السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
semoga bermanfaat
wass...zainal

 KETIKA NIKMAT BERUBAH MENJADI AZAB

Betapa banyak dan besar nikmat yang telah Allah subhanahu wata’ala 
anugerahkan kepada kita. Oleh karena itu, sepantas nyalah kita mensyukuri 
hal itu. Namun ada kalanya manusia lupa setelah dianugerahi nikmat-nikmat 
tersebut lalu menjadi kufur. Bila demikian halnya, dapatkah nikmat 
tersebut berubah menjadi azab dan bencana? Kapan dan bagaimana? Mengapa 
para pelaku dosa dan maksiat, khususnya orang-orang kafir hidup dalam 
kesenangan seakan seisi dunia dan segala jenis kebaikan tumpah ruah untuk 
mereka? Lalu bagaimana nikmat bisa hilang dari genggaman seorang Mukmin.? 

Nikmat Berubah Menjadi Azab dan Bencana 

Bila ditanyakan, “Dapatkah nikmat berubah menjadi azab dan bencana? Maka 
jawabannya secara pasti, 'Ya.!' 

Sedangkan kapan dan bagaimana? Maka hal itu dapat terjadi bila kita tidak 
pernah bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala. 

Oleh karena itu, di antara doa yang sering diajarkan Nabi shallallahu 
‘alaihi wasallam adalah doa yang artinya, "Ya Allah sesungguhnya aku 
berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat, dari azab yang datang 
tiba-tiba, berubahnya keselamatan yang diberikan oleh-Mu dan dari semua 
kemurkaan-Mu." (HR. Muslim). 

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Sesungguhnya Allah subhanahu 
wata’ala memberikan kesenangan dengan nikmat kepada siapa saja yang Dia 
kehendaki; bila mereka tidak bersyukur, maka Dia akan membalikkannya 
menjadi adzab." 

Abu Hazim rahimahullah berkata, "Setiap nikmat yang tidak dapat 
mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala, maka ia adalah bencana." 


Nikmat akan abadi bila disertai dengan rasa syukur dan keta'atan sedangkan 
ia akan hilang karena perbuatan-perbuatan maksiat, keji dan pembangkangan 
terhadap Allah subhanahu wata’ala. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah 
berkata, "Kaitkanlah nikmat-nikmat Allah subhanahu wata’ala dengan 
ungkapan rasa syukur kepada-Nya." 

Syubhat Pelaku Dosa dan Maksiat 

Terkadang ada orang yang berkata, mengapa kita selalu melihat orang-orang 
fasiq yang bergelimang dosa dan maksiat dilimpahkan kepada mereka 
kesenangan dunia dan seisinya, kebaikan mengalir deras kepada mereka.? 
Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, mari kita dengar penjelasan Sayyid 
asy-Syakirin (penghulu orang-orang yang pandai bersyukur) dan imam 
orang-orang yang bersabar, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau 
bersabda, "Bila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hamba dunia 
dan apa yang ia sukai, padahal ia melakukan berbagai perbuatan maksiat, 
maka itu hanyalah 'Istidraj' (perdaya) dari-Nya." (HR. Ahmad dan 
al-Baihaqi, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani) 

Ketika mengomentari firman-Nya, artinya, “Maka serahkanlah (ya Muhammad) 
kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur'an). 
Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah 
kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. al-Qalam: 44). 
Sufyan rahimahullah berkata, "Yakni melimpah kan beragam nikmat kepada 
mereka dan menghalangi mereka untuk bersyukur." 

Demikian juga firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat Hud, ayat 102, 
artinya, 
Dan begitulah azab Rabbmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri 
yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi 
keras.” 

Allah subhanahu wata’ala memperdaya orang yang membangkang dan berpaling, 
meng ulur-ulur baginya akan tetapi Dia tidak pernah melalaikannya!! Jadi, 
nikmat berubah menjadi azab dan bencana, kemenangan berubah menjadi 
kekalah an dan kegembiraan berubah menjadi kesedihan bila kita tidak 
bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar nya atau 
sesuai dengan kemampuan.! 

Bagaimana Nikmat Dapat Hilang? 

Nikmat hilang karena beberapa hal: 
Pertama, Perbuatan maksiat dan dosa, membalas nikmat dengan hal yang 
membuat Allah subhanahu wata’ala menjadi murka. Bila mendapat nikmat Allah 
subhanahu wata’ala, maka jagalah sebab perbuatan maksiat dapat 
menghilangkan nikmat. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur'an dan hadits Nabi 
shallallahu ‘alaihi wasallam yang menegaskan hal itu, di antaranya, 
firman-Nya, artinya, 
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan 
tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari 
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." 
(QS. ar-Rum: 41). 

Dan firman-Nya, artinya, "Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari 
(kesalahan) dirimu sendiri" (QS.an-Nisa':79). Dan ayat-ayat lainnya. 

Apakah termasuk bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas nikmat 
ilmu, misal nya, jika menyembunyikannya, tidak mengajarkannya kepada 
manusia dan tidak mengamalkannya? Apakah termasuk bersyukur kepada Allah 
subhanahu wata’ala atas nikmat kesehatan, mengerahkan segenap tenaga dan 
upaya dalam hal-hal yang diharamkan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi 
wasallam bersabda, "Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima 
perkara: hidupmu sebelum kematianmu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, 
masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa mudamu dan masa kayamu sebelum 
masa tuamu." (HR. Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi, dishahihkan Syaikh 
al-Albani) 

Ke dua, Bila kamu menisbatkan nikmat tersebut kepada selain Allah 
subhanahu wata’ala, Sang Pemberi nikmat. Hal ini sebagai mana yang terjadi 
terhadap Qarun ketika ia menisbatkan nikmat kepada dirinya dan ilmunya 
melalui firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, 
"Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." 
(QS. al-Qashash: 76). 

Lalu apa akibatnya? Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam ayat-ayat 
selanjutnya, yang artinya, "Maka Kami benamkan Karun beserta rumahnya ke 
dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya 
terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) 
membela (dirinya)." (QS.al-Qashash:81). 

Tidak boleh menisbatkan nikmat kepada selain Allah subhanahu wata’ala. Hal 
ini seperti yang dikatakan oleh al-Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah bahwa 
itu termasuk kekufuran dan Juhud (ingkar) kepada Allah subhanahu wata’ala 
sebagaimana firman-Nya, yang artinya, "Mereka mengetahui nikmat Allah, 
kemudian mereka mengingkarinya." (QS. an-Nahl: 83). 

Contoh lain dari ucapan yang tidak mencerminkan kesyukuran adalah ucapan 
orang-orang awam, "Andaikata bukan karena si fulan, pastilah tidak terjadi 
seperti ini." "Kalau bukan karena kekuatan dan perbekalan kita, pastilah 
begini dan begitu." “Kita meraih kemenangan sebab pasukan kita kuat dan 
terlatih", dan ucapan semisalnya. (Taisir al-'Aziz al-Hamid, hal.583-585) 

Dalam hal ini, tidak apa-apa, -bahkan selayaknya- berterima kasih kepada 
orang yang telah berbuat baik kepada kita atau menjadi sebab kita 
mendapatkan nikmat atau terhindar dari bencana dengan mengatakan 
kepadanya, "Jazakallahu khaira, (Semoga Allah membalas kebaikan 
kepadamu)." Jika ia seorang Muslim, kita berdo’a untuknya dan berbuat baik 
kepadanya serta berterimakasih kepadanya, sebagaimana sabda Nabi 
shallallahu ‘alaihi wasallam, “'Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang 
tidak berterimakasih keapda manusia." (Shahih al-Jami', 7719). 

Ke tiga, Bila seorang hamba ditimpa sifat Ghurur (percaya diri yang 
berlebihan) atau sombong dan congkak terhadap makhluk lain karena memiliki 
harta yang banyak, properti, ilmu, kedudukan dan sebagainya. Allah 
subhanahu wata’ala berfirman, artinya, 
"Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta 
lagi menghitung-hitung, Ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkan 
nya." (QS. al-Humazah: 1-3) 

Ke empat, Bila kamu tidak pernah memenuhi hak Allah subhanahu wata’ala 
atas nikmat tersebut. Bila kita memiliki ilmu, maka kita harus 
mengajarkannya; jika kita memiliki harta, maka kita harus menginfakkannya. 


Allah subhanahu wata’ala berfirman, 
"Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang 
(miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak 
mau meminta)." (QS. al-Ma'arij: 24-25) 

Oleh karena itu, seperti di dalam kitab ash-Shahih, dua malaikat berdoa 
setiap harinya dengan doa, "Ya Allah, berikanlah kepada orang yang 
berinfak pengganti dan berikanlah kepada orang kikir kehancuran." 
(HR.al-Bukhari dan Muslim). 

Bila diberi kesehatan dan afiat, maka kita harus memanfaatkannya untuk 
berdakwah dan berjihad. Demikian seterusnya, kita mengeks presikan rasa 
syukur atas setiap anggota badan kita semampu kita.
 (Hanif Yahya Asy’ari, Lc) 


 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Subscription settings: http://groups.google.com/group/aga-madjid/subscribe?hl=en

Kirim email ke