Budhi Prasetyo
10/23/2008 09:18 AM

To

cc

Subject
Saatnya Kembali ke Dinar-Dirham 





Jumat, 29 Oktober 2004

Saatnya Kembali ke Dinar-Dirham 

Penulis : yus 
Umat Islam sebenarnya memiliki mata uang sendiri yang pernah dipakai oleh 
Nabi Muhammad SAW, yakni dinar dan dirham. Keduanya terbukti tahan krisis 
dan jauh dari praktek ribawi. Namun kini dinar dan dirham tak 'dianggap' 
lagi. Bagaimana upaya umat untuk mengembalikan 'kejayaan' dua alat 
pembayaran ini?
"Berdasar sunah dan hadis, para ulama mengambil kesimpulan bahwa dinar dan 
dirham memiliki kedudukan yang sangat jelas dalam syariah Islam sebagai 
alat hitung maupun alat tukar," tegas Zaim Saidi, direktur Wakala 
Dinar-Dirham, pada acara Ceramah Ilmiah Dinar-Dirham di kantor MUI Depok, 
Ahad lalu. 
Bangsa Arab telah mengenal solidus, mata uang emas yang dipakai sejak 
zaman Romawi dan dirham perak yang dipakai bangsa Persia, sebelum Islam 
datang. Setelah Islam hadir, serta selama masa Rasulullah SAW, pemakaian 
solidus dan dirham diteruskan dan diakui dalam berbagai kegiatan ekonomi 
dan sosial. 
Seiring perkembangan zaman, lanjut Zaim, dinar dan dirham tergusur oleh 
pemakaian mata uang logam maupun kertas. Pengaruh kapitalisme pasar bebas 
kian mengukuhkan uang kertas sebagai alat transaksi resmi baik nasional 
dan internasional. Namun lantaran nilainya yang setiap saat berubah, uang 
kertas dinilai lebih banyak mudaratnya. 
Zaim lantas mengambil contoh pembayaran zakat jika menggunakan 
dinar-dirham serta uang kertas. Dijelaskan, tak satu pun ulama berbeda 
pendapat soal nisab zakat mal yang tetap sejak zaman Nabi SAW yakni 85 
gram emas. 
Selanjutnya dikatakan, zakat hanya bisa dibayar dengan benda niaga atau 
aset riil ('ayn) dan tidak dengan janji utang atau aset finansial (dayn) 
alias uang kertas. Konsekuensinya jika membayar zakat dengan uang kertas 
maka hanya diterima bila dihitung nilainya sebagai kertas, bukan 
nominalnya. 
Dan dilihat dari hakekat uang kertas yang tak bernilai, imbuh dia, 
berimplikasi serius terhadap syariah. Dengan uang kertas, yang nilainya 
setiap saat berubah, karena depresiasi, sanering atau devaluasi, status 
seseorang dapat berubah dalam sekejap. "Jika Anda yang hari ini adalah 
muzaki, boleh jadi esok menjadi mustahik karena keputusan pemerintah," 
tandas Zaim lagi. 
Kalau demikian apakah kewajiban sebagai muzaki gugur begitu saja? Krisis 
tahun 1997 adalah buktinya. Saat itu, ujar Zaim, pendapatan per kapita 
orang Indonesia turun dari 1000 dolar AS ke 400 dolar AS per 
tahun."Bukankah ini mengubah status masyarakat?" tanya dia. 
Meski begitu diakuinya tidaklah mudah untuk mengembalikan penggunaan 
dinar-dirham secara luas. Di samping karena sudah membudayanya uang kertas 
di seluruh dunia, juga hingga kini belum ada satu negara pun yang 
menjadikan dinar-dirham sebagai mata uang resmi. 
Jadilah kemudian transaksi dinar-dirham masih dilakukan dalam skala kecil. 
"Misalnya di beberapa negara, seperti Inggris, Uni Emirat Arab, Malaysia, 
sudah mulai menggunakan dinar-dirham dalam transaksi terbatas. Tentu akan 
lebih baik apabila antar negara Islam bertransaksi memakai mata uang ini," 
tuturnya. 
Lebih jauh Zaim memaparkan, dinar adalah koin emas 22 karat, 4,25 gr dan 
dirham merupakan koin perak murni 3 gr. Standar ini ditetapkan oleh 
Khalifah Umar bin Khattab. Keduanya adalah mata uang yang sangat stabil, 
terbebas dari inflasi. Adapun dinar-dirhan yang kini beredar dicetak oleh 
Islamic Mint Nusantara dan distandarisasi oleh World Islamic Trading 
Organization (WITO) yang berpusat di London. 
Menurutnya, dinar-dirham terbukti tahan krisis. Ketika krisis mata uang 
peso Meksiko tahun 1995, nilainya naik 107 persen. Saat krisis rupiah 
tahun 1995, nilainya melonjak 375 persen. Sebaliknya dengan dinar-dirham, 
sejak zaman Rasulullah SAW hingga kini, harga seekor kambing tetap 1-2 
dinar. 
"Oleh karenanya, dengan kembali memakai dinar-dirham, Anda membebaskan 
diri dan umat dari kezaliman sistem moneter dan finansial global," 
tegasnya lagi. Pada kesempatan yang sama, Ketua MUI Kota Depok, KH Achmad 
Dimyati mengharapkan secara bertahap, umat Muslim di tanah air kembali 
memakai dinar-dirham dalam kegiatan transaksi. "Kita sangat merindukan 
bagaimana umat di Indonesia dapat melaksanakan apa yang sudah dicontohkan 
oleh Rasulullah dahulu," kata dia.
http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=177004&kat_id=105&kat_id1=147
Marhaban Dinar dan Dinar

Karena dianggap kebal terhadap krisis ekonomi, sejumlah kalangan Islam 
mengusulkan agar dinar dan dirham dijadikan sebagai alat tukar pembayaran 
alternatif di samping rupiah.
Rusdi Mathari, Kun Wahyu Winasis, Nurdin Al Fahmi, Kartina Ika Sari
 
Berita hangat pekan ini adalah ide untuk mengganti rupiah dengan dinar dan 
dirham sebagi mata uang indonesia. Dan yang paling mengejutkan adalah 
sikap icmi (ikatan cendekiawan indonesia), yang menjadikan isu penggantian 
mata uang itu sebagai agenda utama dalam silaturahmi kerja nasional, 
beberapa waktu lalu. 

Jatuhnya nilai tukar, akibat tidak mampunya uang kertas rupiah menghadapi 
krisis moneter, menjadi dasar munculnya ide tersebut. ”Kami yakin, 
pemakaian dinar dan dirham sebagai alat transaksi akan menjadi solusi 
menghadapi krismon,” kata Adi Sasono, Ketua Umum ICMI. 

Ide itu makin mengemuka tatkala terbetik kabar Malaysia dan Iran, dalam 
waktu dekat ini, juga akan menggunakan mata uang dinar dan dirham sebagai 
alternatif alat tukar. ”Memang banyak masukan yang kami terima soal 
pemakaian dinar dan dirham tersebut,” kata Edi Setiawan dari Biro 
Perbankan Syariah BI. Meski tidak terlalu intensif, menurut Edi, 
kemungkinan penggunaannya sudah dikaji oleh BI. 

Pertanyaannya sekarang, apa mungkin dinar dan dirham digunakan sebagai 
alternatif pengganti rupiah? Lagi pula belum ada jaminan bahwa penggunaan 
kedua mata uang tersebut akan menjadikan segala sesuatunya lebih baik. 
Hanya saja fakta membuktikan, nilai tukar rupiah dari tahun ke tahun 
memang merosot terus. Fakta inilah, agaknya, lantas menggerakkan 
orang-orang semisal Adi Sasono dan Zaim Saidi (Direktur Eksekutif Public 
Interest Research and Advocacy Center) menggulirkan ide penggunaan dinar 
dan dirham sebagai pengganti uang kertas. 

