Kadar Cinta yang Ideal
Cinta adalah komponen penting dalam perasaan (baca: hati) manusia. Ia
bisa diibaratkan seperti katalis (pemercepat reaksi) dalam suatu reaksi
kimia. Dan manusia juga tak mungkin hidup tanpa cinta. Paling tidak, ada
satu tipe cinta yang pasti akan selalu ada dalam hati setiap orang,
yakni cinta terhadap diri sendiri (egoisme: baik yang positif atau negatif).
Apakah masih ada tipe-tipe cinta lain dalam diri seseorang?
Tentu saja ada, semisal cinta terhadap kekasih pujaan hati
(suami/isteri), cinta terhadap keluarga, cinta terhadap pangkat/jabatan,
cinta terhadap pekerjaan, cinta terhadap harta kekayaan, dll. Sebab itu,
diperlukan pengaturan (manajemen) terhadap perasaan-perasaan cinta
tersebut. Mengapa demikian? Hal ini untuk menghindari bentrokan
(conflict) antar cinta yang satu dengan cinta yang lain. sehingga, jika
kadar (baca: prioritas) dari cinta-cinta tersebut tidak seimbang
(ideal), maka ia hanya akan menimbulkan kekacauan dalam kehidupan orang
yang bersangkutan. Bukankah Anda sering mendengar tentang seseorang yang
mati konyol karena cinta? Atau tentang seseorang yang gila (sakit jiwa)
karena cinta? Atau mungkin juga orang yang bangkrut karena cinta?? Cinta
terkadang memang mematikan…, atau mungkin menyebalkan.
Semua itu bisa terjadi karena yang bersangkutan tidak bisa memanajemen
perasaan-perasaan cinta mereka sesuai dengan kadar (baca: prioritas)
yang semestinya.
Cinta memiliki aturan-aturan prioritas tersendiri, dimana satu cinta
harus ditempatkan pada posisi paling atas (utama/sentral), sementara
cinta yang lainnya harus ditempatkan pada posisi di bawahnya dan harus
berasas (bersandar) pada aturan cinta yang paling atas. Jika
aturan-aturan prioritas ini dilanggar, maka ketahuilah, bahwa orang itu
sebenarnya telah menempatkan aturan-aturan kejiwaan yang tidak seimbang
dalam perasaannya, yang berpotensi menghancurkan kehidupannya setiap
saat. Mirip bom waktu? Begitulah, cinta memang mematikan (baca:
menyedihkan), atau. bisa juga menghidupkan (baca: membahagiakan),
tergantung bagaimana model konfigurasinya (pengaturan/manajemennya).
Sebelumnya, kita perlu tahu tentang definisi cinta yang sesungguhnya:
Cinta adalah suatu kecenderungan perasaan terhadap suatu hal dengan
mengharap keuntungan besar yang jelas dan pasti melalui pengorbanan yang
jauh lebih kecil jika dibanding dengan keuntungan yang bisa diperoleh.
Jadi, dasar cinta adalah keuntungan (imbalan/manfaat: yakni
kebahagiaan). Kemudian, ada juga resiko (pengorbanan) yang harus
ditanggung, namun hal itu sangat kecil sekali jika dibanding dengan
keuntungan sebenarnya yang bisa diperoleh. Intinya, total resiko dari
cinta tersebut jauh lebih kecil dari total keuntungan yang sesungguhnya.
Itulah cinta! Sehingga, jika ada seseorang pemuda berhasil menodai
kehormatan anak gadisnya orang dengan modal rayuan gombal, maka
sebenarnya itu bukan cinta, tapi penipuan, pelecehan kehormatan., atau
bisa juga disebut dengan cinta palsu, meskipun mereka berdua bilang suka
sama suka. Mengapa demikian? Karena mereka berdua pada akhirnya nanti
hanya akan menanggung resiko akibat (dosa) dari perbuatannya itu. Takdir
itu selalu adil! Perbuatan buruk pasti akan berakibat buruk. Jadi,
sebenarnya bukan keuntungan besar yang diperoleh oleh kedua orang
tersebut, tapi kerugian yang sangat besar (yakni, takdir buruk yang akan
segera menimpa), kecuali yang bersangkutan bertaubat untuk menghilangkan
dosa dari kesalahannya tersebut. Tak pernah ada kata “terlambat” bagi
mereka yang memang belum terlambat (baca: mati).
Kemudian,
Bagaimanakah permasalahan prioritas-prioritas (baca: kadar) cinta ini
akan dianalisa?
Yakni melalui proses perkenalan (baca: analisa) terhadap masing-masing
target cinta itu sendiri. Sehingga pada akhirnya kita tahu, manakah yang
paling pantas untuk kita cintai dengan perasaan cinta yang paling besar
(dominan: utama/sentral), dan juga mana yang sepantasnya harus kita
cintai dengan ala kadarnya (biasa-biasa saja).
Dan dalam artikel ini, kita hanya akan menganalisa satu macam cinta yang
seharusnya menjadi cinta yang paling dominan (utama) dalam hati
seseorang. Sementara cinta-cinta yang lainnya tidak akan dianalisa
secara mendalam dan hanya akan disinggung sebagian kecil saja, karena
hal itu tidak begitu penting.
Tipe cinta apakah yang satu macam itu?
Yakni CINTA KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA.
Mengapa hanya tipe cinta ini yang perlu dianalisa begitu mendalam?
Karena hanya tipe cinta inilah yang memiliki sifat abadi dan paling
menguntungkan. Ini adalah satu-satunya tipe cinta yang paling
mengagumkan dalam hati seorang manusia. Sementara itu, tipe-tipe cinta
yang lainnya tidaklah demikian, ia hanya bersifat temporal (sementara),
yakni hanya berlaku di dunia saja dan keuntungannya juga tidak begitu
besar (baca: tidak abadi). Misalnya, jika Anda mencintai seseorang, maka
pasti suatu saat nanti Anda akan berpisah dengannya melalui kematian,
dan semenjak itulah cinta Anda terhadap kekasih Anda tersebut telah
berakhir (expired), karena kekasih Anda tak akan memberikan manfaat
sedikitpun kepada diri Anda, dan mungkin kekasih Anda akan jadi milik
orang lain. Begitu juga tentang cinta seorang pengusaha terhadap
perusahaannya, jika ajal telah menjemput maka cinta terhadap
perusahaannya telah berakhir (dan perusahaannya diambil alih orang
lain). Begitu juga tentang orang kaya yang sangat mencintai hartanya,
maka pasti suatu saat nanti (saat kematian), hartanya tersebut tak akan
memberikan manfaat kepadanya, cintanya terhadap kekayaannya sudah
menjadi tak berguna. Dia telah memasuki alam kehidupan lain, dimana
kebahagiaan dan kesedihan tidak dipengaruhi oleh kurs dollar dan harga emas.
Ingatlah, bahwa kehidupan dunia memiliki prosedur tersendiri, dan
kehidupan akhirat juga memiliki prosedur (baca: aturan) tersendiri.
Dan sehubungan dengan “cinta kepada Allah dan Rasul-Nya“,
Ketahuilah, bahwa setiap manusia pasti mati juga pada akhirnya nanti.
Dan Anda tak akan pernah menemukan tipe cinta lain yang bisa Anda
andalkan setelah kematian Anda, selain cinta yang satu ini. Dia adalah
cinta yang melatar-belakangi kebahagiaan atau penderitaan seseorang di
kehidupan yang akan datang (yakni, akhirat). Sehingga, jika dalam hati
Anda tak ada perasaan cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka cinta
siapakah yang akan Anda harapkan setelah Anda keluar dari kehidupan
dunia ini???
Sebab itu, jika tipe cinta yang satu ini rusak dalam diri seseorang,
maka sebenarnya orang tersebut telah mengalami kehancuran atau sedang
menunggu kehancuran, kecuali ia segera sadar, bertaubat dan memperbaiki
kesalahannya.
Berikut adalah beberapa alasan kenapa kita harus mengutamakan Cinta
kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya.
1.Allah adalah Pencipta dan Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk
menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya:
"Jadilah". Lalu jadilah ia. (QS. Al-Baqarah: 117)
2.Allah adalah Pemberi Nikmat
Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah
(pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu. (QS. An-Nisa’: 126)
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman: 25)
3.Kematian itu pasti, dan setiap perbuatan harus
dipertanggung-jawabkan
Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami akan menguji kamu
dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).
Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Anbiya’: 35)
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (QS. Ar-Rahman: 60)
Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan
datang kepada kami". Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku Yang
mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang
kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya seberat zarrah (atom) pun
yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih
kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang
nyata (Lohmahfuz)", supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Mereka itu adalah orang-orang
yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia. Dan orang-orang yang
berusaha untuk (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat
melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu memperoleh azab, yaitu
(jenis) azab yang pedih. (QS. Saba’: 3-5)
4.Taat (baca: cinta ) kepada Allah dan Rasul-Nya adalah perintah
Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul (Nya) dan
berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya
kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan
terang. (QS. Al-Maidah: 92)
5.Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah semata
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)
6.Hanya orang-orang yang mengikuti Allah dan Rasul-Nya yang beruntung
. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia
telah mendapat kemenangan (keberuntungan) yang besar. (QS. Al-Ahzab: 71)
7.Kehidupan dunia hanyalah ujian untuk mengetahui seberapa baik
perbuatan seseorang
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan kematian dan kehidupan,
supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik
perbuatannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk: 1-2)
8.Kehidupan dunia hanyalah permainan yang sementara
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari permainan dan senda gurau
belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang
bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al-An’am: 32)
. Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu
lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya
sedikit pun." (QS. An-Nisa’: 77)
9.Surga adalah satu-satunya kebahagiaan yang abadi
Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni
surga; mereka kekal (abadi) di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 82)
Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat
daripada-Nya, keridaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya
kesenangan yang kekal, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. At-Taubah: 21-22)
10.Janji Allah itu selalu benar
Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan
sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran
ayat-ayat Allah) itu meresahkan (hati) mu. (QS. Ar-Rum: 60)
Itulah beberapa alasan utama (diantara alasan-alasan utama lainnya yang
sangat banyak!) tentang kenapa seseorang harus memprioritaskan
(mengutamakan) CINTA KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA di atas segalanya., di
dalam hatinya, di dalam perbuatannya, dan di dalam pikirannya. Allah
Maha Benar, Dia pasti akan memenuhi janji-Nya. Hanya tipe cinta seperti
ini yang paling menjanjikan dan paling menguntungkan.
Bagaimana tentang cinta kepada harta kekayaan? Boleh saja kita mencintai
harta kekayaan dengan perasaan cinta yang sangat besar, tapi jangan
jadikan hal itu sebagai prioritas utama, atau jangan jadikan cinta Anda
kepada harta kekayaan Anda lebih besar daripada cinta Anda kepada Allah
dan Rasul-Nya! Karena Anda pasti akan berpisah dengan harta kekayaan
Anda pada suatu saat nanti.
Bagaimana tentang perasaan cinta terhadap kekasih pujaan hati? Itu pun
juga boleh. Anda boleh mencintai kekasih pujaan hati Anda dengan
perasaan cinta yang sangat besar, tapi jangan jadikan cinta tersebut
lebih besar daripada “cinta Anda kepada Allah dan Rasul-Nya”. Setiap
manusia memiliki masa berlaku yang terbatas. Dan setiap manusia selalu
dihantui oleh masa-masa tua (keriput, pikun) dan kematian yang tak tentu
waktunya?!! Dan Anda pun pasti akan berpisah dengan kekasih Anda pada
suatu saat nanti.
Dengan demikian, besarnya setiap cinta yang temporal (sementara) harus
selalu berada di bawah posisi cinta yang utama (yakni, Cinta kepada
Allah dan Rasul-Nya).
Sebab itu, kalkulasi (perhitungkan) lah semua perasaan cinta Anda yang
ada dalam hati Anda sejak sekarang. Carilah alasan yang benar dalam
mencintai sesuatu yang temporal dengan berlandaskan pada aturan cinta
yang utama (yakni, Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, melalui al-Qur’an
dan Hadits).
Sebagai contoh,
Jika ada seseorang yang sangat mencintai kekasihnya, hingga ia lupa
mengerjakan shalat wajib (yang lima waktu) karena sibuk kencan dan
jalan-jalan, maka sebenarnya ia telah menempatkan cinta kepada Tuhan-nya
pada posisi yang sampingan (temporal). Atau jika seseorang berbisnis
dengan cara yang membabi-buta (tanpa mempedulikan aturan agama -halal
dan haram), maka sebenarnya ia juga telah mencintai harta benda di atas
segalanya (utama/sentral). Atau tentang orang yang mencintai hartanya
hingga ia enggan untuk melaksanakan zakat (sedekah wajib) atas hartanya
yang telah mencapai nisab (ketentuan wajib mengeluarkan zakat). Ia pun
termasuk golongan orang yang mencintai dan mengagungkan harta benda di
atas segalanya, seperti Qarun, sepupu Musa as., yang akhirnya ditelan bumi.
Hal inilah yang seringkali menyebabkan kehidupan seseorang menjadi
hancur berkeping-keping. Ketika cintanya yang seharusnya berada di
posisi sampingan (temporal) itu dijadikan sebagai cinta yang utama
(sentral/dominan/no.1) maka, jika cinta tersebut rusak, habislah hidupnya!
Contoh yang umum yakni, ketika ada seorang pengusaha yang mencintai
perusahaannya dengan teramat sangat., namun beberapa waktu kemudian
ternyata perusahaannya mengalami kehancuran (bangkrut, karena harga
sahamnya turun!), maka bisa dipastikan bahwa kehidupan si pengusaha
tersebut telah hancur atau sedang menunggu kehancuran. Mengapa demikian?
Karena cintanya yang sentral (utama) -yakni cinta kepada perusahaannya-
telah hancur. Saat itulah mereka seringkali merasa bosan hidup. Lihatlah
latar belakang pengusaha-pengusaha kaya yang akhirnya bunuh diri.
Contoh lainnya yang lebih umum, tentang seorang lelaki yang mencintai
seorang gadis dengan teramat sangat di atas segalanya. Semua hartanya,
pikirannya dan tenaganya hanya tercurahkan untuk si gadis tersebut.
Siang-malam yang dipikirkan hanya tentang si gadis itu; buku hariannya
juga hanya berisi tentang si gadis itu; wallpaper HPnya hanya berisi
tentang foto si gadis itu, begitu juga ringtone HPnya yang hanya berisi
suara si gadis itu. Namun, pada suatu saat, si gadis tersebut justru
meninggalkannya (karena sudah bosan dengan rayuan gombalnya!). Apa yang
terjadi pada kedua orang tersebut? Pada si gadis mungkin tidak terjadi
apa-apa, karena bukan dia yang sakit hati. Namun, pada si laki-laki yang
sedang patah hati itu, tentu saja, ia mengalami shock (perasaan kacau
yang teramat sangat). Dan dapat dipastikan kehidupannya akan hancur
(misal, bunuh diri atau gila, dan paling tidak, stress!). Mengapa
demikian? Tentu saja, karena cintanya yang utama (sentral/dominan) yakni
“cinta terhadap si gadis” tersebut sudah hancur. Dia merasa sudah tak
punya sesuatu yang berharga lagi dalam kehidupannya, karena pujaan
hatinya telah menghianatinya. Di saat seperti itulah dia mengalami
kebosanan (kejenuhan) dalam menjalani hidup. Dan saat itulah ia mabuk
(teler), minum-minuman keras, dll hingga masa depannya hancur, atau
bunuh diri.
Berhati-hatilah dalam mencintai sesuatu. Cinta dengan kadar (prioritas)
yang tak seimbang telah mengacaukan banyak kehidupan manusia. Bukankah
belanda menjajah Indonesia karena kecintaannya yang berlebihan terhadap
kekayaan alam Indonesia? Cinta seperti itu adalah dalam hal
“keserakahan”. Apakah Anda juga pernah mendengar tentang latar belakang
kehancuran kekuasaan Fir’aun musuh Musa as.? Penyebab kehancurannya
adalah karena ia terlalu mencintai dirinya sendiri (baca: sangat
egois/sombong) hingga ia mengatakan “Akulah tuhanmu yang tertinggi”.
Atau tentang kisah kehancuran kerajaan-kerajaan inggris, sebagian besar
tentang kecintaan kepada wanita secara berlebihan.
Disamping itu, kita tidak boleh berlebihan dalam mengungkapkan
perasaan-perasaan cinta kita terhadap sesuatu yang temporal. Misalnya,
janganlah Anda mengatakan kepada kekasih Anda seperti berikut ini,
karena ini merupakan ungkapan-ungkapan syirik:
“kau adalah segalanya untukku”
Apanya yang segalanya? Apakah dia yang menciptakan kehidupan ini? Apakah
kebahagiaan dan kesengsaraan hidup Anda dipengaruhi oleh nya? Atau
apakah kehidupan dan kematian Anda ditentukan oleh dia?
Atau jangan pula mengatakan:
“Aku tercipta untukmu”
Ini pun juga bukan perkataan yang bisa dianggap benar. Jika Anda berkata
seperti itu, maka ketahuilah bahwa sebenarnya Anda adalah budaknya.
Dengan kata lain, Anda adalah seorang tawanan, dan bukan orang merdeka
(bebas)! Masalahnya sekarang, bagaimana jika kekasih Anda itu mati?
Siapakah yang bisa memberi manfaat kepada Anda, mengingat majikan Anda
sudah tiada???
Dan jangan pula mengatakan:
“Aku tak bisa hidup tanpamu”
Ini pun juga perkataan yang sangat aneh dan tak bisa dibenarkan. Anda
masih bisa hidup tanpa “kekasih Anda” itu. Anda hanya perlu oksigen
untuk bernapas, dan beberapa serat (nutrisi) makanan untuk mensuplai
kebutuhan energi tubuh Anda agar tetap bisa hidup. Dan bukan kekasih
Anda yang menciptakan oksigen, ataupun nutrisi dan zat-zat organik
(serat makanan). Anda masih bisa hidup tanpa dia. Percayalah!
Namun, ucapkanlah kata-kata sanjungan yang baik dan benar yang
mengandung makna yang dalam, misalnya:
Kau adalah bagian dari diriku. (wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki)
Atau dengan berkata:
Cemberut di wajahmu jauh lebih mahal dari lukisan “senyum Mona Lisa”
(ini untuk menghindari pecahnya perang dunia III)
Dan bisa juga dengan perkataan yang mulia:
Semoga kita bisa bersama dalam kebahagiaan yang abadi (surga) (ini
adalah harapan setiap orang, dan tentu saja harus dengan cara “beriman
dan beramal shaleh”)
INTINYA ADALAH: JANGAN SAMPAI ANDA BERLEBIHAN DALAM MENCINTAI SESUATU
YANG TEMPORAL (SEMENTARA). DAN JANGAN PULA ANDA MENEMPATKAN KECINTAAN
DIRI ANDA TERHADAP SESUATU YANG TEMPORAL PADA POSISI CINTA YANG UTAMA
(DI ATAS SEGALANYA), KARENA JIKA CINTA YANG TEMPORAL ITU HANCUR, MAKA
HANCURLAH KEHIDUPAN ANDA. DAN SESUNGGUHNYA ALLAH DAN RASUL-NYA YANG
LEBIH BERHAK MENGAMBIL TEMPAT DI HATI ANDA.
Akhirnya, saya hanya dapat berkata:
CINTAILAH ALLAH DAN RASUL-NYA DI ATAS SEGALANYA!
Dan buktikanlah bawah Anda mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan cara
mengamalkan rukun Islam, mengerjakan perkara-perkara yang halal, dan
menjauhi perkara-perkara yang haram. Sehingga pada akhirnya nanti, Anda
akan memperoleh keuntungan yang besar.
Dari Jabir bin Abdillah ra., ia bertanya kepada Rasulullah saw.:
"Bagaimana pendapat Paduka bila saya melakukan Shalat wajib (yang lima
waktu), berpuasa Ramadhan, melakukan perkara-perkara yang halal dan
menjauhi yang haram, dan tidak menambah selain daripada itu, apakah saya
bisa masuk Surga?" Rasulullah saw. menjawab: "Ya." (HR. Muslim)
Itulah syaratnya, jika Anda mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Sesungguhnya kunci surga itu adalah “Laa ilaaha illallaah Muhammadur
Rasuulullaah” (Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad adalah Utusan Allah).
Kemudian,
Setiap cinta yang temporal (yakni, cinta selain kepada Allah dan
Rasul-Nya) harus selalu bersandar pada aturan-aturan cinta yang utama
itu (yakni, melalui al-Qur’an dan Hadits). Sehingga misalnya, jika Anda
ingin mencintai seseorang, carilah alasan yang bisa dibenarkan., bukan
hanya karena kecantikannya atau ketampanannya, hartanya atau pangkat
jabatannya, atau status keturunannya. Carilah alasan yang benar, misal
karena kejujurannya, kebaikannya, dan akhlaknya yang baik, dll.
Atau tentang seseorang yang mencintai harta kekayaan. Maka carilah
alasan yang benar dalam mencintai harta kekayaan tersebut. Misal untuk
keperluan beribadah, menyantuni fakir miskin atau untuk memberikan
nafkah kepada keluarga. Dan jangan beralasan untuk pamer, dan bangga
diri (sombong).
Kemudian,
Lantas, bagaimana jika ada seseorang yang berbuat dosa, karena
sebenarnya perbuatan dosa merupakan wujud pengkhianatan atas konsekuensi
“cinta kepada Allah dan Rasul-Nya“? Tentu saja ia harus bertaubat agar
ia tidak terkena dampak dari dosa-dosanya itu. Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun. Dan setiap dosa pasti akan diampuni selagi ajal masih belum
tiba. Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya untuk senantiasa
bertaubat sebelum terlambat (kematian). Karena Allah itu adalah Maha
Adil. Dia itu mengampuni orang bertaubat, sedangkan orang yang tidak
bertaubat, belum tentu bisa diampuni!
Dan barang siapa yang mengerjakan keburukan dan menganiaya dirinya,
kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa’: 110)
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat
yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi
dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka
memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka
mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan
ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".
(QS. At-Tahrim: 8).
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan
surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi
orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah
karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al-Hadid: 21)
Akhirnya,
Itulah sedikit penjelasan tentang “Kadar Cinta yang Ideal”. Hal yang
paling berharga dalam diri seseorang adalah “perasaannya”. Setiap orang
harus selalu belajar tentang bagaimana memperbaiki perasaannya. Hidup
ini sangat rawan, karena banyak orang yang suka makan hati (baca:
menyakiti perasaan orang). Kita tidak boleh mencintai suatu hal secara
sembarangan!
Artikel ini dibuat berdasarkan pengalaman saya pribadi ketika mengalami
kehancuran perasaan pada tahun 2007, yakni tragedi 6/31, patah hati. Tak
ada yang boleh menghancurkan perasaan saya. Dan saya sudah belajar
banyak dari pengalaman yang paling pahit. Rasanya memang pahit, dan
sampai sekarang masih terasa pahit, dan akan selalu pahit seumur hidup
saya. Apakah saya merasa sedih dengan itu semua? Tidak terlalu sih,
karena saya sudah mengkonfigurasi perasaan saya untuk menempatkan posisi
“Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya” pada posisi yang teratas
(utama/sentral). Sedangkan yang rusak itu hanyalah cinta temporal saya,
bukan cinta saya yang utama. Jadi, saya masih bisa menikmati hidup,
karena saya masih punya sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini,
yakni “Allah dan Rasul-Nya”. Allah tidak pernah menyebalkan ataupun
mengecewakan hamba-Nya, justru sesuatu yang selain daripada Allah lah
yang seringkali mengecewakan dan menyebalkan.
Sebab itu, konfigurasi sistem perasaan Anda sejak sekarang. Orang yang
paling dekat dengan Anda adalah diri Anda sendiri, bukan saya. Orang
yang paling tahu tentang diri Anda adalah diri Anda sendiri, bukan saya.
Dan orang yang paling mengerti tentang diri Anda adalah diri Anda
sendiri, bukan saya.
Jika Anda tidak mau mendekati diri Anda…
Jika Anda tidak mau tahu tentang diri Anda…
Dan jika Anda tidak mau mengerti perasaan Anda sendiri…
Maka, bagaimana mungkin Anda bisa disebut sebagai orang yang menghargai
diri sendiri?!!
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.