BELI PENDAPAT




Eileen Rachman & Sylvina Savitri


EXPERD


ASESSMENT CENTER

Ditayangkan di Kompas, 6 Juni 2009


Banyak orang datang pada kami dengan keluhan 'tidak di dengar'. "Kalau
saya yang bicara, sering tidak didengar, bu.", "Lebih baik orang luar
atau pakar saja yang bicara...". Biasanya yang langsung saya
pertanyakan adalah kemampuan presentasi atau persuasinya. Sudahkah
kita mempresentasikan pendapat dan ide dengan taktis, dalam 'timing'
yang tepat?

Di sisi lain, memang kita juga melihat sendiri, sekeras-kerasnya dan
sejago-jagonya seseorang 'menjual' pendapatnya, si pendengar bebas
100% untuk memilih apakah akan 'membeli' atau 'mengacuhkan' pendapat
yang ia dengar. Tak jarang kita lihat, orang heboh berdemo, menulis di
media, memasang iklan dan spanduk atau kampanye habis-habisan, namun
tetap saja si pendengar, meskipun manggut-manggut, tidak bergeming,
tidak mengambil keputusan, cuek saja. Persis peribahasa, Anjing
mengonggong, Kafilah berlalu. Pertanyaannya, bisakah kita hidup happy
dengan menutup telinga atas pendapat, usulan dan masukan orang lain?
Sejauh mana kita perlu mem-"buy-in" pendapat orang lain?

Keyakinan itu Manusiawi

Pemberitaan mengenai korupsi atau perkara pidana yang demikian
berbelit-belit, terbolak-balik, sering kali memang membuat kita jadi
begitu sulit untuk 'buy-in' atau percaya pada fakta yang dipaparkan,
baik di media masa atau bahkan diungkapkan secara resmi oleh otoritas.
Tingginya angka 'golput' juga seakan menggambarkan betapa individu
makin sulit untuk digugah dan sulit diajak 'bergerak'. Orang semakin
sulit diyakinkan dan sulit diajak untuk percaya pada orang lain.
Ketidakyakinan terhadap ide, ajakan atau kampanye ini dilatarbelakangi
oleh logika individu. Ini terjadi ketika kita sudah dewasa,terutama
setelah mengalami naik-turun dalam memupuk keyakinan kita. Padahal
sejak baru lahir, manusia dibekali baik secara emosional maupun secara
biokimia, kemampuan untuk meyakini dan mempercayai individu yang ada
di dekatnya.

Hasil riset menunjukkan bahwa kebanyakan orang lebih meyakini orang
yang punya kualitas dan latar belakang sama dengan dirinya. Individu
juga cepat mempercayai orang yang mempunyai pendapat sesuai dengan
harapan atau ramalannya. Orang ternyata juga cenderung sangat meyakini
penilaiannya sendiri. Dalam suatu penelitian yang dibuat  terhadap
sekelas mahasiswa MBA, ditemukan bahwa 77% populasinya meyakini bahwa
pendapat dirinya mengenai kualitas rekan sekelas dinilainya 90% benar.
Ini berarti, individu cenderung sangat meyakini penilaiannya sendiri.
Sekali ia percaya pada sesuatu, ia tidak mau repot-repot mengecek
keyakinannya kembali. Sebaliknya, begitu ia tidak percaya pada
sesuatu, ia juga cenderung tetap pada pemikirannya. Keadaan seperti
ini, sebetulnya dapat kita golongkan dalam kesalahan persepsi.
Bayangkan, apa jadinya situasi kerja, dinamika politik, perkembangan
tim bisa berjalan dengan baik, bila kita mempunyai hambatan dalam
mempersepsi pendapat dan pikiran orang lain? Bukankah  di masa di mana
koalisi, kerja sama, kerja tim sudah demikian memburuk kita perlu
bersama-sama berpikir keras untuk membuat keyakinan kita pada orang
lain "back on track"? Bila rasa percaya tidak kita pupuk, bagaimana
kita mau mendelegasi, bekerja sama, mengambil tindakan beresiko,
membina hubungan bisnis bahkan memilih presiden?


Uji Obyektivitas

Teman saya sangat jago berbisnis. Orang-orang mengatakan ia punya
indera ke enam dalam menjalankan bisnis. Namun, dalam mengembangkan
tim, bahkan organisasi, ia banyak sekali mementahkan dan tidak percaya
pada pendapat orang lain. Bila sudah tidak suka pada seseorang, hampir
pasti ide orang tersebut, meskipun bagus, akan ditolaknya. Banyak
proposal yang 'mental', sebelum selesai dipresentasikan. Lama-kelamaan
orang-orang tidak berminat untuk mengemukakan ide dan gagasannya.
Bukankah hal ini merugikan dirinya sendiri?


Untuk menumbuhkan rasa percaya, memupuk keyakinan, kita perlu sesekali
memeriksa diri dan mengevaluasi siapa saja orang yang selama ini kita
percaya dan siapa yang tidak kita percaya. Keyakinan kita ini bisa
saja salah. Untuk itu, kita perlu mengecek pada orang yang 'netral',
untuk melihat apakah penilaian dan keyakinan kita cukup obyektif.


Orang yang secara ekstrim "tidak percaya-an" pasti lebih sulit maju
daripada orang yang bisa bersikap terbuka terhadap masukan. Pada tahun
80-an, perusahaan komputer, Hewlett Packard (HP), mulai memberi
fasilitas pada karyawan untuk membawa pulang peralatan kerja ke rumah,
termasuk hari sabtu dan minggu. Hasilnya, selain produktivitas
karyawan meningkat, uang lembur tidak membengkak, HP pun jadi dikenal
sebagai perusahaan yang mengembangkan 'rasa percaya' di lingkungan
karyawannya. Kehidupan yang dibumbui sikap terbuka akan keberbedaan
dan keinginan untuk memahami pendapat orang, pastilah lebih
menyenangkan dibandingkan kehidupan yang belum-belum sudah  tidak
'buy-in' pendapat orang.

Kritis Mempertanyakan

Sikap menutup diri, tidak mau percaya, tidak mau berpihak, memilih
untuk 'golput', sebenarnya adalah pertanda bahwa hidup kita sudah
tidak berkembang lagi. Bayangkan, apa jadinya bila kita sudah tidak
mau susah-susah mempertanyakan fakta, pendapat atau dilema untuk
diolah ke dalam pemikiran kita? Ini seperti hidup, tapi sudah tidak
punya rasa lapar lagi.

Individu yang ingin senantiasa aktif dalam kehidupan sosial, terutama
di dunia kerja, perlu menjaga kebugaran mentalnya dengan selalu
mempertanyakan apa yang ada di depan matanya. Dengan mempertanyakan
dan mengolah informasi yang kita terima, kita punya bahan untuk
mempertebal keyakinan. Inilah yang membuat kita tidak merasa sendirian
di lingkungan sosial dan memperkokoh pendirian kita. Bukankah
mempertebal keyakinan adalah proses untuk menjadi lebih dewasa dan
bijaksana?

EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax.  021-7590 6442
http://www.experd.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke