Yth. Peserta Diskusi ZOA-BIOTEK,

Berikut kami sampaikan diskusi yang berlangsung di "ruang diskusi" 
website Sinergy (http://sinergy-forum.net/zoa/ruangdiskusi.html) 
di bagian makalah Bapak Menteri. Dialog ini berisi informasi tentang 
program-program penelitian KMNRT, seperti RUT, RUK, RUS. Dialog berlangsung 
antara Bapak Fakhili Gulo dengan Dr. Didiek H. Goenadi (a.n. Menristek 
RI).

Moderator

Dedy H.B. Wicaksono

-------------------------------------------------

Pertanyaan Bapak Fakhili Gulo:
=============================

8. "RE: Keynote Address dari Menristek ..." 
Posted by Fakhili Gulo  on Feb-05-01, 08:26 PM (GMT)  
Yth. Bapak Menristek,
Pada alinea terakhir makalah Bapak tertera bahwa berbagai program 
ristek yang disediakan oleh KMNRT seperti RUT, RUK, RUSNAS masih 
belum mampu mendorong percepatan ristek di Indonesia karena kekurangan 
dana. Pertanyaan saya, apakah memang hanya faktor dana yang menentukan 
keberhasilan berbagai program tersebut ? Apakah bukan programnya 
atau pelaksanaannya yang salah sehingga memberi kesan hanya menghambur-
hamburkan dana tanpa hasil ?

Ada sedikit usul saya: "Lembaga penelitian, misalnya LIPI bekerjasama 
dengan universitas untuk membuat suatu unit penelitian". Contohnya 
LIPI dengan Unsri dalam bidang pertanian (padi). Labnya disediakan 
universitas dalam universitas itu sendiri dan LIPI menyediakan peralatan.
Dosen dan Peneliti dari LIPI bekerjasama melakukan riset di lab 
tersebut. Orang LIPI memasarkan hasilnya ke industri dan mencari 
mitra dari luar sedangkan dosen mengajarkan hasilnya pada para mahasiwa.
Dengan demikian, berbagai tujuan akan dapat terwujudkan, baik kemitraan,
keunggulan, strategis, link and match dan penelitiannya dapat berkelanjutan 
terus menerus.
Tapi perlu diingat, untuk membuat labnya tidak perlu harus membangun 
gedung mewah (buat proyek baru), tapi cukup menggunakan beberapa 
ruang dari gedung universitas saja.

Maaf, saya terlambat memberi komentar karena kesulitan saya mengaksesnya 
beberapa hari lalu. Semoga komentar saya ini tidak terlalu basi.

sekian dan terima kasih

Fakhili Gulo
http://www.geocities.com/fgulo 
 

Jawaban Dr. Didiek H. Goenadi (a.n. Menristek RI):
================================================

Sdr. Fakhili Gulo yth.,

Berikut ini saya sampaikan beberapa keterangan yang terkait dengan 
komentar anda.

1. Program unggulan kompetitif dari KMNRT dalam kenyataannya memang 
memperoleh alokasi budget yang jauh di bawah kebutuhan optimal dalam 
mendorong terjadinya spin-off yang signifikan. Sebagai contoh untuk 
mendanai sebagian dari RUT VI dan VII, dan RUT VIII pada TA 2001 
ini hanya memperoleh sekitar Rp. 23 M, padahal kebutuhannya sekitar 
Rp. 40-50 M. Untuk RUK VII, tahun ini hanya mampu didanai sekitar 
Rp. 7 M, padahal seharusnya dana untuk RUK lebih besar daripada yang 
untuk RUT. RUSNAS tahun ini hanya memperoleh Rp. 5 M, padahal seharusnya 
diperlukan dana sekitar Rp. 25 M. Dengan kondisi seperti ini, maka 
jumlah proposal yang dapat didanai terpaksa dibatasi, walaupun beberapa 
proposal lainnya secara substantif lolos dari evaluasi tim pakar.


2. Memang benar bahwa dana bukan satu-satunya faktor yang menjamin 
keberhasilan sebuah program penelitian. Kualitas SDM dan program 
penelitiannya sendiri akan secara bertautan mempengaruhinya. Upaya-
upaya dengan skema riset kompetitif ini sebenarnya diarahkan untuk 
mengurangi keterbatasan dari ketiga faktor tersebut, melalui kerjasama 
dan kemitraan industri.

3. Menyadari akan besarnya tuntutan masyarakat dan terbatasnya kemampuan 
pemerintah, maka KMNRT menetapkan paradigma baru dalam pembangunan 
ipteknas, yang antara lain adalah bahwa pembangunan ipteknas adalah 
merupakan tanggungjawab seluruh komponen bangsa, sedang pemerintah 
lebih bersifat sebagai fasilitator.

Terima kasih.

Salam,
A. n. Meneg Ristek RI
Didiek H. Goenadi







Reply via email to