Yth. Peserta Diskusi ZOA-BIOTEK-2001

Berikut ini saya postingkan paper bagian 2/terakhir rekan kita Suhendrayatna,
dengan judul:
Bioremoval Logam Berat Dengan Menggunakan Microorganisme: 
Suatu Kajian Kepustakaan.

Selamat berdiskusi

Moderator ZOA-Biotek Sesi Lingkungan
SinergY-PPI-Tokodai

Son Kuswadi

===================================================
Bioremoval Logam Berat Dengan Menggunakan Microorganisme: 
Suatu Kajian Kepustakaan
(Heavy Metal Bioremoval by Microorganisms: A Literature Study)
Suhendrayatna
Institute for Science and Technology Studies
(ISTECS)-Chapter Japan
Department of Applied Chemistry and Chemical Engineering
Faculty of Engineering, Kagoshima University

(Bagian 2/terakhir)

-------------------------------------------------------------


3. Mekanisme proses bioremoval

Secara alami di mana kondisi tanpa kendali, proses bioremoval ion 
logam berat umumnya terdiri dari dua mekanisme yang melibatkan proses 
active uptake dan passive uptake. Pada saat ion logam berat tersebar 
pada permukaan sel, ion akan mengikat pada bagian permukaan sel berdasarkan 
kemampuan daya affinitas kimia yang dimilikinya.

Passive uptake. Passive uptake dikenal dengan istilah proses biosorpsi.
Proses ini terjadi ketika ion logam berat mengikat dinding sel dengan 
dua cara yang berbeda, pertama pertukaran ion di mana ion monovalent 
dan divalent seperti Na, Mg, dan Ca pada dinding sel digantikan oleh 
ion-ion logam berat; dan kedua adalah formasi kompleks antara ion-
ion logam berat dengan functional groups seperti carbonyl, amino,
thiol, hydroxy, phosphate, dan hydroxy-carboxyl yang berada pada 
dinding sel. Proses biosorpsi ini bersifat bolak baik dan cepat. 
Proses bolak balik ikatan ion logam berat di permukaan sel ini dapat 
terjadi pada sel mati dan sel hidup dari suatu biomass. Proses biosorpsi 
dapat lebih efektif dengan kehadiran tertentu pH dan kehadiran ion-
ion lainnya di media di mana logam berat dapat terendapkan sebagai 
garam yang tidak terlarut. [17] Misalkan, pH optimum biosorpsi ion 
lead(II), nickel(II) dan copper(II) oleh Zoogloea ramigera adalah 
berkisar antara 4.0-4.5 sedangkan untuk besi(II) adalah 2.0. [18] 
Hasil studi terhadap biosorpsi timbal oleh alga laut Eckloniaradiata 
menunjukkan bahwa laju penyerapan (biosorpsi) naik sejalan dengan 
naiknya pH hingga 5.0. [19] Fungus juga dapat digunakan untuk menyerap 
nickel, copper dan berbagai jenis elemen lantanida seperti throrium,
uranium dan plutonium. Kebanyakan study menggunakan pendekatan dengan 
pH 2. [1] Tetapi di bagian lain, metode ini menjadi tidak efektif 
bila terdapat penghambat-penghambat proses metabolisme (metabolic 
inhibitor) atau siklus gelap terang. [6] Secara umum, biosorpsi ion 
logam berat berlangsung cepat, bolak balik dan tidak tergantung terhadap 
faktor kinetik bioremoval bila dikaitkan dengan penyebaran sel (dispersed 
cell). 

Aktif uptake. Aktif uptake dapat terjadi pada berbagai tipe sel hidup.
Mekanisme ini secara simultan terjadi sejalan dengan konsumsi ion 
logam untuk pertumbuhan mikroorganisme atau/dan akumulasi intraselular 
ion logam tersebut. Logam berat dapat juga diendapkan pada proses 
metabolisme dan ekresi pada tingkat ke dua. Proses ini tergantung 
dari energy yang terkandung dan sensitifitasnya terhadap parameter-
parameter yang berbeda seperti pH, suhu, kekuatan ikatan ionik, cahaya 
dll. Disamping itu proses ini dapat dihambat oleh suhu yang rendah,
tidak tersedianya sumber energi dan penghambat-penghambat metabolisme 
sel. Di sisi lain, biosorpsi logam berat dengan sel hidup ini terbatas 
dikarenakan oleh akumulasi ion yang menyebabkan racun terhadap mikroorganisme.
Hal ini biasanya dapat menghalangi pertumbuhan mikroorganisme disaat 
keracunan terhadap ion logam tercapai. Mikroorganisme yang tahan 
terhadap efek racun ion logam akan dihasilkan berdasarkan prosedur 
seleksi yang ketat terhadap pemilihan jenis mikroorganisme yang tahan 
terhadap kehadiran ion logam berat.

Kedua mekanisme di atas dapat berjalan serentak pada. Beberapa hasil 
penelitian menunjukkan ikatan cadmium pada dinding sel Ankistrodesmus 
dan Chlorella vulgaris mencapai kira-kira 80% dari total akumulasinya 
di sel, [4] sedangkan arsenik yang berikatan dengan dinding sel Chlorella 
vulgaris rata-rata 26%. [20] Nakajima bersama groupnya [21] melaporkan 
selektif uptake ion logam hampir sama antara sel hidup dan sel mati 
dari Chlorella regularis, di mana jumlah total logam berat yang diabsorpsikan 
oleh sel mati kira-kira dua kali lebih besar dibandingkan dengan 
yang diabsorpsikan oleh sel hidupnya. Tingkat absorpsi Chlorella 
regularis terhadap ion logam berat dirutkan sebagai berikut ini.

UO22+ ≫Cu2+ ≫Zn2+ ≧Ba2+ » Mn2+ ≧ Co2+ » Cd2+≧
Ni2+ ≧Sr2+ (living cells)

UO22+ ≫Cu2+ ≫Mn2+ ≧Ba2+ > Zn2+ ≧ Co2+ ≧
Cd2+ ≧Ni2+ ≧Sr2+ (heat-killed cells)

Table 2 Studi komperatif rekoveri logam berat dengan menggunakan 
miroorganisme
----------------------------------------------------------------------

Mikroorganisms        Metode  Logam Berat Initial Conc. % Removal  Ref.
                                           (ppm) 
Rhizomucor            passive   Cu(II)      100           96       28
 miehi (F)            uptake

Mucur                 passive   Cu(II)      100           86       28
  mucedo(F)           uptake
 
Rhizopus              passive   Cu(II)      100           82       28
stolonifer (F)        uptake
 
Aspergillus           passive   Cu(II)      100           58       28
oryzae (F)            uptake
 
Penecillium           passive   Cu(II)      100           18       28
chrysogenum (F)       uptake
 
Ecklonia              passive   Cu(II)      0.29          95       19
radiata (A)           uptake
  
Phellinus             passive   Cu(II)      0.29          43       19
badius (F)            uptake
  
Pinus                 passive   Cu(II)      0.29          24       19
radiata (F)           uptake
  
Saccharomyces         active    Cu(II)      0.29          17       19
cerevisie (Y)         uptake
  
Chlorella             passive   Pb(II)      100.2         83       22
vulgaris (A)          uptake
 
Ecklonia              passive   Pb(II)      0.82          100      19
radiata (A)           uptake
  
Phellinus             passive   Pb(II)      0.82          50       19
badius (F)            uptake 
  
Pinus                 passive   Pb(II)      0.82          21       19
radiata (F)           uptake
  
Saccharomyces         active    Pb(II)      0.82          34       19
cerevisie (Y)         uptake
 
Chlorella             active    As(V)       9             17       23
vulgaris (A)          uptake
 
Chlorella             active    As(III)     4             26       20
vulgaris (A)          uptake
  
Citrobacter           active    Cd(II)                    40       24
sp. (B)               uptake
  
Ecklonia              passive   Cd(II)      0.48          90       19
radiata (A)           uptake
  
Phellinus             passive   Cd(II)      0.48          33       19
badius (F)            uptake
 
Pinus                 passive   Cd(II)      0.48          29       19
radiata (F)           uptake
  
Saccharomyces         active    Cd(II)      0.48          10       19 
cerevisie (Y)         uptake
 
(A) alga, (B) bacterium, (F) Fungus, (Y) yeast.

Protein dan polysaccharida memegang peranan yang sangat penting dalam 
proses biosorpsi ion logam berat di mana terjadinya ikatan kovalent 
termasuk juga dengan gugus amino dan group carbonil. [4] Pengambilan 
ion logam berat oleh Chlorella regularis secara selektif dikarenakan 
oleh adanya ikatan yang kuat antara pasangan ion logam berat dan 
komponen sel, khususnya protein. [21] Pada saat alga dikulturisasikan 
pada medium yang mengandung cadmium, cysteine-rich protein disinthesiskan 
oleh sel Chlorella vulgaris, tetapi ketika algae dikulturisasikan 
pada medium yang mengandung arsenik, methallothionen-like protein 
tidak tersinthesiskan. [23] Hasil studi komperative biosorpsi ion 
logam berat oleh berbagai jenis mikroorganisme di rangkumkan pada 
Tabel 2.

4. Konsep dasar Proses Bioremoval

Untuk mendesain suatu proses pengolahan limbah yang melibatkan mikroorganisme 
dalam mengatasi permasalah ion logam berat, secara proses bioremoval 
metode sangat simpel. Mikroorganisme pilihan (Table 2) dimasukkan,
ditumbuhkan dan selanjutkan dikontakkan dengan air yang tercemar 
ion-ion logam berat. Proses pengontakkan dilakukan dalam jangka waktu 
tertentu yang ditujukan agar biomassa berinteraksi dengan ion-ion 
logam berat dan selanjutnya biomass ini dipisahkan dari cairan. Kemudian 
biomass yang terikat dengan ion logam berat diregenerasi untuk digunakan 
kembali atau kemudian dibuang ke lingkungan. Widle dkk [5] mengusulkan 
beberapa variabel yang perlu diperhatikan dalam mendesain dan mengoperasikan 
proses bioremoval dalam melibatkan mikroorganisme, seperti dijelaskan 
berikut ini:

seleksi dan pemilihan biomassa yang sesuai serta treatment awalnya, 
waktu tinggal dan waktu kontak proses, 
proses pemisahan dan rekoveri biomassa, 
pembuangan biomassa yang telah digunakan, dan 
pertimbangan ekonomis proses. 
Seleksi dan pemilihan biomassa yang sesuai serta proses treatment 
awal merupakan unsur yang penting dalam mendisain suatu proses bioremoval.
Proses ini juga meliputi pemilihan strain yang sesuai, metode kulturisasi 
dan kondisi fisik biomassa. Walaupun ada beratus jenis species mikroorganisme 
yang telah diidentifikasi sejak 200 tahun belakangan ini, namun sangat 
sedikit diantaranya teridentifikasi sebagai mikroorganisme yang mempunyai 
daya tahan yang tinggi terhadap pengaruh tingkat keracunan suatu 
ion logam berat. Pada beberapa kasus, sangat terbatas studi yang 
melakukan studi banding terhadap beberapa jenis mikroorganisme, di 
mana hasilnya selalu memiliki banyak perbedaan dalam efisiensi ikatan 
antara logam berat dengan spesies mikroorganisme. Bahkan perbedaan 
ini dapat terjadi pada strain dari species tunggal dengan kondisi 
physiochemical yang sama. Beberapa penelitian mengenai ikatan ion 
logam berat dengan mikroorganisme secara umum telah banyak dilakukan 
khususnya dengan mikroalga, seperti Chlorella vulgaris dan phormidium 
sp. Jenis ini relatif lebih mudah tumbuh dalam suatu kultur media 
dan mudah ditemukan atau diperoleh dari sejumlah laboratorium-laboratorium 
pengkoleksian kultur di berbagai negara. Hal yang paling penting 
dalam pemilihan biomassa ini adalah toleransi suatu mikroorganisme 
terhadap ion logam berat itu sendiri. Hasil penelitian menunjukkan 
ada beberapa jenis mikroalga seperti Dunaliella tertiolecta [4], 
Scenedemusacutus [4], Chlorella vulgaris [20,23], Nostoc sp. [23].
Phormidium sp., [23] Euglena gracilis [4] memiliki toleransi yang 
tinggi terhadap pengambilan ion logam berat bahkan laju pertumbuhan 
mikroalgae tersebut akan menurun tanpa hadirnya ion logam berat pada 
media kulturisasinya.

Table 3 Studi banding biosorpsi dan adsorpsi ion logam berat antara 
immobilized non-living cells dengan immobilized living cellsa

Adsorpsi menggunakan immobilized non-living biomass Biosorpsi menggunakan 
immobilized living cells 
Keuntungan Keuntungan 
Tidak tergantung pada pertumbuhan sel, non-living biomassa tidak 
berpengaruh pada terbatasnya sifat toksistiti dari ion logam berat 
serta tidak memerlukan nutrisi. 
Proses tidak diatur oleh sifat fisik saja 
Pemilihan teknik immobilisasi tidak tergantung oleh terbatasnya tingkat 
toksisitas dan thermal inactivation. 
Sangat cepat dan efisien; biomassa memiliki behavior setara dengan 
penukar ion. 
Logam dapat segera dipisahkan dari biomassa dan direkoveri kembali. 
Sistem mudah dirancang dengan perhitungan matematis. 
 Walaupun setiap sel dapat jenuh, namun sel memiliki kemampuan meregenerasikannya 
sendiri berdasarkan kemampuan pertumbuhannya. 
Logam disimpan dalam kondisi kimia labil dan memiliki sensitivitas 
kecil pada spontaneous desorption. 
Aktivitas metabolisme dinilai ekonomis dalam upaya mencapai perubahan 
valensi atau degradasi organometallic compounds melalui tahapan multi-
enzyme. 
Sangat berpotensial bagi isolasi mutan atau manipulasi genetik untuk 
pengembangan strain baru. 
Dua atau lebih mikroorganisme dapat digunakan bersamaan. 
 
Kerugian Kerugian 
Sangat cepat jenuh. 
Proses adsorpsi sensitive terhadap pH dan spesifikasi logam. 
Tidak berpotensial mendegradasi sampai ke bentuk organometallic species.

Tidak berpotensial untuk pengembangan proses biologis sepanjang sel 
tidak dapat bermetabolisme. 
 Tergantung dengan tingkat toksisitas logam terhadap sel, bahkan 
ada sel yang tidak tahan pada konsentrasi logam yang rendah sekalipun.

Proses juga tergantung oleh sifat fisik. 
Membutuhkan nutrien bagi pertumbuhan sel. 
Sel dapat berupa ikatan komplek logam bila dikembalikan dalam bentuk 
cairan. 
Logam tidak dapat segera dipisahkan dari biomassa karena ikatan intraselularnya.

Sistem sulit dirancang secara matematis 
 

a Modifikasi dari ref. [24, 25]

Waktu tinggal dan waktu kontak juga merupakan variable yang sangat 
berpengaruh terhadap desain proses bioremoval, termasuk ke dalamnya 
immobilisasi sel, pH dan konsentrasi biomasa. Penggunaan sel hidup 
menawarkan sejumlah kelebihan, sementara itu secara praktis biomassa 
dikemas dalam bentuk powder atau dikulturisasikan pada operasi terpisah 
sebelum digunakan. Dengan kondisi ini pemilihan penggunaan metode 
immobilisasi dinilai lebih menguntungkan. Augusto da Cocta dkk [25] 
melaporkan Chlorella homospaera yang diimobilisasikan pada alginate 
menghasilkan sistem yang baik untuk mereduksi kadmium, seng dan emas 
dari suatu perairan yang tercemar. Dengan inisial konsentrasi logam 
beratnya berkisar 20-27 ppm, Cd dan Zn dapat direduksi sebesar 99% 
dalam jangka waktu 60 menit dan 90% tereduksi setelah 30 menit. Wilkinson 
dkk [26] melaporkan sel immobilisasi dari Chlorella emersonii dapat 
mengakumulasikan merkuri lebih tinggi dibandingkan dengan sel tanpa 
immobilisasi. Untuk menambah pembedaharaan pengetahuan kita tentang 
bioremoval ion logam berat ini, keuntungan dan kerugian proses immobilisasi 
mikrooragnisme masing-masing dirangkumkan pada Tabel 3.

Proses pemisahan dan pengrekoverian merupakan proses pemisahan biomassa 
dari air terpolusi setelah pengolahan serta berkenaan dengan proses 
eluting bound logam berat dari suatu biomassa. Proses sentrifugasi 
dan filtrasi yang saat ini rutin dilakukan di laboratorium dinilai 
tidak praktis bila diterapkan pada proses industri, sehingga penerapan 
immobilisasi mikroorganisme yang dipaking pada suatu kolom dipandang 
sangat praktis untuk digunakan. Suatu metode alternatif juga dapat 
digunakan di mana mikroorganisme melakukan immobilisasi sendiri sebagai 
biofilm pada suatu media yang mempunyai porositas yang besar seperti 
pasir, batuan, sponges dan lain-lain. Sistem immobilisasi sangat 
cocok untuk non-destructive recovery, dimana setelah logam berat 
dimasukkan, logam tersebut dapat berkontak dengan sejumlah material 
padatan dan selanjutnya mudah tertarik ke luar bersama sebagian kecil 
cairan untuk proses rekoveri dan pembuangan. Idealnya, proses bioremoval 
yang melibatkan immobilisasi sel akan mudah direkoveri dan digunakan 
kembali untuk pengikatan ion logam oleh biomass. Proses ini biasanya 
akan tercapai tergantung dengan jumlah eluting metal chelator, tinggi 
atau rendahnya pH larutan, atau larutan garam untuk mereduksi ikatan 
ion logam.

Pembuangan limbah merupakan aspek yang terpenting dari suatu proses 
bioremoval, walaupun issue ini sebenarnya diabaikan oleh beberepa 
literature yang menekankan bahwa proses biologis dapat menengahi 
proses removal ion logam berat dari suatu limbah. Disamping itu terjadi 
banyak masalah yang menyangkut dengan lahan dan lautan dalam pembuangan 
lumpur yang mengandung ion logam berat sehingga metode yang ramah 
lingkungan sangat diperlukan untuk dikembangkan. Penggunaan biomassa 
memiliki beberapa pandangan attractive berkenaan dengan rekoveri 
dan buangan ikatan logam, termasuk di dalamnya; pertama, pada banyak 
kasus, logam yang berikatan dapat di elute dan biomassa dapat digunakan 
kembali untuk beberapa siklus proses; dan kedua, biomassa yang berikatan 
dengan logam berat dapat di reduksi dengan menggunakan sistem pengeringan.


Tentu saja, pada akhirnya pertimbangan ekonomis sangat penting untuk 
diperhatikan dalam mengevaluasi seluruh proses. Produksi biomassa 
suatu mikroorganisme, khususnya mikroalga diakui lebih mahal biayanya.
Dua jenis alga Chlorella vulgaris dan Spirulina yang biasa diproduksi 
secara komersial di Meksiko, Israel, Thailand dan U.S tersedia dengan 
biaya produksi $ 10-20 per kg. [4] Namun demikian, produksi dalam 
jumlah besar dapat menekan biaya produksi. Ketika rekoveri logam 
berat dilakukan dengan pertimbangan ekonomis, maka perlu juga dipertimbangkan 
pendekatan secara teknis yang menyangkut mekanisme akumulasi logam 
berat dengan menggunakan mikroorganisme. Sangat memungkinkan menggunakan 
metode non-destractive yang membutuhkan regenerasi biomass untuk 
penggunaan berikutnya.

5. Kesimpulan

Tulisan ini memberikan pandangan dan kajian luas menyangkut perkembangan 
yang cepat di bidang bioremoval yang melibatkan mikroorganisme. Bioremoval 
merupakan pendekatan yang potensial dan secara ekonomis layak digunakan 
untuk teknologi removing dan rekoveri ion logam berat dari suatu 
cairan tercemar. Pemilihan yang terbaik dari beberapa variable dan 
parameter sebagai fundamental dasar desain dan operasi sangat dibutuhkan 
untuk mendapatkan aplikasi terbaik bagi proses bioremoval dalam merekoveri 
logam berat di lingkungan. Penggunaan proses imobilisasi mikroorganisme 
sangat mampu dan menjanjikan beberapa kelebihan-kelebihan. Teknologi 
yang melibatkan mikroorganisme dalam mengatasi permasalahan lingkungan 
masih dalam pengembangan dan masih banyak pekerjaan yang dibutuhkan 
ke arah itu. Hanya penelitian-penelitian dan kajian-kajian yang berkesinambungan 
dapat menentukan proses terbaik untuk menjawab permasalahan ion logam 
berat di lingkungan.

Daftar Kepustakaan

[1] M. Wainwright, An Introduction to Fungal Biotechnology, John 
Willey and Sony and Sons (1992), pp. 81-101

[2] F. Elgersma, J. N. Schinkel and M. P. C. Weijnen, Improving Environmental 
Performance of a Primary Lead and Zinc Smelelter, In: Heavy Metals,
R. Allan U. Forstner and W. Salmons (eds.), Springer (1995), pp.
193-207

[3] V. Novotny, Diffise Sources of Pollution by Toxic Metals and 
Impact on Receiving Waters, In: Heavy Metals, R. Allan U. Forstner 
and W. Salmons (eds.), Springer (1995), pp. 34-64

[4] C. Vilchez, I. Garbayo, M. V. Lobato, and J. M. Vega, Enzy. and 
Microb.Technol. 20, 562-572 (1997)

[5] E. W. Widle and J. R. Benemann, Biotech. Adv. 11, 781-812 (1993)

[6] Nora F. Y. Tam, Yuk-Shan Wong and Craig G. Simpson, Removal of 
Copper by Free and Immobilized Microalgae, Chlorella vulgaris, In:
Water Treatment with Algae, Yuk-Shan and Nora F. Y. Tam (eds.), 
Springer-Verlag and Landes Bioscience (1998), p. 17

[7] R. O. Jenkins, P. J. Craig, D. P. Miller, L. C. A. M. Stoop, 
N. Ostah and T. A. Morris, Appl. Organometal. Chem. 12, 449-445 (1998)

[8] S. Maeda, Safety and environmental effects. In: The chemistry 
of organic arsenic, antimony and bismuth compounds, S. Patai (ed),
John Wiley and Sons, New York, 1994, pp. 725-758; and references 
therein.

[9] G. Prasad, Removal of arsenic (V) from aqueous systems by adsorption 
onto some geological materials, In: In: Arsenic in The Environment 
Part I; Cycling and Characterization, J. O. Nriagu (ed), John Willey 
and Sons (1994) p. 134

[10] S. Maeda, Biotransformation of arsenic in the freshwater environment.
In: Arsenic in the Environment Part I: Cycling and Characterization,
J. O. Nriagu (ed), John Wiley and Sons, New York, 1994, pp. 155-
187

[11] R. W. Fairbridge and C. W. Finkl Jnr., The Encyclopedia of Soil 
Science Part 1, Dowden, Hutchinson and Ross Inc., p. 388

[12] V. SH. Barchan, E. F. Kovnatsky and M. S. Smetannikova. Water,
Air, and Soil Pollution, 103, 173-195 (1998)

[13] N. V. Ashley and D. J. W. Roach, J. Chem. Biotechnol. 49, 381-
394 (1990)

[14] S. Maeda and T. Sakaguchi, Accumulation and detoxification of 
toxic metal elements by algae. In: Introduction to Applied Phycology,
I. Akatsuka (ed), SPB Academic Publishing bv, 1990, pp. 109-136;
and references therein.

[15] E. Zoelverdi, Gatra, 49/II (1996)

[16] D.E. Malchow, A. W. Knight, K. J. Maier, Arch. Environ. Contam.
Toxicol. 29, 104-109 (1995)

[17] G. M. Gadd, Biotechnology Vol. 6 (H. J. Rehm, ed.), Verlagsgesellschaft,
Weinheim (1988), pp. 401-433

[18] Y. Sag and T. Kutsai, Chem. Eng. J. and Biochem. Eng. J. 60,
181 (1995) 

[19] Jose. T. Matheickal and Qiming Yu, Wat. Sci. and Tech. vol. 
34(9), 1-7(1996)

[20] Suhendrayatna, A. Ohki, T. Kuroiwa, S. Maeda, Appl. Organometal.
Chem. 13, 128 (1999)

[21] A. Nakajima, T. Horikoshi, and T. Sakaguchi, European J. Appl.
Microbio. Biotecnol. 12, 76-83 (1981)

[22] Z. Aksu and T. Kutsal, J. Chem. Tech. Biotecnol. 52, 109-118 (1991)

[23] S. Maeda and A. Ohki, Bioaccumulation and Biotransformation 
of Arsenic, Antimony, and Bismuth Compouds by Frehwater Algae, In:
Water Treatment with Algae, Yuk-Shan and Nora F. Y. Tam (eds.), 
Springer-Verlag and Landes Bioscience (1998), pp. 73-92

[24] L. E. Mascaskie, J. Chem. Tech. Biotechnol. 49, 357-379 (1990)

[25].P. K. Robinson, Immobilized Algal Technology for Wastewater 
Treatment Purposes, In: Water Treatment with Algae, Yuk-Shan and 
Nora F. Y. Tam (eds.), Springer-Verlag and Landes Bioscience (1998),
p. 1

[26] A. C. Augusto da Costa and S. G. F. Leite, Biotech. Lett. 13-
8, 559-562 (1991)

[27] S. C. Wilkinson, K. H. Goulding and P. K. Robinson, Biotech.
Lett. 11-12, 861-864 (1989)

[28] D.S. Wales and B. F. Sagar, J. Chem. Biotechnol. 49, 345-355 (1990)

[29] N. Yoshida, Y. Murooka and K. Ogawa, J. Ferment. Bioeng. 85-
6, 630-633 (1998)







Reply via email to