hendra . messa
Tue, 26 Nov 2002 16:57:50 -0800
Ada artikel bagus dari Andrias Harefa mengenai "Manusia pembelajar" , yang
bisa juga merupakan salah satu bentuk aplikasi konsep " Alam takambang jadi
guru" .
Dengan konsep tersebut harusnya orang Minang punya potensi menjadi manusia
pembelajar , belajar sepanjang waktu dari alam dan lingkungan kehidupan
nya.... .
semoga bermanfaat.
HM
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Satu-satunya keunggulan kompetitif bagi individu adalah kemampuannya untuk belajar.
- Stew Stokes
Jika kita memahami mengapa kita belajar, maka kita dapat belajar dalam situasi yang
bagaimanapun juga.
- Andrias Harefa
Nah, proses persiapan itulah yang disebut 'belajar'. Dengan perspektif ini, mungkin
dapat dikatakan bahwa tujuan pembelajaran adalah agar kita siap dalam empat hal: siap
berkarya melayani sesama; siap belajar di 'sekolah' kehidupan-baik dengan atau tanpa
pendampingan langsung dari pengajar/pelatih; siap bekerja sama dengan siapa pun; dan
siap hidup sebagai manusia yang makin manusiawi.
Mengapa kita belajar? Mengapa proses pembelajaran harus berlangsung secara
berkesinambungan seumur hidup? Ada banyak jawaban. Di antaranya adalah kita belajar
agar
mampu mempersiapkan diri menerima tanggung jawab atas hidup kita, atas
pilihan-pilihan
kita (being responsible); kita belajar agar mampu menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan di sekitar kita (being adaptable); kita belajar agar menginsafi
kesalahan, bertobat, mengakui keterbatasan, dan berharap hanya kepada Sang Pencipta
semata (being faithful); kita belajar agar dapat membentuk karakter pribadi sebagai
anak
manusia yang unik, otentik, dan tak terbandingkan (to be the best of ourselves); kita
belajar agar dapat melayani sesama manusia yang memerlukan (being servant); kita
belajar
agar dapat menciptakan ulang masa depan (being re-creator); kita belajar agar menjadi
lebih manusiawi (being human); dan seterusnya.
Intinya, dapatlah dikatakan bahwa kita belajar karena kita (manusia) terlahir sebagai
makhluk pembelajar (learning being). Kita tidak saja belajar untuk hidup, tidak hanya
untuk memperoleh nafkah, memperoleh jabatan, popularitas, kekayaan, dan memiliki
banyak
hal lainnya. Soalnya, jika demikian, setelah 'memiliki' semua hal itu, kita akan
berhenti belajar. Atau jika semua itu tidak mungkin kita miliki, lalu buat apa kita
belajar?
Perlu lebih disadari bahwa hidup itu belajar. Sepanjang masih hidup, kita terus
diberi
peluang untuk belajar. Soal apakah peluang ini disikapi secara positif, atau
disia-siakan, adalah soal pilihan. Jelas belajar tak bisa dipaksa. Kita hanya mungkin
belajar dalam arti yang sesungguhnya jika memilih demikian. Sebab, belajar sebagai
proses perubahan dan/atau pertumbuhan untuk menjadi yang terbaik dari diri kita
sendiri
hanya mungkin berlangsung sepanjang ada kesadaran dan kemauan untuk itu.
Pada satu sisi, keberadaan sebagai makhluk pembelajar menegaskan bahwa kita
dilahirkan
dalam keadaan penuh potensi. Potensi ini perlu 'diproses', 'dinyatakan',
'dikerjakan',
atau 'diolah', sehingga menjadi aktual. Dan proses itulah yang kita sebut 'belajar'.
Tanpa proses aktualisasi, kita tak akan pernah menjadi diri kita yang sesungguhnya,
tak
akan pernah mampu menjadi yang terbaik, tak akan pernah mampu kembali ke fitrah
sebagai
ciptaan Tuhan.
Pada sisi lain, keberadaan sebagai makhluk pembelajar juga mengakui bahwa kita
terlahir
sebagai unfertiges wesen, makhluk yang tidak siap (istilah Ignas Kleden dalam
tulisannya
di majalah Basis edisi No. 3-4/Mei-Juni tahun 1996). Sementara itu, kita memiliki
aufgabe (tugas) untuk membentuk diri sendiri agar menjadi semanusiawi mungkin. Nah,
proses persiapan itulah yang disebut 'belajar'. Dengan perspektif ini, mungkin dapat
dikatakan bahwa tujuan pembelajaran adalah agar kita siap dalam empat hal: siap
berkarya
melayani sesama; siap belajar di 'sekolah' kehidupan-baik dengan atau tanpa
pendampingan
langsung dari pengajar/pelatih; siap bekerja sama dengan siapa pun; dan siap hidup
sebagai manusia yang makin manusiawi.
Ciri-Ciri Manusia Pembelajar
Manusia pembelajar menunjuk kepada setiap orang yang bersedia menerima tanggung jawab
untuk melakukan dua hal penting. Kedua hal penting itu, yakni, pertama, berusaha
mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat-bakat terbaiknya, dengan selalu mencari
jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial, seperti 'siapakah
aku?', 'dari mana aku datang?', 'ke manakah aku akan pergi?', 'apa yang menjadi
tanggung
jawabku dalam hidup ini?', dan 'kepada siapa aku percaya?'.
Kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensinya,
mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara
menjadi diri sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan segala sesuatu
yang
'bukan dirinya'. (Harefa; Menjadi Manusia Pembelajar, 2000, hlm. 30-31).
Pengertian di atas setidaknya memberikan sejumlah petunjuk terhadap ciri-ciri atau
karakteristik manusia pembelajar:
1. Secara sadar mau menerima tanggung jawab atas hidupnya, atas sikap dan
perbuatannya.
2. Secara sadar selalu mengembangkan inisiatif untuk mencari dan mengenali dirinya
itu
apa dan siapa.
3. Secara sadar menumbuhkan keberanian untuk jujur menyatakan keunikannya sebagai
pribadi.
4. Memberikan dirinya dipandu 'dari dalam' (inside out) oleh nilai-nilai yang sesuai
dengan keyakinannya.
5. Memiliki constructive discontent (ketidakpuasan yang konstruktif), yang
mendorongnya
untuk belajar seumur hidup guna meningkatkan kualitas kemanusiaannya.
6. Ia tak suka mengidentifikasikan dirinya dengan hal-hal yang bukan dirinya
(misalnya,
identifikasi diri dengan jabatan, kekayaan, atau kekuasaan, sebagaimana sering
dislogankan menjadi 'you what you have', 'you are what you drive', 'you are what you
eat', dsb.).
Dengan ciri-ciri pokok tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa siapa saja yang
menyadari
hakikat dirinya sebagai manusia pembelajar, pertama-tama ia berusaha membebaskan
dirinya
dari segala bentuk ketergantungan, baik kepada orang tua maupun lembaga-lembaga lain
yang mengaturnya (termasuk bebas dari lembaga persekolahan). Ia berusaha membebaskan
dirinya dari berbagai bentuk pendiktean, penindasan, dan penjajahan. Pada saat yang
sama, ia mengarahkan dirinya untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa
mandiri,
menjadi manusia merdeka.
Manusia dewasa-mandiri bukanlah manusia yang bisa hidup sendirian. Dia adalah mereka
yang menyadari sepenuhnya dirinya itu apa dan siapa, serta mampu menempatkan dirinya
dalam tatanan masyarakat dan memainkan peran yang memungkinkan adanya hubungan
kesalingbergantungan (simbiotik-mutualistik). Ia tidak lagi menjadi beban dari siapa
pun, melainkan menjadi rahmat dan berkat bagi lingkungannya. Kedewasaan dan
kemandirian
ini tidak bertalian dengan usia, tetapi lebih berkaitan dengan kondisi
psikososio-spiritual seseorang.
Manusia merdeka bukan berarti bebas berbuat kehendak hati, melainkan mereka yang
mampu
menata perilakunya berdasarkan tuntunan akal sehat dan hati nurani. Ia tak lagi
ditentukan 'dari luar' (outside in), melainkan diarahkan 'dari dalam' (inside out).
Akal
sehat dan hati nurani 'dari dalam' itulah yang menjadi panduan sikap hidupnya,
sehingga
manusia merdeka menolak untuk taat kepada hal-hal yang melawan akal sehat atau
bertentangan dengan hati nuraninya.
Peter Senge dalam karya terbaiknya, The Fifth Discipline (1995), pernah menegaskan,
'Pembelajaran sebenarnya mendapatkan inti artinya untuk menjadi sangat manusiawi
(humanis). Melalui pembelajaran, kita menciptakan kembali diri kita. Melalui
pembelajaran, kita dapat melakukan apa yang tidak pernah dapat kita lakukan
sebelumnya,
merasakan kembali dunia dan hubungan kita dengan dunia tersebut, memperluas kapasitas
kita untuk menciptakan, menjadi bagian dari proses pembentukan kehidupan.'
Pernyataan sarat makna ini memberikan semacam arahan umum untuk menjawab pertanyaan
'mengapa setiap orang perlu menjadi manusia pembelajar seumur hidup (lifelong
learner)?'
Sebab, Senge mengingatkan bahwa kita diciptakan dengan anugerah daya cipta atau
kreativitas untuk menciptakan banyak hal berdasarkan apa yang telah lebih dulu
diciptakan oleh Sang Pencipta. Dengan demikian, kita tidak boleh membiarkan diri
menjadi
korban dari proses pemasungan kreativitas dalam bentuk apa pun, baik yang dilakukan
lewat proses pembelajaran di institusi persekolahan, maupun yang mungkin dilakukan
oleh
para pemegang kekuasaan dalam rangka mempertahankan status quo. Demikiankah?
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
==============================================Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR
ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.
Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di:
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
==============================================