Penulis : DODY ISKANDAR dinata Dulu, setelah masa ABG saya habiskan dengan kenakalan yang lumayan luar biasa, tiba-tiba secara sunatullah habislah gelap terbitlah terang. Diri ini digerakkan Allah untuk sholat tobat. Tapi saking semangatnya, setiap kali sholat, sujudnya sangat menekan ke lantai sebagai pertanda kapok yang luar biasa. Apalagi didukung salah satu ayat Quran yang menyatakan tanda-tanda muka orang beriman tampak dari bekas sujud.
Saya mengartikan ayat itu dengan keriya'an tak disadari. Seakan-akan ingin menunjukkan kepada setiap teman atau saudara, "Ini lho tanda hitam di dahiku bekas sujud. Aku sudah kapok". Tak terasa pula diri ini mulai membandingkan jidat sendiri dengan jidat sekitar sambil melengos sinis kepada jidat yang kurang hitam. Secepat itu diri ini lupa asal bahwa kemarin baru saja bertahun-tahun hidup ngawur. Ehh... berbulan-bulan terbawa perasaan seperti itu, tiba -tiba ada suatu peristiwa yang menohok keriya'an itu. Seorang teman bercerita, sebentar lagi teman-teman dari Hadramaut Yaman akan datang. Dia ngajak orang sana. Kalau kamu tahu, kulitnya itu hitam legam melebihi negro Amerika. Pokoknya persis seperti Hajar Aswad lah... Dheg ! Diri ini serasa lunglai sambil berfikir, "Lha iya ya, bagaimana kita bisa mengenali bekas hitam sujudnya ? Lha wong mereka dalam ukuran kulit sudah sangat hitam. Lha kan persis kayak mencari semut hitam berdiri diatas batu hitam di kegelapan malam, dalam gua lagi ! Kalau begini Allah nggak adil dong ! Jangan-jangan yang paling tampak sholeh nanti orang bule dan Jepang. Sebab antara kulit dan bekas sujud akan mudah terlihat kontras. Lagipula kulit mereka lebih tipis dan mudah iritasi karena gesekan". Ah, betapa bodohnya si ABG ini menyamakan Quran dengan bacaan komik. Akhirnya saya tersadar, dulu senengnya sholat pakai sajadah kakek yang tipis dan aus agar cepat mengikis jidat, kemudian berubah ganti merengek minta oleh-oleh sajadah tebal nan lembut dari Makkah. Supaya wajah tetep mulus kayak bintang sinetron. Bekas sujud sesungguhnya adalah kepakaran diri dalam berendah hati kepada manusia. Dahi menempel ke tanah adalah sebuah pesan bahwa konsep isi kepala haruslah tertransfer bermanfaat memanusiakan manusia dan membumi. Karena bumi alias tanah adalah unsur dari terciptanya manusia. Tempat kita semua berpijak. Hal ini iblis tidak bisa mengerjakan. Ada yang bilang iblis tidak bisa karena demi menjaga ketauhidan murni sehingga hanya mau sujud kepada Allah. Tapi iblis lupa kalau Allah telah memfirmankan bahwa di dalam manusia Kutiup sebagian Ruh Ku. Dengan kata lain menghargai sesama manusia sama saja dengan mensujudiKu. Sialnya, wujud rupa manusia adalah hijab tertinggi. Tapi bagaimanapun kita harus belajar tak menghiraukan bentuk wajah agar diri ini mampu bersujud dengan benar dalam memandang wajah Allah. Tapi ya memang itu beratnya. Terkadang maunya beimajinasi ketemu guru ngaji yang berwibawa dan lemah lembut, ehh...ndhak tahunya yang ditemui kok hanya orang gembel gondrong crongohan dan agak bau. Padahal siapa tahu beliau sebenarnya adalah Khidhr yang lagi nyamar meng-intel-i jejeg nya ketauhidan kita.Terkadang pula maunya ditamui orang baik-baik yang bawa rejeki, eehhh ndhak tahunya yang datang malah preman sempoyongan sambil pinjam uang plus minta doa... Bila kita tak bisa ikhlas memaknai sujud, hidup akan terombang-ambing seperti arwah iblis gentayangan. Membumi tidak, melangit tidak. Kebingungan di tengah kedalaman sujud. Diri ini masih belum bisa terima bahwa sujud itu adalah merawat manusia. Sehingga akhirnya sang jiwa tak mampu bersemayam kekal di langit ke tujuh. Kita belum terpahamkan bahwa konsekuensi sujud adalah rakaat salam, yang berarti menjamin keselamatan sekitar, dus menjadi pengingat akan asal muasal nilai ajaran Islam yang tak mengenal pengurungan diri alias kerabian.. Fungsi sujud menghargai manusia tak lain untuk mengikis kesombongan diri sampai enthek ngamek. Sebab sebji zarah kesombongan sudah jadi penghalang utama seseorang masuk surga. Yah...tempat dimana tak ada lagi amarah, hujat menghujat, tantang menantang, tonjok menonjok, makan memakan dan bakar membakar seperti keadaan neraka. Duhai surga dambaan mukhlisin.... Jadi tak perlu heran banyak orang sering bersujud tetapi malah suka marah-marah. Makin sering sujud makin mudah tersinggung. Maklumi saja bahwa mas Fulan belum mengetahui tehnik mentransfer isi kepalanya yang penuh itu ke bumi tempat ia berpijak. Temani saja, sebab ia hanyalah orang kesepian yang ingin cari perhatian dan teman pengikut atas kebingungan posisi diri. Hiburlah, sujudi kakinya, pegang kakinya, lalu panggul. Biarkan ia berteriak girang sembari mengangkangi kepalamu dengan kakinya. Nikmati saja. Lonjak-lonjak menari-nari lah seperti reog agar yang terpanggul gembira hatinya. Itulah ikhlas, mengerjakan sesuatu bukan untuk perolehan diri sendiri. Sikap yang terlihat memosisikan harga diri rendah ternyata membuahkan kegembiraan manusia lain. Inilah sujud. Kebahagian kita pun jadi naik peringkat dari kebahagiaan berkelas anak-anak yang hanya egosentris berubah menjadi kebahagiaan orang tua. Biarkan aku yang susah dan kemproh nak, asal engkau bahagia.... Bahkan suatu saat kita harus mengejar kelas kebahagiaan yang lebih tinggi. Kebahagiaan seluruh manusia kemudian berlanjut kebahagiaan semesta. Kebahagiaaan kelas udara. Menghidupi tapi tak dilihat keberadaannya. Rahmatan lil alamien. Thanks & Rgrds, Titik_Luph "Attitude is a little thing that makes a big difference" -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group.
