Yth. Peserta Diskusi ZOA-BIOTEK,

Berikut kami sampaikan jawaban dari Dr. Antonius Suwanto, salah satu 
pemakalah Sesi I, atas tanggapan Sdr. Diartoko Paulus.

Mohon maaf atas keterlambatan posting jawaban ini pada sesi II yang 
baru dimulai.

Moderator

Dedy H.B. Wicaksono

===================================================

> 3. Dari Sdr. Diartoko Paulus:
=========================
> Yang kedua, jika bapak tetap ingin menggunakan judul yang seperti
> bapak ajukan sebaiknya bapak lebih seimbang dalam memaparkan informasi>
> bagaimana kita menyikapinya; maksud saya bapak harus menampilkan
> juga secara proporsional resiko tanaman transgenik terhadap "kita".

Dr. Antonius Suwanto:
==================
Pada akhir kalimat dalam judul tersebut saya berikan tanda tanya (?),
sehingga yang menentukan sikap adalah para pembaca, yang tentu saja bisa
bermacam-macam.

Sdr. Diartoko Paulus:
=================
> Saya hanya mengingatkan pak, bahwa seperti yang bapak sebut dalam
> halaman 6 bahwa kita tertinggal dalam perkembangan bioteknologi,
> maka bisa dikatakan dengan kalimat yang lain bahwa kita sekarang>
> sebagai konsumen bioteknologi.

Dr. Antonius Suwanto:
==================
Bioteknologi itu bahan mentahnya adalah bahan hayati yang seringkali
terpaut dengan kondisi geografi.  Kalau kita dapat memanfaatkan keuntungan
geografi terhadap pengelolaan bahan hayati ini mestinya Indonesia akan
unggul, karena Indonesia adalah botanical home atau biological home 
untuk
berbagai bahan hayati unik.  Biar bagaimana pun majunya bioteknologi di
Swiss, misalnya, negara itu tidak akan kompetitif untuk mengembangkan
manggis, durian, atau kayu jati.  Ini tidak sama dengan teknologi 
komputer
atau industri pesawat terbang yang hampir tidak mengenal batas-batasgeografi

Sdr. Diartoko Paulus:
=================
Oleh karena itu saya sarankan bapak
> lebih banyak memberikan juga mengenai apa yang perlu diketahui dan
> menjadi haknya konsumen bioteknologi, supaya kita bisa menentukan
> pilihan secara bebas. Bukankah dengan demikian kita juga (justru)
> melakukan biotechnology literacy secara sehat dan mengawali pendidikan
> bioetik yang menghormati hak konsumen?

Dr. Antonius Suwanto:
===================
Tentu saja.  Saya sependapat dengan bapak mengenai hal ini.  Hanya
saja pilihan yang benar-benar bebas akan terjadi bila konsumen telah
mendapat paparan yang baik dan benar.  Bila tidak, yang terjadi adalah
keputusan emosional.  Dalam kasus Ajinomoto kita bisa ambil pelajaran 
bahwa
berbeda sekali antara: (1) Ajinomoto terbuat dari lemak babi; dan (2)
Ajinomoto dalam proses pembuatannya bersentuhan dengan bahan yang 
diperoleh
dari babi.  Menjelaskan yang ke (2) tidak semudah yang ke (1), dan 
yang ke
(1) ini justru memicu emosi konsumen yang tidak paham persoalannya.
Bila
konsumen sudah tahu bahwa yang ke(2) -lah yang benar, maka konsumen 
dapat
mengambil keputusan dengan latar belakang yang baik.

Sdr. Diartoko Paulus:
=================
> Yang ketiga, seandainya kita mengawali pendidikan bioteknologi kepada
> masyarakat kita, yang saat ini masih menghadapi persoalan perut,
> tentunya baik bagi kita (masyarakat akademis dan pengambil kebijakan)
> justru lebih besar berperan dalam memproteksi masuknya produk yang
> masih diperdebatkan ke dalam negeri.

Dr. Antonius Suwanto:
=================== 
Justru untuk masalah perut (yang mendesak?) itu kita perlu segera
menerapkan pilihan yang telah dikaji dengan baik.  Bioteknologi dan
produknya adalah salah satu pilihan yang perlu diperkenalkan lebih luas
kepada masyarakat sebagai bagian dari pendidikan publik.

Sdr. Diartoko Paulus:
==================
 Seorang atase perdagangan di
> luar negeri yang diundang ke kampus kami mengatakan bahwa agreement>
> kita dengan WTO itu terjadi karena ketidak tahuan utusan kita dan
> hanya asal tanda tangan.Oleh karena itu sekali lagi secara praktis>
> perlu kita memproteksi masyarakat kita agar tidak menjadi konsumen
> produk yang tidak jelas. Bukankah jika kita bicara mengenai teknik>
> rekayasa genetika saat ini justru akan memunculkan banyak penguasa
> kehidupan di masa depan? Sementara kita sendiri belum bisa bersikap>
> egaliter terhadap kehidupan.


Dr. Antonius Suwanto:
=================== 
Maaf, saya tidak paham mengenai apa yang dimaksud dengan "penguasa
kehidupan" dan "sikap egaliter thd kehidupan".  Mohon diberikan tambahan
penjelasan atau contoh.







Reply via email to