Yth. Peserta ZOA-BIOTEK,

Sekalipun saat ini telah menginjak sesi II, Bioteknologi untuk Medis,
kami mohon izin untuk menyampaikan beberapa jawaban dari pemakalah 
sesi I (Bioteknologi untuk Pertanian) atas pertanyaan dari peserta.
Jawaban pemakalah ini belum sempat kami postingkan pada sesi I yang 
lalu.

Berikut ini kami sampaikan jawaban Dr. Antonius Suwanto atas tanggapan 
dari Dr. Jaka Widada.

Moderator

Dedy H.B. Wicaksono

==================================================

Berikut ini tanggapan saya: (Dr. Antonius Suwanto)

> 2. Dari Sdr. Jaka Widada:
=====================
> l Namun demikian sampai hari ini sudah adakah produk tanaman transgenik
> yang benar-benar aman untuk dilepaskan ke masyarakat baik itu secara>
> fisiologis maupun ekologis? Seperti kita ketahui bahwa pada umumnya
> informasi mengenai peta genetik tanaman yang ditransgenik belum 
diketahui>
> secara keseluruhan. Kalau saat ini tanaman Arabidosis taliana sudah
> selesai dipetakan, seberapa besarkah kemiripan sekuen jenis tanaman>
> yang satu dengan jenis lainnya ?

Dr. Antonius Suwanto:
==================
Sejumlah tanaman yang telah dilepaskan untuk ditanam di USA, Canada,
China, dan beberapa negara lain telah dinyatakan aman dari berbagai 
sudut
kajian.  Tanaman transgenik telah ditanam di USA sekitar 5 tahun 
yang silam.
Sedangkan bakteri biokontrol hasil rekayasa genetika telah diintroduksi 
ke
lapangan sekitar 1989. 

Dr. Jaka Widada:
=============
Yang lain adalah:>
> 1) secara umum promoter yang digunakan untuk mengekpresikan gen yang
> dikehendaki salah satunya adalah CaMV dimana promoter yang ampuh
> ini diambil dari virus, dan sekuen dari promoten ini juga mempunyai
> kemiripan yang tinggi dengan virus lainnya seperti virus Hepatitis
> B atau retrovirus yang mirip HIV. Seberapa amankah penggunaan promoter> 
ini?

Dr. Antonius Suwanto:
==================
Transaksi gen merupakan bagian dari dinamika biosfer dan ini merupakan
penentu keragaman hayati di planet bumi ini.  Dari sejumlah penelitian 
yang
ada, rekombinasi promotor CaMV dengan sekuen lain yang kemungkinan akan
menimbulkan bahaya nyata adalah kecil sekali, yang secara praktis dapat
dikatakan aman atau setidaknya setara dengan fenomena rekombinasi 
yang dapat
terjadi secara "alami".

Dr. Jaka Widada:
=============

> 2) Kalaupun sekarang sudah dihindari pemakaian antibiotik sebagai
> penandanya dan digantikan salah saytunya dengan herbisida, munkinkah>
> tanaman transgenik menjadi semacam gulma atau super gulma ?

Dr. Antonius Suwanto:
================== 
Sejumlah penelitian melaporkan bahwa resiko terjadinya galur bakteri
yang resisten antibiotik akibat pemakaian gen penenda antibiotik sangat
kecil dan hampir tidak ada artinya bila dibandingkan dengan praktik yang
umum yang dianggap biasa, yaitu: suplementasi antibiotik pada pakan 
ternak
atau penyalahgunaan pemakaian antibiotik (Silahkan baca: Salyers,
AA.1995.
Antibiotic resistance transfer in the mammalian intestinal tract:
Implications for human health, food safety, and biotechnology. Springer).

Meskipun demikian, pada perkembangannya nanti tidak perlu lagi penanda 
dalam
mengkonstruksi GMO, sebagaimana sudah dilakukan secara rutin pada 
konstruksi
Bakteri hasil rekayasa genetika.

Dr. Jaka Widada:
=============
> l Bagaimana sikap kita untuk bisa tetap melindungi konsumen dalam
> hal tanaman transgenik. Ambil contoh suatu perusahaan A membuat 
tanaman>
> tansgenik yang memerlukan pupuk khusus untuk melipat gandakan produknya
> dan tanaman tersebut tidak berbiji. Apakah kasus semacam ini tidak>
> akan menyebabkan ketergantungan petani ke perusahaan A tersebut ?

Dr. Antonius Suwanto:
==================
Apakah suatu ketergantungan selalu berakibat buruk?  Bukankah
jaring-jaring kehidupan yang menjadi dasar ekologi itu menunjukkan
ketergantungan YANG HARMONIS antara mahluk hidup satu dengan lainnya?






Reply via email to