*By Mother Teresa*

Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih;
tapi bagaimanapun, berbaik hatilah.

Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu;
tapi bagaimanapun, jujur dan terbukalah.

Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain
jadi iri; tapi bagaimanapun, berbahagialah.

Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa
sahabat sejati; tapi bagaimanapun, jadilah sukses.

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang
lain hanya dalam semalam; tapi bagaimanapun, bangunlah.

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan
orang; tapi bagaimanapun, berbuat baiklah.

Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu.

Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan
Tuhanmu.
Ini bukan urusan antara engkau dan mereka.

By Mother Teresa

==========================================

From: *munadi*



*Tabung gas, nyawa rakyat dan upaya perhatian lebih*

Jika kompor gas kami bermasalah, istri terkadang meminta bantuan saya agar
kompor tersebut bisa digunakan lagi. Namanya juga peralatan yang biasa
digunakan sehari-hari, ada saja gangguannya terutama setelah gasnya diganti
dengan yang baru. Saya sudah membelikan regulator yang berstandar, ada alat
ukurnya pula. Juga pernah dipraktekkan penjualnya dengan menusuk, membuat
lubang, bahkan memotong selangnya saat kompor sedang digunakan. Dalam
peragaan itu, aman -aman saja, tidak terjadi ledakan. Saya membelinya satu
untuk istri saya. Pikir saya, kompor pasti padam jika ada kebocoran pada
selangnya. Jadi aman buat kami di rumah.

Namun mendengar dan melihat berita di tv tentang merebaknya kasus ledakan
tabung gas yang dengan serta merta menimbulkan banyak korban luka-luka dan
tewas, mengutak-atik kompor gas seakan-akan seperti merakit sebuah bom. Kita
layaknya teroris saja. Jika terjadi kesalahan sedikit saja, resikonya adalah
nyawa. Gas meledak dan kami menjadi korban ledakan yang sia-sia. Mungkin
perasaan ketakutan ini terlalu hiperbola buat orang lain, terlalu
berlebih-lebihan tapi memang tidak bisa dihilangkan apalagi saat kompor kita
mengalami gangguan. Sementara mencari alternatif energi lain selain gas
amatlah sulit. Saya pernah mencoba menggunakan kompor minyak tanah,
akibatnya anggaran belanja melonjak dengan signifikan.

Dalam sebuah pelatihan pemadam yang pernah saya ikuti. Sifat gas elpiji jika
terjadi kebocoran, gasnya akan memenuhi ruangan. Karena berat jenisnya lebih
berat dari udara, ia berada di bawah, tidak naik ke atas. Itulah sebabnya
gas ini sulit keluar ruangan jika ventilasi tidak dibuka lebar-lebar. Tapi
yang terjadi akhir-akhir ini, kasus-kasus meledaknya gas elpiji terjadi di
kalangan mereka yang tidak berpunya. Mereka tinggal di rumah-rumah petak
yang sempit. Jika bicara rumah-rumah petak yang sempit, tentulah mereka
tidak memiliki ventilasi yang memadai, bahkan terkadang tidak ada ventilasi
sama sekali kecuali pintu keluar dan masuk saja. Dapur merekapun bercampur
dengan ruang tamu dan ruang tidur. Gas yang memenuhi ruangan akan mudah
tersulut bahkan oleh saklar lampu yang dinyalakan atau dimatikan ketika
ruangan sudah dipenuhi gas. Ini memang titik bahaya kebakaran.

Kondisi lain yang membuat tabung gas makin berbahaya bagi rakyat pada
umumnya adalah kurangnya pemahaman akan karakteristik gas. Kurangnya
pemahaman akan penggunaan kompor gas yang aman akibat belum membudayanya
penggunaan kompor gas. Minimnya jaminan keamanan di setiap tabung gas akibat
pemalsuan, produk yang tidak terstandarisasi, tabung yang kadaluarsa, serta
pengisian gas-gas ilegal, makin menambah daftar panjang ancaman meledaknya
tabung gas bagi rakyat kecil pada umumnya. Belum lagi sesudah terjadi
ledakan dan menimbulkan korban, kemana mereka harus mengadu dan meminta
bantuan. Apa harus ke istana dulu, baru kemudian diurus dan diobati.

Ada ungkapan yang menarik buat saya. Ungkapannya berbunyi seperti ini,
"Hendaknya para mentri, pejabat di negeri ini juga memakai kompor gratis dan
tabung gas yang bermasalah tersebut. Biar mereka merasakan bagaimana
susahnya menjadi rakyat." Pasti tekanan darah dan andrenalin mereka akan
meningkat manakala tabung gas yang baru dipasang ternyata bermasalah. Dengan
demikian mereka merasakan bagaimana kencangnya degug jantung rakyat manakala
kompor mereka bermasalah dan harus dikutak-katik untuk membetulkannya. Saya
pikir ungkapan diatas menarik sekali. Jika korbannya adalah para petinggi,
para pejabat, saya yakin semua ini akan mudah dituntaskan. Semua pihak akan
menyelesaikannya. Tidak ada yang cuci tangan dan melepas tanggung jawab.

