Yth. Peserta Diskusi ZOA-BIOTEK-2001,

Berikut kami sampaikan tanggapan Dr. Antonius Suwanto atas tanggapan 
Dr. Abdul Hadi terhadap makalah Dr. Antonius Suwanto.

Moderator

Dedy H.B. Wicaksono



Dr. Abdul Hadi:
============
>Saya tertarik dengan info Bapak tentang padi transgenik ini, karena 
>work team kami sedang aktif melalukan pengujian tingkat emisi metan 
>(CH4) dari berbagai varietas padi. Tujuan pengujian ini adalah untuk 
>mencari varietas padi yang aman bagi atmosphere (mengemisi CH4 lebih 
>sedikit).  Sejauh ini, padi berkontribusi lebih dari 90% dari emisi 
>CH4 dari sawah.
>Satu hal yang ingin saya konfirmasi, karena di luar bidang saya, sbb:
>Kita ketahui bahwa vitamin A didapatkan juga dari bahan lain, seperti 
>lobak, susu, wortel dan belut.  Selain vitamin A,  bahan-bahan ini 
>juga memberikan protein, serat etc.  Dengan alasan itu dan untuk 
>menurunkan ketergantungan terhadap satu komoditas, diadakan promosi 
>diversifikasi pangan.  Nah, kalau kebutuhan vitamin A dipenuhi dari 
>nasi, ada kemungkinan:1. gizi lain akan defisiensi
>2. peternak sapi dan belut/petani sayur akan kehilangan pasar
>3. ketergantungan terhadap beras makin meningkat
>Oleh karena itu, adalah 'tutup lubang' satu 'gali lubang' lain  kalau 
>introdusi varitas padi ini dilakukan dengan alasan untuk perbaikan 
>gizi. 
>Mohon tanggapan Bapak!
>
>Terima kasih sebelumnya!
>
>Dr. Abdul Hadi 
>IASA - Indonesian Agricultural Sciences Association
>

Dr. Antonius Suwanto:
==================

Berikut ini jawaban dari saya untuk bapak Hadi,
Dalam paparan tersebut saya hanya memberikan contoh bagaimana bioteknologi
modern dapat memberikan andil dalam meningkatkan nilai gizi suatu bahan
pangan.  Teknik semacam ini dapat diterapkan pada komoditi lain. 
Tidak harus
padi.  Tergantung apa yang dibutuhkan oleh Indonesia.  Apakah beras 
macam
itu bakal lebih meningkatkan kecenderungan konsumsinya? Bisa ya tapi 
juga
bisa tidak, karena warnanya kuning begitu!  Apapun kemungkinan prediksinya,

sekarangpun hal itu sudah terjadi orang cenderung mengkonsumsi beras
daripada sagu atau ubi jalar misalnya. Ada banyak faktor yang membuat 
beras
menjadi bahan pangan utama Sebagian Besar Penduduk dunia:  budaya,
nutrisi,
citarasa, dan juga kemudahan dalam preparasinya.  Sebagian besar orang
Indonesia (terutama dari Jawa) dapat menikmati gandum sebagai sumber
karbohidratnya, tapi tetap saja masih "kangen" dengan nasi.  Saya 
tidak tahu
apakah orang yang makanan pokoknya sagu, singkong, dan ubi jalar 
misalnya;
masih kangen dengan sagu, singkong dan ubu jalar setelah berkenalan 
dengan
nasi?  Bila masih kangen, maka mestinya tidak akan terlalu sulit 
melakukan
diversifikasi pangan, karena akan dipertahankan oleh penggemarnya
sebagaimana penggemar nasi masih terus kangen dengan nasi walaupun sudah
bertahun-tahun hidup di negara yang makanan pokoknya gandum.
Sejauh ini emisi metan di sawah bukan karena Tanaman Padi-nya.  Tapi 
cara
bercocok tanam atau pengolahan lahan yang meningkatkan aktivitas 
metanogen
tapi malah mereduksi methyloptroph itulah yang memberikan kontribusi 
utama.
Sejumlah penelitian kami tentang methylotroph asal phyllosphere justru
menyarankan perlunya studi lebih lanjut mengenai peranan bakteri 
ini untuk
mereduksi jumlah metan.  Kami sedang meneliti sintasan dan kebugaran
mehylotroph asal phyllosphere berbagai tanaman.  Saya pikir suatu ketika
justru rekayasa bakteri ini dan aplikasinya juga pada tanaman (termasuk
padi) yang akan sangat membantu kita dalam mengendalikan emisi metan.
Mungkin kita perlu forum khusus untuk diskusi metanogen-metilotrof yang
sangat menarik ini.

Salam,Antonius







Reply via email to