Yth. Peserta ZOA-BIOTEK-2001,

Berikut ini kami sampaikan makalah Dr. Budu.
Mohon maaf, jika gambar juga tidak dapat terduplikasi pada modus 
teks email. Silakan mampir ke website kami di
http://sinergy-forum.net/zoa/paper/html/paperbudumd.html


Selamat menikmati, dan selamat berdiskusi.

Moderator

Dedy H.B. Wicaksono

===================================================

Analisa Gen Rhodopsin Pada Penderita Retinitis Pigmentosa
Budu, M.D.
* Department of Ophthalmology, Faculty of Medicine,
Toyama Medical and Pharmaceutical University, Japan.
** Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin,
Makassar, Indonesia.

Abstrak
Retinitis pigmentosa (RP) merupakan salah satu penyakit mata yang 
diturunkan (inheritance disease) yang mengenai bagian retina, dengan 
gejala-gejala utama : buta senja (night blindness), penyemptan lapangan 
pandang (visual field),dan akhirnya diakhiri dengan kebutaan (blindness).
Gen rhodopsin adalah reseptor protein yang terletak di dalam sel-
sel photoreceptor retina dengan fungsi utama untuk penangkapan berkas 
cahaya yang selanjutnya akan diproses menjadi sebuah sinyal visual 
yang normal. Terjadinya defek (mutasi gen) pada protein rhodopsin 
ini telah menjadi salah satu penyebab timbulnya penyakit RP ini. 
Baru-baru ini kami telah melakukan analisa mutasi gen rhodopsin terhadap 
86 penderita penyakit RP. Pada satu keluarga, kami mendapatkan adanya 
mutasi gen yang merubah susunan asam amino protein glycine ke arginine 
pada codon 106. Kelainan ini tidak kami temukan pada 100 normal chromosome 
(control). Perubahan ini tentunya akan merusak struktur dan fungsi 
utama protein rhodopsin pada proses transduksi visual dan inilah 
yang merupakan penyebab utama timbulnya gejala buta senja pada keluarga 
tersebut diatas.


Pendahuluan

Retinitis Pigmentosa (RP) merupakan penyakit kebutaan yang bersifat 
herediter. Kelainan utamanya mengenai sel-sel rod photoreceptor retina 
yang berfungsi dalam penangkapan berkas cahaya pada proses transduksi 
visual. Gejala utama penyakit ini adalah buta senja (night blindness),
sehingga penyakit ini sering diistilahkan dengan penyakit rabun 
senja. Beberapa tanda yang lain adalah penyempitan lapang pandang 
(tunnel vision), penurunan visus, dan akhirnya dapat menyebabkan 
kebutaan permanen.

Rhodopsin adalah protein receptor yang terdapat pada membran sel-
sel rod retina. Fungsinya sebagai receptor cahaya pada proses pengantaran 
sinyal visual yang normal. Oleh karena itu, kerusakan struktur nya 
akan berpengaruh terhadap mekanisme kerja dari protein receptor ini.


Tuisan ini memuat satu hasil analisa terhadap gen rhodopsin dan memperlihatkan 
adanya kerusakan struktur gen (mutasi ) pada satu keluarga Jepang 
dengan penyakit retinitis pigmentosa.

Materi penelitian

Kai menganalisa gen rhodopsin terhadap 86 keluarga Jepang dengan 
penyakit retinitis pigmentosa dan 100 orang sebagai kontrol. 

Metode penelitian :

Kami mengekstraksi ‘genomic DNAEdari sediaan darah perifer (leukosit) 
dari 86 penderita retinitis pigmentosa dan 100 orang kontrol. DNA 
hasil ekstraksi ini kemudian digunakan sebagai cetakan (template) 
pada proses amplifikasi gen rhodopsin dengan metode Polymerase Chain 
Reaction (PCR). Masing-masing DNA penderita yang telah dimurnikan 
kemudian dilakukan direct- sequence (automatic DNA- sequencer) untuk 
melihat adanya perubahan susunan basa nukleotida pada struktur gen 
rhodopsin. Sampel dari hasil PCR pada keluarga dengan mutasi gen 
rhodopsin serta pada 100 orang kontrol di konfirmasikan dengan melakukan 
analisa Restriction Endonuclease Enzyme .

Hasil Penelitian 

Dari 86 keluarga dengan penyakit retinitis pigmentosa, ditemukan 
satu penderita (proband) dengan mutasi pada exon 1 gen rhodopsin 
dari guanine (G) ke adenine (A). pada posisi pasangan basa 610. Mutasi 
ini menyebabkan perubahan struktur asam amino glycine (Gly) ke arginine 
(Arg) (GGG¨AGG) pada posisi codon 106 (Gly106Arg) (gambar 1). Mutasi 
ini juga terdapat pada kromosome kedua anak perempuan (patient III-
1 dan III-2) dari proband (patient II-2) tersebut diatas (gambar 
1), dan tidak ditemukan pada 100 orang sebagai kontrol.

@

Gambar 1. Mutasi Kromosome

Diskusi

Kami melakukan analisa mutasi gen rhodopsin terhadap 86 penderita 
retinitis pigmentosa dan menemukan mutasi gen pada 3 penderita dalam 
satu keluarga (Gambar 2). Perubahan susunan gen ini tidak ditemukan 
pada 100 orang kontrol. Mutasi ini adalah untuk pertama kalinya di 
temukan di Jepang (Asia), yang sebelumnya sudah pernah ditemukan 
di Amerika, Inggeris, dan Spanyol. Yang menarik bahwa, walaupun ditemukan 
pada lokasi yang berbeda, mutasi ini terjadi pada penderita dengan 
gejala klinik (phenotype) dan pola pewarisan (genotype) yang sama.
(Gambar) 2.



Gambar 2.

Dengan metode "transfection cell assay" Sung, dkk (1991 & 93) telah 
meneliti fungsi receptor protein dari beberapa jenis mutasi pada 
gen rhodopsin. Salah satu diantaranya adalah mutasi pada codon 106.
Posisi ini terletak disekitar "disulfide bonds" (cys E10 dan cys-
187) gen rhodopsin, yang diperlukan pada proses transportasinya ke 
membran sel-sel rod photoreceptor. Sehingga dikatakan bahwa protein 
dengan mutasi pada codon 106 akan berefek terhadap disulfide bond 
ini dan gagal untuk ditransportasikan ke membran sel dan tetap berkumpul 
disekitar retikulum endoplasma dan badan golgi. Tentu saja proses 
ini akan menyebabkan gagalnya sel-sel rod photoreceptor untuk melakukan 
fungsi nya dalam proses transduksi visual.

Kesimpulan

Mutasi gen rhodopsin, Gly106Arg, merupakan salah satu penyebab munculnya 
gejala retinitis pigmentosa pada orang Jepang.

Penutup

Bioteknologi abad-21 adalah salah satu harapan masa depan bangsa 
kita, termasuk di dalamnya bioteknologi kedokteran. Tulisan ini cukup 
singkat dan agak bersifat aplikasi, tapi moga-moga bisa memberikan 
gambaran dasar tentang pendekatan genetika kedokteran pada masa yang 
akan datang. Berdedikasi secara awal dalam mengumpul data, bekerja 
dengan instrumen sederhana, dan mencari gen termutasi adalah salah 
satu dari sekian banyak pekerjaan-pekerjaan bioteknologi medis. Bukankah 
mutasi gen merupakan salah satu sasaran penting dari terapi genetik.
?







Reply via email to