Rakyat juga manusia. Nilai nyawanya sama dengan nyawa para mentri dan
pejabat. Jadi mohon untuk tidak dibeda-bedakan. Islam tidak melihat
seseorang dari kekayaannya, tingginya kedudukan, dan luasnya kekuasaan yang
digenggamnya. Semua sama saja dihadapan Sang Khalik. Selayaknya diakhiri
saja kasus ini. Diselesaikan masalahnya.

Ketika semua pihak turun tangan, tidak mustahil masalah ini bisa
terselesaikan. Janganlah rakyat yang sudah terbebani dengan permasalahan
perut juga terancam nyawanya di dapur mereka sendiri. Saya, mereka juga
kebanyakan rakyat pada umumnya butuh rasa aman. Ubah kebijakan yang
diam-diam menebar maut agar kita aman berada di dapur rumah sendiri.

Munadi Kardian
Pekerja, buruh di sebuah industri

===========================================

From: *Gunawan Yusuf Miarsadireja*

*Antara Ariel dan Tabung Gas*
OPINI
Doddy Poerbo
|  25 Juni 2010  |  19:57


*1 dari 2 Kompasianer menilai Aktual.*

KPAI mendesak aparat hukum untuk menghukum berat pelaku video porno, yakni
Ariel, Luna dan Cut Tari.

Ketiga artis papan atas itu dinilai sudah merusak generasi bangsa. “Yang
dilakukan Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari adalah adegan yang eksotis, yang
hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami-istri. Dengan tersebarnya video
porno ini justru mengajarkan bahwa apa yang dilakukan artis idola itu
menjadi boleh,” ujar Masnah, anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) bersama Ketua KPAI Hadi Supeno, saat ditemui dikantor KPAI Menteng,
Jakarta Pusat, Jumat. Berdasarkan data KPAI, akhir-akhir ini banyak
pengaduan pemerkosaan dari masyarakat. Menurut data itu, salah satu pemicu
terjadinya pelecehan karena video porno Ariel, Luna dan Cut Tari. “Dari
14-23 Juni KPAI menerima laporan 33 kasus pemerkosaan yang dilakukan remaja
berusia 16-18. Pelaku mengaku terangsang setelah melihat video porno Ariel
dan teman wanitanya itu,” lanjut Masnah. Sementara,
Ketua KPAI Hadi Supeno mengimbau para publik figur berperilaku santun dan
berpakaian sopan. “Karena yang namanya idola pasti akan ditiru,” timpal
Hadi.

Pemberitaan seperti inilah yang menunjukkan kebenaran dari kerja komisi2
yang dibentuk pemerintah sebagai alat politik yang tugasnya memang mencari
kambing hitam untuk menjaga kredibilitas pemerintah secara politis dimata
rakyat.  Komisi ini seperti memberikan penegasan bahwa sebelum adanya
peredaran video Ariel di negeri ini tidak pernah ada pelecehan seksual atau
setelah ariel dihukum dijamin tidak terjadi pelecehan seksual lagi. Kalau
terjadi juga, sudah ada yang disalahkan yaitu Arel, Luna Maya dan Cut Tari.

Inilah budaya bangsa yang sesungguhnya merupakan biang kerusuhan yang tidak
kian mngental, mudahnya menjustifikasi tanpa melihat resikonya, sudah
terbukti menimbulkan kerusuhan dimana2. Terlebih dalam urusan pilkada, kalau
kalah langsung menyimpulkan terjadi kecurangan, akhirnya timbur ribut antar
pendukung seperti yang terjadi di Tana Toraja itu.  Aril, Luna Maya, Cut
Tari jika memang mereka melakukan perbuatan seperti dalam video yang
menghebohkan, kita semua mengakui perbuatan itu salah, tetapi tidak adil
jika kesalahan dipolitisir sebagai penyebab rusaknya mental bangsa. Yang
mereusak mental bangsa itu sesungguhnya yang mengurus negeri ini, seperti
ungkapan KPAI dalam pemberitaan itu sesungguhnya yang merusak mental bangsa
ini sebab mengajarkan bangsa ini tidak perlu ikut aturan dan tidak perlu
menghormati hak orang lain. Penegak hukum hingga saat ini saja belum dapat
menetukan status Luna Maya dan Cut Tari tetapi sudah mengeluarkan statement
agar
dihukum berat karena merusak mental bangsa.

Sebaliknya, kalau melihat kenyataan tabung gas sering meledak, sudah banyak
korban jiwa dan harta benda, semua pintar menjawab, semua pintar ngeles yang
intinya tidak ada yang mengakui bertanggung jawab padahal yang menentukan
harus menggunakan gas adalah pemerintah. Semua pejabat negara ini saling
berlomba bicara moral, menyalahkan video mesum  tetapi jika ditanya soal
tabung gas yang meledak, semua sepakat ………………… kabuuurrrrrrrrrrrrr dari
tanggung jawab. Cari dong kambing hitamnya, biar tambah seru negeri ini
dagelannya, tidak usah ngomong mau dirapatkan, masih dikoordinasikanlah,
tunjuk saja kambing hitamnya.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke