-
"Nugroho " 






-----Original Message-----
From: On Behalf Of Merza Gamal
Sent: Friday, October 31, 2008 6:22 PM
Subject: Godaan Menjelang Hari Pernikahan


Sejak era 80-an pesta pernikahan seringkali dilakukan di "gedung" daripada 
di rumah. Semakin lama untuk memperoleh gedung yang dapat digunakan untuk 
acara pernikahan menjadi semakin jauh dari waktu acara akan dilakukan. 
Untuk mendapatkan tempat memakan waktu enam bulan, bahkan sampai satu 
tahun. 
Hal tersebut, tentu saja membawa pengaruh dalam persiapan mental seseorang 
yang akan menikah. 
Jika dahulu sepasang anak manusia yang mau menikah, dapat langsung menikah 
beberapa saat kemudian Karena tidak perlu memesan gedung berikut aksesori 
yang terkait dengan pesta pernikahan tersebut. Dengan demikian, seringkali 
niat suci sepasang manusia yang akan menikah menjadi tertunda untuk dapat 
melaksanakannya, bahkan terkadang niat suci tersebut terselenggara dalam 
keadaan tidak suci lagi.
 
Dalam beberapa kondisi yang penulis temukan, beberapa pasang calon 
mempelai terjebak melakukan hal-hal yang seharusnya mereka jaga 
kesuciannya sebelum akad nikah dilaksanakan akibat panjangnya waktu antara 
niat suci tersebut diikrarkan dengan waktu pelaksanaan ibadah suci 
tersebut. Kondisi yang serba permisif saat ini turut pula menambah 
kesempatan untuk melakukan hal-hal yang belum waktunya dilakukan.
 
Pernah sebuah kejadian yang penulis temukan, yakni seorang anak muda yang 
"taat" beribadah melakukan hal yang belum dibenarkan untuk dilakukan 
dengan calon isterinya beberapa hari sebelum akad dilaksanakan karena 
kondisi yang membuat mereka tidak menyadari apa yang mereka lakukan. 
Sebagaimana banyak ditemukan, semakin dekat dengan akan dilaksanakannya 
acara pernikahan, maka semakin banyak pula tekanan yang diterima. 
Sang anak muda dan calon isterinya berkeluh kesah dan saling "curhat" 
terhadap tekanan-tekanan yang mereka terima baik menyangkut segala 
"tetek-bengek" acara yang tak kunjung "beres" dan permintaan-permintan 
dari keluarga dan berbagai pihak yang cukup "memusingkan". 
Untuk saling menenangkan hati, maka mereka saling 'curhat" berduaan, mulai 
dari kata-kata hingga gerakan dan akhirnya tanpa disadari mereka telah 
jauh melangkah melakukan hal yang telah mereka jaga selama ini. 
 
Sang anak muda dengan penuh penyesalan menyampaikan "keteledorannya" 
kepada penulis. 
Dia menyesal tidak dapat menjaga kesucian niat suci mereka untuk menempuh 
kehidupan suci berumahtangga hanya beberapa hari sebelum acara suci 
tersebut dilakukan. Penulis hanya dapat menyampaikan, bahwa sesuatu yang 
telah terjadi tidak ada gunanya disesali terus menerus. 
Hanya minta ampun kepada Allah yang dapat menjadi jalan keluarnya.
 
Kejadian sepasang anak manusia yang telah berniat suci untuk mengarungi 
bahtera rumah tangga sakinah mawaddah waramah yang ternoda sebelum niat 
suci tersebut terlaksana, bukan hanya dialami oleh anak muda di atas. 
Beberapa kasus yang hampir serupa penulis temui pula pada beberapa pasang 
anak muda lainnya. 
Ada yang beberapa hari menjelang pernikahan seperti di atas, ada yang 
sebulan sebelum akad nikah dilangsungkan, ada yang dua bulan atau tiga 
bulan sebelum acara suci tersebut dilaksanakan. Mereka berbeda dengan 
pasangan-pasangan yang menikah karena "kecelakaan" dan berbeda sama sekali 
dengan orang-orang yang hidup bebas tanpa ikatan pernikahan.
 
Mereka telah merencanakan suatu kehidupan suci untuk membentuk keluarga 
sakinah mawadah waramah. Namun di tengah jalan, sebelum kehidupan suci 
tersebut mereka lalui, mereka "tanpa sadar" telah menodai kesucian niat 
suci yang mereka ikrarkan. Kondisi ini mungkin lebih berat daripada 
kondisi orang-orang yang sebelum ketemu pasangan dalam rumah tangga mereka 
telah terjerumus melakukan pergaulan bebas dengan orang lain, dan kemudian 
mereka insyaf lalu menikah dengan orang lain. Suatu perbuatan masa lalu 
yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, seringkali menghantui alam bawah 
sadar seseorang. Seorang yang melakukan perbuatan "terlarang" dengan orang 
lain mungkin tidak akan seberat orang yang pernah melakukan perbuatan 
"terlarang" dengan pasangan "syah" nya sendiri. 
Orang yang taubat dan telah melakukan perbuatan "terlarang" dengan bukan 
pasangan "syah"nya akan berkurang rasa penyesalannya karena tidak menemui 
orang yang pernah melakukan dosa bersamanya, sedangkan orang yang 
melakukan dengan orang yang saat ini telah menjadi pasangan "syah"nya 
setiap dia ingat dosanya dia akan menemui orang yang pernah bersama 
melakukan dosa dengannya.
 
Oleh karena itu, saya sering menghimbau kepada pasangan-pasangan muda yang 
telah merencanakan pernikahan mereka, tetapi dilakukan dengan jarak waktu 
yang cukup panjang karena berbagai macam "persiapan" yang harus dilakukan 
sebelum pernikahan itu sendiri dilakukan, untuk menjaga diri mereka untuk 
tidak terlalu sering berdua-duaan karena syetan tidak pernah rela melihat 
anak manusia hidup dengan kesucian. 
Banyak dari mereka yang merasa yakin bahwa mereka cukup kuat dengan iman 
yang dimiliki. Namun pada akhirnya, anak-anak manusia yang yakin dengan 
keimanan mereka tadi, tidak sedikit yang terjerembab menodai ikrar suci 
yang akan mereka laksanakan. Oleh karena itu, Al Qur'an secara tegas 
menyatakan bahwa jangan kau dekati zinah. Jadi bukan hanya zinah yang 
dilarang. 
Berdua-duaan di tempat yang tak terawasi merupakan pintu untuk mendekati 
zinah bahkan zinah itu sendiri.
 
Ketaatan beribadah seseorang tidak menjadi jaminan, bahwa syetan tidak 
akan menggoda mereka. Semakin kuat iman seseorang akan semakin kuat syetan 
yang diutus untuk menggoda anak manusia yang sedang berdua-duaan sebelum 
ikrar suci mereka terlaksana. 
Akhirnya penyesalan datang karena mereka tidak sempat menikmati malam 
pertama mereka nan suci. 
Kondisi tersebut ibarat seorang yang berpuasa sedang menunggu bedug 
maghrib, tetapi tergoda menikmati makanan yang disiapkannya untuk berbuka 
puasa menjelang azan maghrib berkumandang. 
Nauzubillah min zalik.
MERZA GAMAL
( Tulisan ini kupersembahkan untuk "anak-anakku" yang sedang menanti 
pelaksanaan ikrar suci mereka )
 
 
 

 
 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "aga-madjid" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke
[email protected]
Untuk bergabung dengan grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/aga-madjid?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke