Nikmatnya kebersamaan J

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of [email protected]
Sent: Thursday, September 02, 2010 9:15 AM
Subject: ~ aga ~ Fw: Merasakan Manisnya Iman - Renugan Pagi

 

 


ZAINAL ARIFIN 

 

                

 


  

السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها

  

semoga bermanfaat
wass....zainal 

Merasakan Manisnya Iman

ولهما عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ثلاث من كن فيه وجد
بهن حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ، وأن يحب المرء
لا يحبه إلا لله ، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه ، كما يكره
أن يقذف في النار » . 

وفي رواية : « لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى يحب المرء لا يحبه إلا لله » إلى
آخره .

“Dan dalam riwayat keduanya (Al-Bukhari dan Muslim) dari Anas, dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ada tiga perangai atau
sifat yang jika ada pada diri seseorang, maka orang tersebut akan
mendapatkan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada
selain keduanya, (2) Mencintai seseorang, yang dia tidak mencintai orang
tersebut kecuali karena Allah, (3) Membenci untuk kembali kepada kekufuran
setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran tersebut sebagaimana dia benci
untuk dilemparkan ke dalam api neraka.” 

Dan dalam riwayat yang lain disebutkan dengan lafazh: “Tidaklah seseorang
mendapatkan manisnya iman sampai dia mencintai seseorang, dan tidaklah
kecintaannya itu kecuali karena Allah …” -sampai akhir hadits-. 

Penjelasan hadits 

Tidak semua orang yang beriman akan merasakan kelezatan imannya. Sebagaimana
seseorang yang memiliki makanan, belum tentu dia bisa merasakan lezatnya
makanan itu. Iman yang dimiliki seseorang akan bisa dirasakan lezatnya oleh
orang tadi sehingga iman itu akan bisa menyenakan hati dia, dan dia bisa
merasakannya nikmatnya ketaatan, meskipun kelihatannya lelah dan habis
waktunya untuk melakukan ibadah. 

Manisnya iman adalah sesuatu yang didapati oleh manusia dalam hatinya berupa
ketenangan dan kelapangan dada, dia merasa senang dengan iman tersebut dan
tidak merasa terbebani. 

Dan rasa manis (حَلاَوَة) di sini bukanlah sesuatu yang bisa dirasakan oleh
lisan ini. Akan tetapi yang dimaksud halawah ini adalah halawah qalbiyyah.
Jika seseorang ingin mendapatkan halawah iman ini, maka dia harus mempunyai
tiga sifat/perangai sebagaimana yang disebutkan dalam hadits tersebut. 

Yang Pertama 

Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada selain keduanya. Ini
adalah perkara yang berat kecuali bagi orang yang mau bersungguh-sungguh
untuk mengorbankan dirinya demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Seseorang yang mencintai istri ataupun orang tuanya, ketika dihadapkan pada
kepentingan Allah dan Rasul-Nya, maka dia harus mendahulukan kepentingan
Allah dan Rasul-Nya tersebut, ini membutuhkan mujahadah (kesungguhan). 

Dan di antara tanda seseorang mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah dia
mencintai segala sesuatu yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan dia membenci
segala sesuatu yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya, dia mengutamakan
keridhaan Allah daripada selain-Nya, dia juga mengikuti jejak Rasul-Nya,
melaksanakan perintah beliau dan menjauhi larangannya. 

Taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan ketaatan
kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaiman disebutkan dalam ayatul mihnah: 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ.

“Katakanlah wahai Muhammad, jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku
(yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam), niscaya Allah akan
mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31) 

Yang Kedua 

Mencintai seseorang, dan tidaklah dia mencintai orang tersebut kecuali
karena Allah, bukan karena kepentingan duniawi. Mencintai seseorang karena
dia adalah orang yang taat kepada Allah, atau karena dia adalah orang yang
beriman, meskipun orang yang dicintai tadi adalah orang yang fakir. 

Mencintai seseorang banyak sebabnya, mungkin karena kekerabatan, teman, atau
karena ingin mendapatkan kepentingan duniawi. Barang siapa yang mencintai
sesorang karena Allah, maka ini akan menjadi sebab untuk bisa merasakan
manisnya iman. Sehingga kita hendaknya bisa mengoreksi diri kita, apakah
kecintaan kita kepada orang lain itu disebabkan karena Allah atau karena
adanya kepentingan lainnya. 

Yang Ketiga 

Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari
kekufuran tersebut sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api
neraka. 

Kebencian kembali kepada kekufuran disamakan dengan kebencian untuk
dilemparkan ke dalam api neraka. Ini menunjukkan sangat bencinya dia kepada
kekufuran dan tentunya benci pula kepada pelaku kekufuran. Orang yang
merasakan kenikmatan dan manisnya iman tidak akan senang kembali kepada
kekufuran setelah dia mendapatkan hidayah. 

Inilah tiga sifat/perangai yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam, barang siapa yang tiga sifat tersebut ada pada diri
seseorang, maka dia akan mendapatkan manisnya iman. Dan ini dipahami bahwa
seseorang tidak akan bisa merasakan manisnya iman kecuali dengan adanya tiga
sifat ini. Sebagaimana dalam hadits yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad
bin ‘Abdil Wahhab rahimahullah setelahnya yaitu 

لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى يحب المرء لا يحبه إلا لله.

“Tidaklah seseorang mendapatkan manisnya iman sampai dia mencintai
seseorang, dan tidaklah kecintaannya itu kecuali karena Allah.” 

Faedah yang bisa dipetik dari hadits ini, di antaranya[1] : 

1.       Menetapkan adanya manisnya iman yang bisa dirasakan, dan setiap
mukmin belum bisa merasakan manisnya iman sampai dia memiliki tiga sifat
tersebut. 

2.       Keutamaan dan kewajiban mendahulukan kecintaan kepada Allah dan
Rasul-Nya daripada kecintaan kepada selain keduanya. 

3.       Mencintai seseorang karena Allah merupakan tanda keimanan. 

4.       Wajibnya membenci kekufuran dan juga sekaligus orang kafir, karena
orang yang membenci sesuatu, maka dia juga harus membenci orang yang
melakukan sesuatu tersebut. 

5.       Barangsiapa yang memiliki tiga sifat ini, maka dia lebih utama dari
orang yang tidak memilikinya, walaupun orang yang memilikinya ini dulunya
kafir yang kemudian masuk Islam, atau dulunya bergelimang dengan kemaksiatan
kemudian bertaubat darinya. Ini lebih utama daripada yang tidak memiliki
tiga sifat tersebut sama sekali. 

  _____  

[1] Dinukil dari kitab Al-Jadid Fi Syarhi Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh
Muhammad bin ‘Abdil ‘Aziz Al-Qar’awi rahimahullah dan kitab Al-Mulakhkhash
Fi Syarhi Kitab At-Tauhid karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
hafizhahullah.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke