ZAINAL ARIFIN






 
السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
 
semoga bermanfaat
wass....zainal

Merasakan Manisnya Iman

ولهما عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ثلاث من كن فيه وجد 
بهن حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ، وأن يحب 
المرء لا يحبه إلا لله ، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه ، 
كما يكره أن يقذف في النار » .
وفي رواية : « لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى يحب المرء لا يحبه إلا لله » إلى 
آخره .
“Dan dalam riwayat keduanya (Al-Bukhari dan Muslim) dari Anas, dia 
berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ada tiga 
perangai atau sifat yang jika ada pada diri seseorang, maka orang tersebut 
akan mendapatkan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai 
daripada selain keduanya, (2) Mencintai seseorang, yang dia tidak 
mencintai orang tersebut kecuali karena Allah, (3) Membenci untuk kembali 
kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran tersebut 
sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.” 
Dan dalam riwayat yang lain disebutkan dengan lafazh: “Tidaklah seseorang 
mendapatkan manisnya iman sampai dia mencintai seseorang, dan tidaklah 
kecintaannya itu kecuali karena Allah …” -sampai akhir hadits-.
Penjelasan hadits
Tidak semua orang yang beriman akan merasakan kelezatan imannya. 
Sebagaimana seseorang yang memiliki makanan, belum tentu dia bisa 
merasakan lezatnya makanan itu. Iman yang dimiliki seseorang akan bisa 
dirasakan lezatnya oleh orang tadi sehingga iman itu akan bisa menyenakan 
hati dia, dan dia bisa merasakannya nikmatnya ketaatan, meskipun 
kelihatannya lelah dan habis waktunya untuk melakukan ibadah.
Manisnya iman adalah sesuatu yang didapati oleh manusia dalam hatinya 
berupa ketenangan dan kelapangan dada, dia merasa senang dengan iman 
tersebut dan tidak merasa terbebani.
Dan rasa manis (حَلاَوَة) di sini bukanlah sesuatu yang bisa dirasakan 
oleh lisan ini. Akan tetapi yang dimaksud halawah ini adalah halawah 
qalbiyyah. Jika seseorang ingin mendapatkan halawah iman ini, maka dia 
harus mempunyai tiga sifat/perangai sebagaimana yang disebutkan dalam 
hadits tersebut.
Yang Pertama
Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada selain keduanya. 
Ini adalah perkara yang berat kecuali bagi orang yang mau 
bersungguh-sungguh untuk mengorbankan dirinya demi cintanya kepada Allah 
dan Rasul-Nya. Seseorang yang mencintai istri ataupun orang tuanya, ketika 
dihadapkan pada kepentingan Allah dan Rasul-Nya, maka dia harus 
mendahulukan kepentingan Allah dan Rasul-Nya tersebut, ini membutuhkan 
mujahadah (kesungguhan).
Dan di antara tanda seseorang mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah dia 
mencintai segala sesuatu yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan dia 
membenci segala sesuatu yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, dia 
mengutamakan keridhaan Allah daripada selain-Nya, dia juga mengikuti jejak 
Rasul-Nya, melaksanakan perintah beliau dan menjauhi larangannya.
Taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan ketaatan 
kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaiman disebutkan dalam ayatul mihnah
:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ.
“Katakanlah wahai Muhammad, jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku 
(yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam), niscaya Allah akan 
mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)
Yang Kedua
Mencintai seseorang, dan tidaklah dia mencintai orang tersebut kecuali 
karena Allah, bukan karena kepentingan duniawi. Mencintai seseorang karena 
dia adalah orang yang taat kepada Allah, atau karena dia adalah orang yang 
beriman, meskipun orang yang dicintai tadi adalah orang yang fakir.
Mencintai seseorang banyak sebabnya, mungkin karena kekerabatan, teman, 
atau karena ingin mendapatkan kepentingan duniawi. Barang siapa yang 
mencintai sesorang karena Allah, maka ini akan menjadi sebab untuk bisa 
merasakan manisnya iman. Sehingga kita hendaknya bisa mengoreksi diri 
kita, apakah kecintaan kita kepada orang lain itu disebabkan karena Allah 
atau karena adanya kepentingan lainnya.
Yang Ketiga
Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari 
kekufuran tersebut sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api 
neraka.
Kebencian kembali kepada kekufuran disamakan dengan kebencian untuk 
dilemparkan ke dalam api neraka. Ini menunjukkan sangat bencinya dia 
kepada kekufuran dan tentunya benci pula kepada pelaku kekufuran. Orang 
yang merasakan kenikmatan dan manisnya iman tidak akan senang kembali 
kepada kekufuran setelah dia mendapatkan hidayah.
Inilah tiga sifat/perangai yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 
‘alaihi wasallam, barang siapa yang tiga sifat tersebut ada pada diri 
seseorang, maka dia akan mendapatkan manisnya iman. Dan ini dipahami bahwa 
seseorang tidak akan bisa merasakan manisnya iman kecuali dengan adanya 
tiga sifat ini. Sebagaimana dalam hadits yang disebutkan oleh Asy-Syaikh 
Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahimahullah setelahnya yaitu
لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى يحب المرء لا يحبه إلا لله.
“Tidaklah seseorang mendapatkan manisnya iman sampai dia mencintai 
seseorang, dan tidaklah kecintaannya itu kecuali karena Allah.”
Faedah yang bisa dipetik dari hadits ini, di antaranya[1] :
1.       Menetapkan adanya manisnya iman yang bisa dirasakan, dan setiap 
mukmin belum bisa merasakan manisnya iman sampai dia memiliki tiga sifat 
tersebut.
2.       Keutamaan dan kewajiban mendahulukan kecintaan kepada Allah dan 
Rasul-Nya daripada kecintaan kepada selain keduanya.
3.       Mencintai seseorang karena Allah merupakan tanda keimanan.
4.       Wajibnya membenci kekufuran dan juga sekaligus orang kafir, 
karena orang yang membenci sesuatu, maka dia juga harus membenci orang 
yang melakukan sesuatu tersebut.
5.       Barangsiapa yang memiliki tiga sifat ini, maka dia lebih utama 
dari orang yang tidak memilikinya, walaupun orang yang memilikinya ini 
dulunya kafir yang kemudian masuk Islam, atau dulunya bergelimang dengan 
kemaksiatan kemudian bertaubat darinya. Ini lebih utama daripada yang 
tidak memiliki tiga sifat tersebut sama sekali.

[1] Dinukil dari kitab Al-Jadid Fi Syarhi Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh 
Muhammad bin ‘Abdil ‘Aziz Al-Qar’awi rahimahullah dan kitab Al-Mulakhkhash 
Fi Syarhi Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan 
hafizhahullah.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke