Yth. Peserta ZOA-BIOTEK,

Berikut kami sampaikan jawaban dari Dr. Anton Apriyantono tentang 
halal-haramnya ikan yang diberi makan dari faeces.

Moderator

Dedy H.B. Wicaksono

================================================
Subject: Re: HALAL-HARAM: Makanan ikan dari faeces

Ass. Wr. Wb.

Setelah saya pelajari, dari apa yang saya ketahui, memang benar seharusnya 

kita peduli terhadap ikan yang diberi makan feses, karena seperti juga 
sudah saya tuliskan dalam makalah, binatang seperti itu termasuk 
binatang 
jallalah.  Selama makan kotoran, binatang berstatus jallalah, selama 
itu 
pula tidak boleh dimakan, tidak boleh pula diambil susunya dan ditunggangi 

(dari hadis).  Status jallalah akan hilang apabila si hewan dibebaskan 
dulu 
dari makanan feses (kotoran) sampai hilang pengaruh feses tersebut 
(baunya?), ada yang berpendapat proses ini akan makan waktu sekitar 3 
hari.  Setelah bersih, hewan tersebut boleh dimakan.  Masalah timbul 
jika 
makanan ikan tersebut secara kontinyu adalah feses, bagaimana 
statusnya?  Saya sedang berusaha mencari jawabannya, sayang belum 
ketemu, 
saya sudah pula bertanya kepada guru saya (pak Didin Hafidudin dari 
pesantren Ulil Albab di Bogor), menurut beliau, jika itu alami (dalam 
artian tidak kontinyu, karena ikan, ayam, kadang-kadang makan kotoran), 
tidak masalah.  Hanya ya itu tadi, jika makan kotoran, sebelum dikonsumsi 

harus dipindahkan ke tempat yang bersih, diberi makan yang bersih, baru 
boleh dikonsumsi.  Jadi disini memang sekali lagi perlu sosialisasi 
hukum 
dan dakwah bagi yang belum paham, dan bukan hukumnya yang salah, 
hanya kita 
belum paham sehingga itu belum dipraktekkan.

Dalam kasus ini, masih ada yang belum terjawab (paling tidak oleh saya 
sendiri), bagaimana hukumnya jika pemberian feses tersebut berlangsung 
kontinyu.  Hal ini berlaku pula dengan penggunaan darah untuk makanan 
ternak dan ikan yang bersifat kontinyu, demikian pula penggunaan 
bangkai 
untuk lele dumbo dan ternak yang bersifat kontinyu.  Saya khawatir 
dalam 
masalah ini, bukan hanya dari segi hukumnya, akan tetapi juga dari segi 
kesehatan, hal ini saya kaitkan dengan terjadinya BSE yang konon 
awalnya 
akibat adanya sapi yang diberi makan bangkai.  Ada yang bisa membantu?

Wassalam Wr. Wb.

Anton Apriyantono








Reply via email to