السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
 semoga bermanfaat
wass....zainal
Iblis Musuh Bebuyutan
 
Oleh : Abu Umar A

Nyaris saja manusia melupakan musuh utamanya yang masih hidup sejak 
manusia pertama ada. Musuh yang berhasil menaklukkan dua insan tangguh, 
Adam dan Hawa, hingga terjatuh dalam bujuk rayunya. Dialah Iblis 
laknatullah ‘alaih, yang hingga kini tak memiliki kesibukan selain 
menggoda dan menyesatkan manusia. Langkah pertama untuk membentengi diri 
dari godaannya adalah mengenali identitas dan taktiknya. 

Dari Golongan Malaikat atau Jin?
Orang-orang berbeda pendapat tentang asal muasal Iblis, apakah dari 
golongan malaikat, jin, ataukah jenis makhluk tersendiri? Pendapat pertama 
dan kedua mengambil dasar dari ayat yang sama, yakni firman Allah Ta’ala:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu 
kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan 
jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya.” (QS. Jin: 50)

Pendapat yang menyebutkan bahwa jin berasal dari malaikat berdalil dengan 
firman-Nya, “maka sujudlah mereka kecuali iblis.” Seperti dimaklumi, jika 
dikatakan ‘seluruh siswa hadir kecuali Amir’, bahasa yang lazim digunakan 
menunjukkan bahwa Amir juga seorang siswa. Begitu pula ayat di atas, jika 
dikatakan ‘semua malaikat bersujud kepada Adam kecuali Iblis’, maka Iblis 
juga termasuk golongan malaikat.

Adapun pendapat yang menyebutkan bahwa Iblis termasuk golongan jin, 
berdalil dengan firman-Nya, “Dia adalah dari golongan jin.”

Pendapat kedua ini –wallahu a’lam- lebih rajih, karena indikasinya lebih 
sharih (gamblang) daripada yang pertama. Sedangkan ayat yang ‘zhanniyatud 
dilalah’ (makna yang ditunjukkan memungkikan beberapa penafsiran) 
semestinya dibawa kepada yang qath’iyyatud dilaalah (yang lebih pasti 
makna yang ditunjukkannya).

Lagi pula, pengecualian Iblis dari malaikat yang bersujud belum tentu 
menunjukkan bahwa dia termasuk golongan malaikat. Dalam bahasa Arab 
dikenal dengan ‘istitsna’ munqathi’, pengecualian yang terpisah. Beberapa 
ayat al-Qur’an menggunakan metode semacam ini. Seperti firman Allah,
“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) 
minuman, selain hamim (air yang mendidih pada puncaknya) dan nanah.” (QS. 
an-Naba’: 24-25 )

Padahal telah dimaklumi bahwa ‘hamim’ maupun nanah tak lazim disebut 
sebagai minuman. Inilah istitsna’ munqathi’.

Hasan al-Bashri menguatkan pendapat kedua ini dan berkata, “Iblis itu sama 
sekali bukan termasuk golongan malaikat.” 
Nama Person atau Jenis?

Setelah dipahami bahwa Iblis termasuk golongan jin, maka dapat dimengerti 
bahwa Iblis itu nama person, bukan nama jenis. Dialah satu-satunya jin 
yang ditunda kematiannya sampai hari kiamat. Seperti firman Allah:
“Iblis menjawab, ‘Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan’. 
Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh’.” 
(QS. al-A’raaf: 14-15)

Kata ‘kamu’ (berbentuk mufrad atau kata tunggal) menunjukkan hanya satu 
person. Dan nash yang ada –sejauh yang kami ketahui- hanya disebut dalam 
bentuk kata tunggal, yakni ‘ibliis’, tidak ada yang disebut dalam bentuk 
jamak (abaalis). Ini menunjukkan bahwa jumlah Iblis hanya satu.

Beberapa dalil juga menunjukkan setan maupun jin selain Iblis bisa mati 
sebelum Kiamat. 

Ketika Khalid bin Walid diutus Nabi menghancurkan berhala Uzza yang 
berujud pohon, tiba-tiba dari bawah pohon muncul setan wanita Uzza, lalu 
dibunuh oleh Khalid. Seorang Anshar juga pernah bergulat dengan ular besar 
yang akhirnya dikatakan Nabi bahwa itu jin. 

Abu Sa’id menyebutkan bahwa keduanya mati, “walaa yudra ayyuhuma awwalu 
maata,” tidak diketahui manakah yang lebih dahulu mati di antara keduanya.
Siapa Istrinya?

Allah telah mengabarkan bahwa Iblis memiliki keturunan dalam firman-Nya,
“Patutkah kamu mengambil dia (Iblis) dan turunan-turunannya sebagai 
pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (QS. al-Kahfi: 
50) 

Ya, dia beranak pinak, tapi siapa istri Iblis tidak disebutkan dalam nash. 
Kalau saja ada faedahnya secara syar’i, tentu Allah akan memberitakan 
tentangnya, baik dalam al-Quran maupun melalui lisan Rasul-Nya. Ketika 
asy-Sya’bi ditanya tentang nama istri Iblis, dengan santai beliau 
menjawab, “Itulah pernikahan yang tidak saya hadiri resepsinya.”

Cukuplah kita imani bahwa Iblis itu memiliki anak keturunan sebagaimana 
ditunjukkan ayat di atas.
Di Mana Posisinya?

Telah disebutkan dalam hadits, Iblis membangun istananya di atas air. Nabi 
saw. bersabda:
“Sesungguhnya Iblis meletakkan istananya di atas air, kemudian menyebar 
bala tentaranya, (setan) yang paling dekat kedudukannya dengannya adalah 
yang paling besar fitnahnya.” (HR. Muslim)

Ini tidak mengharuskan keyakinan bahwa Iblis tak pernah beranjak dari 
singgasananya. Yang jelas Iblis tidak pernah istirahat untuk membuat trik 
dan rekayasa untuk menyesatkan manusia. Hasan al-Bashri ditanya, “Apakah 
Iblis itu tidur?” Beliau menjawab, “Andai saja Iblis itu tidur, tentu kita 
bisa rehat.”

Wallau alam. 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke