sangat sedikit yang diisolasi dari bahan biologi,
yang dengan mudah dimasukkan ke dalam amplop surat. Gen tidak memiliki 
label yang menunjukkan negara asalnya, begitu di klon tidak dapat 
dilacak negara asalnya.

Sebagai imbalan dari akses kepada sumber daya genetik, mitra industri 
harus setuju dengan pembagian keuntungan adil dan berimbang, dalam 
bentuk intelektual dan moneter; inplementasi metode koleksi dan produksi 
yang berpengaruh minimum terhadap keanekaragaman hayati; serta penerapan 
praktek bioprospecting yang berimbang guna penelitian lebih lanjut 
tentang penyakit daerah tropis dan masalah-masalah yang khususnya 
berkaitan dengan negara berkembang.

2.2. Alternatif Peraturan, Kebijakan dan Insentif untuk Memberikan 
Nilai Tambah pada Sumber Daya Genetik serta Meningkatkan Kemampuan 
dalam Bioprospecting

Agar bioprospecting dapat terlaksana sesuai dengan tujuan, yaitu 
konservasi keanekaragaman hayati serta memberikan keuntungan sosial 
ekonomi dari pemanfaatan produk keanekaragaman hayati harus ada kerangka 
kerja bioprospecting yang memadai, serta dimengerti dan ditumbuhkembangkannya 
hubungan antara sumber daya genetik dengan empat faktor berikut ini:
(1) kebijakan makro, (2) inventarisasi keanekaragaman hayati dan 
pengelolaan informasi, (3) akses teknologi, dan (4) pengembangan 
bisnis dan perencanaan strategis.

Sebagai landasan dari bioprospecting untuk dapat menghasilkan keuntungan 
ialah kebjakan makro. Kebijakan makro ini berupa satu set peraturan 
pemerintah dan internasional, hukum dan insentif ekonomi yang menentukan 
pola penggunaan lahan, akses dan pengaturan suber daya genetik, hak 
atas kekayaan intelektual, promosi teknologi, keamanan hayati dan 
penembangan industri.

Pada tingkat internasional Indonesia telah meratifikasi berbagai 
konvensi seperti Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD), GATT (General 
Agreement on Tariffs and Trade) dan TRIP ( Trade Related Intellectual 
Property Rights). Dalam konvensi tersebut dibangun antara lain hubungan 
dan perosedur tentang pertukaran sumber daya genetik antar negara.


Pada tingkat nasional Undang-undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem 
Budidaya Pertanian antara lain mengatur tentang pemanfaatan dan pelestarian 
plasma nutfah. Selain itu, apabila belum ada perlu dibuat peraturan 
mengenai hak milik dan kepemilikan atas tanah, pemanfaatan suber 
daya, hak atas kekayaan intelektual, dan kemampuan industri.


bersambung ...






Reply via email to