Harga sebonggol jagung, misalnya, di awal 70-an cuma lima perak. Tapi 
sekarang itu bisa lebih dari Rp 1.000. Ini berarti, selama 33 tahun harga 
bonggol janggung telah mengalami kenaikan 200 kali lipat. Atau, dengan 
perkataan lain, rupiah yang kita belanjakan nilainya telah melorot 
20.000%. ”Sumber persoalannya bukan karena rupiahnya, melainkan karena 
sistemnya menggunakan uang kertas. Dan ini terjadi pada semua mata uang 
kertas,” tutur Zaim. 

DOMINASI DOLAR 
Zaim lalu memberi contoh nasib dolar Amerika, yang saat ini menjadi mata 
uang yang paling kuat di dunia. Dalam waktu yang sama, ternyata nilainya 
mengalami penurunan drastis. Di awal 70-an, satu troy once emas (sekitar 
31 gram) harganya sekitar US$ 35 atau US$ 1,1 per gram. Tapi, pekan ini, 
harga emas sudah US$ 322 per troy once atau S$ 10,4 per gram. Dengan kata 
lain, dalam waktu tiga puluh tahun lebih, nilai dolar AS menyusut hingga 1 
per 10 dibanding nilai semula. 

Kecuali Zaim, agaknya tak banyak orang yang berpendapat bahwa jatuhnya 
nilai tukar rupiah selama ini lebih disebabkan karena penggunaan uang 
kertas. Umumnya masyarakat menganggap kenaikan harga gila-gilaanlah 
(inflasi) yang membuat rupiah tidak ada nilainya. Inflasi memang sering 
dianggap sebagai hantu bertangan panjang yang setiap saat mencuri uang 
dari para pemiliknya. ”Kita tidak menyadari muslihat uang kertas itu, tapi 
merasakan akibatnya,” kata Zaim. 

Muslihat? Mungkin tepatnya kerugian. Soalnya uang kertas yang dikenal 
selama ini—yang didominasi dolar AS—dalam hitungan sebagian orang seperti 
Zaim, dinilai cenderung merugikan. Ambil contoh mata uang dolar Amerika. 
Untuk satu lembar kertas US$ 100, ongkos cetaknya hanya sekitar US$ 
0,03-0,04. Dengan ongkos cetak itu, dolar bisa ditukar dengan emas, kayu, 
minyak, dan apa saja. 

Tapi giliran orang asing ingin membeli produk AS dengan mata uang mereka, 
negeri yang selalu mengaku menjunjung HAM itu juga selalu menolaknya. 
Maka, mau tak mau, dunia pun kebanjiran mata uang dolar yang tidak terkait 
nilainya dengan nilai riil dari komoditi yang biasa menggunakan standar 
emas. ”Jadi ada dominasi penggunaan mata uang dolar. Inilah yang 
menyebabkan kemerosotan mata uang karena begitu banyak mata uang dicetak,” 
kata Adi Sasono kepada TRUST. 

Dalam keadaan tertentu, ketika negara menghadapi krisis moneter, misalnya, 
sering kali juga terjadi pengikisan mata uang kertas. Dengan mudah 
pemerintah bisa melakukan secara mendadak dan drastis lewat apa yang 
disebut sebagai devaluasi atau sanering. Kasus ini pernah terjadi di zaman 
Presiden Sukarno. Ketika itu uang Rp 1.000 ”digunting” menjadi Rp 1. Uang 
lantas tidak ada harganya. 
Penciutan nilai tukar seperti itu diyakini tak akan terulang lagi jika 
Indonesia memakai dinar dan dirham sebagai alternatif pengganti rupiah. 
Masalahnya, apa mungkin kedua mata uang tersebut menjadi mata uang resmi 
kedua di Indonesia? ”Ini menyangkut kepercayaan publik dan pengambil 
keputusan,” kata Edi Setiawan. 

ALAT TUKAR AA GYM 
Edi bisa jadi benar. Sebab, mengganti mata uang sebuah negara tidak 
semudah orang membalik telapak tangannya. Paling tidak itu akan 
membutuhkan waktu lama sebelum bisa diterapkan. Apalagi, sebagai bagian 
dari negara yang memakai sistem pasar kapitalistik yang mengandalkan 
kekuatan neraca pembayaran, sistem nilai tukar yang dipakai Indonesia 
selama ini masih nilai tukar kurs mengambang. ”Penerapan dinar dan dirham 
memang tidak bisa serta merta. Selain masyarakat tidak siap dengan 
perubahan yang drastis, pasarnya juga harus disiapkan,” kata Zainul 
Arifin, Direktur Eksekutif Lembaga Syariah Tazkia. 

Tapi apa benar pasar Indonesia memang tidak siap? Tampaknya tidak juga. 
Beberapa lembaga, sejauh ini, dikabarkan sudah menerapkan penggunaan dinar 
dalam sistem pembayarannya. Salah satunya adalah Baitul Mal wa Tanmil atau 
BMT Alkausar di Depok. ”Untuk membeli air mineral kelompok usaha Aa Gym, 
kami menghargai dengan satu dirham, begitu pula dengan produk lainnya,” 
kata Johny Waas, Ketua Forum Penggerak Dinar Dirham Indonesia. 

Ihwal dinar dan dirham ini sejatinya juga bukan monopoli negara-negara 
Islam. Sejumlah negara non-Islam seperti AS, Inggris, Jerman, Swiss, 
Irlandia, Australia, Meksiko, Afrika Selatan, Thailand, dan India juga 
menggunakan dinar sebagai alat tukar. Bahkan beberapa waktu lalu, di 
Jerman ada kegiatan menyosialisasikan mata uang koin emas dengan cara 
membuat kue tar paling besar dan mereka yang tertarik membeli harus 
membayarnya dengan mata uang koin emas euro (golden euro). 

Kelebihan dinar dan dirham, sebenarnya, terletak pada nilai intrinsiknya 
sesuai dengan berat masing-masing. Untuk satu dinar, berat emasnya adalah 
4,25 gram dengan kadar 22 karat, sementara dirham seberat 3 gram perak. 
Karena terbuat dari emas dan perak, nilai tukar dinar dan dirham secara 
empiris memang tetap. Dalam kurun waktu sekitar 1.500 tahun, harga seekor 
kambing tetap dapat dibeli dengan 1-2 dinar, tergantung besar-kecilnya. 

Kelebihan lain, dinar dan dirham merupakan mata uang tak berbangsa. 
Sebagai valas, dinar dan dirham dapat dipertukarkan secara langsung dengan 
valas lainnya, tanpa melalui valas ”perantara” yang selama ini 
mengakibatkan kerugian bertingkat akibat perbedaan harga kurs berjenjang. 
Sebagai alat pembayaran internasional, dinar dan dirham juga sudah 
terafiliasi dengan sistem jaringan (online) yang efisien dan sangat murah. 


Keunggulan lainnya, dinar dan dirham ternyata juga tidak mengenal cost of 
money dan terbebas dari inflasi. Juga, tak pernah terdepresiasi. Di negeri 
mana pun, emas terbukti kalis dari segala krismon. Dan bukti tentang itu, 
sudah banyak. 

Meksiko, yang pernah dihajar krismon pada 1995, bisa dijadikan contoh. 
Ketika itu, nilai emas di negeri ini naik 107% dalam waktu tiga bulan, 
sementara peso terbanting sampai 107%. Lalu, ketika krismon menghantam 
Indonesia di penghujung 1997, harga emas naik sampai 375%. Begitu juga, 
ketika 1998, rubel Rusia terbelit krisis, harga emas di sana naik 307% 
dalam waktu delapan bulan. Jadi siapkah kita membeli sebonggol jagung 
tetap seperti harganya tiga puluh tahun lalu? 

http://www.majalahtrust.com/ekonomi/keuangan/127.php



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke