Oleh : Oleh: Riski Rani Putri, Hj.
 

Feminisme rasanya tidak asing lagi di telinga kita. Adalah gerakan yang
diawali oleh persepsi tentang ketimpangan posisi keperempuanan. Kartini
-pahlawan Indonesia-red- biasa menyebutnya dengan Emansipasi. Pada
awalnya feminisme bangkit untuk membela para wanita dari ketertindasan
serta menuntut penyerataan hak perempuan dan laki-laki dalam segala
bidang.

Tapi kemudian Feminisme, yang semula lahir sebagai gerakan yang membela
kaum wanita dalam meningkatkan harga diri wanita yang ingin  dinilai
sesuai dengan potensinya sebagai manusia tanpa harus memandang gender,
kemudian mulai disalahartikan. Ingin menaikan harga diri tapi malah
menjatuhkan (harga) diri sendiri.

Sedikit cerita, di Austria kesalahpahaman mengenai arti kata
"Feminisme", membuat bocah 14 tahun mau bertukar pasangan 3 kali dalam
sehari. Ketika ditanya alasannya, kemudian ia menerangkan "Boys can do
it, then why we can`t...saya merasa bangga bisa menaklukan 3 orang cowok
dalam sehari. Dan diantara mereka tidak perlu ada yang tahu satu dengan
lainnya. Itu kan yang biasa dilakukan pria, seenaknya berganti-ganti
pasangan, kemudian menyakiti para gadis".

Di belahan negara lainnya, seorang wanita menuntut persamaan toilet,
karena wanita diyakini juga dapat (maaf) kencing berdiri seperti halnya
pria. Saya juga pernah mendengar adanya gerakan "Feminisme bertelanjang
dada" dan "gerakan pembakaran BH".

Feminisme kemudian disalahartikan oleh kaum wanita itu sendiri. Banyak
wanita yang menjadi korban salah kaprah ini. Ironis sekali, Feminisme
yang terlahir sebagai cita-cita mulia para wanita pendahulu, kemudian
berubah menjadi kemerosotan harga diri seorang wanita, yang lucunya -
namun juga menyedihkan - si wanita itu sendiri tidak menyadarinya.
Menyadari bahwa ia telah menjatuhkan harga dirinya.

Di Indonesia sendiri? Virginitas bagi  wanita Indonesia(tidak semuanya),
sekarang bukanlah suatu hal yang patut dipertahankan lagi. Saya pernah
bertanya pada seorang teman -wanita juga-red- , apa yang menyebabkan
wanita tak perlu lagi mempertahankan ke-virgin-annya, ia menjawab "Kalau
pria saja bisa mengobral ke-virgin-annya(keperjakaan), mengapa kita
harus menjaganya? Saat kita mulai menjalani hubungan itu(pacaran), kita
gak pernah tau apakah dia masih(perjaka) atau gak. Lagian bukan suatu
hal yang aneh lagi jika di zaman sekarang ini banyak cewek yang gak
virgin lagi". Benarkah jawaban atas semua itu adalah zaman semata?

Kerancuan anggapan mengenai "Feminisme" inilah yang perlu
dibenahi.Anggapan yang kemudian menggeser tradisi dan budaya yang kita
banggakan dengan budaya kiriman yang baru (Western).

Hal lain! Menurut pengamatan yang saya lakukan, rupanya di Indonesia,
Bandung khususnya, rokok menjadi komoditas utama yang digemari
wanita-wanita zaman sekarang, selain pakaian dan cemilan. Menurut
sebagian diantaranya, rokok lebih bisa menenangkan pikiran, dibandingkan
shopping&ngemil -ada sebagian wanita yang lari dari permasalahan dengan
cara-cara ini-red.

Dan alasan lainnya, tentu saja "cowok juga ngerokok kok... kenapa
kita-kita gak boleh??" Padahal tidak perlu di jelaskan lagi, semua yang
saya jabarkan di atas (termasuk rokok), tak lain akan merugikan kaum
wanita itu sendiri.

Sebodoh itukah wanita-wanita sekarang? "Feminisme"(radikal) telah
menutup mata hati mereka untuk melihat kerugian yang mereka alami.
Sebodoh itukah? Padahal banyak diantara mereka yang mengeyam pendidikan
dan pengajaran.

Bukan saatnya kita berdebat apakah karena saking bodohnya mereka atau
saking pintarnya. Saatnya sekarang wanita-wanita bangkit memperjuangkan
Feminisme yang sebenarnya. Bagi wanita-wanita yang sudah telanjur pada
kesalahan yang tidak 'disengaja' tadi, bangkitlah dari keterpurukan.
Bagi wanita-wanita yang mampu melihat fenomena ini, bantulah untuk
bangkit. Kita harus benar-benar bersatu.

O ya! Bagaimana kalau saya ajak anda-anda berpikir sebaliknya? Kalau
selama ini wanita selalu saja dituntut untuk menjaga budaya ketimuran
(yang semula dirasa menguntungkan kaum pria), hingga akhirnya muncul
yang namanya "Feminisme"yang kemudian disalah-artikan, dan menyebabkan
serba salah. Bagaimana kalau sekarang kita yang menuntut mereka-kaum
pria-red- untuk tidak hanya menuntut keperawanan, tapi mereka juga harus
menjaganya (keperjakaan) juga.

Kita sudah terlalu sering mengikuti mereka, bahkan membuat mereka
menjadi satu acuan kesetaraan. Bagaimana kalau sekarang, mereka
mengikuti kita? Harus dimengerti memang, kalau wanita perawan sekarang
sangat jarang ditemui. Oleh karena itu pria sebaiknya tak usah
mempermasalahkan Virginitas wanita(biarkan kaum wanita itu sendiri yang
mempermasalahkan dan mencari solusi bagi dirinya). Pria sebaiknya lebih
menghargai wanita, baik ia virgin (apalagi) atau tidak virgin (apa boleh
buat). Toh selama ini wanita selalu menghargai pria tanpa memandang
Virgin atau tidaknya.

Dan sekali lagi, jangan hanya menuntut wanita untuk menjaga
kaidah-kaidah ketimuran. Pria juga wajib menjaga dong (pahala),
sebagaimana kaidah-kaidah keagamaan. Selama ini wanita dituntut untuk
lebih mengerti dan mau menjaga. Pria? Rasanya tidak ada tuntut yang
seperti itu dalam hal ini.

Mengenai rokok? Katakan saja "Ngertilah....hari gini gitu loh..(zaman
sekarang). Kalian-pria-red- juga jangan ngerokok dong.. jangan cuma bisa
ngelarang doang". Kenapa saya katakan zaman sekarang? Zaman yang udah
berubah mau gak mau harus kita terima sementara, sebelum kita
benar-benar mengubahnya.

Bagaimana? Siap untuk merubahnya wanita-wanita? Memperjuangkan hak-hak
wanita yang sebenarnya? Anda yang tahu jawabannya. Anda juga yang lebih
tahu caranya.



Thanks & Rgrds,
Titik_Luph


"Attitude is a little thing that makes a big difference"

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke