Yth. Peserta Diskusi ZOA-BIOTEK,

Berikut ini kami sampaikan bagian ke-2 dari dua kali posting makalah 
Dr. Sugiono Moeljopawiro.

Moderator

Dedy H.B. Wicaksono

====================================================

3. POTENSI

Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang dikenal sebagai 
negara yang kaya akan keanekaragaman hayati (Mega biodiversity) dan 
juga tingkat endemisme yang tinggi. Berdasarkan penyebaran tipe ekosistem 
dan ciri spesies, wilayah Indonesia dapat dibagi menjadi tujuh daerah 
biogeografi (MNLH and KONPHALINDO, 1995):

Sumatera dan pulau-pulau lepas pantainya, 
Jawa dan Bali, 
Kalimantan, termasuk pulau Natuna dan Anambas, 
Sulawesi dan pulau-pulau lepas pantainya, termasuk pulau Sula, 
Nusa Tenggara, 
Maluku, dan 
Irian Jaya. 
Dari segi ekosistem, Indonesia memiliki sekurang-kurangnya 42 ekosistem 
daratan alami dan lima ekosistem lautan. Ekosistem tersebut terletak 
mulai dari padang es dan padang rumput pegunungan di Irian Jaya sampai 
di berbagai hutan hujan dataran rendah di Kalimantan; dari terumbu 
karang sampai padang lamun di laut dan rawa bakau atau mangrove (BAPPENAS,
1993). Keanekaragaman ekosistem inilah yang melahirkan keanekaragaman 
spesies. Perkiraan jumlah tipe biotik utama yang ada di Indonesia 
dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perkiraan jumlah tipe biotik utama.

Kelompok
 Indonesia (spesies)
 Dunia (spesies)
 
Bakteri, ganggang hijau-biru
 300
 4.700
 
Jamur
 12.000
 47.000
 
Rumput laut
 1.800
 21.000
 
Lumut
 1.500
 16.000
 
Paku-pakuan
 1.250
 13.000
 
Tanaman berbunga
 25.000
 250.000
 
Serangga
 250.000
 750.000
 
Moluska
 20.000
 50.000
 
Ikan
 8.500
 19.000
 
Amfibia
 1.000
 4.200
 
Reptilia
 2.000
 6.300
 
Burung
 1.500
 9.200
 
Mamalia
 500
 4.170
 

                               Sumber: KLH, 1989

Pemanfaatan keanekaragaman hayati telah dilakukan oleh masyarakat 
selama berabad-abad berdasarkan berbagai sistem pengetahuan yang 
telah berkembang berabad-abad. Misalnya masyarakat Indonesia telah 
menggunakan lebih dari 6.000 spesies tanaman berbunga (liar maupun 
yang dibudidayakan) untuk memenuhi kebutuhan akan sandang, pangan,
papan dan obat-obatan. Mereka mengetahui pola tanam tumpangsari 
untuk mengendalikan hama. Pengetahuan tradisional tentang keanekaragaman 
hayati tercermin dari pola pemanfaatan sumber daya hayati, pola pertanian 
tradisional serta pelestarian alam yang masih hidup pada banyak kelompok 
masyarakat di Indonesia. Pada Tabel 2 dapat dilihat banyaknya spesies 
tanaman yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.


Selain tumbuhan, pengetahuan masyarakat juga mencakup sumber daya 
hayati laut dan hewan daratan. Masyarakat nelayan memanfaatkan hampir 
semua produk laut untuk keperluan pangan, peralatan dan obat-obat 
tradisional. Selanjutnya masyarakat juga telah memanfaatkan jasad 
renik untuk penghasil antibiotika, untuk fermentasi pembuatan tempe,
oncom, peuyeum, minuman, kecap dan terasi.

Tabel 2. Jumlah spesies tanaman dan pemanfaatannya.

