http://salihara.org/main.php?type=detail&module=news&menu=child&parent_id=5&id=34&item_id=811

Berhadapan dengan Ubiet—begitu pemusik ”avant-garde” Nyak Ina Raseuki ini biasa 
dipanggil—bisa membuat musik terdedah dari berbagai jurusan. Ubiet baru saja 
pulang kembali ke Tanah Air setelah menyelesaikan pendidikan S-3, meraih gelar 
PhD dalam etnomusikologi dari University of Wisconsin-Madison, AS dengan 
disertasi ”Being Islamic in Music: Two Contemporary Genres from Sumatera”.

Hari Rabu (2/9) petang lalu, ada acara di Komunitas Salihara, Pejaten, Jakarta, 
menampilkan Ubiet. Beberapa orang yang datang ada yang mengira Ubiet akan 
menyanyi. Maklum, untuk kalangan tertentu, Ubiet dikenal sebagai penyanyi 
dengan pendekatan musik dan pengungkapan vokal yang unik.

Dalam dunia industri rekaman, dia telah menghasilkan tiga album, yakni 
Archipelagongs (2000), Music for Solo Performer: Ubiet Sings Tony Prabowo 
(2006); dan Ubiet Kroncong Tenggara (2007). Dia tampil di beberapa panggung 
musik seperti ketika Kompas menyelenggarakan ”Megalitikum-Kuantum” tahun 2005. 
Ia juga pernah mengisi soundtracks film, selain menjadi penyanyi di berbagai 
kafe.

Ternyata, di Salihara petang itu Ubiet tidak menyanyi. Dia menjadi pembicara 
pada seri diskusi Ramadhan. Ia menyampaikan makalah ”Dua Musik Islami dari 
Sumatera”—suatu pemikiran yang disarikan dari disertasi doktornya, Being 
Islamic in Music.

Tentang apa disertasi Anda?

Disertasi saya tentang kesenian, terutama musik. Saya memilih hanya dua 
kelompok musik, yaitu Kande di Aceh, laki-laki, penyanyi Rafly yang populer, 
musik pop; yang satu lagi saya pilih Kerinci di Provinsi Jambi, kelompok musik 
sike rebana, perempuan, tradisi.

Ceritanya, ketika saya menyelesaikan kelas-kelas pada tahun 2000, saya pulang 
ke sini mau ke Aceh untuk meneruskan (penelitian) sung poetry. Kompleksitas 
hubungan antara Islam dan sung poetry inilah yang hendak saya perdalami sebagai 
kelanjutan tesis master saya tentang seudati, salah satu bentuk sung poetry di 
Aceh.

Tetapi, Aceh sedang tidak aman, puncak-puncaknya konflik bersenjata, yang 
membuat saya tidak bisa datang ke sana. Saya memindahkan penelitian saya ke 
Kerinci. Dalam kurun 2001-2003, saya bolak-balik ke Kerinci, akhirnya saya 
memutuskan untuk melihat sike rebana yang sebelumnya saya lihat dalam Festival 
Istiqlal tahun 1995.

Setelah tsunami tahun 2004, Aceh mulai terbuka. Mulai tahun 2005 sampai 2006 
saya datang lagi ke Aceh mengamati Kande. Kebetulan Kande ini suatu genre 
populer dan laki-laki. (Dengan dua contoh itu), yang satu populer dan 
laki-laki, satu lagi tradisi dan perempuan, mungkin saya bisa membuka 
kompleksitas hubungan antara Islam dan musik.

Hipotesisnya?

Saya ketemui di dua kelompok ini ada semacam fleksibilitas atau plastisitas 
dalam mereka berkesenian, bermusik. Jadi, kesenian itu tidak patuh begitu saja 
pada formalitas agama.

Sementara musik Islami yang kita kenal kebanyakan adalah musik yang 
menyampaikan pesan melalui lirik yang sifatnya didaktif, berkhotbah. Sedangkan 
mereka (maksudnya dalam Kande dan sike rebana tadi) tidak karena sumber-sumber 
mereka bukan hanya Islam, tetapi sinkretisme. Ada Islam, sufisme, 
bermacam-macam.

Dalam satu bagian disertasi saya membandingkan dengan musik pop Islami yang ada 
di Jakarta, yang nasional. Musik pop Islami yang nasional sifatnya lebih 
didaktis, menyampaikan pesan-pesan moral, di sana tidak begitu. Sifatnya lebih 
terselubung, lirik maupun unsur-unsur musiknya.

Sementara yang saya lihat pada musik nasional, Islami itu hanya kulit, klipnya 
misalnya orang berwudu. Jadi, unsur-unsur di luar musik yang dianggap Islami.

Apa yang Anda maksud dengan unsur musik?

Terutama nada dan juga lirik.

Bagaimana nada yang Islami?

Ini kompleks. Sike itu berasal dari kata zikir yang artinya puji-pujian kepada 
Allah. Tetapi, sike rebana bergeser, dia berzikir, tetapi menggunakan Kitab 
Barzanji yang isinya puji-pujian kepada Muhammad. Isinya sudah bergeser.

Liriknya menggunakan, misalnya, satu lagu memakai satu dua kalimat Kitab 
Barzanji, tetapi sudah diliukkan, diputarbalikkan, sehingga menjadi suku kata 
tidak bermakna.

Lagunya sendiri?

Nah, ini juga menarik. Kalau bacaan Quran menggunakan modus skala nada 
Arab—maqam. Dalam sike itu tidak digunakan. Dia menggunakan lima nada dan dekat 
dengan skala nada diatonis.

Justru pertanyaannya, bagaimana kita bisa mengidentifikasi ini musik Islami dan 
yang itu bukan. Sebetulnya, pelabelan musik Islam baru datang sejalan dengan 
Islamisasi di berbagai bidang, termasuk politik dan ekonomi. Saya rasa itu ada 
hubungannya. Jadi, semua orang ingin berislam-islam. Saya agak keras mengenai 
ini dalam ceramah di Salihara. Mungkin ada yang tidak suka.

Orang Aceh dan orang Kerinci sepuluh tahun lalu tidak pernah mengatakan, musik 
mereka Islami. Dengan sendirinya, musiknya sudah Islam karena musik mereka 
organik, yang tidak perlu diberi label Islam. Tetapi, karena mengerasnya 
formalitas agama melalui partai-partai politik, perda-perda syariah, membuat 
akhirnya pemusik-pemusik dan khalayak pendengarnya membubuhkan label Islami.

Bagaimana dengan musik gambus yang sudah ada sejak tahun 1960-an?

Saya tidak terlalu menyinggung gambus dalam disertasi saya, tetapi menurut saya 
musik Islam selama ini—yang telanjur disebut musik Islam—adalah segala sesuatu 
yang datang dari Timur Tengah. Apa-apa yang datang dari Timur Tengah dianggap 
Islami. Ada kelompok kasidah yang menyanyikan sebuah lagu dengan musik 
gambusnya. Ternyata, menurut teman saya yang berbahasa Arab, liriknya sangat 
erotis.

Jadi, karena selalu dikaitkan dengan Timur Tengah, kalau ada alat musik 
gambusnya, disebut Islami. Padahal, gambus itu terminologi untuk alat musik.

Tidak serta-merta apa-apa yang dari Timur Tengah adalah Islami. Bisa saja musik 
yang ada di Lombok atau di mana pun yang dimainkan masyarakat Muslim dan 
dimainkan dalam konteks Islam, misalnya untuk perayaan hari-hari besar Islam, 
kita bisa mengidentifikasikannya juga sebagai musik Islam meskipun dia 
menggunakan skala nada pelog dan slendro.

Saya contohkan, zaman dulu di desa-desa di Jawa, azan dan mengaji Quran 
menggunakan skala nada slendro pelog. Sekarang baru menggunakan maqam, skala 
nada Asia Barat. Azan itu pelog, saya mengutipnya dari Endo Suwanda, sampai 
tahun 1970-an. Dekat seperti kita mendengarkan orang nembang. Sayang kan 
jadinya.... Saya menganggap kesenian Islam tidak selalu berasal dari Arab. 
Kekayaan musik Islam itu lebih banyak.

Contoh lain warna lokal Islam?

Setiap kultur di Indonesia punya warna Islam, artinya tidak bisa kita pakai 
satu ukuran saja untuk mengatakan musik ini Islami. Misalnya, beduk. Beduk 
datang dari China, tetapi dia dianggap sebagai Islami. Itu bagus, kan.... 
Bercampur dengan yang lokal, seperti yang saya lihat di Kerinci dan Aceh. Jadi, 
tidak seperti musik pop nasional yang Islami yang menurut saya oportunis, 
tiba-tiba ada di bulan Ramadhan dan isinya sangat didaktis, khotbah. Sementara 
di Kerinci dan Kande mereka tidak mencoba menyampaikan pesan itu secara 
telanjang.

Apa makna dari semua itu?

Salah satu tesis saya adalah luar biasa mereka bisa menjadi makhluk yang lain 
dalam keseniannya. Misalnya, di Aceh, di tengah mengerasnya syariah agama.

Itu semacam pelepasan pribadi seniman atau pelepasan pribadi masyarakat?

Di situlah saya melihat plastisitas senimannya. Mereka fleksibel. Selain itu, 
apa yang dihasilkan seniman sering kali lebih besar, lebih hebat, dari yang 
dimaksud si seniman. Hasil kreativitas yang dalam musik Islami jangan-jangan 
melawan formalisme agama. Dan itu memang hanya terjadi dalam kesenian di atas 
panggung. Begitu turun panggung mereka mengikuti formalisme agama.

Tidak bermasalah dengan masyarakat atau penguasa?

Bisa jadi. Di Aceh semakin tidak ada seniman perempuan di atas panggung. Yang 
diuntungkan seniman laki-laki.

Bagaimana kira-kira Anda melihat tren ke depan?

Dengan mengerasnya formalisme agama, saya khawatir mereka akan menuruti 
formalisme agama itu. Saat ini mereka tidak dilarang, tetapi yang saya lihat di 
situlah fleksibilitas itu. Walaupun mereka mendapat tekanan, tetapi mereka bisa 
menyiasatinya, dan sampai hari ini belum ada yang berkeberatan dengan musik 
mereka.

***

Beasiswa di Ujung Kuliah

Bangga Juga Mendapat dari Indonesia...

Sebenarnya, Ubiet ini mau jadi penyanyi atau akademisi? Wanita berdarah Aceh 
kelahiran Jakarta, 24 Mei 1965, itu tertawa. Yang jelas, Ubiet yang mewarnai 
kuku jari-jari kakinya dengan kuteks warna biru ini telah menapaki karier 
akademis sampai meraih gelar PhD di bidang etnomusikologi—gelar yang hanya 
disandang segelintir orang di negeri ini.

Hari-harinya kini diisi dengan kegiatan mengajar di Institut Kesenian Jakarta 
tempat dulu dia pernah kuliah, selain terlihat di berbagai komunitas kesenian, 
bersama suaminya, penyair yang juga dikenal sebagai pemikir kebudayaan, Nirwan 
Dewanto. Selama menempuh studinya di Wisconsin, Nirwan yang kini kerap disopiri 
kendaraannya oleh Ubiet sering sekali menemani.

”Nirwan bolak-balik menyusul ke sana, kayak jetset...,” kata Ubiet tertawa. 
”Dia tidak sekolah karena dia tidak berminat pada dunia akademis. Dia menulis 
dan produktif sekali. Buku puisinya, Jantung Lebah Ratu, dirilis sebelum saya 
berangkat. Saya enggak tahu dia menulis apa, kami tidak saling mengintip. Kami 
saling diskusi, tetapi tidak saling mengintip.”

Migrasinya dari dunia musik pop ke musik yang ”serius” kata Ubiet merupakan 
sesuatu yang biasa terjadi dalam kesenian, di mana, seperti dirinya, selalu 
ingin ”merusak” sesuatu yang telah ada sebelumnya.

”Saya kira seorang seniman harus begitu. Bukan berarti pindah genre.. Orang 
boleh berada pada genre tertentu, tetapi bentuk harus berubah, bertransformasi, 
dengan jenis musik yang sama atau berbeda.”

Yang membawa dia sampai Wisconsin antara lain karena pertemuan dengan profesor 
yang kemudian menjadi pembimbingnya, Anderson (Andy) Sutton—ahli musik Jawa. 
Dia tertarik pada etnomusikologi karena tertarik para tradisi berikut 
keberagaman di dalamnya.

Dalam soal bersekolah di Amerika ini, Ubiet menceritakan terutama bagaimana dia 
mendapat beasiswa. ”Saya pertama kali dapat dari Ford Foundation untuk S-2, 
lalu Asian Cultural Council, dan UW Madison. Saya frustrasi tidak dapat apa-apa 
dari Indonesia,” cerita dia.

Hanya saja, di ujung dia menjalani masa pendidikan selama sekitar delapan tahun 
mondar-mandir Jakarta-Madison-Kerinci-Aceh (sambil mondar-mandir nyanyi 
kontemporer dan keroncong), ia mendapat beasiswa bernama Beasiswa Unggulan dari 
Depdiknas.

”Jumlahnya kecil, tetapi bisa untuk tambahan. Bangga juga di ujung sekolah saya 
mendapat dari Indonesia,” kata dia. (BRE/NMP)

Tentang UBIET

• Nama: Nyak Ina Raseuki (a.k.a Ubiet) • Tempat, tgl lahir: Jakarta, 24 Mei 1965

• Pendidikan:• PhD dalam etnomusikologi dari University of Wisconsin-Madison, 
AS (2009) dengan disertasi ”Being Islamic in Music: Two Contemporary Genres 
from Sumatera”

• Master dalam etnomusikologi dari University of Wisconsin-Madison (1993) 
dengan tesis ”Seudati in Acehnese Tradition: A

Preliminary Study”

• Sarjana dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan mayor musik-vokal 
(1983-1989)

• Pengalaman:• Pengajar etnomusikologi dan seni pertunjukan di IKJ 
(1993-sekarang), anggota Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (2006-2009), 
Sekretaris Jenderal Pendidikan Seni Nusantara (2002-2006)

• Penghargaan:• Leland Coon Fellowship, University of Wisconsin-Madison 
(1992-1993); The Ford Foundation Fellowship, 1998-2008; Center for Southeast 
Asian Studies Fellowship, University of Wisconsin-Madison, 1998-1999, 2009; 
Asian Cultural Council Fellowship-New York, 1999, 2009; Beasiswa Unggulan, 
Departemen Pendidikan Nasional, 2008 • Discografi:• Commonality, The New 
Jakarta Ensemble, Siam Records, New York (1999); Archipelagongs, Warner Music 
Indonesia, Jakarta (2000); Music for Solo Performer: Ubiet Sings Tony Prabowo, 
Musikita, Jakarta (2006); Ubiet Kroncong Tenggara, Ragadi Music, Jakarta, (2007)

Bre Redana & Ninuk M Pambudy

Kompas Minggu, 6 September 2009 | 03:27 WIB


      Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman 
ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke