Selasa, 19/10/2010 11:14 WIB
'Rintihan Kuntilanak Perawan': Bukan Hantu, Tapi Industri yang Merintih
Veronika Kusumaryati - detikMovie



Gambar
ist.

Jakarta - Film ini bisa jadi hanyalah film horor yang akan terlupakan
setahun yang akan datang. Tak ada yang istimewa selain bahwa KK Dheeraj
setelah membuat beberapa horor dengan estetika rendahan (low brow), kini
semakin memperhatikan kualitas produksi maupun presentasinya. Perhatian ini
tentu saja juga terjadi dengan pemilihan bintang dan pemasaran yang membuat
film ini menyulut kontroversi, setidaknya untuk Front Pembela Islam (FPI). 

Memasang Tera Patrick, bintang film dewasa Amerika Serikat, sebagai salah
satu tokoh utama bukanlah menjadi kebutuhan film itu sendiri. Melainkan,
alat pemasaran yang dirasakan cukup ampuh menaklukkan pasar film Indonesia
yang sedang jenuh.
 
'Rintihan Kuntilanak Perawan' bercerita tentang seorang perempuan bernama
Alice (dimainkan oleh Tera Patrick) yang tinggal bersama sepupunya, Lily
(dimainkan oleh Angel Lelga). Pada suatu malam, mereka bertandang ke kafe
milik pacar Lily, Mike. Di kafe tersebut, sebuah band yang  beranggotakan
empat laki-laki muda, The Keren's Band, sedang berjuang untuk menjadi besar.
Salah satu anggota band mendekati Alice, dan Alice pun diajak oleh rombongan
band itu ke suatu tempat yang misterius. 

Lily pun pulang ke rumah. Keesokan harinya, Alice mulai berubah. Ia kemudian
menjadi pembunuh keji yang membidik mangsa-mangsanya di kafe milik Mike.
Satu per satu laki-laki yang terpikat dengannya, termasuk manajer The
Keren's, terbunuh secara sadis di tangan Alice. Lily sendiri selalu dihantui
oleh kuntilanak di rumahnya yang besar bak istana. 

Dalam adegan-adegan selanjutnya, film ini tak berbeda dengan film-film KK
Dheeraj sebelumnya atau pun film-film horor sejenis. Ia mengandalkan efek
tata suara, bentuk hantu yang lebih bisa dikatakan menjijikkan daripada
menakutkan, dan tentu saja, penampakan tubuh seksi Angel Lelga dan Tera
Patrick.  Meski perubahan Alice dari perempuan kulit putih yang masih
perawan hingga menjadi pembunuh sadis dijelaskan lewat adegan penggunaan
ilmu hitam oleh anggota The Keren's, namun secara garis besar, narasi film
ini lebih mengandalkan gambar-gambar eksplisit hantu, kekejaman, dan tentu
saja kesintalan daripada alur cerita yang jelas.
 
Motif perempuan yang disakiti kemudian balas dendam tetap diulang, tanpa
memberi makna dan perubahan baru dalam cerita. Namun, film ini menghadirkan
situasi yang menarik bukan hanya di resepsinya, di mana orang-orang yang
menamakan dirinya 'penjaga moral bangsa'  menganggapnya sebagai sampah
pornografi namun juga di dalam cerita, karena hampir semua laki-laki yang
ditampilkan dalam film tidak memiliki gambaran positif sedikit pun, kecuali
Mike. 

Film ini berakhir dengan drama yang mungkin hanya karakter perempuanlah yang
memahaminya karena tak satu pun dialog terucap tentang apa yang sebenarnya
terjadi ketika Alice 'diculik' oleh The  Keren's (tak adakah nama band yang
lebih norak daripada ini?).

Menonton film ini tak beda dengan menonton film-film eksploitasi tahun
1990-an macam 'Kenikmatan Terlarang' (2006) dan 'Puncak Kenikmatan' (1997).
Apalagi konteks produksi film-film eksploitasi ini hampir sama. Film-film
itu dibuat pada akhir periode Orde Baru ketika penguasa melakukan sensor
yang sangat ketat pada seksualitas dan terutama isu-isu politik yang
dianggap subversif. 

Sedangkan, film-film seperti 'Rintihan Kuntilanak Perawan' ini dibuat
pasca-pengesahan UU Anti-Pornografi dan Pornoaksi serta menguatnya penguasa
dan kekuatan-kekuatan masyarakat untuk menertibkan moral dan seksualitas
perempuan. Film-film ini juga hasil dari sebuah periode di mana produksi
film-film bermutu mulai turun dan penonton mulai jenuh dengan jenis-jenis
film yang dibuat oleh pembuat film Indonesia.
 
Perusahaan pembuat film ini, K2K Production adalah perusahaan film yang
didirikan pada 2006 yang film pertamanya, 'Genderuwo' (2007) oleh Sinema
Indonesia dikatakan disunting dengan 'powerpoint'. Ejekan itu sayangnya
tidak membuat perusahaan tersebut menghentikan film-film 'low brow' yang
dibuatnya. Semakin banyak hinaan, semakin besarlah tekad mereka untuk
membuat film-film dengan budget rendah dan keuntungan yang cukup besar. 

K2K Production bukanlah satu-satunya perusahaan yang membuat film seperti
itu. Namun, seperti yang telah diperlihatkan sejarah, produksi film-film
seperti 'Rintihan Kuntilanak Perawan' ini hanya akan jadi sebuah pertanda
pada kembalinya masa surut perfilman nasional yang dibangun di atas fondasi
industri yang rapuh.

Veronika Kusumaryati, belajar di Departemen Kajian Film Fakultas Film dan
Televisi Institut Kesenian Jakarta. Ia adalah salah seorang pendiri Klub
Kajian Film IKJ. Kini ia bekerja sebagai kurator film. (mmu/mmu)

 

Thanks

Warm Regards,

 

 

Rochmad Sigit

 

[ Rasa kecilnya diri ini saat berhadapan dengan masalah, 

bukan disebabkan oleh besarnya masalah, 

tetapi oleh kecilnya tujuan hidup. ]

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

<<image001.jpg>>

Kirim email ke