Hik..hik.hikkkkkkkkk

 

Rgd.

fathu

  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Asean, Anthonius
Sent: Wednesday, February 24, 2010 8:54 AM
To: [email protected]
Subject: ~ aga ~ Sharing - DI BUTUHKAN ITU NIKMAT RASANYA -syediiiih

 

DI BUTUHKAN ITU NIKMAT RASANYA ... !!! 

  _____  

Di Bulan September, saya pindah kerja di sebuah perusahaan. Meja kerjanya
disekat semua, jadi tidak bisa kelihatan satu sama lainnya. Tapi jika orang
di sebelah sedang bicara di telepon akan terdengar sangat jelas.

Rekan sejawat yang duduk di sebelah kiri saya kelihatannya adalah seorang
pria yang sangat 'lengket' dengan istrinya.

"Istriku, malam ini saya ingin makan daging kecap", katanya suatu hari.
"Istriku, kemejaku yang warna abu - abu dengan motif kotak - kotak apa sudah
disetrika? Besok baju itu akan aku pakai", katanya lagi di lain kesempatan.
"Istriku, saya lagi pingin makan kue bawang buatanmu", katanya di kesempatan
yg lain lagi.

Suara yang sengaja direndahkan, tanpa diduga justru menjadi sangat lembah
lembut. Diam-diam saya tertawa dalam hati, pria tersebut sedang
bermanja-manja dengan istrinya. Jika seorang pria berkelakuan seperti
seorang anak kecil yang minta dimanjakan, wanita dipastikan akan mengangkat
kedua tangannya tanda menyerah.

Tak dapat dihindari, secara diam-diam saya mulai memperhatikannya. Dia
adalah seorang pria paruh baya yang sangat biasa. Walaupun dalam karirnya
tidak ada sesuatu prestasi yang menonjol, namun kehidupan dalam keluarganya
bisa dipastikan dikelolanya dengan sangat sukses. Istrinya pastilah seorang
wanita yang bertipe keibuan.

Dia sangat rajin menelepon istrinya, pembicaraannya selalu sambung
menyambung dan tak pernah terputus, dan pada akhir kalimat ia selalu
mengajukan permintaan, yang meminta istrinya untuk mengerjakan ini dan itu.
Sungguh-sungguh seperti seorang pria yang sangat dimanjakan. Pada saat jam
kerja, tiba-tiba terpikirkan olehnya untuk segera mengangkat telepon dan
menelepon istrinya. Jika dilihat dari mimik wajahnya selagi menelepon, bisa
dilihat bahwa selama ini istrinya tidak pernah menolak terhadap apa pun
permintaannya yang sangat rinci, sebaliknya justru dilakukannya dengan
senang hati.

Setelah akrab, saya menertawainya, "Bapak sungguh keren, telah mempersunting
seorang istri yang berbudi luhur." Dia ikut tertawa, "Benar, benar." Suatu
hari minggu, saya ke rumah sakit untuk mengambil obat karena saya sakit
tenggorokan. Di luar dugaan saya telah bertemu dengan pria itu dan istrinya.
Ternyata istrinya bukanlah tipe seorang wanita cerdik dan cekatan seperti
yang selama ini saya bayangkan. Sebaliknya dia adalah seorang yang kurus
lemah, lesu bagai pesakitan. Setelah menyapa dengan sopan, ia memapah
istrinya dengan sangat hati-hati lalu berjalan pergi. Dokter yang melayani
saya mengenal mereka, dokter tersebut pun berkata, "Istrinya telah mengi-dap
kanker selama dua tahun, waktu mereka mendapati kenyataan ini kanker
tersebut sudah sampai pada tahap akhir, sisa waktu hidupnya hanya tinggal
1/2 tahun saja. Untung tekadnya untuk bertahan hidup sangat kuat. Di luar
dugaan istrinya berhasil bertahan melewati dua tahun, tapi tubuhnya kian
hari kian parah, tidak tahu ia masih dapat bertahan berapa lama lagi."
Dokter menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepa-la, hati saya
terbenam.

Sejak saat itu, jika mendengar beliau menelepon, di dalam hati saya ada
semacam amarah yang sulit untuk dibendung. Pria ini sungguh keterlaluan,
istrinya sudah sakit sedemikian parah, dia masih setiap hari memerintah
istrinya untuk bekerja, apakah hati pria ini sedemikian kasarnya, atau
memang keras seperti batu?

Dengan pena merah ia membuat bulatan pada suatu tanggal di kalender. Beliau
berkata, "Ulang tahun istri saya yang ke 35 akan segera tiba." Dia meminta
saya untuk memberi ide, apa sebaiknya yang akan diberikan pada istrinya
sebagai hadiah ulang tahun.

Bunga mawar, kue ulang tahun, uhh. Terlalu kuno, tidak ada ide yang baru.
Cincin berlian, jangan. Tidak cukup uang untuk membelinya, ia
mempertimbangkan dengan serius. Saya akhirnya tidak dapat menahan diri lagi,
sebuah ucapan menerjang keluar dari mulut, "Anda ini, apa pun tidak perlu
diberikan, mulai saat ini jangan lagi menyuruh-nyuruh istri anda, biarkan
saja istri anda melewati hari-harinya dengan santai, itu sudah cukup."

Beliau menolak sambil tertawa, "Mana bisa begitu. Dia adalah istri saya,
kalau saya tidak menyuruhnya, lalu saya harus menyuruh siapa lagi?"

"Istri anda akan segera tiba ajalnya, dan anda masih menyuruhnya mengerjakan
ini dan itu, anda ini lelaki atau bukan? Masih adakah kasih sayang anda
terhadap istri anda?" Di dalam ekspresi mata saya yang penuh dengan hinaan,
lelaki yang ada di depan saya ini sungguh berwajah sangat menyebalkan.

Senyuman yang terdapat di wajahnya sirna perlahan-lahan, lalu ia berkata
dengan perlahan, "Apakah anda merasa bahwa hanya dengan berkorban demi
seseorang barulah dapat dikatakan cinta? Sebenarnya menuntut seseorang
melakukan sesuatu juga merupakan suatu wujud cinta. Tak lama setelah saya
tahu istri saya sakit, yang saya pikirkan adalah waktunya di dunia ini sudah
tidak lama lagi, biar bagaimana pun juga saya tidak mau ia bekerja keras
demi aku. Saya melarangnya melakukan pekerjaan rumah apa pun, saya hanya
berpikir agar ia dapat makan yang enak, pergi pesiar ke tempat-tempat yang
diinginkannya, dan bisa beristirahat dengan baik. Akan tetapi keadaan
tubuhnya kian hari kian buruk. Istri saya berkata pada saya, bahwa ia
merasakan bahwa hidup seperti seseorang yang tidak berguna sama sekali tidak
ada artinya baginya untuk terus hidup, akan lebih baik untuk pergi lebih
cepat. Saya katakan bahwa saya tidak akan membiarkannya pergi, saya masih
belum puas menikmati daging kecap buatannya. Sejak saat itu saya menuntutnya
seperti biasa, memintanya untuk mengerjakan ini dan itu bagi diri saya, air
mukanya perlahan-lahan kelihatan menjadi lebih segar. Sejak saat itulah saya
baru memahami, mencintai seseorang, bukan hanya memberikan (berkorban), tapi
juga harus saling membutuhkan."

"Maka dari itu saya mengatakan pada istri saya, saya minta dia untuk
menyetrika kemeja saya, saya ingin minum sup buatannya. Tahukah anda apa
kata istri saya? Di saat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia pun
tetap akan memasak beberapa macam masakan kesukaan saya untuk disimpan di
dalam lemari es. Merasa dibutuhkan oleh seseorang adalah merupakan suatu
kebahagiaan tersendiri. Saya hanya memikirkan bagaimana saya dapat memuaskan
kebahagiaan yang didambakan istri saya itu. Mengertikah anda? Karena
mencintai, maka akan selalu saling menuntut. Jika mencintai seseorang,
berilah kesempatan kepadanya agar bisa mencintai anda."

Suaranya agak terisak. Dan saya, sampai saat itu, baru mengerti cara untuk
menyatakan cinta dari sisi yang berbeda. Akhirnya saya memahami, jika benar
- benar mencintai seseorang, maka seharusnya anda dapat membuatnya merasa
bahwa dirinya sangat dibutuhkan oleh anda, beri dia kesempatan untuk
mencintai anda. 

 

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke