Ass. Wr. Wb.

Peserta diskusi Yth,

Izinkan saya memberikan penjelasan kepada pak Nurhanudin yang merasa 
bingung, mudah-mudahan ini bisa menghilangkan kebingungannya, bila masih 
bingung juga, silahkan bertanya lewat JAPRI.

Pak Nurhanudin menulis:.....
Saya mengalami kebingungan mengenai hal ini pak Tantono dan maafkan saya 
bila hal yang saya ketengahkan menyinggung semua peserta diskusi. Saya 
pernah diskusi dengan teman saya mengenai hal ini. Teman saya ini 
menyatakan bahwa hanyalah suatu kesia-sian bila menyatakan keharaman pangan 
terjadi bila tercampur oleh sesuatu hal dari babi. hal ini didasarkan pada 
babi merupakan salah satu mahluk hidup dalam siklus kehidupan sehingga 
untuk 'membersihkan' ya babi dilenyapkan saja dari siklus kehidupan. Lalu 
apa gunanya Tuhan ciptakan Babi? padahal sesuatu hal yang diciptakan oleh 
Tuhan pasti ada manfaatnya, walaupun sekecil tungau. Akhirnya saya berpikir 
bahwa babi diharamkan ya sudah nash-nya.........

Penjelasan AA:
Allah menciptakan babi tentu ada maksud dan manfaatnya.  Kalaupun babi 
diharamkan, itu dalam konteks diharamkan untuk dimakan, BUKAN diharamkan 
untuk hidup.  Salah satu manfaat babi dalam kehidupan yang bisa kita lihat 
misalnya untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Pak Nur menulis: ...
lalu mengenai pupuk dan ajinomoto, saya kok sulit untuk membedakannya 
proses tersebut. sekali lagi maafkan saya.

Penjelasan AA:
Jika kita hanya menggunakan logika dan analogi proses saja memang sulit 
membedakannya.  Akan tetapi, jika ditinjaunya dari masalah hukum Islam 
tentu tidak terlalu sulit.  Seperti yang sudah saya jelaskan, banyak 
pertimbangan untuk membedakannya, saya hanya akan menjelaskan satu saja 
(dan hanya membatasi pada proses fermentasi saja, bukan ajinomoto).  Untuk 
itu mari kita simak hadis dan ijma ulama berikut:

1. Nabi saw bersabda berkenaan dengan tikus yang jatuh dan mati (najis) 
dalam keju (samin): "Jika keju itu keras, buanglah tikus itu dan keju 
disekitarnya, dan makanlah (sisa) keju tersebut; namun jika keju itu cair, 
tumpahkanlah" (HR. Bukhari, Ahmad dan Nasa'i dari Maimunah isteri Nabi saw).
2. Ijma' ulama bahwa daging babi dan seluruh bagian (unsur) babi adalah 
najis 'ain (zati).

Pada fermentasi, walaupun dalam pembuatan media padat, sebetulnya semua 
media, mikroba dan produk mikroba bercampur (walaupun media padat, tetapi 
sebelumnya cair), jadi kalau tercampur dengan unsur babi, maka harus 
dibuang seluruhnya.  Kalau sudah najis maka haram dimakan (semua yang najis 
haram dimakan).  Pada tanaman, tanaman merupakan padatan yang bisa 
dianalogikan dengan keju seperti hadis nabi diatas, sehingga jika terkena 
najis (pupuk), bagian yang kena najisnya bisa dibersihkan, sehingga 
tanamannya halal dimakan.

Wassalam Wr. Wb.

Anton Apriyantono



Reply via email to