Yth. Peserta ZOA-BIOTEK,

Untuk memenuhi ajakan diskusi dari Dr. Anton Apriyantono, kami sampaikan 
makalah beliau di bawah ini. Sambil berdiskusi tentang aspek desain 
obat-obatan pasca era genomik serta analisis genetik penyakit mata,
saya kira tidak ada salahnya kita berdiskusi pula aspek halal-haram 
produk-produk bioteknologi.

Selamat Berdiskusi,

Moderator

Dedy H.B. Wicaksono

===================================================

Penentuan Kehalalan Produk Pangan Hasil Bioteknologi: Suatu Tantangan

Dr. Ir. Anton Apriyantono

Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta, Institut Pertanian Bogor,
Kampus IPB Darmaga, PO Box 220, Bogor 16002, Indonesia. E-mail: 
[EMAIL PROTECTED]

 

PENDAHULUAN

Terlepas dari pro dan kontra diharamkannya MSG Ajinomoto oleh MUI 
baru-baru ini, kejadian tersebut seharusnya membangunkan kita dari 
tidur panjang selama ini, betapa banyak permasalahan yang dihadapi 
umat Islam dalam masalah kehalalan produk-produk pangan. Oleh karena 
itu, ilmuwan diharapkan ikut berperan dalam menyelesaikan permasalahan 
ini demi kepentingan umat. Agaknya perkembangan teknologi yang sedemikian 
pesat belum sejalan dengan perkembangan pemahaman hukum Islam dan 
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ijtihad 
dalam masalah kehalalan produk pangan ini sangat dibutuhkan untuk 
memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam dalam masalah 
ini.

Di satu sisi, para ahli syariah Islam mungkin belum seluruhnya menyadari 
betapa kompleksnya produk pangan dewasa ini dimana asal usul bahan 
bisa melalui jalur yang berliku-liku, banyak jalur, bahkan dalam 
beberapa kasus, sulit ditentukan asal bahannya. Dengan demikian, 
penentuan kehalalan suatu produk menjadi tidak mudah, memerlukan 
peran ilmuwan untuk menelusuri asal usul bahan dan proses pembuatannya.
Di sisi lain, pemahaman para ilmuwan terhadap syariah Islam, ushul 
fiqih dan metodologi penentuan halam haramnya suatu bahan pangan 
dari sisi syariah, relatif minimal. Akibatnya, sering terjadi perbedaan 
pandangan dalam menentukan kehalalan produk pangan. Dengan demikian 
seharusnya para ilmuwan muslim menggali kembali pengetahuan syariahnya,
sehingga mampu mengamalkannya dalam kegiatan sehari-hari. Disamping 
itu, pengetahuan tersebut akan membantu ilmuwan untuk bersama-sama 
ulama menentukan status kehalalan produk-produk pangan.

Dalam makalah ini akan dicoba dibahas hukum-hukum syariah yang berhubungan 
kehalalan makanan dan minuman serta implikasinya dalam penentuan 
kehalalan produk pangan hasil bioteknologi. Tentu saja pembahasan 
disini lebih menekankan pada kajian berdasarkan sumber utama yaitu 
Al-Quran dan hadis, kemudian didukung oleh hasil ijma ulama dan pendapat-
pendapat para ulama. Selain itu, pembahasan hanya secara garis besar 
saja, kecuali beberapa hal yang dianggap kritis. Selanjutnya akan 
dicoba membahas secara umum bagaimana implikasi hukum-hukum tersebut 
pada produk pangan hasil bioteknologi. 

BAHAN PANGAN YANG DIHARAMKAN

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah 
rezkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman 
kepadanya (Al-Maaidah: 88).

Ayat tersebut diatas jelas-jelas telah menyuruh kita hanya memakan 
makanan yang halal dan baik saja, dua kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,
yang dapat diartikan halal dari segi syariah dan baik dari segi 
kesehatan, gizi, estetika dan lainnya.

Sesuai dengan kaidah ushul fiqih, segala sesuatu yang Allah tidak 
melarangnya berarti halal. Dengan demikian semua makanan dan minuman 
diluar yang diharamkan adalah halal. Oleh karena itu, sebenarnya 
sangatlah sedikit makanan dan minuman yang diharamkan tersebut. Walaupun 
demikian, pada zaman dimana teknologi telah menjadi bagian yang tidak 
terpisahkan dari manusia, maka permasalahan makanan dan minuman halal 
menjadi relatif kompleks, apalagi yang menyangkut produk-produk bioteknologi.


Makanan yang Diharamkan

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging 
babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut nama selain Allah.
Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia 
tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak 
ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang 
(Al-Baqarah:173).

Dari ayat diatas jelaslah bahwa makanan yang diharamkan pada pokoknya 
ada empat:

Bangkai: yang termasuk kedalam kategori bangkai ialah hewan yang 
mati dengan tidak disembelih, termasuk kedalamnya hewan yang matinya 
tercekik, dipukul, jatuh, ditanduk dan diterkam oleh hewan buas, 
kecuali yang sempat kita menyembelihnya (Al-Maaidah:3). Bangkai yang 
boleh dimakan berdasarkan hadis yaitu bangkai ikan dan belalang (Hamka,
1982). 
Darah, sering pula diistilahkan dengan darah yang mengalir (Al-An誕am:
145), yang dimaksud adalah segala macam darah termasuk yang keluar 
pada waktu penyembelihan (mengalir), sedangkan darah yang tersisa 
setelah penyembelihan yang ada pada daging setelah dibersihkan dibolehkan 
(Sabiq, 1987). Dua macam darah yang dibolehkan yaitu jantung dan 
limpa, kebolehannya didasarkan pada hadis (Hamka, 1982). 
Daging babi. Kebanyakan ulama sepakat menyatakan bahwa semua bagian 
babi yang dapat dimakan haram, sehingga baik dagingnya, lemaknya,
tulangnya, termasuk produk-produk yang mengandung bahan tersebut,
termasuk semua bahan yang dibuat dengan menggunakan bahan-bahan 
tersebut sebagai salah satu bahan bakunya. Hal ini misalnya tersirat 
dalam Keputusan Fatwa MUI bulan September 1994 tentang keharaman 
memanfaatkan babi dan seluruh unsur-unsurnya (Majelis Ulama Indonesia,
2000). 
Binatang yang ketika disembelih disebut nama selain Allah. Menurut 
Hamka (1984), ini berarti juga binatang yang disembelih untuk yang 
selain Allah (penulis mengartikan diantaranya semua makanan dan minuman 
yang ditujukan untuk sesajian). Tentu saja semua bagian bahan yang 
dapat dimakan dan produk turunan dari bahan ini juga haram untuk 
dijadikan bahan pangan seperti berlaku pada bangkai dan babi. 
Masalah pembacaan basmalah pada waktu pemotongan hewan adalah masalah 
khilafiyah (Hamka, 1982), ada yang mengharuskan membacanya, ada yang 
hanya menyunahkan saja (Hassan, 1985). Yang mengharuskan membacanya 
berpegang pada surat Al-An'am ayat 121: dan janganlah kamu memakan 
binatang yang tidak disebut nama Allah (ketika menyembelihnya), sesungguhnya 
hal itu suatu kefasikan・ Bagi mereka yang menyunahkan membacanya 
berpegang pada hadis-hadis, diantaranya hadis yang dirawikan oleh 
Bukhari, An-Nasa-i dan Ibnu Majah dari hadis Aisyah bahwa suatu kaum 
datang kepada kami membawakan kami daging, tetapi kami tidak tahu 
apakah disebut nama Allah atasnya atau tidak. Maka menjawab Rasulullah 
saw: kamu sendiri membaca bismillah atasnya, lalu makanlah! Berkata 
yang merawikan: mereka itu masih dekat kepada zaman kufur.・(Artinya 
baru masuk Islam) (Hamka, 1982).

Ada satu masalah lagi yang masih menjadi khilafiyah yaitu sembelihan 
ahli kitab, ada yang membolehkan (Hamka, 1982; Qardlawi, 1976) yang 
didasarkan diantaranya firman Allah dalam surat Al-Maaidah ayat 5:
・dan makanan orang-orang yang diberi AlKitab itu halal bagimu, 
dan makanan kamu halal bagi mereka・ Kebolehan memakan hewan ternak 
(selain babi) hasil sembelihan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) ini 
sepanjang cara penyembelihannya sesuai dengan cara penyembelihan 
secara islami (menggunakan pisau yang tajam, memotong urat lehernya 
dan hewan mengeluarkan darahnya pada waktu disembelih yang berarti 
hewan belum mati pada waktu disembelih walaupun dipingsankan dulu 
sebelumnya) (Hamka, 1982). Yang mengharamkan sembelihan ahli kitab 
didasarkan pada ayat 121 surat Al-An'am seperti dituliskan diatas,
dimana mereka menyembelih tidak atas nama Allah.

Disamping keempat kelompok makanan yang diharamkan tersebut diatas,
terdapat pula kelompok makanan yang diharamkan karena sifatnya yang 
buruk seperti dijelaskan dalam surat Al-A`raaf:157 .....dan menghalalkan 
bagi mereka segala hal yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala 
hal yang buruk...... Apa-apa saja yang buruk tersebut agaknya dicontohkan 
oleh Rasulullah dalam beberapa hadis, diantaranya hadis Ibnu Abbas 
yang dirawikan oleh Imam Ahmad dan Muslim dan Ash Habussunan: Telah 
melarang Rasulullah saw memakan tiap-tiap binatang buas yang bersaing 
(bertaring penulis), dan tiap-tiap yang mempunyai kuku pencengkraman 
dari burung. Sebuah hadis lagi sebagai contoh, dari Abu Tsa`labah:
Tiap-tiap yang bersaing dari binatang buas, maka memakannya adalah 
haram (perawi hadis sama dengan hadis sebelumnya).

Hewan-hewan lain yang haram dimakan berdasarkan keterangan pada hadis-
hadis ialah himar kampung, bighal, burung gagak, burung elang, kalajengking,
tikus, anjing, anjing gila, semut, lebah, burung hud-hud, burung 
shard (Sabiq, 1987). Selain itu, ada lagi binatang yang tidak boleh 
dimakan yaitu yang disebut jallalah. Jallalah adalah binatang yang 
memakan kotoran, baik ia unta, sapi, kambing, ayam, angsa, dll sehingga 
baunya berubah. Jika binatang itu dijauhkan dari kotoran (tinja) 
dalam waktu lama dan diberi makanan yang suci, maka dagingnya menjadi 
baik sehingga julukan jallalah hilang, kemudian dagingnya halal (Sabiq,
1987).

Ada pula Imam yang tidak mengkategorikan makanan-makanan haram yang 
dijelaskan dalam hadis sebagai makanan haram, tetapi hanya makruh 
saja. Pendapat ini dipegang oleh penganut mazhab Maliki (Hamka, 1982;
Hassan, 1985; Sabiq 1987). Akan tetapi, dengan menggunakan common 
sense saja agaknya sudah dapat dirasakan penolakan untuk memakan 
binatang-binatang seperti binatang buas: singa, anjing, ular, burung 
elang, dsb. Oleh karena itu, barangkali pendapat Mazhab Syafi`i lah 
yang lebih kuat yang mengharamkan makanan yang telah disebutkan diatas.


Ada pula pendapat yang mengatakan hewan yang hidup di dua air haram,
yang menurut mereka didasarkan pada hadis. Sayangnya, sampai saat 
ini penulis hanya dapat menemukan pernyataan keharaman makanan tersebut 
di buku-buku fiqih tanpa dapat berhasil menemukan sumber hadisnya 
yang jelas selain dari satu hadis yang terdapat dalam kitab Bulughul 
Maram (Hassan, 1975): Dari `Abdurrahman bin `Utsman Al-Qurasyis-yi 
bahwasanya seorang tabib bertanya kepada Rasulullah saw tentang kodok 
yang ia campurkan didalam satu obat, maka Rasulullah larang membunuhnya 
(Diriwayatkan oleh Ahmad dan disahkan oleh Hakim dan diriwayatkan 
juga oleh Abu Dawud dan Nasa`i). Dari hadis tersebut, dapat diinterpretasikan 
bahwa larangan membunuh kodok sama dengan larangan memakannya. Akan 
tetapi larangan terhadap binatang lainnya yang hidup di dua air seperti 
kodok tentulah tidak secara tegas dinyatakan dalam hadis tersebut,
mungkin itu hanya hasil qias saja. Jadi seharusnya yang diharamkan 
hanya kodok saja, sedangkan hewan yang hidup di dua alam lainnya 
tidak diharamkan, kecuali ada hadis yang menyatakan dengan jelas 
keharaman hewan-hewan tersebut.

Minuman yang Diharamkan

Dari semua minuman yang tersedia, hanya satu kelompok saja yang diharamkan 
yaitu khamar. Yang dimaksud dengan khamar yaitu minuman yang memabukkan 
sesuai dengan penjelasan Rasulullah saw berdasarkan hadis yang diriwayatkan 
oleh Ahmad dan Abu Daud dari Abdullah bin Umar: setiap yang memabukkan 
adalah khamar (termasuk khamar) dan setiap khamar adalah diharamkan 
(semua hadis-hadis yang digunakan dalam pembahasan minuman yang diharamkan 
diperoleh dari Sabiq, 1987). Dari penjelasan Rasulullah tsb jelas 
bahwa batasan khamar didasarkan atas sifatnya, bukan jenis bahannya,
bahannya sendiri dapat apa saja. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat 
mengenai bahan yang diharamkan, ada yang mengharamkan khamar yang 
berasal dari anggur saja. Akan tetapi penulis menyetujui pendapat 
yang mengharamkan semua bahan yang bersifat memabukkan, tidak perlu 
dilihat lagi asal dan jenis bahannya, hal ini didasarkan atas kajian 
hadis-hadis yang berkenaan dengan itu, juga pendapat para ulama terdahulu.


Mengenai sifat memabukkan sendiri dijelaskan lebih rinci lagi oleh 
Umar bin Khattab seperti diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim sebagai 
berikut: Kemudian daripada itu, wahai manusia! sesungguhnya telah 
diturunkan hukum yang mengharamkan khamar. Ia terbuat dari salah 
satu lima unsur: anggur, korma, madu, jagung dan gandum. Khamar itu 
adalah sesuatu yang mengacaukan akal. Jadi sifat mengacaukan akal 
itulah yang dijadikan patokan. Sifat mengacaukan akal itu diantaranya 
dicontohkan dalam Al-Quran yaitu membuat orang menjadi tidak mengerti 
lagi apa yang diucapkan seperti dapat dilihat pada surat An-Nisa:
43: Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu shalat sedang kamu 
dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.
Dengan demikian berdasarkan ilmu pengetahuan dapat diartikan sifat 
memabukkan tersebut yaitu suatu sifat dari suatu bahan yang menyerang 
syaraf yang mengakibatkan ingatan kita terganggu.

Keharaman khamar ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-Maaidah ayat 
90-91: Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya meminum khamar,
berjudi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dengan anak 
panah adalah perbuatan-perbuatan keji yang termasuk perbuatan syaitan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menumbulkan permusuhan 
dan kebencian diantara kamu lantaran meminum khamar dan berjudi itu 
dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Maka berhentilah 
kamu mengerjakan perbuatan itu.

Dengan berpegang pada definisi yang sangat jelas tersebut diatas 
maka kelompok minuman yang disebut dengan minuman keras atau minuman 
beralkohol (alcoholic beverages) termasuk khamar. Sayangnya, banyak 
orang mengasosiasikan minuman keras ini dengan alkohol saja sehingga 
yang diharamkan berkembang menjadi alkohol (etanol), padahal tidak 
ada yang sanggup meminum etanol dalam bentuk murni karena akan menyebabkan 
kematian. 

Etanol memang merupakan komponen kimia yang terbesar (setelah air) 
yang terdapat pada minuman keras, akan tetapi etanol bukan satu-satunya 
senyawa kimia yang dapat menyebabkan mabuk, banyak senyawa-senyawa 
lain yang terdapat pada minuman keras juga bersifat memabukkan jika 
diminum pada konsentrasi cukup tinggi. Komponen-komponen ini misalnya 
metanol, propanol, butanol (Etievant, 1991). Secara umum, golongan 
alkohol bersifat narkosis (memabukkan), demikian juga komponen-komponen 
lain yang terdapat pada minuman keras seperti aseton, beberapa ester 
dll (Bretherick, 1986). 

Secara umum, senyawa-senyawa organik mikromolekul dalam bentuk murninya 
kebanyakan adalah racun. Sebagai contoh, asetaldehida terdapat pada 
jus orange walaupun dalam jumlah kecil (3-7 ppm) (Shaw, 1991). Jika 
kita lihat sifatnya (dalam bentuk murninya), asetaldehida juga bersifat 
narkosis, walaupun hanya menghirup uapnya (Bretherick, 1986). Oleh 
karena itu, kita tidak dapat menentukan keharaman minuman hanya dari 
alkoholnya saja, akan tetapi harus dilihat secara keseluruhan, yaitu 
apabila keseluruhannya bersifat memabukkan maka termasuk kedalam 
kelompok khamar. Apabila sudah termasuk kedalam kelompok khamar maka 
sedikit atau banyaknya tetap haram, tidak perlu lagi dilihat berapa 
kadar alkoholnya.

Apabila yang diharamkan adalah etanolnya, maka dampaknya akan sangat 
luas sekali karena banyak sekali makanan dan minuman yang mengandung 
alkohol, baik terdapat secara alami (sudah terdapat sejak bahan pangan 
tersebut baru dipanen dari pohon) seperti pada buah-buahan, atau 
terbentuk selama pengolahan seperti kecap. Akan tetapi kita mengetahui 
bahwa buah-buahan segar dan kecap tidak menyebabkan mabuk. Disamping 
itu, apabila alkohol diharamkan maka ketentuan ini akan bertentangan 
dengan penjelasan yang diberikan oleh Rasulullah saw tentang jus 
buah-buahan dan pemeramannya seperti tercantum dalam hadis-hadis 
berikut:

Minumlah itu (juice) selagi ia belum keras. Sahabat-sahabat bertanya:
Berapa lama ia menjadi keras? Ia menjadi keras dalam tiga hari, 
jawab Nabi. (Hadis Ahmad diriwayatkan dari Abdullah bin Umar). 
Bahwa Ibnu Abbas pernah membuat juice untuk Nabi saw. Nabi meminumnya 
pada hari itu, besok dan lusanya hingga sore hari ketiga. Setelah 
itu Nabi menyuruh khadam menumpahkan atau memusnahkannya. (Hadis 
Muslim berasal dari Abdullah bin Abbas). 
Buatlah minuman anggur!. Tetapi ingat, setiap yang memabukkan adalah 
haram (Hadis tercantum dalam kitab Fiqih Sunah karangan Sayid Sabiq,
1987). 
Pemeraman juice pada suhu ruang dan udara terbuka sampai dua hari 
jelas secara ilmiah dapat dibuktikan akan mengakibatkan pembentukan 
etanol, tetapi memang belum sampai pada kadar yang memabukkan, hal 
ini juga dapat terlihat pada pembuatan tape. Sebelum diperam pun 
juice sudah mengandung alkohol, juice jeruk segar misalnya dapat 
mengandung alkohol sebanyak 0.15%. Dari pembahasan tersebut diatas 
jelaslah bahwa pendapat yang mengatakan diharamkannya alkohol lemah,
bahkan bertentangan dengan hadis Rasulullah saw. Apabila alkohol 
diharamkan, maka seharusnya alkohol tidak boleh digunakan untuk sterilisasi 
alat-alat kedokteran, campuran obat, pelarut (pewarna, flavor, parfum,
obat, dll), bahkan etanol harus enyah dari laboratorium-laboratorium.
Jelas hal ini akan sangat menyulitkan. Disamping itu ingatlah firman 
Allah dalam surat Al-Maiadah ayat 87: Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang Allah telah halalkan 
bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah 
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Ada pula yang berpendapat bahwa etanol itu haram, akan tetapi etanol 
dapat digunakan dalam pengolahan pangan asalkan pada produk akhir 
tidak terdeteksi lagi adanya etanol. Pendapat ini lemah karena dua 
hal; pertama, berdasarkan hukum fiqih, apabila suatu makanan atau 
minuman tercampur dengan bahan yang haram maka menjadi haramlah ia 
(Ada pula yang berpendapat bahwa hal ini dibolehkan sepanjang tidak 
merubah sifat-sifat makanan atau minuman tersebut. Pendapat ini hasil 
qias terhadap kesucian air yang tercampuri bahan yang najis, sepanjang 
tidak merubah sifat-sifat air maka masih tetap suci. Penulis tidak 
sependapat dengan pandangan ini karena masalah kehalalan makanan 
dan minuman tidak bisa disamakan dengan masalah kesucian air, keduanya 
merupakan dua hal yang berbeda). Kedua, secara teori tidak mungkin 
dapat menghilangkan suatu bahan sampai 100 persen apabila bahan tersebut 
tercampur ke dalam bahan lain, dengan kata lain apabila etanol terdapat 
pada bahan awalnya, maka setelah pengolahan juga masih akan terdapat 
pada produk akhir, walaupun dengan kadar yang bervariasi tergantung 
pada jumlah awal etanol dan kondisi pengolahan yang dilakukan. Hal 
ini dapat dibuktikan di laboratorium.

Walaupun bukan etanol yang diharamkan tetapi minuman beralkohol, 
akan tetapi penggunaan etanol untuk pembuatan bahan pangan harus 
dibatasi, untuk menghindari penyalahgunaan dan menghindari perubahan 
sifat bahan pangan dari tidak memabukkan menjadi memabukkan. Etanol 
dapat digunakan dalam proses ekstraksi, pencucian atau pelarutan,
akan tetapi sisa etanol pada produk akhir harus dihilangkan sedapat 
mungkin, sehingga hanya tersisa sangat sedikit sekali. Etanol tidak 
boleh digunakan sebagai solven akhir suatu bahan, misal digunakan 
sebagai pelarut bahan flavor dan pewarna.

Batasan khamar ini nampaknya tidak terbatas pada minuman saja mengingat 
ada hadis yang mengatakan setiap yang memabukkan adalah khamar dan 
setiap khamar adalah haram (Hadis Muslim); Semua yang mengacaukan 
akal dan semua yang memabukkan adalah haram (Hadis Abu Daud). Dengan 
demikian segala hal yang mengacaukan akal dan memabukkan seperti 
berbagai jenis bahan narkotika termasuk ecstasy adalah haram.

Disamping makanan dan minuman yang diharamkan seperti telah dijelaskan 
diatas, ada beberapa kaidah fiqih yang sering digunakan dalam menentukan 
halal haramnya bahan pangan. Kaidah tersebut diantaranya adalah:

Semua yang bersifat najis haram untuk dimakan. 
Manakala bercampur antara yang halal dengan yang haram, maka dimenangkan 
yang haram. 
Apabila banyaknya bersifat memabukkan maka sedikitnya juga haram. 
IMPLIKASI HUKUM SYARIAH DALAM PENETAPAN KEHALALAN PRODUK PANGAN HASIL 
BIOTEKNOLOGI

Apabila dasar-dasar syariah yang digunakan sebagai landasan penentuan 
kehalalan suatu bahan pangan telah dipahami dan disepakati maka sebetulnya 
implikasinya dalam menentukan kehalalan produk pangan hasil bioteknologi 
menjadi relatif lebih mudah. Secara umum hal-hal yang menjadi patokan 
dapat dirumuskan sbb:

Dalam suatu produksi bahan pangan tidak menggunakan bahan-bahan yang 
diharamkan agar produknya dapat dinyatakan halal. Ini misalnya berlaku 
pada proses produksi secara fermentasi. 
Pemanfaatan babi dan unsur-unsurnya atau turunan-turunannya mutlak 
tidak boleh dilakukan. Jika suatu proses produksi memanfaatkan babi 
dan unsur-unsurnya maka produknya menjadi haram dimakan. Sebagai 
contoh: pemanfaatan gen dari babi untuk rekayasa genetika, pemanfaatan 
porcine somatotropin untuk penggemukan sapi, dll. 
Pemanfaatan hewan ternak selain babi dan unsur atau turunannya dibolehkan 
sepanjang ternak tersebut disembelih secara islami. 
Penggunaan etanol sebagai substrat, senyawa intermediet, solven dan 
pengendap dibolehkan, sepanjang konsentrasinya pada produk akhir 
(ingredien pangan) diupayakan minimal (minimal level technologically 
possible, sesuai dengan pendapat Chaudry dan Regenstein, 1994). 
Tentu masih ada beberapa hal lagi yang bisa dijadikan patokan, disamping 
masih ada beberapa masalah lagi yang belum dapat dipecahkan pada 
saat ini. Oleh karena, hal ini menjadi tantangan bagi kita semua 
untuk merumuskan dan mencarikan jalan keluarnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Bretherick, L (ed.). 1986. Hazards in the Chemical Laboratory.
Fourth edition. The Royal Society of Chemistry, London. 
2. Chaudry, M. M. dan Regenstein, J. M. 1994. Implications of biotechnology 
and genetic engineering for kosher and halal foods. Trends in Food 
Sci. Technol., 5, 165 ・168. 
3. Etievant, P. X. 1991. Wine. Didalam: Volatile Compounds in Foods 
and Beverages, ed. H. Maarse. Marcel Dekker, New York. 
4. Hamka. 1982. Tafsir Al-Azhar Juzu VI. Panji Masyarakat, Jakarta. 
5. Hamka, 1984. Tafsir Al-Azhar Juzu VIII. Pustaka Panjimas, Jakarta. 
6. Hassan A. 1975. Tarjamah Bulughul Maram. Diponegoro, Bandung. 
7. Hassan, A. 1985. Soal Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama. Diponegoro,
Bandung. 
8. Majelis Ulama Indonesia. 2000. Keputusan Fatwa Komisi Fatwa Majelis 
Ulama Indonesia Tentang Produk Penyedap Rasa (Monosodium Glutamate,
MSG) Dari PT. Ajinomoto Indonesia yang Menggunakan Bacto Soytone.

9. Sabiq, S. 1987. Fikih Sunnah. Alih bahasa M. Syaf. Al-Ma誕rif,
Bandung. 
10. Shaw, P. E. 1991. Fruits II. Didalam: Volatile Compounds in Foods 
and Beverages, ed. H. Maarse. Marcel Dekker, New York. 
11. Qardlawi, M. Y. E. 1976. Halal dan Haram dalam Pandangan Islam.
Alih bahasa M. Hamidy. Bina Ilmu, Surabaya.  
 








Reply via email to