Yth. Peserta Diskusi ZOA-BIOTEK-2001,

Berikut kami sampaikan jawaban dari Dr. Tantono Subagyo, menanggapi 
pertanyaan dari Sdr.Fatchiyah

Moderator ZOA-Biotek Sesi Pertanian
SinergY-PPI-Tokodai



Isa Ismet Khumaedi 



At Saturday, 3 February 2001, Tantono Subagyo <tantono@sinergy-forum.
net> wrote:

>>1. Dari Sdr. Fatchiyah
>>
>>At Thursday, 1 February 2001, "fatchiyah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>Yth Bapak Tantono
>>Setelah membaca makalah bapak tentang hasil bioteknologi tanaman 
>>bagaimana pula dengan transgenik hewan ternak atau hasil bioteknologi 
>>untuk animal, apakah pemerintah sudah menyiapkan kesiapan tentang 
>>HAKI dan bioethic hal ini?
>>selain itu menanggapi komentar bapak di bawah, yang jelas kita saat 
>>ini adalah konsumen hasil biotek-tanaman, bagaimana sikap pemerintah 
>>indonesia? apakah menolak/menerima, misalnya jagung atau kedelai 
>>hasil transgenik? 
>
>Sikap pemerintah Indonesia nampaknya menolak paten hewan, dalam RUU 
>Paten (masid di DPR) yang baru ada catatan mengenai hal itu.  Kalau 
>masalah biotek tanaman kita berpegang pada uji biosafetynya, kalau 
>lolos uji biosafety ya boleh.  Pegangan kita adalah Cartaghena Protocol 

>dan Uji Biosafety dengan standard internasional.
>>2. Dari Sdr. Budi Setiawan
>>
>>Posted by Budi Setiawan  on Feb-03-01, 06:32 PM (GMT)  
>>Salam Merdeka Bapak-Bapak
>>Pertama saya perkenalkan diri saya dulu, nama saya Budi Setiawan,
>>aktivist sejak 1992 dengan konsern pada petani.
>>
>>Permasalahan PERTAMA kita untuk bioteknologi adalah kita harus 
memutuskan 
>
>>akan menjadi konsumen hasil tanaman rekayasa genetika (TRG), konsumen 
>>benih TRG tapi produsen hasil TRG, produsen benih TRG dan produsen 
>>hasil TRG, atau tidak satupun dari semua itu.
>***********
>Sdr Budi maunya sih jadi produsen benih, kemampuan ilmiah kita untuk 
>menghasilkan telah ada (LIPI, Balitbio) hanya nanti kita harus benar-
>benar mengembangkannya dengan baik.  Masalahnya sistem perbenihan 
>kita juga tidak efektif.  Sang Hyang Seri dan Pertani keok kalau 
>berhadapan dengan Pioneer, East West dan kalau melihat kebutuhan 
>benih Indonesia sangat besar (lihat www.fao.org untuk berbagai komoditi).

>Jadi kemampuan riset sudah ada, pengenbangan yang masih perlu dibenahi.
>UU PVT adalah untuk memfasilitasi perusahaan benih lokal dan Lembaga 
>Penelitian agar terlindungi investasinya. 
>>
>>Permasalahan KEDUA adalah yang menyangkut petaninya sebagai ujung 
>>tombak pelaku aplikasi teknologi tersebut. 
>***********
>Saya setuju, karena itu kita memilih PVT dari Paten untuk melindungi 
>hak petani, dan yang penting adalah menjaga agar petani tetap dapat 
>memiliki pilihan karena tersedianya aneka benih.
>****************
>>Permasalahan KETIGA adalah kacau balaunya peran stake holder penting 
>>LSM lokal maupun nasional sebagai stake holder kontrol dan pemberdayaan 

>
>>masyarakat. 
>****************
>Ini pusingnya, beberapa waktu yang lalu melalui pertemuan-pertemuan 
>kita ajak NGO bertemu, tetapi selalu dasarnya emosional dan non ilmiah,
>terutama bila menyangkut bahaya.  Dari KONPHALINDO misalnya selalu 
>bilang bahwa sebenarnya yang penting adalah mengecilkan perbedaan 
>"penumpukan" pangan di Utara dan membaginya ke Selatan yang kurang 
>pangan.  Kita berpikir secara logika, dan masalah kekurangan pangan 
>di Indonesia akan makin parah kalau tidak ada teknologinya.  Lain 
>dari itu sebenarnya beberapa lembaga internasional CAMBIA, IRRI, 
>CIMMYT, Rockefeller Foundation telah dan masih akan membantu untuk 
>mendapatkan aplikasi biotek yang sifatnya humanitarian seperti pisang 
>dg vaksin hepatitis dls, tetapi LSM kita dan KLH bersikap berbeda.
>Karena kita anggap wacana perbedaan itu sehat dan merupakan "control" 
>yang baik maka kita jalan terus.  Salah satu usulan kami kepada 
pemerintah 
>adalah untuk membantu sepenuhnya upaya komersialisai teknologi domestik 

>yang sampai saat ini masih terkendala dengan bunga bank yang tinggi.
>
>Indonesia juga mempunyai keunggulan komparatif yaitu kekayaan sumberdaya 

>alam yang bisa digunakan modal untuk bioprospecting.  Hanya pengaturan 
>masih rancu dan pihak KLH juga masih kurang realistis, keamanan juga 
>masih belum menarik.  Saya sedih mendapati 24 bahan jamu kita dipatenkan 

>di Jepang dan berusaha usul ke KMNRT untuk membentuk Tim Lobby mengurus 

>hal itu, sebagaimana Thailand mengurus masalah Jasmine rice di USA 
>dan India & Pakistan mengurus paten Basmati ataupun seperti Mexico 
>vs USA masalah Enola bean.
>
>Salam, Tantono
>







Reply via email to