http://www.eramuslim.com/atc/oim/447f80d1.htm

Ibunda Perkasa dari Tanah Duka
Oleh Miftahul Jannah
5 Jun 2006 08:11 WIB
Di antara puing-puing luka dan penderitaan para korban
gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, ada banyak
keperihan yang tersingkap, ada banyak duka yang
terkuak, namun ada pula kekaguman yang tersibak.
Kekaguman yang semakin menguatkan keyakinan pada diri
saya, bahwa seorang ibu memanglah sosok yang amat
mulia.
Namanya ibu Tuminem. Saya bertemu dengannya dihari
ke-enam gempa yang menimpa Yogya dan Jawa Tengah. Ibu
bertubuh kecil itu datang ke posko Masjid Mardliyyah
-tempat saya berkativitas sebagai relawan- dengan
menggendong bayinya. Wajahnya sendu dan tampak sangat
letih. Ia terduduk di tangga masjid, menangis sambil
tak putus mengucap istighfar.
Rekan saya sesama relawan mendekati beliau, mengusap
punggungnya dan membiarkan hingga tangisnya reda. Saya
menyusul mendekati dan menghibur bayinya yang juga
mulai menangis. 
“Bagaimana, Bu?” Pertanyaan itu seolah telah terekam
dan selalu menjadi pertanyaan pertama bagi kami tim
psikologis untuk bisa mendapatkan aliran cerita dari
para korban demi mereka bisa mengungkapkan apapun yang
mereka rasakan.
Ibu Tuminem menghapus air matanya dan sekali lagi
melafalkan istighfar.
“Saya mencari anak saya, Mbak. Sudah enam hari saya
tidak bertemu dengan anak saya. Saya sudah tiga hari
mencarinya ke semua rumah sakit, tapi nggak
ketemu-ketemu” ujarnya tersendat-sendat karena
dibarengi tangisan.
“Keluarga yang lain bagaimana, Ibu?” tanya saya lagi.
“Suami saya meninggal...” kalimatnya terputus dan ia
mulai menangis lagi, lalu kembali menghapus air
matanya dan melafalkan istighfar. 
“Saya ngurusin jenazah suami saya sampai dimakamkan
dulu baru mencari anak saya” tambahnya.
“Waktu kejadian bagaimana, Ibu?”
“Waktu gempa saya udah keluar rumah, belanja ke
warung. Ibu mertua saya cuci piring, suami dan anak
saya yang kedua masih tidur. Anak saya yang pertama
udah main ke luar. Suami dan anak saya yang kedua
ketimpa reruntuhan. Tapi anak saya yang pertama nggak
tahu entah kemana” ujarnya tetap berurai air mata.
Innalillaahi, sungguh Allah berkuasa atas segala
sesuatu. Cerita bu Tuminem ibarat sinetron bagi saya,
kehilangan suami dan terpisah dari darah daging
sendiri.
“Saya harus ketemu anak saya, Mbak. Kasihan dia, sudah
enam hari tidak bertemu ibunya. Saya tidak tahu harus
mencari kemana lagi. Saya cuma berharap dia diantar ke
Magelang” tambahnya. Ia mulai menangis lagi.
“Putera yang kedua bagaimana, Bu?”
“Ada, Mbak. Dirawat di Panti Rapih, tangannya patah.”
“Di sana ada yang jagain?”
“Ada budenya. Dia lagi ulang tahun, merengek-rengek
terus minta dibelikan kue ulang tahun. Saya nggak
tahan, saya nggak punya apa-apa lagi. Waktu gempa itu
saya cuma ngantongin uang dua puluh lima ribu, itupun
udah terlanjur saya belanjakan sayur. Sisanya habis
untuk ongkos nyari-nyari anak saya. Makanya saya
kesini, sambil nyari anak sulung saya ke Sarjito. Saya
menjanjikan kue ulang tahun pada anak saya...” bu
Tuminem mulai menangis lagi.
Masya Allah... seorang anak tetaplah seorang anak, ia
ingin hari ulang tahunnya lebih berarti dengan kue
ulang tahun. Tak peduli kakaknya entah di mana,
ayahnya telah tiada, dan ibunya telah menjadi papa.
Sedang ibu tetaplah ibu, tak kan kuasa seorang ibu
memupus harapan anaknya, walau tak tahu dengan apa dia
mendapatkan kue ulang tahun itu, tetap saja ia
janjikan pada anaknya.
“Putera yang ulang tahun namanya siapa, Bu?” tanya
saya
“Sena, Mbak”
“Ini ulang tahun yang ke berapa?”
“Tujuh tahun, kenapa Mbak?” bu Tuminem bertanya balik.
“Nggak apa-apa, Bu. Sekarang ibu makan dulu saja,
kalau ibu nggak makan kasihan anak-anak. Apalagi yang
bungsu masih menyusu. Kalau ibu sakit kan lebih repot”
dengan sedikit memaksa kami meminta bu Tuminem untuk
makan, sudah sehari lebih beliau tak makan. Sedang
bungsunya kami berikan susu, karena sudah berhari-hari
pula dotnya hanya berisi air teh dingin.
Saya dan dua rekan relawan memutuskan untuk mewarnai
ulang tahun Sena dengan sebuah kue ulang tahun.
Selepas membeli kue ulang tahun kami mengantar bu
Tuminem ke Panti Rapih dengan motor. Subhanallah,
sesampainya di rumah sakit kami tak bisa menemukan
Sena, karena lokasi tempat ia dirawat pagi harinya
telah bersih dari korban gempa yang dirawat. Bu
Tuminem mulai panik lagi.
“Kok nggak ada ya, Mbak? Tadi pagi masih di sana pakai
tenda” tunjuknya pada taman di barat rumah sakit.
“Mungkin udah dipindah, Bu. Kita tanya saja” saya
mencoba menenangkannya. Pasien-pasien di RS Sarjito
tempat saya beraktivitas sudah sejak dua hari yang
lalu dipindah ke areal parkir rumah sakit, pasti di
rumah sakit ini demikian juga, batin saya.
Lantas kami menemui petugas keamanan. Oleh beliau kami
ditunjukkan beberapa tempat yang mungkin menjadi
lokasi baru perawatan putera bu Tuminem. Ternyata di
tempat-tempat itu tidak ada pasien dengan nama Sena
Ramadhani, nama putera bu Tuminem.
Entah bagaimana kemudian terbersit pikiran bahwa
putera bu Tuminem telah dibawa pulang keluarga ke
Magelang. Selepas dhuhur bu Tuminem memang berencana
melanjutkan pencarian putera sulungnya ke Magelang, ke
tempat orang tuanya. Pikiran itu diperkuat dengan
pernyataan tetangga bu Tuminem yang kebetulan
berpapasan di rumah sakit dan baru datang dari
Magelang. Bahkan kata beliau putera sulungnya juga ada
di sana.
Bu Tuminem langsung berhamdalah, bahkan hampir
menyungkurkan dirinya ke lantai untuk bersujud. Namun
saya dan rekan-rekan merasa tetap memerlukan data
bahwa putera kedua beliau memang telah dibawa pulang.
Ternyata benar, di data pasien pulang ada nama yang
dikenali bu Tuminem, yaitu ibu Dariyem. Pantas saja
kami tidak menemukan nama Sena, karena nama yang
dicantumkan di data adalah nama budenya.
“Rasanya ibu seperti disiram air dingin, Nak” kata bu
Tuminem pada puteri bungsu di gendongannya.
“Alhamdulillah, ya Bu” kami turut berbahagia dengan
kebahagiaannya. Kami hanya bisa mengantarnya hingga ke
terminal menuju Magelang seraya berharap ia bisa
berkumpul lagi dengan anak-anaknya di sana.
Subhanallah, pasti ada banyak bu Tuminem lain selepas
gempa tektonik lalu. Saya berdo’a semoga beliau mampu
menjalani hidupnya ke depan dengan teguh sebagaimana
keteguhannya mencari putera sulungnya, dan semoga
Allah senantiasa melimpahkan kasih sayang padanya
sebagaimana kasih sayang-Nya mengumpulkan kembali si
ibu dengan anak-anaknya. 
Yogya, 01 Juni 2006
[EMAIL PROTECTED]



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/aYWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Galang Dana Untuk Korban Gempa Yogya melalui Wanita-Muslimah dan Planet Muslim. 
Silakan kirim ke rekening Bank Central Asia KCP DEPOK No. 421-236-5541 atas 
nama RETNO WULANDARI. 

Mari berlomba-lomba dalam kebajikan, seberapapun yang kita bisa.

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:[EMAIL PROTECTED]
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com

This mailing list has a special spell casted to reject any attachment .... 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke