Pak Anton, sebaiknya kita berangkat dari pemahaman bahwa Sang Pencipta
punya IPTEK yang amat canggih, sehingga pengupasan dengan IPTEK yg kita
miliki sekarang ini tentunya masih lemah. Dan memang kurang pada tempatnya
apabila hanya dengan pengetahuan yang amat terbatas itu lantas kita
pergunakan untuk setuju "mengubah" pernyataan haram dari Sang Pencipta
untk babi tersebut. 

Kecanggihan teknologi manusia saat ini masih belum bisa disebut
setingkat dengan Teknologi milik Sang Pencipta. Manusia sekarang
baru sampai teknologi nano katanya untuk mengusahakan molekul jadi
terkontrol......tetapi sesungguhnya teknologi Sang Pencipta jauh lebih
cangih dari itu, karenanya jawaban yg sesungguhnya kenapa itu haram
amatlah sulit kita cari. Bagi kita yang muslim, hanya cukup dengan
keimanan saja dengan alasan IPTEK yg kita miliki masih amat jauh sepadan
dengan IPTEK yang dimiliki Sang Pencipta. 

Salah satu hasil dari kecanggihan teknologi  Sang Pencipta selain
mahluk hidup adalah jagad raya, dan manusia sampai hari ini masih belum
bisa membuat jagad raya, menggantung-gantungkan bintang dilangit ataupun
bulan-bulannya.

Karenanya polemik tentang kenapa babi haram tak bisa selesai begitu saja
sejauh IPTEK manusia masih belum setingkat dengan IPTEK Sang Pencipta.
Dan sebaiknya produsen daging babi menghormati kaum muslim yg tidak makan
babi.

Wassalam
-marno-


Reply via email to