sengat_cantang
Sat, 27 Jan 2007 02:32:31 -0800
Cerita di bawah ini adalah tulisan dari sdr. Teguh R. Dia adalah salah satu dari empat orang wartawan Sindo yang dipecat pada awal tahun ini. Testimoni Teguh Tentang Sindo Menjadi wartawan atau terjun didunia media bagi saya adalah sebuah pilihan bukan datang karena kebetulan semata. Ketika saya terjun didunia media (jurnalisme) saya semakin tahu dan memantapkan diri untuk semakin serius menggelutinya, meski banyak juga keadaan yang mengecewakan namun itu adalah resiko dari sebuah pilihan. Aku menulis ini mungkin tidak objektif karena didasari oleh rasa kecewa dan amarah. Tapi saya kira perasaan yang sama akan dialami oleh kawan-kawan jurnalis yang dalam kesehariannya selalu berjuang untuk keadilan melalui tulisan-tulisannya namun keadilan itu sepertinya malahan jauh dari kita sendiri. Seberapa sering kita menulis tentang kesejahteraan kaum buruh, namun jurnalis (karena sebenarnya adalah buruh, bukan profesional seperti anggapan dari sebagian kita) sendiri lupa kita perjuangkan nasibnya. Maaf mungkin lupa, atau memang tidak berdaya. Kita memang sulit berjuang kalau hanya kita saja yang berbuat tanpa dukungan dari pihak lain. Perjuangan kaum buruh, guru honorer atau mereka yang ter-PHK sebagian besar menggema dan berhasil karena didukung oleh pemberitaan kita. Pertanyaannya, perjuangan kita siapa yang akan mendukung?. Jurnalis adalah buruh juga, namun kita sepertinya malu mengakui itu. Padahal posisinya dalam sebuah perusahaan sama riskanya. Ancaman PHK setiap detik selalu mengintai tanpa disadari. Saya bekerja di Koran Sindo, Seputar Indonesia edisi Jawa Barat. Bekerja disini karena saya merasa setiap harinya sejak tanggal 29 Agustus 2005 sebagai seorang jurnalis membuat berita untuk kemudian berita yang saya buat nongol di koran milik grup Media Nusantara Citra (MNC). MNC ini sedang menggurita dengan tentakelnya yang jumlahnya semakin banyak. Kalau gurita tentakelnya tetap, tetapi yang satu ini terus tumbuh jumlahnya. Maaf sekali lagi saya menulis ini memang tidak objektif, sulit rasanya untukberlaku objektif terhadap sesuatu yang tidak kita sukai, he...he... (( Oh ya, sebelum bekerja di Sindo, saya bekerja sebagai reporter Radio Mara FM, Bandung sejak tahun 2002 (waktu itu saya masih kuliah di FIKOM-UNPAD, angkatan 1996) dan pindah ke Sindo karena ada tawaran rekan saya yang sebelumnya juga reporter Mara, Army Dian. Karena saya percaya dengan teman saya ini maka saya memutuskan untuk bergabung dengan Sindo Agustus 2005. Saya merasa empat tahun sebagai reporter radio sudah cukup sehingga saya pindah ke media cetak. Saat ke Sindo usia saya 30 th, sudah beristri dan berputra. Pindah ke media baru ini sempat ditentang oleh nyonya rumah karena ia dan saya juga yakin akan banyak butuh pengorbanan baik materi maupun imateri, sebagai modal awal kerja. Dan itu terbukti karena untuk bekerja di Sindo memang harus punya modal sendiri, kamera sendiri, alat rekam sendiri, note book sendiri, bensin sendiri, namun penghasilannya sama saja dengan saat bekerja di Mara, bedanya lebih capek. Tapi ini adalah sebuah pilihan dan saya konsisten dengan pilihan saya. Tahun 1994-1996, dua tahun saya bekerja sebagai penyiar radio di salah satu radio swasta di Tegal-Jateng. )) Saya aktif menulis hingga akhirnya pada tanggal 1 Januari 2007 (Artinya satu tahun empat bulan saya menjadi wartawan Sindo) saya diwajibkan menghentikan kegiatan menulis saya karena masa uji coba tidak diperpanjang. Pertanyaan saya dan mungkin teman-teman adalah "masa uji coba" yang ternyata masih di sematkan kepada saya yang sudah bekerja satu tahun empat bulan. Mungkin ini masa uji coba terpanjang yang pernah saya alami selama bekerja. Saya juga baru tahu status saya adalah pekerja percobaan, macam kelinci. Dan mungkin karena memang Sindo adalah koran percobaan. Coba-coba melawan koran yang sudah ada terlebih dulu, khususnya grup kompas dan Pikiran Rakyat (eh, maaf jadi buka rahasia negara nih. Maaf juga kalau banyak rahasia negara Sindo yang aku ketahui sebagian akan nongol di testimoni ini) Selama bekerja ini saya tidak pernah mendapatkan kejelasan status. Hitam diatas putihnya tidak pernah ada yang saya tandatangani. Bukti saya bekerja di Sindo adalah adanya nama saya tercantum dalam box kru wtwn Sindo di koran, saya terima gaji dan adanya kartu pers. Tapi saya bangga (saat itu) menjadi bagian dari sebuah media baru yang kehadirannya cukup membakar jenggot media lama yang sudah mapan. Kapan saya bekerja di Sindo? Periode Agustus 2005, saya Teguh Rahardjo (radio Mara), Agus Warsudi ( mantan Tribun Jabar), Ari (Republika) berangkat dari Bandung dengan kereta api pagi-pagi ke Jakarta untuk bertemu dengan pimpinan redaksi Sindo di Gedung Bimantara Jakarta. Disana kami bertemu dengan Eka Permana (mantan Surabaya Post). Kami datang karena dipanggil melalui telepon oleh Army. Ini adalah cara perekrutan yang sampai saat ini terus dilakukan oleh Sindo. Tanpa adanya proses seleksi tertulis. Wartawan mana saja bisa diajak bergabung dan jika tidak layak langsung dihentikan. Sadis memang. Pertemuan juga dihadiri seluruh redaktur Sindo mulai dari halaman News, life stile dan olahraga. Hanya sekitar satu jam, kami mendapatkan penjelasan dari pimred, Sururi Alfaruq. Tidak banyak yang disampaikan , intinya rencana Sindo untuk terbit perdana di Jawa Barat pada September 2005. Kami dijanjikan akan diberikan gaji satu juta plus uang lelah bekerja sebutanya tunjangan prestasi. "kalau rajin akan ditambah lima ratus ribu," itu keterangan dari Sururi saat itu. Jadi total gaji yang akan dibawa pulan adalah Rp. 1,5 juta. Saya sempat kecewa juga saat itu karena penghasilan sebesar itu sudah saya peroleh saat bekerja di Mara. Tapi karena sudah komitmen dan mencoba untuk loyal , saya akhirnya terus. Berbeda dengan Ari (Republika) yang setibanya di Bandung kembali dari Jakarta ia menyatakan mengundurkan diri. Ia langsung diganti oleh Sugiharto (wtwn asal Jakarta). Saat di Jakarta Sururi menyatakan selama enam bulan pertama akan dievaluasi dan kemudian akan ditentukan dikontrak atau diangkat. Kami berempat kemudian mulai membuat berita dan saat itu baru berupa dummy saja. Kita membuat dan merancang bentuk Sindo sebelum lahir. Dan akhirnya September Sindo edisi Jabar terbit. Namun kembali Sugiharto keluar tak kuat bertahan sehingga Sindo kembali merekrut Denny Mulyana (wtwn Tribun Jabar). Saat itu Pimred, Sururi bertemu lagi dengan kami di kantor biro Sindo Jabar Jl. Surapati 233, gedung Frend. Ini adalah pertemuan kali kedua saya dengan beliau. Dengan empat orang kami harus bisa secara kontinyu menyajikan berita dalam dua halaman wajib dan dua halaman (halaman satu dan 16) jika dimungkinkan ada berita besar. Jadi kalau dihitung satu orang bertanggungjawab terhadap satu halaman. Saya diplot di Kota Bandung, Agus untuk Jabar, Deny Kabupaten Bandung dan Cimahi dan Eka floating. Menurut saya wajar dengan hanya emmpat orang banyak berita yang kebobolan. KITA HARUS BISA MENGALAHKAN PR DAN KOMPAS, atau jangan ketinggalan dari mereka!!! Memang tidak ada kata mustahil, tetapi sangat sulit. Akhirnya Eka pun mengundurkan diri. Praktis kita hanya bertiga orang saja. Setelah beberapa minggu akhirnya direkrut wartawan di Garut (romy rosyana) dan Cianjur (rustadi zaelani). Kita berlima menggarap koran Sindo Jabar. Dengan keterbatasan tapi harus kerja maksimal. Ciri dari pimred Sindo memang seperti itu. Tentu saja untuk mengcover berita seluruhnya kita masih kesulitan. Maka direkrutlah Asep (wtwn radar Bandung) , lagi-lagi dengan cara ditelepon saja tanpa ada keterangan tertulis. Saya sendiri tidak tahu apa alasannya kemudian ia akhirnya juga diberhentikan setelah bekerja genap satu bulan. Tidak menunggu jeda satu hari sudah ada penggantinya. Yogi Pasha juga dari Radar Bandung menggantikannya. Dari situ saya mulai merasa ada yang aneh, Sindo dengan mudah merkrut orang dan memberhentikan orang. Saya mulai merasa terancam, apalagi selama bekerja lebih dari enam bulan tidak ada tanda-tanda janji kontrak dari pimred terbukti. Saya lalu mulai mempertanyakan status saya tersebut. Pertanyaan sering saya sampaikan kepada Army, karena ia adalah teman dan sekaligus orang yang memang dekat dengan kami di Bandung. Namun sayang ia sendiri tidak bisa berbuat banyak karena memang keputusan ada ditangan pimred. "Saya sudah menanyakan kontrak kalian ,guh. Tapi tidak tahu kapan. Kerja saja yang baik, sebab saya sendiri statusnya masih percobaan, belum aman," katanya yang sering ia katakan setiap kali saya tanyakan kontrak . Dan setiap kali saya tanyakan selalu dikatakan ada dua pilihan, terus atau mengundurkan diri. Wah...saya merasa sangat dihina dengan pilihan itu. Saya ini yang ikut melahirkan Sindo bahkan saat masih dalam janin sudah ikut nimbrung. Sangat tidak menghargai dan arogan sekali. Saya juga sering menanyakan hal itu kepada kepala biro Sindo Jabar, Teddy Sugiharto, namun menurutnya untuk urusan keredaksian urusannya langsung ke Pimred. Saya baru tahu kalau wartawan yang ada di Jabar itu yang ngurus langsung pimred, termasuk penilaian yang datang tidak meminta masukan dari orang-orang (pimred, marketing, sirkulasi) yang ada di Jabar. Saya tidak patah arang, saya pun mencoba kontak langsung dengan pimred atau kirim SMS namun tidak pernah dijawab. Maklum sudah jadi raja kecil, mungkin cukup hulubalang saja yang menghadapi prajurit, he..he... Akhir tahun 2006 wartawan Sindo Jabar bertambah. Untuk Bandung saja menjadi delapan orang termasuk fotografer, dimasing-masing kota/kab minimal ada satu wartawan, totalnya ada sekitar 21 orang. Kenapa? Karena Sindo Jabar menjadi delapan halaman. Bagaimana perekrutannya? YaÂ…cabut sana-sini , instan dari radar, atau koran-koran lainnya. Beban kerja lumayan berkurang tetapi sudah setahun status masih belum jelas juga. Pertemuan ketiga saya dengan pimred terjadi pada bulan November, saat ini terjadi rapat dadakan pada pukul 02.00 pagi , kebetulan saat itu sedang bulan puasa. Dalam pertemuan itu semua hal dibahas, semua pertanyaan bisa diajukan. Saya sendiri kembali mempertanyakan status dan kesejahteraan wartawan di Bandung, kapan akan diangkat? Ia mengatakan untuk pengangkatan tidak melihat senioritas tapi prestasi kerja (prestasi kerja ini ukuranya juga kita tidak tahu?) yang jelas jika sudah waktunya maka akan diangkat. "Saya harus hati-hati jika ngomong sama teguh, nih," ucap dia yang masih saya ingat. Saya sendiri tidak tahu ucapan apa yang membuatnya merasa harus berhati-hati. Saya dianggap provokator , mungkin saja, sih. Tapi hal itu wajar karena pertanyaan saya normatif soal status dan kesejahteraan. Usai pertemuan itu, Army kemudian menghubungi saya kalau ternyata Pimred merasa sakit hati dengan ucapan saya!! Saya sendiri tidak tahu. Katanya ucapan saya atau kata-kata saya sangat pedas dan bernada sinis sama dia. Apakah begitu teman-teman atau nara sumber yang selama ini saya wawancara? Jawab Woiii??? Kalau boleh meminta pendapat, tanya saja karyawan di Sindo Jabar mulai dari OB, Marketing, Sirkulasi hingga Kabiro. Atau jika perlu tanya satpam Frend, apakah saya orangnya sinis?....Siapa wartawan yang paling ramah dan gampang bergaul dengan mereka? Siapa yang suka membantu pekerjaan mereka (marketing dan sirkulasi). Kalau boleh, diadu kemampuan menulis saya atau mengolah isu, boleh diadu dengan semua wartawan Sindo yang ada saat ini. Siapa paling banyak buat berita, Siapa paling banyak buat berita besar termasuk HL halaman satu dan dua (kota bdg). Siapa yang lakukan proses cek-balance dua narsum berbeda? Datanya gampang dicari toh ada dokumentasi penerbitan Sindo, kan? Saat Sindo terbit diawal , banyak teman wartawan selalu nanya, kalau penghasilan saya pasti yang terbesar, sebab berita paling sering nongol, bahkan jadi HL. Saya diam saja hanya tersenyum. Sebab itu tidak ngaruh , wong gajinya flat ,kok. Jangan menilai hanya bertemu selama beberapa jam saja dan hanya tiga kali tatap muka, dong!!! Sangat kentara atmosfir ketidak sukaan secara pribadi pimred kepada saya. Sejak pertemuan itu sejumlah kebijakan mulai muncul. Salah satunya adalah membuat keterangan secara tertulis jika ada berita yang kebobolan dari wtwn ybs. Contoh kalau PR muat beritanya tapi Sindo tidak maka wartawan di pos ybs harus membuat surat pernyataan bersalah tertulis. Edaaan. Ini juga sempat saya pertanyakan karena semakin membuat kinerja wtwn tidak nyaman . Saya minta kalau perintah itu disampaikan secara tertulis saja jangan lisan terus. Ini penting untuk kejelasan tugas dan tidak terus disalahkan. Ini juga adalah masukan dari Mas Ridlo Eisy ( dirut Galamedia) saat saya berdialog dengannya di Hotel Panghegar beberapa waktu lalu. Tapi sekali lagi tidak ada respon yang baik. Mereka selau menjawab dengan diam. Dan terbukti kekhawatiran saya. Tanggal 1Januari, saya saat itu sedang membuat berita olah raga, tentang Persib, temanya Bayu Sutha dikontrak Persib. Pukul 14.30 Army telepon saya mengabarkan saya tidak diperpanjang lagi di Sindo. Saya tidak banyak bicara karena saya belum terima surat resminya. Baru setelah selesai, surat itu diberikan oleh Denny yang sebelumnya dititipkan oleh Agus (yang dipromosikan ke Jakarta ). Saya baca ternyata benar saya diberhentikan. Dipecat? Tidak juga sebab saya juga bingung status saya selama 1 tahun 4 bulan ini apa, karyawan bukan, kontrak bukan , disebutkan hanya percobaan tidak bisa dilanjutkan. Surat tertanggal 29 Desember 2007 itu ditandatangani oleh Korda Jaka Susila, tapi dikepala surat Sk itu adalah SK internal Pimred. Nggak nyambung! Jelas kalau pimred ingin lepas dan mengorbankan bawahannya. Atau memang Korda bisa memecat wartawanya? Ini sih saya gak tahu kebijakan Sindo.... Saya ingin ini dipersoalkan, tetapi saya tidak tahu memulainya dari mana? Mungkin kawan-kawan dimedia milis bisa menambah masukan. Saya juga sudah membicarakan hal ini dengan AJI Bandung. Dan bakal siap mengadvokasi saya. Kenapa harus dipersoalkan? Selain saya ada juga Saeful,wartawan yang bertugas di Cimahi yang diberhentikan. Dan parahnya Kabiro juga diberhentikan. Saya kira itu karena ia juga ingin memperjuangkan nasib wtwn Jabar jadi kena getahnya. Sorry pisan pak Tedy. Ketidak jelasan pemberhentian saya. Saya tidak tahu kenapa saya diberhentikan. Dalam surat yang saya terima hanya selembar disebutkan "evaluasi aspek kinerja meliputi produktivitas, penulisan, kerjasama dan kualitas "sebanyak tiga kali/setiap enam bulan. Serta pertimbangan dari redpel, korda dan redaktur (tanpa pertimbangan pimred!) maka saya tidak diperpanjang. Tidak dijelaskan secara dettil. Saya akui saya pernah dapat SP. Kenapa? Saya memaksa libur saat hari raya lebaran tahun 2005 lalu. Sudah lama....Sebab edan pisan, Sindo libur pas lebaran sehari saja, lebaran tetap terbit!!! Makanya saya pulang kampung saja. Milih liburan dua hari. Kalau anekdot diantara rekan-rekan sih, Sindo baru berhenti terbit kalau ada tanggal merah memperingati kiamat. Tak ada libur pokoknya, tapi tak ada hitungan uang lembur. Kerja rodi lah.... Tapi itu tidak disebut dalam alasan pemberhentian saya. Saya sudah mengeluarkan segala kemampuan untuk Sindo di Jabar. Modal materi habis, istilahnya gelang dan kalung istri sudah ludes dijadikan modal kerja, tapi tidak kembali lagi. Tabungan untuk susu anak saya juga habis, nol besar pokoknya. Itu kerugian materiil yang bisa dikalkulasikan. Bagaimana dengan kerugian immateriil selama saya bekerja dengan Sindo. Penuh tekanan, perasaan tidak tenang dan yang jelas waktu saya terbuang percuma. Status yang tidak jelas sangata mengganggu kinerja. Demikian testimoni saya. Memang masih banyak hal lain yang akan diungkap, tapi saya masih ada perasaan sayang sama Sindo. Saya ibaratnya juga menjadi ibunya Sindo yang ikut melahirkan Sindo. Tak apalah anak durhaka pada ibunya asal si anak hidup sukses. Ini dibuat dini hari, selasa 23 Januari. Tekngkyu pisan.