At Tuesday, 13 February 2001, you wrote:

>Salam,
>
>Sekedar ingin urun rembug.
>
>--- ISBU IM <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> Yth.Bpk. Agus Supriyanto
>> >Pengomposan tampaknya bersifat sentralistik,
>> membutuhkan lahan cukup besar, dan dalam skala
>> besar.
>> Bila harus dikumpulkan lebih dahulu untuk di
>> Indonesia
>> akan merupakan perjuangan tersendiri karena harus
>> meminta dari masing-masing keluarga di rumah, tukang
>> sampah, sampai ke pembuangan akhir untuk konsisten
>> membagi sampah menurut jenisnya sehingga tidak
>> tercampur materi yang tidak diinginkan atau yang
>> berbahaya. 
>> >Tidak bisakah dibuat tempat/alat yang kompak bentuk
>> dan ukurannya untuk pengomposan sehingga dapat
>> dimiliki oleh masing-masing rumah tangga dengan
>> begitu
>> masalah sudah diatasi dari sumbernya sehingga akan
>> dapat banyak dilakukan penghematan. Apalagi lahan
>> terbuka saat ini sudah sulit didapat dilingkungan
>> perumahan. Saya kira investasi untuk alat tersebut
>> akan dapat ditutupi oleh pengeluaran yang harus
>> dilakukan bila pengomposan dilakukan secara terpusat
>> dari daerah ( barangkali ?)paling tidak kita tidak
>> lagi melihat onggokan sampah dipojokan, truk-truk
>> sampah dan ceceran atau bau sampah diperjalanan.
>> 
>
>Mungkin salah satu sebab harus dipusatkan adalah untuk
>memudahkan pembusukan sampah tsb (??). Saya kira bisa
>saja pengomposan dilakukan di alat yang kompak,
>misalnya di tong khusus. TApi, mungkin dengan proses
>yang harus dipercepat. Misal, selain menambahkan
>active sludge,juga menambahkan lain-lain organisme yg
>dpt mempercepat proses.
>
>Mohon maaf, sekedar ingin urun rembug.
>
>Dedy
>
>__________________________________________________
>Do You Yahoo!?
>Get personalized email addresses from Yahoo! Mail - only $35 
>a year!  http://personal.mail.yahoo.com/
>
Terima ksih atas tanggapannya,
Pertama, untuk pengomposan di rumah (dengan lahan yg sempit) kelihatannya 
untuk kondisi di Indonesia saat ini sulit dilaksanakan.
Di USA memang ada alat yg kecil & kompak tapi harganya cukup aduhai 
untuk ukuran kita disini.
Untuk lingkungan yg agak sedikit lebih banyak dan agak homogen, misal 
perumahan, dengan skala prioritas untuk penanganan sampah kebun dan 
taman saja dulu, dapat dikelola dengan dukungan developer sebagai 
penyedia fas-umnya yang selanjutnya akan diteruskan oleh warga(spt 
halnya masalah satpam, kebersihan umum dan perawatan jalan lingkungan;
sampah lain ya berlaku spt saat ini dulu.
Untuk kondisi di lingkungan petani/perajin ini hanyalah suatu ide/ 
masukan bagi mereka dimana saat ini umumnya mereka membakar limbah/sampah 
sisa tanaman dan hanya memanfaatkan unsur anorganiknya saja yg tertinggal 
di abu, sedangkan senyawa organiknya tidak distabilisasi terlebih 
dahulu karena proses penguraian alami (pembusukan/pengomposan)berlangsung 
lama, membutuhkan lahan yg tidak sedikit dan mengganggu kegiatan 
tanam-menaman, akibat dari belum adanya intervensi biotek dalam proses 
tsb.
Untuk itu diharapkan dengan percobaan penggunaan activated sludge 
dapat mempercepat siklus & cara proses yg terbaik. Disamping itu 
kelihatannya pada penggunaan/pencampuran dengan kompos dari proses 
yg sebelumnya (recycled compost) juga terlihat adanya percepatan 
siklus, mungkin kondisi mikroba yang telah teradaptasi.
Dengan demikian diharapkan dari ide awal saya adalah bantuan dari 
rekan-rekan peneliti untuk dapat urun ide lain spt comment pak Deddy,
tambahan mikroba lain atau adanya sentuhan sedikit yg berbau biotek 
untuk mempercepat proses tanpa membahayakan lingkungan secara umum.

Yang jelas kalau memikirkan susahnya dulu ya memang susah karena 
kondisi kita di Indonesia ya begini ini,tetapi apa kita mau begini 
terus tanpa ada perbaikan?, Untuk itu, Ayo rekan-rekan yg sudah "membaui" 
Jepang/ Tokyo sekian lama, tentunya ada bbrp hal baik yg dapat ditularkan 
ke kita, misal dalam pengelolaan sampah (dengan tambahan kedisiplinnan 
diri pribadi, tentunya). Juga untuk rekan-rekan lain yang telah mondok 
cukup lama di negara maju untuk menimba ilmu, sambil tentunya sedikit 
menghayati pola kehidupan modern yang baik yang dapat ditularkan 
ke masyarakat kita.
Setelah anda nanti/ telah kembali ke Indonesia jadilah "garam" diantara 
kita, meski sedikit jumlahnya tetapi banyak manfaatnya bagi kita 
semua.

Terima kasih & salam,

Agus Supriyanto
Novartis







Reply via email to