Jumlah spesies
 Kegunaannya
 
100 spesies tanaman biji-bijian, ubi-ubian, sagu, penghasil tepung 
dan gula.
 Sumber karbohidrat
 
100 spesies tanaman kacang-kacangan
 Sumber protein & lemak
 
450 spesies tanaman buah-buahan
 Sumber vitamin&mineral
 
250 spesies tanaman sayru-sayuran
 Sumber vitamin&mineral
 
70 spesies tanaman 
 Bumbu& rempah-rempah
 
40 spesies tanaman
 Bahan minuman
 
56 spesies bambu dan 100 spesies tanaman berkayu
 Bahan bangunan
 
150 spesies rotan
 Perabot rumah tangga
 
1.000 spesies tanaman
 Tanaman hias
 
940 spesies tanaman 
 Bahan obat tradisional
 

           Sumber: Rifai, 1994

Tabel 3. Jumlah aksesi yang ada di Badan Litbang Pertanian.

Komoditas
 Terkoleksi
 Diteliti
 
Tanaman pangan
 5.529
 3.337
 
Buah-buahan
 592
 95
 
Sayur-sayuran
 4.438
 1.846
 
Tanaman industri
 2.168
 338
 
Tanaman perkebunan
 10.404
 1.273
 
Ayam
 309
 --
 
Ikan
 1.660
 --
 
Mikroba
 2.670
 --
 
J U M L A H T O T A L
 27.770
 6.889
 

        Sumber: Komisi Nasional Plasma Nutfah.

Pemanfaatan sumber daya hayati, selain melalui pengetahuan tradisional,
Badan Penelitian dan Pengembangan (Badan Litbang) Pertanian, juga 
telah memanfaatkannya untuk pembangunan pertanian melalui perakitan 
varietas unggul. Berbagai komoditas pertanian yang telah dikoleksi 
Badan Litbang Pertanian dapat dilihat pada Tabel 3.

4. TANTANGAN

Dalam melaksanakan bioprospecting, maka untuk memperoleh hasil akhir 
dapat dicapai melalui berbagai tahapan seperti pada Gambar 1. Parameter 
utama yang harus dipertimbangkan adalah kebutuhan investasi tenaga 
dan modal terbanyak dalam proses pengembangan teknologi dan produk.
Misalnya, dalam pencarian obat, bagian yang paling rumit adalah 
penelitian dasar penyakit dan pengujian klinis dari obat-obat yang 
berpotensi. Skrining utama senyawa biasanya murah dan secara teknis 
mudah dilakukan. Suatu negara yang ingin mendorong peningkatan kemampuan 
nasional dalam pengembangan obat, dapat mengikuti model peningkatan 
kemampuan yang diawali dengan skrining utama untuk mendapatkan senyawa 
dan akses teknologi dalam skrining, sedangkan pengujian dan uji klinis 
pada tahap akhir.



Gambar 1. Tahapan dalam bioprospecting

Tahapan bioprospecting tersebut pada dasarnya dapat dikelompokkan 
ke dalam tiga elemen dasar, yang dapat dijadikan pemandu pemanfaatan 
sumber daya genetik secara rasional dalam bioprospecting. Ketiga 
elemen tersebut adalah: pengelolaan informasi dan inventarisasi keanekaragaman 
hayati, pengembangan bisnis, dan akses teknologi. Ketiga-tiganya 
memberikan sumbangan bagi penciptaan daya tarik yang lebih besar 
bagi mitra bisnis serta meningkatkan batas tawar.

Pengelolaan informasi dan inventarisasi keanekaragaman hayati merupakan 
langkah penentu dalam penciptaan dasar pengetahuan dari kegiatan 
bioprospecting melalui pengembangan dan pengelolaan informasi sistematis 
yang berkaitan dengan biologi, ekologi dan taksonomi dari spesies 
dan sistem kehidupan. Inventarisasi keanekaragaman hayati menghasilkan 
katalog dari sumber daya yang tersedia beserta lokasinya. Kerusakan 
ekosistem, lahan konservasi, spesies dan populasi dapat dicegah dengan 
menunjukkan sumber daya apa yang tersedia, dan dimana dapat diperoleh 
dengan tanpa merusak lingkungan (Raven dan Wilson, 1992). Dengan 
demikian kolaborator negara sumber menjadi lebih menarik, berpengetahuan 
luas, dan mitra bisnis yang terpercaya, karena informasi yang dihasilkan 
dari inventarisasi mengurangi resiko pengumpulan materi yang lebih 
banyak.

Pengembangan bisnis harus mendorong pasar domestik untuk memanfaatkan 
keanekaragaman secara berkelanjutan dan mendorong keberlanjutan sebagai 
bagian dari pembangunan ekonomi. Hal ini membutuhkan pengetahuan 
tentang pasar dalam negeri, keterampilan serta tujuan ekonomi yang 
dapat diselaraskan dengan pembangunan berkelanjutan. Untuk itu pembangunan 
bisnis harus menetapkan pasar, permintaan pasar, pelaku utama, kemampuan 
ilmu pengetahuan dan teknologi nasional guna memberi nilai tambah 
serta tujuan dan strategi lembaga.

Akses teknologi, dapat dilakukan melalui pengembangan, alih teknologi,
pemrosesan bahan mentah sumber daya genetik menjadi bahan dan produk 
industri yang lebih berharga, serta mendorong peningkatan kemampuan.
Kemampuan apakah yang diperlukan dalam bioprospecting ? Yaitu kemampuan 
di bidang sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan (rekayasa),
peraturan perundangan, pasar/modal, dan distribusi/komunikasi. Mengingat 
luasnya aspek kemampuan ini, agar bioprospecting dapat dilaksanakan 
dengan berhasil, harus dilakukan dengan sistem pendekatan terpadu,
melalui penetapan target yang terpusat, alokasi sumber daya dan 
perencanaan.

Sesungguhnya bioprospecting sudah dilaksanakan sejak dimulainya sejarah 
pertanian. Manusia mulai melakukan pemilihan tumbuhan yang dapat 
digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (sandang, pangan, papan 
dan obat-obatan), yang selanjutnya melalui proses seleksi dibudidayakan.
Tetapi dalam era globalisasi, kita dituntut untuk menghasilkan produk 
yang berkualitas tinggi, sehingga mampu bersaing di pasar bebas, 
murah, dalam jumlah besar dan terus-menerus, dan sesuai dengan pemintaan 
pasar yang cepat berubah. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan meningkatkan 
efisiensi. Sedangkan peningkatan efisiensi hanya dapat dilakukan 
apabila memiliki kemampuan yang tinggi.

Dalam bioprospecting diperlukan kemampuan di bidang biologi molekuler,
biokimia, bisnis dan peraturan perundangan seperti hak atas kekayaan 
intelektual (HaKI = IPR), rekayasa proses dan sebagainya. Apabila 
bioprospecting dimaksudkan untuk pembangunan ekonomi, agar memiliki 
tingkat keberhasila yang tinggi, diperlukan akses pendanaan yang 
berkesinambungan untuk program jangka panjang termasuk pelatihan 
dan peraturan perundangan. Khusus mengenai HaKI yang terkait dengan 
paten, ada strategi yang dapat dipilih berdasarkan target pasar (Gambar 
2).



Gambar 2. Strategi dalam pematenan produk.

Produk yang harus dipatenkan biasanya merupakan produk yang mempunyai 
nilai ekonomi tinggi dan dapat dipasarkan dalam kurun waktu yang 
lama. Hal ini erat kaitannya dengan proses permohonan paten yang 
biasanya tidak murah. Oleh karena itu produk bioprospecting yang 
sekarang ini banyak diminati oleh industri besar adalah: molekul 
baru (enzim dll.), agrokimia baru (biopestisida), dan obat baru.

Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang mendapat karunia 
Tuhan yang melimpah ruah dalam bentuk kekayaan keanekaragaman hayati.
Mampukah kita memanfaatkannya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat? 
Apalagi kalau kita lihat peluang pasarnya seperti yang dapat dilihat 
pada Tabel 4. berikut ini. Selanjutnya kalau dilihat nilai uangnya,
maka pemasaran sumber daya genetik dunia yang terbesar digunakan 
untuk keperluan kesehatan (US$259,5 milyar), diikuti oleh pertanian 
(pestisida dan benih) dan produk khusus (kosmetik, parfum, enzim 
dan mikroba) masing-masing sebesar US$54 milyar dan US$22,3 milyar 
(Sittenfeld, 1996).

Selanjutnya tergantung dari bagaimana komitmen pemerintah bersama 
dengan swasta, dalam menyusun strategi nasional dalam bioprospecting 
serta melaksanakannya. Dalam menyusun rencana strategis nasional,
harus dibedakan antara faktor yang harus dikaji di dalam negeri 
dan yang di luar negeri. Faktor-faktor tersebut, dari dalam negeri:
kebutuhan dan kemampuan pengkajian, dari luar negeri: analisa pasar 
dan syarat pengembangan produk atau standar mutu produk. 

Dari rencana strategis tersebut lebih lanjut dapat ditentukan teknologi 
apa yang diperlukan untuk melaksanakan bioprospecting secara efisien,
dan yang menjadi tantangan adalah bagaimana mendapatkannya. Dalam 
bioprospecting untuk mendapatkan senyawa-senyawa kimia baru diperlukan 
teknologi di bidang biologi, kimia dan automatisasi.

Dalam bidang biologi ada tiga teknologi baru yang dapat dimanfaatkan,
yaitu teknologi genom, bioinformatika dan biologi molekuler. Teknologi 
genom merupakan automatisasi dari sekuensing DNA untuk mempelajari 
dan menginterpretasi gen. Selain itu dapat juga digunakan untuk mengetahui 
molekul protein apa yang mempengaruhi kesehatan sel dan sekaligus 
juga protein yang dapat menimbulkan penyakit. Genom mikroba dapat 
digunakan untuk mengindentifikasi gen-gen virulen maupun target baru 
dalam penemuan anti mikroba. Dengan demikian akan dapat meningkatkan 
jumlah target senyawa yang akan diskrining secara eksponensial.

Bioinformatika merupakan program komputer yang handal dan inovatif 
untuk menangani sejumlah besar kode informasi tentang gen dan protein 
dari program genom. Sekuen dari gen selanjutnya dilihat apakah merupakan 
gen baru ataukah memiliki hubungan dengan gen lain yang sudah diketahui 
fungsinya. Urutan linier protein yang telah diidentifikasi kemudian 
dikonversikan ke dalam bentuk tiga dimensi sebagaimana bentuk aslinya 
dalam menjalankan fungsinya. Hal ini penting untuk merancang suatu 
senyawa baru.

Biologi molekuler merupakan kunci untuk menghubungkan antara protein 
yang diperoleh dari teknologi genom dengan fungsi fisiologisnya, 
yang memungkinkan pengembangan pengujian berkapasitas tinggi untuk 
mendapatkan senyawa baru.

Teknologi kimia yang baru yaitu “combinatorial chemistryEmerupakan 
automatisasi sintesa secara paralel dari ratusan sampai ribuan senyawa 
secara serentak. Dengan demikian dalam waktu singkat dapat diperoleh 
informasi tentang senyawa yang aktif maupun yang tidak.

Tabel 4. Pemanfaatan bioprospecting di berbagai sektor.

Sektor
 Sub-sektor
 Target
 
Pertanian
 Tanaman 
 Bioinsektisida, ketahanan terhadap OPT
 
Hewan  Gen penghasil obat, agensia hayati 
Pangan Aroma, rasa, enzim baru  
Lingkungan
 Bioremediasi
 Bakteri pemakan minyak, tumbuhan penyerap logam berat.
 
Kesehatan
 Farmasi
 AIDS, kanker, dll.
 
Terapi genom Mekanisme kelahiran. 
Bedah Pelapis permukaan. 
Kesehatan/nutrisi
 Rapuh tulang
 Tanaman berkalsium
 
Kegemukan Bahan diet, pemanis berkalori rendah 
Kanker Tanaman berserat tinggi 
Alergi/susah makan Makanan tambahan 
Produk khusus
 Parfum, sabun, sampo
 Aroma, pewangi, essen, minyak, pengusir serangga.
 

Teknologi baru automatisasi disebut dengan ultra high troughput sreeningEmerupakan 
suatu sistem pengujian senyawa secara besar-besaran dan sepenuhnya 
otomatis. Dilengkapi dengan kemampuan menghitung yang mutakhir, teknologi 
ini mampu menganalisa sejumlah besar data.

Sumber daya genetik sudah kita miliki, teknologi tersedia, komitmen 
pemerintah dan swasta cukup besar, meskipun demikian tidak otomatis 
bioprospecting jalan dengan sendirinya. Sebagai contoh meskipun teknologi 
tersedia, tetapi bagaimana mendapatkannya ada aturannya. Dalam hal 
ini ada peraturan HAKI yang terkait, yang harus dirundingkan dari 
awal bagaimana pemanfaatan teknologi tersebut, kalau teknologi tersebut 
dipakai untuk menghasilkan suatu produk yang sangat laku dipasaran 
bagaimana pembagian keuntungannya. Beberapa contoh kerjasama bioprospecting 
antara lain kerjasama Merck dengan INBio di Costa Rica, perusahaan 
farmasi Shaman dan perusahaan farmasi Andes.

Sebagai gambaran kerjasama antara Merck dengan INBio di Costa Rica 
(Sittenfeld dan Gamez, 1993). Kerjasama ini memungkinkan perusahaan 
obat internasional Merck melakukan akses bahan yang akan diekstrak 
senyawanya untuk diketahui apakah bahan tersebut memiliki senyawa 
yang bermanfaat. Senyawa yang berpotensi untuk menjadi produk yang 
menguntungkan, akan melalui proses pengujian yang panjang sebelum 
sampai di pasaran. INBio melakukan koordinasi koleksi bahan dan ekstraksi 
senyawa tahap awal. Merck membantu mempercepat INBio mendapatkan 
kemampuan untuk melaksanakan kegiatan bioprospecting dan memberikan 
sebagian keuntungan dari produk yang diperolehnya dalam bentuk royalti,
yang pada gilirannya dapat digunakan untuk membiayai konservasi.
Sudah sebanyak US$300.000,- diberikan kepada Costa Rica, yang sebagian 
besar digunakan untuk membiayai Taman Nasional Pulau Cocos.

5. SARAN DAN KESIMPULAN

Bioprospecting harus didasarkan pada pemanfaatan keanekaragaman hayati 
yang berkelanjutan. 
Akses terhadap sumber daya genetik harus dilakukan dengan mempertimbangkan 
pembagian keuntungan yang adil, dari keuntungan yang diperoleh dari 
produk yang dihasilkan. 
Untuk dapat menjadikan sumber daya genetik sebagai penopang pembangunan 
sosial ekonomi, harus dilakukan pengembangan sumber daya manusia,
kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, analisa pasar, permodalan 
yang berkelanjutan, dan penyusunan rencana strategis. 

DAFTAR PUSTAKA

1. BAPPENAS. 1993. Biodiversity Action Plan for Indonesia. Badan 
Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta. 
2. Glowka, L. 1996. Determining Access to Genetic Resources and Ensuring 
Benefit-sharing: legall and institutional considerations, IUCN Environmental 
Policy and Law Paper. 
3.KLH. 1989. Keanekaragaman Hayati untuk Kelangsungan Hidup Bangsa.
Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Jakarta. 
4. MNLH and KONPHALINDO. 1995. An Atlas of Biodiversity in Indonesia. 
5. Raven, P. and E. O. Wilson. 1992. A Fifty-Year Plan for Biodiversity 
Surveys. Science 258: 1099-1100. 
6. Rifai, M. 1994. A Discourse on Biodiversity Utilization in Indonesia.
In: Tropical Biodiversity. IFABS, Jakarta. 
7. Sittenfeld, Ana. 1997. Biodiversity Prospecting Frameworks. Paper 
presented at the management course supported by the Government of 
Japan, ISNAR and IBS. 
8. Sittenfeld, Ana dan R. Gamez. 1993. Biodiversity Prospecting by 
INBio. In Reid et al. (eds.). Biodiversity Prospecting: Using Genetic 
Resources for Sustainable Development. World Resources Institute,
Washington, D.C. 
9.Sittenfeld, Ana and A. Lovejoy. 1996. Biodiversity Prospecting 
Frameworks: The INBio experience in Costa Rica. In McNeely and Guruswamy 
(eds.). Their Seed Preserve: Strategies for protecting global biodiversity.
Duke University Press. 
10. Ten Kate, Kerry. 1995. Biopiracy or green petroleum? Expectations 
and Best Practice in Bioprospecting. Overseas Development and Administration.
(ODA). London. 






Reply via email to