BUDAYA


Eileen Rachman & Sylvina Savitri


EXPERD


One-day Assessment Centre


Ditayangkan di KOMPAS, 5 September 2009





Ribut-ribut mengenai produk budaya yang diaku-aku oleh negara lain
tampaknya tidak berhenti sampai di sini. Pertanyaannya: Apakah upaya
mempatenkan produk budaya benar-benar bisa menjawab masalah kita
secara efektif? Bayangkan untuk satu daerah saja, berapa jumlah tarian
dan lagu rakyat yang ada? Berapa banyak pakaian tradisional per pulau?
Apa saja makanan yang betul-betul khas daerah tertentu? Dengan begitu
luasnya wilayah negara kita dan jumlah pulau yang lebih dari 17.500
buah, bagaimana kita menjaga budaya dari berbagai suku bangsa, adat
kebiasaan, kepercayaan serta keyakinan yang berbeda-beda? Belum lagi
bila kita memikirkan masalah kebangsaan dan patriotisme.

Saya merasa tertampar, menyaksikan sebuah sekolah berafiliasi
internasional yang justru memulai setiap kegiatan formalnya dengan
berdiri tegak dan khidmat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Bagaimana dengan kita? Banggakah kita saat berdiri dengan sikap
sempurna dan hormat bendera? Sudahkah kita menjaga rasa kebangsaan
putra putri kita dengan benar? Apakah anak cucu kita masih hafal luar
kepala dan fasih menyanyikan 7 lagu wajib negara kita? Kalau
keadaannya demikian, bagaimana nantinya bila negara tetangga
menyanyikan lagu "Satu Nusa Satu Bangsa" sebagai "jingle"
pariwisatanya?

Apakah Budaya itu?

Seorang ahli, D'Andrade (1996) menyatakan bahwa  budaya adalah produk
sosial yang  tumbuh secara otomatis. Prosesnya tidak  teraga,
ditransfer secara turun temurun dan merupakan sumber daya yang
mewarnai kehidupan terkini kita. Kita tahu, produk-produk sosial
seperti peraturan, hukum, kebiasaan-kebiasaan, sistem dan prosedur
serta keyakinan-keyakinan adalah bentuk budaya. Produk yang teraga
seperti berbagai bentuk arsitektur,  becak, buku, bangunan dan keris
serta beribu macam artifak lainnya juga adalah hasil dari
praktek-praktek kultural yang terkadang sulit ditelusuri asal usulnya,
tetapi langsung bisa menggambarkan kecanggihan pemikiran, perasaan dan
kemudian  dibuat atau dipraktekkan saja.

Ada seorang ahli menyamakan budaya dengan sebuah taman. Taman itu
berpagar dan di luar pagar itu, budaya sudah tidak berlaku. Katakanlah
sebuah keluarga yang membudayakan doa sebelum makan dan tidur, akan
mempunyai kebiasaan doa yang kuat, padahal di rumah tetangga
barangkali budaya berdoa itu sama sekali tidak ada. Satu langkah
beranjak dari pulau Bali, kita sudah bisa merasakan hilangnya kekuatan
atmosfir yang magis dari pulau tersebut. Taman yang kita miliki, bila
tidak dipelihara, tidak ditata dan tidak dikembangkan tentunya akan
berbentuk teritori ekologi yang tidak bisa diidentifikasikan dengan
jelas, samar dan tidak bisa dinikmati.

Bayangkan tumbuhnya  industri  sepatu di Cibaduyut  yang menyebabkan
satu kampung pandai dan trampil membuat sepatu berkualitas Itali.
Begitu juga industri tas di desa Tanggul Angin sebelum kejadian
semburan lumpur. Ini juga adalah produk budaya industri, walaupun
belum berakar dan baru timbul beberapa tahun terakhir saja. Namun,
bila dikembangkan terus, maka 100 tahun mendatang, orang sudah tidak
bisa menelusuri kembali kecanggihan dan komplikasi pekerjaan dan
fase-fase  cara pikir para pengrajin ini. Bukankah ukir-ukiran buah
kayu di Bali adalah desain seorang artis penting, di dua dekade
terakhir, yang kemudian dibudidayakan di beberapa kampung di Bali
secara masal dan trampil? Ini membuktikan pada kita bahwa budaya, asal
kita niat, bisa kita tumbuh kembangkan dan mantapkan secara lentur dan
kreatif.

Bukan Sekedar Dilindungi, tapi Diperkaya

Kita tahu perkumpulan ibu-ibu orang asing belajar dan mendalami
kegiatan membatik secara serius. Sekolah internasional pun sengaja
mendatangkan 'mbok-mbok'  'dosen' batik tulis dari Jawa Tengah untuk
mengajarkan batik pada murid-muridnya. Apa reaksi kita bila anak-anak
orang asing ini kemudian lebih fasih meraba, membedakan, merasakan dan
menikmati  motif truntum dari kawung, parangan, sidomukti atau latar
putih?

Seorang ahli mengatakan "culture is not developed. It s accumulated".
Bisa kita bayangkan sendiri bila kita sebagai rakyat Indonesia, tidak
memelihara sendiri apa yang sudah pernah dikembangkan, diciptakan oleh
generasi-generasi yang lalu. Mungkin kebanyakan dari kita pun akan
tidak bisa mengenali yang mana kostum tarian pendet, legong keraton
ataupun legong Abimanyu. Padahal yang namanya budaya, jauh dari
sekedar "knowledge'  mengenai kostum. Budaya justru terlihat pada
latihan-latihan teratur di sanggar-sanggar atau bale-bale banjar
dengan gamelan seadanya atau bahkan dengan suara pengajarnya saja,
tetapi menggema ke seluruh lingkungan hingga menggetarkan hati dan
menimbulkan rasa sakral? Bukankah sekolah-sekolah kita juga belum
mewajibkan kita untuk mengenali, apalagi menguasai, menarikan,
menikmati dan bahkan mengembangkannya? Berapa banyak sanggar tari
Bali, Jawa atau Minang di Jakarta? Dan seberapa setia murid-muridnya
mengikuti dan menikmati langgam gerak lagu sehingga pada akhirnya
menjadi dosen di sanggarnya, bahkan PhD tarinya sekelas almarhum Ibu
Reneng dengan tari Pendetnya?

Perlu kita sadari bahwa budaya adalah medium  dan sumber daya dalam
kehidupan kita. Hanya melalui budaya kita bisa merasakan kekayaan
hidup material maupun non material. Budaya yang kaya bisa kita temukan
pada masyarakat yang memang berupaya memperkaya gaya hidupnya, bertata
karma, berbahasa halus, berseni dan berkuliner secara canggih dan
kontinu. Produk budaya baru bisa dihasilkan bila ada mediasi interaksi
antara biologi, psikologi manusia dan pengalaman manusia dengan
lingkungannya. Selanjutnya, produk budaya hanya bisa dinikmati bila
teranyam dalam interpretasi, persepsi, penalaran dan ekspresi yang
intensif. Mediatornya itulah yang sering kita sebut sebagai budayawan,
arsitek, penulis lagu, koreografer, pengrajin, artis, penyair  penulis
atau  penari. Bagaimana dengan kita-kita yang tidak diberi talenta
mediasi ini? Kitalah sesungguhnya yang punya peran penting untuk
berkontribusi dengan mempelajari, membaca, menghargai, mengkonsumsi,
berusaha mengerti, mendalami, menghayati, memainkan, mempraktekkan,
menikmatinya dan memperkenalkannya kepada generasi penerus kita,
secara persisten dan "all out".


EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax.  021-7590 6442
http://www.experd.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke