Sebetulnya pembagian wilayah waktu Indonesia itu sesuai dengan pembagian
dunia dalam zona2 waktu yang berbeda 1 jam, yang batasnya kira-kira sama
dengan garis bujur alias longitude. Juga jangan lupa, bahwa Indonesia itu bentangan longitudenya sangat lebar, sama dengan Amerika Serikat sangat lebar, dimana dibagi menjadi 5 zona waktu (masih mending karena kita berada di chatulistiwa, sehingga 1 derajat longitudenya lebih lebar dari di AS, sehingga kita bisa bagi dalam 3 zona). Cuman banyak negara yang berbeda sendiri
karena kepentingan ekonomi atau kepentingan lainnya. Dulu zaman Hindia
Belanda Indonesia dibagi dalam zone waktu 1/2 jam atau  30 menit, maka waktu
itu ada waktu Sumatra dan Waktu Jawa, Waktu Maluku dsb. yng masing-masing
beda 30 menit dengan zona waktu sebelahnya. Pada waktu itu Singapura memilih
waktunya sama dengan waktu Jawa dan bukan dengan zona waktu Sumatra, karena
kepentingan perdagangannya dengan Jawa. Pada sesudah merdeka sekitar tahun
50 han Indonesia mengubah zona waktunya sesuai dengan standard
internasional, jadi beda 1 jam, maka muncullah WIB, Witeng dan WIT, di mana
Jawa masuk ke zona waktu Sumatra dengan nama WIB. Anehnya Singapura dan
Malaya tidak mau mengikuti, dan tetap menggunakan zona waktu Jawa yang
berbeda 1/2 jam, walaupun mereka sebut waktu Singapura atau waktu Malaysia
Barat (Semenanjung Malaya), sedangkan waktu Malaysia Timur (Serawak/ Sabah)
dan Brunei menggunakan zone waktu yang sama dengan Indonesia Tengah.
Belakangan Malaysia menyatukan zone waktu Malaysia Barat dan Timur menjadi 1
zone, tetapi anehnya Malaysian Barat menyatukan diri dengan waktu Malaysia
Timur alias sama dengan Indonesia Tengah. Kalau kita lihat di peta maka
jelas pembagian WIT, Witeng dan WIB itu sesuai masing2 dengan zona waktu
Jepang , Philipina Hongkong/Australia Barat, dan waktu Bangkok (Thailand),
jadi justru waktu Malaysia dan Singapura yang ngaco atau "mahiwal". Jika
kita terbang  dari Jakarta ke Singapura waktu kita maju 1 jam (seolah-olah
kita pergi ke timur, seperti ke Makasar), kalau kita kearah barat lagi ke
Bangkok kita mundur lagi 1 jam. Jadi sebetulnya Malaysia dan Singapur yang
harus menyesuaikan diri dengan WIB, dan bukan sebaliknya, karena dari segi
zona waktu internasional Malaysia dan Singapura itu merupakan anomali.
Perlu juga dicatat bahwa pada zaman penjajahan Jepang demi kepentingan
militer waktu di Indonesia pernah disesuaikan dengan waktu di Tokyo, alias
sama dengan waktu di Irian (WIT). Bayangkan kita ke sekolah dipagi buta, sekita jam 5 waktu WIB. Jangan lupa pula negara seperti China-pun bentangan longitudenya tidak selebar Indonesia.
RPK
----- Original Message ----- From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)" <[EMAIL PROTECTED]>;
"migas indonesia" <[EMAIL PROTECTED]>; <iagi-net@iagi.or.id>;
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, June 07, 2005 4:25 PM
Subject: [iagi-net-l] Bersiaplah utk Perubahan pembagian Waktu di Indonesia


Cukup Menarik!

Saya sendiri di KL, Malesa merasakan selalu bekerja lebih awal
dibanding Jakarta. Sehingga Jakarta selalu ketinggalan satu jam dengan
Kuala Lumpur. Dan dalam satu jam tentunya akan buanyak sekali
keputusan-keputusan yg sudah dapat diambil, bisa saja keputusan2 itu
menjadikan Jakarta ketinggalan beberapa langkah dalam mengantisipasi.

RDP
=======================
Message: 1
 Date: Mon, 6 Jun 2005 22:37:23 +0700
 From: "Christovita Wiloto" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Bersiaplah utk Perubahan pembagian Waktu di Indonesia

Selama ini kita hidup di Indonesia dengan tiga pembagian wilayah waktu
- Waktu Indonesia Bagian Barat, Tengah dan Timur! Kita tidak
menyadari...karena kita berada di dalamnya. "Take it for Granted"!
Mungkin saatnya kita mengkaji Dampak Pembagian Wilayah Waktu tersebut.
Apakah cara pembagian waktu sekarang efektif dalam peta globalisasi
ekonomi dewasa ini? Atau perlu ditinjau alternatif lain misalnya 2
pembagian waktu saja...atau bahkan hanya satu? Sebuah wacana menarik
yang perlu dibahas terbuka. Sebuah topik yang belum pernah disentuh
dalam kehidupan kita sehari-hari!

Sumatera dan Jawa seharusnya dimajukan 1 jam, dan jika ini terjadi
akan meningkatkan produktifitas nasional:
1.. Money market di Indonesia buka dan tutup bersamaan dengan pasar
uang internasional, dalam hal ini Singapore, Malaysia dll, sehingga
rupiah lebih dapat dikontrol. Sehingga Rupiah diharapkan dapat lebih
stabil.
2.. Demikian juga Capital Market.
3.. Menurut PLN, akan mengurangi penggunaan listrik secara nasional
4.. Menurut pakar pariwisata, akan meningkatkan jumlah wisatawan manca
negara
5.. Meningkatkan produktifitas nasional
6.. dll yang sangat positif bagi kita Bangsa Indonesia.
jadi bersiaplah utk berubah! Sambutlah era baru Indonesia yg lebih maju!

salam
christov
PERUBAHAN PEMBAGIAN WILAYAH WAKTU DI INDONESIA UNTUK KEPENTINGAN
EKONOMI NASIONAL

Indonesia Marketing Association bekerja sama dengan Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) akan mengadakan Seminar Nasional
tentang "Dampak Pembagian Wilayah Waktu di Indonesia Terhadap Pola
Konsumsi Enerji & Kegiatan Perekonomian Indonesia" pada hari Rabu 8
Juni 2005 bertempat di Hotel JW Marriott.  Seminar nasional ini akan
dihadiri oleh Menteri Riset dan Teknologi Prof. Dr. Ir. Kusmayanto
Kadiman yang akan menjadi pembicara kunci.

Seperti halnya pada negara-negara lainnya maka sejauh mana manfaat dan
kerugian akibat pembagian wilayah waktu dan ketentuan penunjukan waktu
yang paling sesuai terhadap kepentingan nasional, menjadi sesuatu yang
menarik untuk diperhitungkan dan dicermati potensi serta manfaatnya
dalam rangka mendukung efisiensi bagi pertumbuhan perekonomian
Indonesia.   Singapore, Malaysia dan Philippine misalnya menetapkan
waktu yang sama dengan Hongkong, pada hal dari segi jarak mereka lebih
dekat ke Indonesia.  Negara Cina dengan luas tanahnya sebesar 9.6 juta
sq kilometer memiliki satu waktu saja yang sama dengan Hongkong dan
Singapore.  Pertimbangan yang dilakukan oleh negara-negara tersebut
adalah faktor ekonomi.

President Indonesia Marketing Association (IMA) Y.W. Junardy
menyatakan :"Oleh karenanya dibutuhkan pembahasan khusus mengenai
masalah ini yang diharapkan mampu menghimpun berbagai masukan dan
pendapat dari berbagai pihak, khususnya dari para akademisi dan
praktisi bisnis serta para pakar lainnya yang berasal dari berbagai
bidang seperti teknologi, politik, ekonomi, sosial, budaya serta
berbagai kalangan lainnya. Dengan demikian mereka dapat berperan
sesuai dengan bidangnya masing-masing, memberikan sumbangan pemikiran
mereka secara intensif terhadap wacana ini. Di samping itu studi dan
uji lapangan sangat diperlukan untuk membuktikan manfaat gagasan di
atas", demikian Junardy.

"Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) didukung LPPM
Universitas Airlangga telah membentuk tim khusus untuk mengkaji
masalah pembagian wilayah waktu di Indonesia dengan segala dampaknya".
Pada saatnya kami akan memberikan masukan kepada pemerintah.  Yang
pasti kita harus berani meninjau kembali pembagian wilayah waktu di
Indonesia.  Karena bisa saja mempengaruhi pola konsumsi enerji di
Indonesia.  Apalagi kita tahu Indonesia belakangan ini sedang
menghadapi masalah enerji, demikian Prof.Dr. Ir Mohammad Nuh, DEA
Rektor ITS.

Pembicara lain di seminar nasional tersebut antara lain para pengajar
dari ITS seperti Ir. Mochamad Ashari. M.Eng, Ph.D; Dr.Dr. Ir.A.Sonny
Nursutan Hotama, MM, MA; Kepala Badan Metereologi dan Geofisika
Nasional Dr. Gunawan Ibrahim; Salah satu dari 50 guru terbesar dunia
di bidang pemasaran Hermawan Kertajaya;  Direktur Utama Merpati,
Hotasi Nababan, MBA; Pakar sosiologi Prof. Dr. Hotman M. Siahaan;
Pakar ekonomi dan anggota DPR Dr. Drajad Wibowo serta Dr. Aviliani,
ekonom dan komisaris BRI.



--
Education can't stop natural disasters from occurring,
but it can help people prepare for the possibilities ---

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke