Ian Samsudin
Mon, 09 Apr 2007 19:40:54 -0700
Sahabat silat,
sebuah konsep tentang wisata budaya dan religi tanah datar...
Kapan nih kita berkunjung ke Kumango ato silek tuo hehe ....
akan dijamu oleh Uda Alda, lengkap dengan makanan padangnya :)
tapi kumpulnya di padang ya...
Eh kalo gak salah di Sumbar ada PASTI (ato apa ya namanya?)--semacan forum
untuk silat tradisi ..
mungkin Kang O'ong bisa menambahkan..
salam
Ian s
==
Kumango:
Sebuah Alternatif Konsep Pengembangan Wisata Budaya dan Religi Di
Kabupaten Tanah Datar
Kesadaran pentingnya pengembangan sektor Kepariwisataan sebagai salah satu
upaya menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidaklah mudah untuk
dilaksanakan, dan banyak faktor pendukung yang sangat menentukan
keberhasilannya. Pemerintah daerah, masyarakat, dan juga stake holder sebagai
pelaksana di lapangan diharapkan saling bersinergis. Dikarenakan tiga hal
tersebut merupakan faktor penting sebagai pendukung terwujudnya keberhasilan
kepariwisataan yang memadai.
Pertama, faktor masyarakat pendukung kebudayaan. Berangkat dari budaya
tradisi (khususnya budaya intangible), yang menjadi bagian masyarakat sebagai
pola budaya tradisi, apakah mereka siap mengupayakan produktifitas
karya-karyanya sebagai daya tarik pariwisata. Kebudayaan itu hidup dan
berkembang secara alamiah atas dasar kesadaran dan tanggungjawab masyarakat
sendiri.
Kedua, kesiapan sumberdaya manusia (SDM) bidang akomodasi mengaju pada slogan
Sapta Pesona (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan kenangan),
apakah juga sudah dilakukan dengan benar. Mengingat akomodasi adalah merupakan
salah satu bagian penting dalam pengembangan pariwisata. Apakah masyarakat
perhotelan dan rumah makan serta lainnya, sumberdaya manusianya siap melayani
wisatawan dengan slogan Sapta Pesona.
Ketiga, peran swasta (stake holder) pebisnis perhotelan, rumah makan, dan
lainnya, sebagai salah satu faktor yang juga penting dalam upaya mendukung
kepariwisataan. Apakah juga berani menghadapi tantangan saat ini. Artinya tanpa
pemodal yang mau menanamkan investasinya pada sektor pariwisata, perhotelan,
rumah makan, dan lainnya kepariwisataan tidak dapat berjalan semestinya.
Ketiga faktor tersebut merupakan satu kesatuan dan saling mendukung untuk
mencapai keberhasilan pengembangan kepariwisataan. Namun, apabila
kepariwisataan dikelola secara serius, tentunya teori tersebut sangat menunjang
untuk diimplementasikan.
Kabupaten Tanah Datar merupakan salah satu daerah potensial sebagai daerah
tujuan wisata. Keanekaragaman budaya baik tinggalan budaya bendawi (tangible)
berupa peninggalan sejarah, benda cagar budaya, dan lain-lain, maupun tinggalan
budaya non bendawi (intangible) , dan masih terus dilestarikan oleh masyarakat
pendukungnya, serta alamnya yang indah, merupakan modal pendukung
kepariwisataan di Kabupaten Tanah Datar. Kecenderungan diberbagai tempat
wisata, konsep pengembangan wisata budaya belum dikelola secara menyeluruh.
Objek yang ramai pengunjung sementara ini dianggap potensial untuk dipromosikan
sebagai salah satu tawaran wisata yang menarik. Namun hal itu bukan
satu-satunya cara pengembangan. Konsep pengembangan yang memadai sebaiknya
melihat potensi yang dapat diterapkan berdasarkan kesinambungan, pemberdayaan
masyarakat pendukungnya, dan pelestarian budayanya.
Berbicara pariwisata budaya dan religi terlebih dahulu menentukan apa yang
bisa diangkat sebagai objek tujuan, tanpa mempengaruhi objek tersebut. Artinya,
biarkan saja budaya masyarakat mengalir dengan sendirinya tanpa harus
direkayasa. Apalagi dibuat instan untuk suatu kebutuhan. Itu diperlukan apabila
budaya masyarakat sudah berjalan dengan baik, serta didukung terus menerus oleh
masyarakat pendukungnya. Contohnya kepariwisataan di Bali. Masyarakat Bali
melestarikan budayanya, tanpa harus direkayasa, dan sekarang sudah menjadi
bagian dari industri pariwisata di Bali. Namun perlu diingat, bahwa Tanah Datar
bukanlah Bali. Secara alamiah di Bali antara alam, budaya dan agama menyatu
sebagai bentangan budaya (culture landscape) dan religi yang saling mendukung.
Seperti tradisi ritual upacara pembakaran mayat (ngaben), prosesi tersebut
menyatukan adat, budaya dan agama.
Pemerintah tinggal mengakomodasi keinginan masyarakat melalui berbagai
fasilitas pendukung. Apabila ada fasilitas, juga dipikirkan suasana seperti apa
yang diinginkan masyarakat tradisi sebagai pendukung kebudayaannya, tanpa
meninggalkan nilai-nilai budaya. Suatu contoh di Tanah Datar, apabila
masyarakat menghendaki dibangunnya tempat sasaran silat tradisional, kemudian
kita juga minimal mengadaptasi bangunan diupayakan sesuai dengan kondisi yang
dinginkan, bukan asal dibangun.
Melainkan bagaimana menata lingkungannya. Sehingga kita sering mendapatkan
bangunan yang terbengkalai karena secara fungsi tidak layak dijadikan untuk
kegiatan tersebut. Hal ini terjadi pada sebuah bangunan gelanggang atau medan
nan bapaneh di samping lapangan Bukik Gombak. Di sana dulu berdiri sebuah
bangunan, maksud dan tujuannya untuk kegiatan adat tradisi, dan berkesenian.
Namun kemudian bangunan tersebut roboh dimakan usia karena tidak dipergunakan
oleh masyarakat pendukungnya.
Pada judul tulisan ini Kumango Sebuah Alternatif Konsep Pengembangan Wisata
Budaya dan Religi, merupakan sebuah penawaran yang perlu dikaji, dan
direnungkan kembali sebagai alternatif pengembangan pariwisata. Membicarakan
Kumango sangat menarik untuk dibahas. Pertama, Kumango ditinjau sebagai potensi
daerah (wilayah) perlu dikembangankan sebagai daerah tujuan wisata religi.
Mengingat di Nagari Kumango terdapat Surau Syekh Kumango. Tabek, dahulunya
kolam tempat untuk menyembuhan penyakit, dan Makam Syekh Kumango (Syekh
Abdurrahman Alkalidi). Merupakan salah satu tokoh, dan seorang Syekh di Tanah
Datar. Sampai saat ini masyarakat pendukungnya masih ada, bahkan juga tersebar
sampai ke Malaysia. (Informasi ini diperoleh dari masyarakat di sekitar Makam
Syekh Kumango). Nagari Kumango berada di Kecamatan Sungaitarab Kabupaten Tanah
Datar. Kuranglebih 3 km ke arah utara dari jalan utama Batusangkar-Bukittinggi.
Tinggalan budaya tersebut merupakan modal dasar pengembangan
pariwisata sejarah maupun religi. Menurut informasi masyarakat di sekitar
Surau dan Makam bila pada hari besar Islam Makam dan Surau banyak dikunjungi
peziarah, bahkan banyak yang datang peziarah dari Malaysia.
Kedua, Kumango sebagai cikal bakal pengembangan budaya non bendawi
(intangible), berupa seni beladiri silat tradisional kumango, dan tari
kontemporer. Di sisi lain, Syekh Kumango adalah tokoh yang mendirikan dan
menciptakan jurus silat Kumango. Bentuk pengelolaan yang dikembangkan muridnya
sampai sekarang masih dilestarikan di Kota Batusangkar dan tempat lainnya,
bahkan van den Boorn (Muhammad Abdul Latif) alamat Geulstraat 18, 6163 he
Geleen, Nederland salah seorang murid dari Lazuardi Malin Marajo (Da Ar Malin),
dibantu oleh salah satu murid tuonya Lesmandri dari generasi sekarang,
mendirikan sasaran silat kumango di Negeri Belanda dengan jumlah murid kurang
lebih 30orang berkebangsaan Belanda keturunan Marokko.
Dengan perguruan silat kumango ada dimana-mana, ini membuktikan bahwa
masyarakat pendukungnya masih ada, dan terus melestarikannya. Artinya benang
merahnya masih menyambung, antara Syekh Kumango sebagai tokoh (bukti
tinggalanya Makam, Surau, dan Tabek) dengan kekinian, dan merupakan upaya
pelestarian budaya tradisi , oleh perguruan seni beladiri silat kumango, dan
sanggar Tari Limpapeh yang mengambil unsur silat kumango sebagai inspirasi
geraknya. Kedua aktifitas tersebut sekarang masih terus dilakukan bersama oleh
masyarakat pendukungnya.
Dari pembahasan potensi tentang Kumango yang perlu diperhatikan adalah,
sebuah objek wisata mestinya mempunyai kesan yang mendalam baik berupa unsur
penokohan, religi, sejarah, ilmu pengetahuan, budaya, dan unsur lainnya yang
secara faktual masih dapat kita saksikan dan rasakan, sebagai tinggalan budaya
yang masih hidup dan dilestarikan. Sehingga pemahaman konsep dari hilir ke hulu
dan dari hulu ke hilir masih bisa dibuktikan, dan karena itulah wisatawan
mencarinya. Dengan kata lain, bila wisatawan ingin melihat bukti sejarah dan
kereligian Syekh Kumango, mereka bisa di bawa ke daerah atau Nagari Kumango. Di
mana Makam, Surau, dan Tabek Syekh Kumango berada. Begitu juga sebaliknya,
apabila wisatawan ingin melihat karya-karya Syekh Kumango yang sampai sekarang
masih dilestarikan oleh murid-muridnya. Wisatawan bisa kita bawa ke pusat seni
budaya tradisi (art center) di kota Batusangkar. Disana ada Sanggar Limpapeh
atau sanggar lainnya yang terus aktif berkarya, dan juga
Perguruan Silat Kumango. Minimal wisatawan mempunyai kesan masa lalu, masa
kini, dan masa akan datang sebagai sebuah kesan kenangan yang mendalam.
Konsep pengembangan tinggalan budaya bendawi (tangible).
Di Nagari Kumango terdapat Makam, Surau, dan Tabek Syekh Kumango sebagai
tinggalan budayanya. Ketiga tinggalan budaya tersebut perlu dibuatkan deskripsi
tentang sejarah Syekh Kumango sebagai tokoh agama (berangkat dari sebutan
Syekh), Surau, dan Tabek, dan juga bila perlu dilakukan pemugaran (Makam,
Surau, dan Tabek) serta penataan lingkungan.(sarana dan prasarana: jalan
lingkungan, MCK, dan lainnya). Kegiatan tersebut harus dilakukan dengan
bijaksana, artinya tidak meninggalan kaidah dan prinsip-prinsip arkelogis,
historis, dan arsitektural. Dibuatkan pula site museum (tempat benda-benda
tinggalan Syekh Kumango yang masih ada), atau duplikatnya. Hal ini dimaksudkan
untuk menyimpan benda tinggalan budaya, dan tidak menghilangkan bukti-bukti
sejarah dikarenakan mengandung nilai-nilai budaya yang tinggi. Kemudian
dilakukan upaya pelestarian melalui pemugaran yang benar, dan dilakukan
pengelolaan dengan memberdayakan masyarakat di lingkungan Nagari Kumango.
Membentuk sebuah
yayasan pengelola agar secara menejemen dapat lebih berkembang dengan sistem
dan mekanisme yang baik. Biarkan masyarakat pendukungnya yang membuat,
pemerintah dalam hal ini dinas terkait mengupayakan dan menempatkan diri
sebagai fasilitator dan motifator. Sehingga masyarakat mendapatkan nilai lebih
dari sebuah konsep pengembangan pariwisata, karena dengan melibatkannya
diharapkan masyarakat merasa memiliki. Sehingga diharapkan menumbuhkan upaya
pelestarian yang berkesinambungan oleh partisipasi masyarakat sendiri. Artinya
kita mengajak masyarakat untuk ikut terlibat dalam pelestarian, pengelolaan,
dan pengembangan sumberdaya budaya dan religi (partisipatoris)
Konsep Pengembangan Tinggalan Budaya Non Bendawi.
Konsep pengembangan tinggalan budaya non bendawi (intangible) adalah
merupakan upaya membuat wadah atau tempat pusat seni budaya anak nagari (art
center), sebagai sarana latihan dan pengembangan seni beladiri silat kumango,
dan seni beladiri lainnya, dan tari tardisional serta tari kontemporer. Di
dalam kompleks (art center) terdapat sasaran silat, tempat latihan tari, surau,
galeri, ruang informasi seni dan budaya tanah datar, tempat pemutaran film
(kegiatan seni: tari, tinggalan benda cagar budaya, pakaian tradisi, dll),
museum prasasti (duplikat), dan lain-lainnya. Masyarakat pendukung inilah yang
nantinya melestarikan budaya tradisi non bendawi yang harus diperhatikan. Sebab
bila hal ini diabaikan maka, konsep pengembangan pariwisata yang berbasis
budaya akan kehilangan makna yang sesungguhnya. Wisatawan tidak hanya butuh
yang dilihat saja, tetapi juga membutuhkan suasana keterlibatan langsung
berbaur dengan masyarakat tradisi. Baik melalui belajar silat, maupun
belajar menari. Bila mungkin terdapat makanan khas, souvenir yang merupakan
ciri khas daerah Tanah Datar di lingkungan art center. Sehingga slogan Sapta
Pesona menjadi bermakna manakala slogan tersebut dapat kita terjemahkan melalui
upaya nyata.
Merujuk pada Slogan Sapta Pesona ke 7 (Kenangan). Kenangan adalah kesan
yang melekat dengan kuat pada ingatan atau perasaan seseorang yang disebabkan
oleh pengalaman yang diperolehnya. Kenangan yang indah dan menyenangkan
tentunya akan memberikan kepuasan batin tersendiri bagi para wisatawan. Untuk
itu bagi orang-orang yang berkecimpung di industri pariwisata dalam menawarkan
wisata dan pelayanan kepada wisatawan, selalu dituntut untuk memperdulikan
kesenangan menyeluruh dari manusia dan kenangan seluruh manusia. Menawarkan
wisata sebenarnya tidak hanya menawarkan hotel dan tontonan atau benda
kenangan, melainkan menawarkan kenang-kenangan dalam arti terdalam. Mutu wisata
tidak diukur pertama-tama dengan keindahan hotelnya atau jumlah uang atau omzet
perdagangannya, melainkan jawaban atas pertanyaan,kenang-kenangan batin macam
apakah yang membekas pada wisatawan? Jawabnya, tentunya kita harus membangun
konsep pengembangan pariwisata yang berorientasi pada pemikiran
dari Hilir ke Hulu, dan dari Hulu ke Hilir sebagai upaya pengembangan
kepariwisataan berbasis kebudayaan dan religi di masa yang akan datang.
Kumango, mungkin sebuah alternatif pengembangan pariwisata budaya dan religi.
Mengingat banyak aspek pendukung telah dipunyai sebagai daerah tujuan wisata
yang mengaju pada konsep pelestarian budaya tradisi, dan pengembangannya yang
terus menerus dilakukan oleh masyarakat pendukungnya. Sekarang tinggal
bagaimana kita penulis bekerja di Balai Pelestarian
Peninggalan?mengupayakannya.(?) sumber: Purbakala Batusangkar Wilprov.
Sumbar,Riau,dan Kep.Riaudan aktif di Sanggar Limpapeh Kepustakaan:
dari http://www.tanahdatar.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=79 sep --------------------------------- Looking for earth-friendly autos? Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center. [Non-text portions of this message have been removed]