Terima kasih Dr. Antonius atas jawabannya.  Saya ingin menanggapi 
kembali tentang emisi metan (CH4) karena berhubungan juga dengan 
presentasi saya.

>Dr. Antonius Suwanto:
>==================
=========partly cut=======
>Sejauh ini emisi metan di sawah bukan karena Tanaman Padi-nya.  Tapi   
>cara
>bercocok tanam atau pengolahan lahan yang meningkatkan aktivitas 
>metanogen

Ada dua kata kunci yang harus kita bedakan; (1) 'emisi' dan (2) 'produksi/formasi' 
CH4.  Emisi adalah perpindahan CH4 menuju atmosphere. Sedang produksi 
adalah proses pembentukannya, yang melibatkan metanogen.
 
Kontribusi tanaman padi dalam mengemisi CH4 dipelajari dengan menyiapkan 
dua plot sawah.  Plot yang satu ditanami padi (treatment), dan yang 
satunya tidak (control).  Kontribusi tanaman padi terhadap emisi 
metan adalah prosentasi kenaikan emisi metan dari plot treatment 
dibandingkan kontrol.  Dari studi yang kami lakukan (dan peneliti2 
lain), tanaman padi menyumbang lebih dari 90% (tergantung varietas 
padi dan jenis tanah) dari emisi metan dari tanah ke atmosphere (refer 
to Inubushi et al.  1992; Inubushi, et al.  1989. Holzapfel-Pschorn 
et al, 1986; Kimura et al. , 1996).

Metan di dalam tubuh tanaman diangkut melalui aerinchima; jaringan 
khusus yang dimiliki umumnya oleh vegetasi lahan basah (Cicerone 
and Shetter, 1981; Holzapfel-Pschorn and Seiler, 1986; Inubushi et 
al., 1989; Nouchi et al., 1990; Schutz et al., 1991).  Metan yang 
berada sekitas akar masuk ke dalam akar dan didnding sel cortex dengan 
proses didifusi akibat perbedaan konsentrasi gas di zone perakaran 
dan lysigenous intercellular spaces di dalam akar.  Metan kemudian 
diangkut ke batang melalui lysigenous intercellular spaces dan aerenchyma 
(Nouchi et al., 1990).

Dengan cara serupa, laju produksi CH4 dalam tanah plot treatmen dan 
kontrol diukur.  Kontribusi tanaman padi terhadap produksi CH4 lebih 
dari 50%. 

Jadi jelaslah bahwa kontribusi tanaman padi (after considering the 
CH4 oxidation--akan dijelaskan belakangan) dalam emisi maupun produksi 
CH4 sangat besar. 

>tapi malah mereduksi methyloptroph itulah yang memberikan kontribusi 
>utama.
>Sejumlah penelitian kami tentang methylotroph asal phyllosphere justru
>menyarankan perlunya studi lebih lanjut mengenai peranan bakteri 
>ini untuk
>mereduksi jumlah metan.  Kami sedang meneliti sintasan dan kebugaran
>mehylotroph asal phyllosphere berbagai tanaman.  Saya pikir suatu 
ketika
>justru rekayasa bakteri ini dan aplikasinya juga pada tanaman (termasuk
>padi) yang akan sangat membantu kita dalam mengendalikan emisi metan.

Memang, sebelum mencapai atmosfir, sebagian CH4 dikonsumsi pada lapisan 
oksidasi tanah sawah (Holzapfel-Pschorn et al, 1986; Inubushi, 1992).
Konsumsi metan dalam tanah terjadi melalui reaksi oksidasi oleh 
sekelompok mikro organisma yang disebut methanotrophs.  Termasuk 
dalam kelompok mikro organisme ini Methylomonas, Methylococcus, dan 
Methylosinus (Paul and Clerk, 1996; Nishino, 1997).  Reaksi oksidasi 
dikatalis oleh enzim yang disebut methan mono oxygenese (mmo), menghasilkan 
metanol (CH3OH).  Metanol selanjutnya dioksidasi menjadi format, 
kemudia CO2 (Paul and Clerk, 1996).

Methanotrophs bekerja hanya pada kondisi CH4 tinggi (e.g., rhizosphere 
tanaman padi).  Belum ada published paper yang membuktikan bahwa 
mathanotrophs dapat mengoksidasi CH4 pada atmospheric concentration 
dilapangan.    

>Mungkin kita perlu forum khusus untuk diskusi metanogen-metilotrof yang
>sangat menarik ini.
>
>Salam,Antonius
>

Saya sangat senang dan siap berpartisifasi kalau ada yang mengorganisir 
diskusi tentang topik ini.

Dr. Abdul Hadi 
IASA - Indonesian Agricultural Sciences Association







Reply via email to