faisal Tofwandi
Sun, 22 Feb 2009 17:54:07 -0800
Sabili Edisi No. 16 Th XVI 26 Februari 2009/1 Rabiul Awal 1430H
Oleh: Eman Mulyatman
Perang panjang dengan Yahudi entah berlanjut sampai berapa generasi. Baik
Israel maupun Palestina sadar dengan hal itu. Bagaimana dengan Indonesia?
Artikel DR Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis
dari pengamatan langsung. Setelah berada tiga tahun di Israel karena menjalani
housemanship di beberapa rumah sakit disana. Dirinya melihat ada beberapa hal
yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, "Mengapa Yahudi
Pintar?"
Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari
untuk pulang ke California, terlintas dibenaknya, apa sebabnya Yahudi begitu
pintar? Kenapa Tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu
kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?
Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk PHd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui,
tesis ini memakan waktu hampir 8 tahun. Karena harus mengumpulkan data-data
yang setepat mungkin.
Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah
mengetahui sang ibu mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain
piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal
bersama suami.
Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku
matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan
Stephen suka matematika.
Stephen bertanya, "Apakah ini untuk anak kamu?"
Dia menjawab, "Iya, ini untuk anak saya yang masih didalam kandungan, saya
sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius."
Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikuti terus perkembangannya.
Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan
matematika sampai genap melahirkan. Hal lain yang Stephen perhatikan adalah
cara makan. Sejak awal mengandung sang ibu suka sekali memakan kacang badam dan
korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala
bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang.
Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan
kepala ikan mengandung kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan
dan pertumbuhan otak anak di dalam kandungan. Ini adalah adat orang-orang
Yahudi ketika mengandung. Menjadi semacam kewajiban untuk ibu-ibu yang sedang
mengandung mengkonsumsi pil minyak ikan.
"Ketika saya diundang untuk makan malam bersama orang-orang Yahudi, perhatian
utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan,
mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet)."
Biasanya kalau sudah ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama
di satu meja. Menurut mereka, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan
bersama. Salad dan kacang adalah suatu kemestian, terutama badam.
Uniknya, mereka akan memakan buah-buahan dahulu sebelum memakan hidangan utama.
Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan
buah-buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan karbohidrat (nasi
atau roti) dahulu kemudian buah-buahan, ini akan menyebabkan kita merasa
mengantuk, lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.
Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan di rumah Yahudi,
jangan sekali-kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari
rumah mereka, menyuruh Anda merokok di luar rumah.
Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat
merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya,
keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak (bodoh). Suatu
penemuan yang dahsyat ditemukan oleh saintis yang mendalami bidang gen dan DNA.
Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka
sangat memperhatikan makanan. Makanan awal adalah buah-buahan bersama kacang
badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).
Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata-rata mereka
memahami tiga bahasa yaitu Hebrew, Arab, dan Inggris. Sejak kecil mereka telah
dilatih main piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka
bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal
menjadikan anak pintar.
Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran
banyak pakar musik dari kaum Yahudi.
Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak-anak Yahudi akan diajar matematika
berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan
Stephen, perbandingan anak-anak di Calfornia, dalam tingkat IQ-nya bisa
dikatakan 6 tahun kebelakang!
"Segala pelajaran akan dengan mudah ditangkap oleh anak Yahudi. Selain dari
pelajaran tadi, olahraga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang
diutamakan ialah memanah, menembak, dan berlari. Menurut teman saya ini memanah
dan menembak dapat melatih otak memfokus sesuatu perkara disamping mempermudah
persiapan membela negara."
"Selanjutnya perhatian saya menuju ke sekolah tinggi (menengah) disini
murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan
produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap
diteliti dengan serius. Apalagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis,
dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang yang lebih tinggi."
"Satu lagi yang diberi keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh
terperanjat melihat mereka begitu agresif dan serius belajar ekonomi. Di akhir
tahun di universitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus
mempraktekkannya. Dan Anda hanya akan lulus jika tim Anda (10 pelajar setiap
tim) dapat keuntungan sebanyak US$ 1 juta! Anda terperanjat? Itulah
kenyataannya."
Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang
cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan
semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?
Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di
Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina? Terjawab sudah mengapa
agresi Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada
pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza.
Seperti yang kita ketahui, setelah lewat dua minggu, jumlah korban tewas akibat
Holocaust itu sudah mencapai lebih dari 900 orang. Hampir setengah darinya
adalah anak-anak.
Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak
bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, seusai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismail
Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah
hafidz al-Qur'an.
Anak-anak yang sudah hafal 30 juz al-Qur'an ini menjadi sumber ketakutan Zionis
Yahudi. "Jika dalam seusia muda itu mereka sudah menguasai al-Qur'an, bayangkan
20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?" demikian pemikiran yang berkembang
di pikiran orang-orang Yahudi.
Tidak heran jika anak Palestina menjadi para penghapal al-Qur'an. Kondisi Gaza
yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens
berinteraksi dengan al-Qur'an. Tak ada yang main playstation atau game. Namun
kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghapal yang masih begitu belia.
Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghapal al-Qur'an itu
telah syahid.
Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi.
Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia.
Ambil contoh tetangga kita yang terdekat, Singapura.
Contoh yang penulis ambil sederhana saja, rokok. Benarkah merokok dapat
melahirkan generasi "goblok"? Kata goblok diambil bukan dari penulis, tapi kata
itu dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti yang
menyokong teori ini. "Lihat saja Indonesia," katanya seperti dalam tulisan itu.
"Jika Anda ke Jakarta, dimana saja Anda berada; dari restoran, teater, kebun
bunga hingga ke museum, hidung Anda akan segera mencium asap rokok! Dan harga
rokok? Cuma 70 sen dolar! Hasilnya! Dengan penduduk berjumlah jutaan orang, ada
berapa banyakkah universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi?
Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri?
Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Di tangga
berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia? Adakah ini bukan
akibat merokok? Anda pikirlah sendiri?"
faisal.Cool
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
[Non-text portions of this message have been removed]