Penyakit Tidak Bisa Berhenti Orgasme

*Nurul Ulfah* - detikHealth

[image: img]
*(Foto : Glamour)*
*Washington,* Di saat banyak perempuan kesulitan menacapi orgasme, seorang
gadis justru merasa tersiksa karena mengalami penyakit tidak bisa berhenti
orgasme. Kisah nyata ini dialami oleh seorang perempuan Amerika yang
memiliki penyakit Persistent Genital Arousal Disorder (PGAD).

Penyakit ini mengakibatkan seseorang tidak bisa berhenti orgasme dan menahan
rangsangan orgasme, bahkan di saat kondisi non-seksual sekalipun. Dikutip
dari *Boingboing*, Kamis (15/10/2009), perempuan Amerika yang dirahasiakan
namanya, menceritakan kisah dan penderitaannya mengidap penyakit PGAD.

"Saya melakukan orgasme pertama kali saat berumur 17 tahun. Ketika itu saya
sedang duduk di bangku sekolah, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang
hangat dan merangsang bagian kewanitaan saya. Rasanya seperti ada seseorang
yang meremas bagian itu dan saya pun mulai terangsang," ujar wanita itu.

Ia mengatakan bahwa rangsangan itu membuatnya nyaman dan senang tapi juga
takut dan bingung. Rangsangan orgasme spontan itu pun dialaminya beberapa
kali dalam sehari dan lama kelamaan semakin parah.

"Menjelang semester ke-2 saya kuliah, saya coba menghitung dan mencatat di
selembar kertas berapa kali orgasme yang saya lakukan. Dan ternyata saya
melakukannya 100 hingga 200 kali setiap harinya. Ketika rangsangan itu
muncul, saya selalu lari dan sembunyi di kamar mandi untuk melakukan hal itu
dan menenangkan diri," tuturnya.

Orgasme yang ia rasakan membuatnya sangat depresi dan tidak bisa
konsentrasi. "Saya tidak tahu apa yang salah dengan saya. Saya sering
menangis, sembunyi di kamar mandi dan menjadi sangat protektif terhadap
privasi sendiri," imbuhnya.

Ketika ia mencoba menjelaskan pada orang lain tentang kondisinya, mereka
justru mengolok-oloknya dan mengatakan, 'Kamu sangat beruntung, saya mau
kencan denganmu'. Bahkan seorang psikiater di kampus menganggapnya gila.
Akhirnya ketika tingkat 2, ia memutuskan membeli alat vibrator dan
mengonsumsi obat penenang.

Suatu hari pada tahun 2003, sang perempuan menemukan sebuah artikel dari the
Boston Globe tentang penemuan sebuah penyakit yang disebut dengan Persistent
Sexual Arousal Syndrome (PSAS).

"Ketika saya membacanya, saya menangis histeris karena gejala yang
disebutkan sama dengan yang saya alami. Saya pun langsung membuat janji
bertemu dengan institusi yang memuat artikel itu," tuturnya.

Awalnya para dokter menganggapnya mengidap penyakit delusional hypochondriac
atau halusinasi berlebihan. Namun setelah dilakukan tes, ternyata ia memang
benar-benar mengidap PSAS atau PGAD.

Penyakit ini sering disebut juga sebagai penyakit hipersensitif pada bagian
kemaluan. Ada yang mengatakan bahwa penyakit ini diakibatkan karena infeksi
jamur pada organ kewanitaan, ada juga yang mengatakan penyakit ini
berhubungan dengan masalah psikologi, namun belum ada bukti cukup tentang
hal itu.

"Memiliki penyakit ini bagaikan memiliki detak jantung tambahan di bagian
bawah. Dorongan dari bawah itu akan naik ke otak dan mengganggu pikiran.
Mungkin ini yang dirasakan pria-pria saat terjadi ereksi," ujarnya.

Tak hanya menderita karena penyakitnya itu, sang gadis pun harus menanggung
beban mental karena orang tuanya tidak mau mengerti dengan keadaannya. "Ibu
saya sangat kolot. Ia paling tidak suka mendengar kata orgasme, bahkan ia
menganggap saya kotor karena menemukan beberapa vibrator di kamar. Ia tidak
mau mengerti keadaan saya," jelasnya.

PSAS adalah penyakit gangguan seksual yang sangat kompleks. Ia tidak hanya
muncul ketika menonton film porno atau melihat sesuatu yang merangsang. Tapi
ia bisa muncul kapan saja, bahkan dalam kondisi biasa-biasa saja.

"Melihat film porno tidak membuat saya terangsang, tapi ketika seseorang
menepuk bahu hasrat itu justru muncul. Saya tidak bisa memprediksi kapan
hasrat itu muncul. Untuk mengatasinya, saya menghindari olahraga dan
menambah berat badan karena kata orang bisa mengurangi hasrat seksual,"
ujarnya.

"Saat ini saya berusia 24 tahun dan sudah banyak belajar mengendalikan
penyakit ini. Saya menemukan bahwa olahraga joging dan dansa bisa
mengendalikan saya lebih baik. Saya punya kekasih tapi saya belum pernah
berhubungan seks dengannya selama 6 tahun berpacaran. Meskipun kondisi saya
seperti ini, tapi dia sangat sabar dan selalu menenangkan saya," tuturnya.

Penyakit PSAS saat ini masih diteliti dan diganti namanya menjadi Persistent
Genital Arousal Disorder (PGAD) untuk menghindari stigma miring tentang
penyakit ini. Secara resmi penyakit ini akan dipublikasikan dalam the
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders pada tahun 2012 dan
studi pengobatannya pun masih diteliti hingga saat ini.

"Penyakit ini muncul tiba-tiba dalam hidup saya dan berharap bisa hilang
dengan sendirinya pula. Meskipun saya tidak yakin hal itu bisa terjadi, tapi
saya akan berusaha melakukan apa saja untuk mengatasi penyakit ini," ujar
sang gadis yang tertunda 2 tahun kuliahnya karena penyakit tersebut.

Salam,


Rochmad Sigit.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke